Sabtu, 10 November 2007

Film dan bioskop pada awal kemunculannya dianggap sebagai ikonografi modernitas dunia hiburan. Pada dekade-dekade pertama abad ke-20, tidak lama dari titik penemuannya, penghiburan anyar ini segera merambah ke segenap penjuru dunia, mengisi waktu luang orang-orang kota saat itu.

Ikonografi modernitas hiburan tersebut kemudian sampai di Bandung, tepat satu abad silam pada tahun 1907. Saat itu dua bioskop pertama berdiri di Alun-alun Bandung dalam bangunan tenda semipermanen yang cukup besar. Bioskop-bioskop tersebut adalah de Crown Bioscoop milik seorang bernama Helant dan Oranje Electro Bioscoop milik Michel.

Pertunjukan perdana bioskop-bioskop tersebut berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan. De Crown Bioscoop adalah yang tampil lebih dulu. Oranje Electro Bioscoop menyusul tepat seminggu kemudian dengan pertunjukan perdananya pada Sabtu malam, 1 Desember 1907.

Tenda-tenda bioskop tersebut dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bendera dan umbul-umbul. Pada salah satu sisi bagian dalam tenda terpampang sebuah layar besar di mana gambar idoep diproyeksikan. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang hendak diputar. Lantai tenda tersebut dilapisi vloer dan alas semacam tikar. Walau sarana pertunjukan film terbilang masih sederhana, tenda bioskop ini tampil cukup menghebohkan untuk ukuran seabad lalu.

Di antara dua pertunjukan perdana tersebut, pertunjukan dari Oranje Electro Bioscoop tampaknya memang lebih meriah. Selain dipromosikan lebih serius, bioskop milik Michel ini juga dilengkapi peralatan proyeksi yang lebih canggih. Disebut ”electro bioscoop” karena alat proyeksi gambarnya memang telah menggunakan sistem elektronik yang memungkinkan pemutaran film berjalan mulus dengan gambar yang tidak berkedipan.

Pertunjukan perdana Oranje Electro Bioscoop berhasil mendapat sambutan meriah dari masyarakat Bandung. Malam itu tenda-bioskop ini dipenuhi orang-orang yang penasaran melihat ”keajaiban zaman” yang akan dipertunjukkan.

Saat itu film yang diputar tentu masih bisu. Oleh karena itu, Michel sang pemilik bioskop menyediakan sebuah orgel-elektrik yang besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu yang ditampilkan. Pertunjukan film dimulai pukul tujuh malam. Namun, beberapa waktu sebelumnya suara musik dari orgel Oranje Electro Bioscoop telah terdengar meramaikan atmosfer Alun-alun. Musik dari orgel tersebut segera menarik perhatian publik untuk datang ke Oranje Electro Bioscoop.

Dari malam ke malam bioskop-bioskop tersebut terus mendapat animo yang baik dan selalu ramai penonton. Kepenasaran orang saat itu atas film-film yang akan ditampilkan seolah tak kunjung habis. Saat cuaca kering maupun hujan, setiap malamnya orang-orang berebut sado, beranjak pergi ke Alun-alun Bandung dan segera memenuhi tenda-tenda bioskop Michel dan Helant.

Ruang pertunjukan di bioskop zaman itu dibagi menjadi beberapa kelas dengan harga karcis yang bervariasi. Karcis kelas I yang dijual lebih mahal tentu diperuntukkan bagi orang Eropa atau mungkin pribumi dari kalangan menak, kelas II, untuk kalangan Timur asing dan pribumi dari kalangan menengah, dan kelas III atau IV untuk kalangan menengah bawah. Pilihan lain untuk menonton film dengan tarif jauh lebih murah adalah di feesterrein (taman hiburan rakyat).

Dari Tenda ke Gedung
Tahun-tahun berikutnya, bioskop di Bandung berkembang dari bentuk tenda semipermanen, kemudian beralih ke bangunan permanen yang juga masih sangat sederhana. Bioskop-bioskop permanen yang kemudian muncul di antaranya adalah Elita Biograph, Varia Park, dan Oriental Show di Alun-alun Timur, Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja, Orion Bioscoop di Kebonjati, Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan, serta Deca Bioscoop yang bertempat tepat di belakang kantor pos pusat, Banceuy.

Saat itu bioskop-bioskop lazim tampil sebagai bagian dari sebuah gedung kesenian atau yang saat itu dikenal sebagai roemah koemedie. Film dalam bioskop adalah salah satu bentuk pertunjukan yang ditawarkan di suatu roemah koemedie, di samping pertunjukan-pertunjukan konvensional seperti koemedie stamboel, tonil, konser orkes musik, dan sebegainya. Orion merupakan bagian dari Preanger Theater (kemudian menjadi Luxor Theater dan Luxor Park), Alhambra Bioscoop merupakan bagian dari Apollo Theater (kemudian menjadi Empress Bioscoop), dan Elita Biograph sempat menjadi bagian dari Scala Theater.

