Selasa, 2 Januari 2007

BANDUNG, KOMPAS – Persoalan fasilitas dan ketersediaan buku bacaan masih menjadi momok pengembangan budaya literasi atau baca tulis di masyarakat Jawa Barat. Dalam kondisi ini, keberadaan perpustakaan desa maupun taman bacaan menjadi vital dalam menumbuhkembangkan masyarakat gemar membaca, khususnya di daerah.

Sesungguhnya, tidak ada persoalan dengan minat baca masyarakat. Berdasarkan penelitian kami di empat kabupaten, yaitu Bogor, Bandung, Subang dan Kuningan, minat baca mereka sebetuknya sudah ada. Yang selanjutnya jadi persoalan, adalah keterbatasan fasilitas hingga bahan-bahan bacaan”, ungkap Kepala Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jabar Dedi Junaedi, Selasa (2/1).

Menurut Dedi, dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Jawa Barat yang umumnya petani, keberadaan buku-buku bacaan tentunya bukanlah barang yang ”murah” dan mudah dijangkau. Untuk itu, penyediaan layanan jasa peminjaman buku semacam perpustakaan mau tidak mau menjadi solusi strategis.

Terkait kepentingan ini, mulai tahun anggaran 2007, Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jabar telah meningkatkan alokasi pengadaan perpustakaan desa hingga enam kali lipat dibanding periode-periode sebelumnya. Jika rata-rata alokasi pertumbuhan perpustakaan desa sebelumnya hanya 150-200 buah, kali ini jumlahnya ditargetkan hingga 925 buah.

Saat ini, jumlah desa di Jabar sekitar 6.000. Sementara yang sudah terjangkau perpustakaan desa baru 598 desa. Jika tetap mengandalkan pola lama pertumbuhan perpustakaan desa, mungkin sepuluh tahun lebih baru bisa selesai. Dengan program peningkatan alokasi mulai tahun ini, target (pencapaian) bisa diperpendek menjadi empat tahun”, ucapnya.

Bertambahnya alokasi pengadaan perpustakaan desa ini adalah berkat dukungan pemerintah pusat yang bersedia menganggarkan dana dekonsentrasi untuk keperluan ini. Tahun ini, besaran dana dekonsentrasi untuk pengembangan perpustakaan desa Rp 17,2 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari dana APBD Jabar 2007 sebesar Rp 11,5 miliar untuk keperluan serupa.

Perpustakaan Keliling
Selain perpustakaan daerah, upaya jemput bola dilakukan melalui pengadaan perpustakaan keliling. Saat ini, hampir setiap kabupaten/kota memiliki fasilitas ini. Apalagi, ditambah hibah enam unit fasilitas tersebut dari Perpusatakaan Pusat. Tahun 2007, Pemprov Jabar akan menambah 500 eksemplar koleksi buku ke masing-masing perpustakaan keliling.

Adapun jenis buku yang diprioritaskan antara lain budidaya pertanian, peternakan, dan perikanan (40 persen), pendidikan umum (15 persen), agama (15 persen), teknologi tepat guna, dan buku cerita. ”Jenis buku-buku bacaan sengaja ditentukan supaya variatif namun tidak terlepas dari local content sebagai masyarakat agraris”, ucapnya.

Penulis: Yulvianus Harjono
Sumber: Kompas Cyber Media Community