Kamis, 13 Juli 2006

BERONTAK terhadap praktik kekerasan di orientasi pengenalan kampus (ospek) oleh mahasiswa yang notabene teman-temannya, Deni Rachman diasingkan. Mencari aktualisasi baru, alumnus Kimia Unpad ini menoleh pada cita-cita terpendamnya, bikin toko buku. Dengan modal nekat dan dana pinjaman, ia membeli beberapa eksemplar buku dari pasar buku Palasari dan berjualan ngampar di lapangan Gasibu dan kompleks Pusdai. Itu tahun 2001.

DI tempat ngampar ini, Deni bertemu seorang distributor dan kerja sama pun terjalin. Atas dasar kepercayaan dan sistem konsinyasi (titip jual), ia bisa memilih buku yang laris untuk dijual dengan jumlah yang banyak relatif tanpa keluar modal.

Ia pun mulai merambah event-event lebih besar di tempat-tempat seperti Sabuga dan Graha Manggala Siliwangi. Tetapi, perlakuan tidak enak bukannya tidak sempat mampir. Sampai saat ini, ijazah SMA-nya yang dijadikan jaminan belum dikembalikan oleh sebuah penerbit besar. Padahal, urusan bisnis di antara mereka sudah beres.

Waktu berlalu. Tahun 2003, Deni tetap belum punya toko buku. Justru kos-nya makin penuh terisi dus buku. Berkat jam terbang, Deni mengetahui seluk-beluk bisnis perbukuan. Ia banting setir menjadi distributor dan mendirikan Lawangbuku. Apalagi toko-toko buku seperti yang pernah diidamkannya, mulai ramai bermunculan di Kota Bandung dan sekitarnya. “Waktu itu sebulan bisa muncul satu“, katanya mengenang.

Kini, tak sedikit dari toko-toko buku itu malah tumbang.

Wiku Baskoro, adalah salah satu mantan pengelola toko buku yang tumbang. Bukan hanya satu, tetapi dua toko, yakni toko buku Hitam Putih (2003) dan Warung Lesehan (2004). Hingga saat akhir, tinggal Wiku sendirian. Teman-temannya sudah lama pergi. Ia sendiri mulai terjun ke bisnis buku setelah sukses menggelar pameran buku di kampusnya, Universitas Widyatama. Toh, buku sempat mempertemukan Wiku dan Deni. Mereka mendirikan Dipan Senja pada 2004.

Itu eforia“, kata Deni, ketika melihat basis pendirian toko buku yang labil.

Pasca orde baru (Orba), menurut dia, keran informasi terbuka luas namun berbarengan dengan krisis ekonomi. Periode 1999-2001 penerbit-penerbit buku dari Yogyakarta meluncurkan buku-buku yang pada masa Orba sulit diperoleh. Mahasiswa melihat peluang bisnis dan kebebasan mengakses buku lebih banyak. “Ada buku, ada modal, ada tempat, jadilah toko buku. Tapi komitmen nggak kuat“, kata Deni.

Namun benarkah, ada penjual buku karena semangat kumpul-kumpul dan prestise agar kelihatan intelek? “Wajar saja. Nggak munafik, saya memulainya juga karena pengin ada image itu. Tapi itu saja nggak cukup. Harus ada kemampuan manajerial. Fungsi manajemen mesti berjalan bagus.”

Deni sempat menerbitkan buku secara independen (“Sosialisme di Kuba: Idealisme Setengah Hati”, Kang Bondet/Sigit Susanto, 2004) yang mencuatkan namanya. Dipan Senja kemudian memfokuskan diri pada membangun jaringan komunikasi antarpegiat buku, terutama sisi manajemen. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, kurangnya kemampuan manajemen inilah yang membuat kondisi usaha perbukuan tidak sehat. Dipan Senja menjadi agen literasi. Workshop Buku 5 in One yang merupakan rangkaian kegiatan transformasi ilmu manajemen praktis untuk perbukuan digelar.

Dalam bisnis buku, Deni dan Wiku mengalami perubahan paradigma. Sebelumnya mereka menjual/menyalurkan buku menurut selera mereka. Kemudian karakter konsumen/retail mereka perhatikan. Konsumen di Gasibu tentu beda dengan di Sabuga. Image toko-toko buku tentu masing-masing tidak sama.

Penerbit pun mereka perhatikan. Sebagai distributor, Lawangbuku memilih penerbit yang peduli pada literasi, minimal mendukung program bedah buku mereka. Sikap manusiawi juga jadi pertimbangan. Pedagang punya kemampuan dan selayaknya diberi keleluasaan menyusun program-program. Bukannya digenjot terus untuk mengejar materi. Soal retail, Lawangbuku mempertimbangkan profil pengelola dan kelayakan tempat.

