9 Juni 2007

Bandung, Kompas – Sejak kemunculannya pada tahun 1970-an, industri animasi di Indonesia belum berkembang. Hal ini disebabkan budaya konsumtif dan kebijakan ekonomi Indonesia yang buruk. Hingga kini Indonesia hanya menjual tenaga ke industri animasi yang ada di luar negeri.

Makin banyak anak muda menggemari animasi. Namun, mereka hanya bisa menikmati animasi yang diproduksi industri animasi di luar negeri.

Menurut Tubagus Zufri, Ketua Program Multimedia Universitas Widyatama, animasi sudah muncul di Indonesia tahun 1975, yaitu karya Suryadi yang berjudul Timun Emas. Di Bandung, muncul perusahaan animasi Red Rocket tahun 2002. Namun, secara umum, dunia animasi di Indonesia tidak mampu berkembang pesat seperti di negara lain.

Kondisi tersebut disebabkan Indonesia hanya konsumen bagi industri animasi. “Orang Indonesia terlena oleh kondisi serba ada sehingga budaya untuk berkreasi dan menciptakan sesuatu, termasuk animasi, tidak berkembang“, kata Zufri di Bandung, Kamis (4/1).

Industri animasi juga tidak berkembang karena budaya orang Indonesia yang suka membajak, termasuk membajak perangkat lunak animasi. Akibatnya, ketika seorang animator membuat karya-meskipun karyanya bagus-jika tidak memiliki lisensi atas software yang digunakannya, karyanya tidak bisa dijual ke industri animasi di negara lain.

Festival animasi juga sulit dilaksanakan karena kendala software. Menurut Zufri, harga perangkat lunak animasi tiga dimensi (3D) 15.000 dollar AS, atau sekitar Rp 135 juta, sementara harga untuk dua dimensi (2D) sekitar 1.000 dollar AS atau sekitar Rp 9 juta.

Di Indonesia, hanya Jakarta yang mampu menjadi pasar animasi. Beberapa perusahaan periklanan memesan animasi pada beberapa animator di Bandung, yang hanya dapat bergerak di bidang produksi. Padahal, rangkaian pembuatan animasi adalah praproduksi, produksi, dan pascaproduksi.

Praproduksi biasanya dilakukan perusahaan pemberi order. Mereka yang membuat konsep hingga cerita. Sementara tahap produksi hanya pekerjaan menggambar.

Zufri menjelaskan, jumlah animator sangat sedikit. Yang banyak adalah tenaga pembuat gambar-gambar lanjutan dari gambar utama yang dibuat key animator. Di atas key animator ada animator pembuat konsep, story board, dan pengarah animasi.

Membuat animasi tak hanya sekadar menggambar dan menyusunnya, tetapi juga harus bisa membuat konsep cerita yang menarik. Ini kelemahan kreator animasi Indonesia“, ujar Zufri.

Zufri menjelaskan, biaya produksi film animasi lebih tinggi dari film biasa. Selain itu, film biasa dengan mudah bisa mendapat sponsor dengan mengandalkan aktor yang akan dipakai. Sementara animasi tidak selalu dapat mengandalkan tokohnya untuk dapat sponsor.

Selain itu, pasar film animasi di Indonesia tidak ada. “Satu-satunya andalan adalah stasiun televisi. Tapi stasiun televisi mana yang mau membeli film animasi Indonesia? Membeli film animasi luar harganya lebih murah dan kualitasnya bagus” ujar Zufri. (ynt)

Sumber: Kompas/ SMK Bina Informatika