Senin, 31 Maret 2008
DUNIA sedang diterjang gelombang industri kreatif. Negara-negara adidaya seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan lainnya, kini berupaya mendongkrak potensi dan kemampuan mereka dalam industri ini, sebagai penopang perekonomian berbasis kemasyarakatan. Sementara, saya tinggal di Bandung, salah satu kota yang sudah dengan sendirinya merupakan “Kota Kreatif”, yang karenanya memiliki potensi luar biasa dalam industri ini.

Pendapat itu bukanlah angan-angan. Bertahun-tahun sudah saya dan rekan-rekan menggeluti bidang ini, di mana tanpa disadari selain mencari nafkah, kami mendedikasikan hidup demi menjadikan industri kreatif sebagai penopang perekonomian masyarakat yang juga berbasis kemasyarakatan. Sedari awal saya sudah meyakini bahwa Bandung memiliki potensi untuk itu–tanpa melebih-lebihkan fakta yang ada.

Keyakinan bermodalkan pengalaman itu kian kuat, setelah saya mendapatkan kesempatan untuk melongok perkembangan industri kreatif di Inggris Raya dengan undangan dari The British Council dalam program bernama “The Catalyst”. Bersama pengusaha, seniman, wakil pemerintah, dan insan media dari delapan negara lainnya, saya mengelupaskan kulit kreativitas orang Inggris di tiga kota andalan industri kreatif mereka yaitu London, Bristol, dan Glasgow (Skotlandia).

Terus terang, dalam berbagai pengamatan, diskusi, seminar, dan sebagainya selama mengikuti program yang difokuskan untuk industri kreatif tersebut, tak hilang gumaman saya dalam batin, “begitu beruntungnya Bandung”

Bagaimana mungkin, saya tidak merasa demikian sedangkan saya menyaksikan bagaimana pemerintah negara-negara adidaya seperti Inggris, begitu serius, untuk menghidupkan industri kreatif di negaranya. Mereka memfasilitasi berbagai hal “termasuk berinvestasi” untuk membangkitkan minat para pelaku usaha di tingkat akar rumput, untuk menjadikan industri kreatif sebagai penopang perekonomian mereka.

Setidaknya terdapat 27 organisasi dan instansi dibentuk untuk mendukung pengembangan industri kreatif. Organisasi tersebut, tersebar mulai dari skala kota sampai dengan skala nasional dan mereka semuanya berlomba-lomba dalam menumbuhkan bisnis, meningkatkan keterampilan dan kemampuan, serta berinvestasi dalam inovasi. Mereka juga giat dalam menggapai pasar, menginterkoneksikan komunitas-komunitas, sampai kepada mempromosikan wilayah kerja mereka.

Mereka senantiasa menyebarluaskan karya, inovasi, dan produk mereka ke seantero penjuru kota, mereka mendirikan galeri-galeri hampir di setiap jalan, dan mendayagunakan bangunan-bangunan tua–tanpa mengubah bentuk fisiknya–untuk dijadikan kantor-kantor kecil agar komunitas-komunitas kreatif dapat beraktivitas mengembangkan diri secara optimal.

Melihat gelagat yang mereka lakukan, sungguh kekaguman saya mencuat. Apa yang saya lihat di seluruh pelosok negara Inggris, sebenarnya saya lihat juga di Bandung, bahkan Bandung memiliki potensi yang jauh lebih besar daripadanya. Bedanya, mereka sudah berjalan sedangkan potensi Bandung masih tercerai berai, dalam pergerakan individual yang cenderung sporadis dengan arah positif masing-masing.

Para pelaku industri kreatif sudah ada dan cenderung untuk berkembang, pasarnya juga ada dan sangat siap menyerap produknya. Kini, tinggal masalah sumber pendanaan yang tadi sudah ada salah satu alternatif jawabannya. Masalah berikutnya, tinggal bagaimana memecah prosedur agar dapat terasa ideal bagi semua pihak. Saya pikir ini dapat dipecahkan, jika kita sudi untuk duduk di satu meja untuk menyatukan visi dan misi program pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.