Menjelang akhir dasawarsa 1910-an, bioskop-bioskop di Bandung mulai dibangun dengan bangunan khusus yang dirancang sebagai gedung bioskop. Di Alun-alun Timur, Elita Biograph dan Oriental Show dirombak menjadi bangunan yang jauh lebih memadai dan tampil utuh dengan bentuk standar sebuah gedung bioskop zaman itu.

Bioskop-bioskop terus berkembang dari jumlah dan fasilitasnya. Pada pertengahan 1920-an, di Braga yang saat itu merupakan pemusatan hiburan kalangan Eropa, dibangun Concordia Bioscoop (kemudian populer sebagai Majestic Theater), bioskop elite berstandardisasi Eropa.

Masa Kejayaan
Dalam era film bersuara pada 1930-an, bioskop-bioskop di Bandung makin mengalami kemajuan. Saat itu bioskop-bioskop di Bandung dikuasai satu jaringan besar Elita Concern yang dikelola seorang “Raja Bioskop” bernama F.F.A. Buse.

Pada masa itu gedung-gedung bioskop baru yang megah dengan arsitektur yang khas, lengkap dengan fasilitas mutakhir, gencar didirikan oleh F.F.A. Buse. Elita Biograph dan Oriental Show di Alun-alun Timur dibangun ulang dalam rupa gedung besar yang modern dengan corak art-deco yang kental. Dengan bangunan barunya, Elita Biograph bahkan dikenal sebagai salah satu dari dua bioskop terbaik di negeri ini saat itu. Pembaruan fasilitas dan daya tarik dilakukan pula pada bioskop-bioskop Elita Concern lainnya.

Bioskop-bioskop baru pun terus dibangun. Di kawasan Pecinan muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi dan Liberty Bioscoop di Cicadas.

Bioskop-bioskop Elita Concern tersebut terpilah atas kelas-kelas tertentu yang fasilitasnya disesuaikan dengan daya beli masing-masing kalangan masyarakat. Sedari Concordia Bioscoop (Majestic Theater) yang tampil sebagai bioskop elite kalangan orang Eropa, hingga bentuk feesterrein yang mengakomodasi kebutuhan hiburan “rakyat kecil” seperti Varia Park.

Dalam mengagumi kemegahan gedung serta standar kualitas bioskop-bioskop di Bandung, Gravin de Réthy, seorang bangsawan Belgia yang berkunjung ke kota ini pada 1930-an sempat bertutur, “Zoo’n welverzorgd theater moest Brussel hebben” (Bioskop-bioskop seperti ini sepantasnya ada di Brussel). Komentar Gravin de Réthy menggambarkan bahwa kemajuan bioskop-bioskop di Bandung paling tidak telah menyentuh standar kualitas bioskop di kota-kota besar dunia, seperti Brussel.

Elita Concern terbilang unggul dalam mengelola bioskop-bioskopnya. Salah satu keberhasilan yang menonjol misalnya tampak dari keberhasilan menekan harga karcis. Tarif biokop di Bandung kala itu bahkan adalah yang termurah di Hindia Belanda, dengan fasilitas terbaik yang ditawarkan.

Kegemerlapan gedung-gedung bioskop Elita Concern berimbang dengan animo masyarakat Bandung atas film. Pada masa Hindia Belanda dulu, bioskop dan feesterrein di Bandung tidak pernah sepi pengunjung. Pada akhir pekan bahkan orang harus berebut karcis agar tidak kehabisan karcis.

Bioskop Dulu dan Sekarang
Sebagian besar artefak sisa kejayaan bioskop di Bandung masa Hindia Belanda telah punah berganti menjadi bangunan-bangunan baru. Sedikit sisa yang masih bisa kita temukan saat ini adalah bangunan bekas Majestic Theater (sempat bernama Gedung AACC) di Jalan Braga yang pada masa pascakemerdekaan sempat bertahan sebagai bioskop dengan nama Bioskop Dewi. Di Kosambi masih berdiri pula bangunan bekas Rivoli Teater yang sekarang digunakan sebagai gedung kesenian Rumentang Siang. Sementara di Alun-alun Selatan masih berdiri bangunan bekas bioskop Radio City milik J.F.W. de Kort yang beroperasi sejak awal 1940-an.

Berbeda dengan dulu, di masa sekarang bioskop seolah memang tidak lagi bisa dikenali melalui rupa fisiknya. Bioskop-bioskop masa kini lazim tampil sebagai bagian dari bangunan besar pusat belanja. Rupa dari sebuah bioskop kini menjadi semu, melesap dalam kompleks town square, mal atau plaza. Tak ada lagi bioskop dalam “gedung bioskop”. Tak ada lagi penanda jejak zaman yang dibuat dalam rupa gedung bioskop.

Penulis: Taufanny Nugraha (Penggiat Klab Aleut, komunitas apresiasi dan wisata sejarah)
Sumber: Pikiran Rakyat