Memasuki pertemuan berikutnya mengenai pelaksanaan FGD, pertemuan kali ini masih membahas seputar materi FGD. Perbincangan awal dibuka dengan melontarkan pendapat seseorang yang concern akan industri kreatif di Bandung. Melalui hasil obrolan singkat (via Yahoo Messenger) dengan saya, dia menyatakan kekhawatiran bahwa pengembangan isu pengembangan industri kreatif di Bandung yang akan melenceng dan malah hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Selain itu, ia pun melontarkan kritiknya terhadap berbagai seminar ataupun diskusi yang sering kali diadakan, namun yang ada hanya berupa wacana-wacana saja tanpa ada yang bersifat aplikatif.

Menanggapi pendapat tersebut, FGD yang dirancang untuk menggali informasi seputar industri kreatif dari masing-masing stakholder, tim pelaksana FGD sepakat bahwa hasil akhir yang dikeluarkan pada setiap FGD dan workshop merupakan suatu time mapping dari masing-masing pihak untuk melakukan suatu gerakan sesuai dengan rencana para stakeholder (didapatkan pada saat FGD). Hal ini agar menjadi panduan bagi masing-masing stakeholder untuk bertanggung jawab akan perannya. Selain itu, tim merasa berkeharusan untuk membuat paper yang akan dimuat di koran mengenai hasil ini agar masyarakat dapat tahu dan bila terjadi sesuatu yang tidak sesuai, masyarakat dapat menuntut pertanggungjawabannya pada pihak yang bersangkutan (stakeholders).

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah berada pada posisi yang lemah, dimana pemerintah seringkali disudutkan akan kinerjanya yang tidak benar. Padahal, yang mencoreng nama pemerintah menjadi tidak benar adalah ‘oknum’. Sistem birokrasi yang bobrok dan telah membudaya menjadikan oknum ini dapat bergerak leluasa dan mengambil keuntungan untuk pribadi. Melalui FGD ini, diharapkan agar pemerintah (atas nama pribadi) dapat bicara secara personal akan kendala-kendala yang dihadapi terhadap sistem yang sudah ada. Sehingga pada saat analisa, kondisi ini menjadi salah satu hal yang mungkin harus diperhatikan dan menjadi pekerjaan besar yang harus disikapi dengan bijak.

Seminggu setelah rangkaian FGD berlangsung, akan dilangsungkan workshop sebagai rangkaian penutup akan tahap pertama ini. Diharapkan perbincangan mengenai pengembangan industri kreatif tidak berhenti sampai sini namun akan berlanjut. Workshop ini akan menjadi ajang berkumpul dan bertemu para stakeholders. Pada workshop ini, hasil dari masing-masing FGD dari tiap focus group akan disebarkan ke group yang lain. Sehingga masing-masing stakeholder, secara langsung dapat mengungkapkan keraguan, pendapat, atau apapun dari pihak yang lain. Dan sangat memungkinkan akan terjadi perdebatan pada saat workshop.

Maksud penyelenggaraan workshop ini pula – belajar dari sharing beberapa teman yang telah sering melakukan workshop – bertujuan untuk meloloskan pengembangan kebijakan menjadi sebuah Peraturan Daerah (Perda). Hal semacam ini memang kerap dikembangkan oleh berbagai organisasi sipil ataupun NGO untuk mendukung pembentukan Perda dengan cara melakukan rangkaian kegiatan workshop yang mengundang para stakeholders untuk urun rembuk.

Selain itu, agar tidak menjadikan FGD ini sebuah wacana belaka, direncanakan akan mengundang pula pihak bank maupun swasta sebagai suatu badan yang mampu memberi bantuan dana ataupun pinjaman bagi kemudahan para pelaku mengembangkan usahanya. Akhir kata, tim sepakat untuk menjadikan FGD ini sebagai suatu ajang yang mampu menghasilkan suatu solusi (kesepakatan akan tanggungjawab masing-masing) bagi pengembangan industri kreatif secara nyata.

Penulis: Yasmin Kartikasari