Tengoklah Inggris barang sejenak, bagaimana mereka berupaya begitu keras untuk menggerakkan para pelaku industri kreatif di tingkatan akar rumput, sebagai ujung tombak perekonomian masa depan. Dengan sangat disadari, peningkatan pertumbuhan dan perkembangan industri kreatif di tingkatan akar rumput ini, telah sukses menjawab berbagai permasalah sosial yang timbul dalam tatanan masyarakat modern. Angka pengangguran yang menukik tajam, mengakibatkan berkurangnya kriminalitas dan tindak kekerasan dalam masyarakat.

Sebagai contoh, di London Timur kini hampir tak mengenal istilah “geng motor”, nyaris tak ada lagi insan muda yang berhasrat untuk menjadi preman, dan angka pencurian kendaraan bermotor menurun drastis (sampai 33% dalam kurun satu tahun saja). Pengembangan industri kreatif ini, telah berhasil mengoptimalisasi public space, dalam penggunaannya sebagai sarana berbagai kegiatan positif yang jelas-jelas menghasilkan. Kini, industri kreatif juga memainkan peranan vital dalam bidang pariwisata, karena kegiatan-kegiatannya begitu ragam dan kaya dalam unsur seni dan hiburan. Industri kreatif terbukti mampu mengundang para wisatawan lokal dan mancanegara, serta mampu meningkatkan angka wisawatan yang kembali lagi (returning visitors).

Sekarang, tengoklah lagi Bandung yang kita cintai ini.

Bandung yang berkembang hanya secara alamiah dengan segala potensinya, telah menjadi tempat di mana tingkatan akar rumput tumbuh subur dan menggurita. Sayangnya, karena dibiarkan membesar tanpa dukungan pihak lainnya, pada level tertentu akan dirasakan mendapatkan beberapa masalah. Salah satu contohnya adalah salah satu komunitas musik dari daerah Bandung Timur, yang lahir belasan tahun silam, berupaya untuk tumbuh dan berjuang hidup sendirian. Mereka yang selama ini ada dalam kedamaian, terpaksa terpotret oleh masyarakat hanya karena terjadinya satu tragedi yang bersifat musibah.

Sangat disayangkan bahwa tragedi ini telah mendapat reaksi tidak proporsional dari berbagai pihak. Adakah yang menyadari reaksi semacam ini kontan mematikan salah satu poros perekonomian masyarakat? Prosedur perizinan yang dibuat bertingkat dan berlapis, kian memersulit mereka untuk menggelar hajatan-hajatan setingkat akar rumput yang bermodal tipis dan kering. Benarkah kita sudah berkaca pada cermin yang tepat untuk menelaah tragedi tersebut? Bukankah selalu ada dua sisi–dan mungkin lebih–pada setiap permasalahan?

Coba barang sejenak renungkan bagaimana mereka telah berjuang untuk dapat hidup dan berkembang selama belasan tahun, dengan cara saling membantu sesama kawan untuk sama-sama mendapatkan penghasilan. Adakah di antara Anda yang mengetahui bahwa mereka tengah berusaha untuk menyebarluaskan karya tangan sampai melintasi batas-batas wilayah negara?

Di Skotlandia sana, masyarakatnya begitu berbangga hati lantaran mereka mampu membuat satu pergelaran industri kreatif dengan nama “Six Cities Festival”. Setelah persiapan selama satu tahun, hajatan tiga pekan tersebut dihadiri 300.000 pengunjung. Sedangkan dalam era yang sama, orang Bandung memiliki perhelatan industri kreatif sejenis dengan nama “KICK-Fest”, yang dipersiapkan hanya dalam tempo singkat, namun dihadiri jumlah pengunjung yang sama dalam waktu hanya tiga hari saja.

Dari sekian banyak organisasi dan institusi di Inggris, beberapa di antaranya menjalankan fungsi sebagai simpul kreatif, salah satunya di kota Bristol bernama Watershed yang fokus pada pengembangan pusat media, di mana dengan dukungan pemerintah 3,5 juta poundsterling atau setara Rp 60 miliar untuk membangun infrastruktur serta fasilitas, mulai dari teater, ruang konferensi, kafe untuk komunitas kreatif, dan lainnya begitu repot untuk mencari dan mengumpulkan pelaku kreatif untuk mengimplementasikan program-programnya.

