Pada hari Selasa tanggal 1 April 2008 diadakan pertemuan antara para pelaku industri kreatif dengan beberapa pejabat dari Departemen Perdagangan dan Industri. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memberi waktu khusus bagi Ibu Mari Pangestu untuk berdialog dengan praktisi di bidang kreatif. Awalnya, memang dialog tersebut direncanakan melibatkan Ibu Mari Pangestu tetapi karena satu dan lain hal beliau tidak dapat datang ke Jabar Craft Center dan digantikan oleh Bapak Ardiansyah, Dirjen Perdagangan dan Perindustrian.

Setiap pelaku industri kreatif diberi kesempatan memamerkan produk mereka. Ada Tiarma Sirait, seniman yang sudah berpameran di berbagai belahan dunia, memamerkan boneka Barbie berbaju tradisional khas beberapa daerah di Indonesia. Kemudian ada sekelompok seniman kerajinan dengan produk mereka yang terbuat dari anyaman. Beberapa seniman kerajinan lainnya memamerkan kain batik. Dari komunitas distro, ada Fiki sebagai ketua KICK yang mewakili distro-distro membawa produk-produk hasil komunitas Indie seperti: clothing dan sepeda unik buatan Rockmen. FFWD Records yang dikenal sebagai pelopor label record Indie memajang cd-cd artist lokal yang diorbitkan oleh label rekaman tersebut. Dalam pertemuan ini, FFWD Records diwakili oleh Helvi dan Dxxxt.

Sambil berkeliling melihat produk Industri Kreatif, Dirjen Perdagangan dan Perindustrian, berdialog dengan pelaku Industri Kreatif yang produknya sedang dilihat. Para usahawan di bidang Industri Kreatif tersebut satu persatu menjelaskan produk mereka sambil di saat yang sama mengkomunikasikan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha mereka. Tiarma Sirait, seniman senior, mengeluhkan sistem tarif yang diterapkan atas barang-barang pamerannya. Seringkali Tiarma harus berpameran di luar negeri, tetapi saat pameran selesai dan barang-barang pamerannya harus dikembalikan ke dalam negeri, Tiarma dikenakan pajak atas karyanya tersebut. Helvi dari FFWD Records mengeluhkan penolakan surat bebas fiskal oleh pihak imigrasi saat harus membawa band keluaran FFWD konser ke luar negeri. Surat bebas fiskal yang dikeluarkan oleh pihak Disbudpar tidak diterima oleh pihak imigrasi di airport. Menurut Bapak Ardiansyah ada kesalahpahaman dari pihak imigrasi untuk kasus tersebut.

Pada umumnya masalah-masalah yang dikeluhkan oleh para pelaku industri kreatif saat itu berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak kondusif mendukung perkembangan dan pertumbuhan industri kreatif. Komunitas pembuat film indie Bandung mengeluhkan pajak yang dikenakan pada mereka atas penayangan film indie mereka di bioskop. Wakil dari komunitas tersebut mempertanyakan komposisi pajak yang dikenakan; yang dianggapnya tidak memberi pemasukan bagi pengembangan film independen.

Lewat pertemuan ini, pemerintah mendapat kesempatan mendengar masalah-masalah di lapangan yang dihadapi oleh para pelaku industri kreatif. Para pelaku berharap ada tindakan konkrit dari pemerintah dan pertemuan-pertemuan seperti ini akhirnya benar-benar memberi kontribusi bagi kemajuan industri kreatif yang katanya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Penulis: Dame Christina