Bisnis distribusi Lawangbuku tetap jalan. Secara finansial kita harus kuat. Tanggungjawab kita sebagai pelaku perbukuan itu di Dipan Senja. Jadi, nggak timpanglah. Kita nggak sekadar jadi manusia bisnis, tapi juga manusia yang sosial, bantu teman-teman. Minimal apa yang dipermasalahkan di Lawangbuku, itu bisa teratasi dengan kita ngumpul bareng. Saling menguntungkanlah“, kata Deni.

Transformasi toko buku menjadi toko buku berbasis komunitas atau toko buku plus taman bacaan dan perpustakaan, dilihat Wiku sebagai sebuah langkah manajemen.

Saya ngelihat-nya sebagai perkembangan. Dulu muncul toko buku, lalu muncul toko buku komunitas, refresh lagi, muncul lagi toko buku dan taman bacan. Dari sisi bisnis, itu seperti tadi, salah satu bagian dari manajerial untuk menambah pemasukan“, kata Wiku.

Apakah menolong atau tidak, menurut Deni, itu yang mau dilihat dari workshop. Yang jelas, untuk toko buku plus taman bacaan sudah muncul ekses. “Ada beberapa penerbit yang nggak mau menyuplai toko buku yang ada taman bacaannya. Soalnya, katanya sih orang jadi lebih suka minjem daripada beli“, kata Deni.

Wiku menyatakan heran. mengapa bisnis buku belum pernah dibahas secara detil seperti consumer goods. Padahal, dari sisi crowded-nya pasar itu menarik. Konsumen tidak banyak, daya beli terbatas, belum lagi buku masuk skala prioritas entah ke berapa. Justru, hal inilah yang menumbuhkan kreativitas toko buku alternatif dengan membuat taman bacaan, misalnya.

Pelabelan alternatif, menurut Deni, juga mengundang ekses tersendiri. Entah siapa yang pertama kali menyebutkan. Istilah ini dialamatkan pada toko-toko buku yang menjual buku-buku bekas, buku-buku yang berasal dari penerbit relatif tidak besar. Karena alternatif, image yang dilayangkan kepada toko-toko buku ini adalah tidak profesional. Belum lagi pembedaan perlakuan yang dialami antara toko buku seperti ini dengan toko buku besar saat pameran, misalnya. “Kan sama-sama tamu, sama-sama toko buku , masa tidak diperlakukan setara“, kata Deni.

Pemberdayaan manajemen juga dan jaringan komunikasi perlu dilakukan untuk menutup celah kejahatan yang dapat terjadi dalam bisnis ini. Setidaknya menjadi penangkal dini. Model kejahatan “mafia” apa yang biasa terjadi? “Satu, pembajakan. Dua, penipuan“, kata Deni. “Teman saya ditipu orang dari Jakarta yang mengaku sebagai distributor. Dia ambil buku sekian juta tanpa dp (down payment-red) sedikitpun. Setelah dilacak ternyata nama orang dan distributor itu nggak ada. Saya pikir buku yang diambil diobral supaya laku aja dan itu merusak. Ada sistem, penerbit ke distributor berapa persen, distributor ke toko buku berapa persen, toko buku ke konsumen berapa. Cuma dengan penipuan seperti itu dia bisa langsung jual ke konsumen dengan harga penerbit ke distributor“.

Wiku menambahkan, kasus praktik kejahatan yang tengah menimpa sejumlah taman bacaan. “Di taman bacaan itu ada mafianya. Pinjam dan nggak ngembaliin lagi. Teman saya kehilangan buku-buku yang mahal seperti ‘Musashi’ dan ‘Eragon’. Beberapa tempat juga kehilangan banyak buku. Teman saya pengin bikin jaringan antar taman bacaan supaya kalau ada yang seperti itu, keanggotaannya di-black list dan nggak bisa masuk ke taman bacaan yang lain“, katanya.

Soal mafia perbukuan, Deni juga berusaha melihat ke dalam. “Saya juga sering bertanya. Ketika misalnya saya atau teman-teman yang lain telat bayar, jangan-jangan kita juga mafia. Karena itu menyusahkan dan melambatkan perputaran. Introspeksi juga. Jangan-jangan kita juga mafia buat orang lain, nih. Orang bisa bangkrut gara-gara kita nggak bayar.

Pilihan Dipan Senja untuk menjadi agen literasi, ternyata memang bukan tanpa alasan. Semua lini kegiatan perbukuan seharusnya solid. Satu macet, macet semua. Maka, workshop yang diselenggarakan Dipan Senja, meliputi pengelolaan toko buku alternatif, distributor buku, penerbit, perpustakaan/taman bacaan, dan penulisan. Workshop diadakan secara paralel selama satu tahun hingga tahun 2007, bekerja sama dengan Bale Pustaka (Jln. Jawa No. 6, Kota Bandung). Informasi seputar workshop dapat diakses melalui milis workshopbuku@yahoogroups.com.

Penulis: Ricky Yudhistira
Sumber: Pikiran Rakyat