Dampak pasca tragedi Sabtu Kelabu pada tanggal 9 Februari 2008 di Gedung AACC yang menelan korban 11 orang tewas mulai banyak dirasakan oleh Event Organizer (EO) di kota Bandung. Beberapa acara kegiatan seni dan budaya yang digelar di kota Bandung kesulitan mendapatkan perijinan dari pihak-pihak yang berwenang dalam hal ini pihak kepolisian dan pemerintah kota.

Acara diskusi ini digagas oleh Wawan Djuanda dari event organizer Republic Entertainment dan dihadiri oleh para pelaku di industri Event Organizer komersil maupun non komersil, seperti misalnya komunitas kreatif yang bergerak dibidang pertunjukan.

Pasca tragedi AACC, Polda Jabar mengeluarkan kebijakan yang salah satu isinya adalah semua kegiatan yang melibatkan jumlah massa banyak diharuskan mempunyai surat rekomendasi dari organisasi yang bersangkutan. Misalkan apabila hendak mengelar kegiatan otomotif maka kita harus mendapatkan surat rekomendasi dari pengurus persatuan otomotif dalam hal ini Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Sementara itu dari pihak Disbudpar kota Bandung sedang menyusun draft perundang-undangan setingkat keputusan walikota yang intinya adalah :

  1. Setiap EO wajib terdaftar di pemerintahan kota dan melakukan registrasi rutin.
  2. Setiap berbagai macam kegiatan yang akan diselenggarakan oleh event organizer wajib memberikan laporan pemberitahuan kegiatan kepada pihak pemerintah kota.
  3. Pemda kota Bandung akan membentuk sebuah lembaga setingkat asosiasi bagi para EO yang bertugas memberikan surat rekomendasi bagi para EO yang akan menggelar pertunjukan seni dan budaya. Asosiasi ini juga bertugas sebagai badan kontrol dan pengawasan terhadap kegiatan event organizer.
  4. Pemda kota Bandung akan mengembalikan fungsi aset gedung-gedung pertunjukan seni dan budaya di kota Bandung sesuai dengan peruntukannya.

Menggelar pertunjukan adalah salah satu hak sipil dan hak budaya yang telah diatur oleh undang-undang. Semua seniman diberi hak untuk menampilkan dan mengekspresikan karyanya. Begitu juga dengan individu yang berhak mengapresiasi karya baik itu dalam bentuk pertunjukan, pameran seni dan budaya secara aman. Selama ini berbagai pertunjukan seni dan budaya baik itu yang sifatnya tradisional maupun modern telah mampu memberikan “bentuk” pada wajah kota.

Kota Bandung terkenal sebagi kota musik dan fashion. Beberapa event seni dan budaya yang digelar di kota Bandung telah mampu menjadi ikon bagi perkembangan budaya di kota Bandung. Untuk itu, diharapkan rencana pembentukan kebijakan yang berkaitan dengan pementasan acara seni dan budaya tidak menghasilkan sebuah kebijakan yang kontra produktif bagi perkembangan industri pertunjukan sebagai bagian dari industri kreatif.

Kebijakan yang dibuat oleh Pemkot Bandung lewat Disbudpar Kotamadya dan Polda Jabar ditangkap oleh para penggiat EO mempunyai kesan reaktif dan pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi perkembangan seni dan budaya di kota Bandung. Aturan yang dibuat makin berjenjang dan rawan pada kondisi miskomunikasi dan praktek suap. Seharusnya peraturan yang dihasilkan adalah peraturan dengan mekanisme yang sederhana, transparan dan dibuat lebih terpadu.

Penulis: Addy Handy