Di Bandung, kita memiliki organisasi sejenis seperti Common Room, dengan kemandirian tentunya secara fasilitas dan kemampuan kapital terlalu jauh untuk disamakan dengan Watershed. Setiap tahunnya mereka memiliki belasan program mulai dari pameran, diskusi, pelatihan sampai dengan penguatan jejaring dengan simpul kreatif lainnya mulai dari Asia, Eropa, sampai dengan Amerika. Sedikit fakta yang menarik untuk dibandingkan.

Kini, kita tinggal memusatkan perhatian dan upaya pada bagaimana mencuri perhatian masyarakat konsumen dari luar Bandung dan menggiringnya ke sini secara berkesinambungan. Bandung, kini memang telah menjadi tempat yang begitu menarik wisatawan, karena inisiasi long weekend yang bertubi-tubi dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun, sampai kapankah hal ini akan terus berlangsung? Saya meyakini, sebagaimana terjadi di seluruh dunia, pertumbuhan industri kreatif Bandung dan “pesta” komunitasnya adalah jawaban yang paling pas.

Belum lagi jika kita membicarakan mengenai topik terhangat Bandung satu dekade terakhir: Kemacetan yang membahana. Industri kreatif juga mampu menjawab permasalahan ini dengan sangat cerdas dan cergas. Faktanya adalah: Jika seluruh mobil berpelat nomor “D” dibariskan, maka panjang total ruas jalan di Kota Bandung tidak dapat menampung bahkan setengahnya saja. Ini belum termasuk mobil-mobil dari luar daerah, yang semenjak hadirnya jalan tol Cipularang telah menjadi salah satu komponen semipermanen jalanan Kota Bandung.

Seandainya saja komunitas industri kreatif, diizinkan untuk mengolah ruang-ruang publik dengan cara menampilkan dan menggelar karya seni mereka di sana. Seandainya saja nuansa arsitektur bangunan kuno yang sangat “Bandung” diperkuat. Dan seandainya karya seni fungsional ditebar di titik-titik konsentrasi massa. Maka seluruh pelosok Kota Bandung akan terlalu asyik untuk dinikmati. Sehingga, para wisatawan punya alasan kuat untuk tidak bermobil di Bandung, karena mereka ingin menikmati beragam tontonan yang berbeda di setiap titik. Minimal apabila takdir berkendara dalam situasi macet, mereka dapat menikmatinya dengan pengalaman yang dapat kita semua rencanakan sebagai pemilik kota. Pada akhirnya, Bandung sebagai “Kota Kreatif” adalah satu kenyataan faktual.

Apalagi potensi kreativitas Kota Bandung, memang begitu lengkap dengan kekayaan dan keberagaman dalam musiknya, desain, seni rupa, arsitektur, penulisan kreatif, penerbitan dan media, film dan animasi, budaya lokal tradisionalnya, sampai ke pengembangan peranti lunak dan gamesnya. Ketika negara lain di seluruh dunia sibuk mencari, mengorek-ngorek, dan mengais-ngais–sampai harus melakukan duplikasi dari negara lain untuk kemudian diklaim sebagai karya lokalnya–Bandung justru telah memiliki semua itu.

Maka salahkah saya jika mengatakan bahwa Bandung memiliki potensi untuk menjadi kiblat industri kreatif, minimal di antara negara berkembang di dunia?

Pertanyaannya adalah, kapankah seluruh pelaku dan komponen pendukungnya menyadari bahwa mereka adalah “para pemegang saham” Kota Bandung? Karena, hanya dengan itulah mereka dapat berkolaborasi dengan sepenuh hati, ikhlas, dan bertoleransi, demi menjadikan Bandung sebagai Kiblat industri kreatif dunia.

Saya begitu bersyukur dan berbangga bahwa saya dilahirkan dan dibesarkan di Kota Bandung. Semoga apa yang saya lakukan dapat menjadi kontribusi kepada kota ini dan masyarakatnya.

Penulis: Fiki Chikara Safari (Creative Entrepreneur, Airplane System)
Sumber: Harian Pikiran Rakyat