Kamis, 15 September 2005

Kira-kira pada pertengahan bulan yang lalu, saya dan beberapa teman yang tergabung di dalam organisasi Bandung Center for New Media Arts baru saja menyelesaikan penyelenggaraan “The Third Asia Europe Art Camp 2005” yang dilaksanakan di Bandung sejak tanggal 4 s.d. 12 Agustus 2005.

Program yang diselenggarakan secara bersama dengan The Asia-Europe Foundation ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga setelah sebelumnya diselenggarakan di Paris (2003) dan Tokyo (2004), masing-masing diselenggarakan dengan tema dan fokus pembahasan yang berbeda. Untuk pelaksanaan program di Kota Bandung, kegiatan yang diikuti oleh 20 mahasiswa seni rupa yang berasal dari 20 negara Asia & Eropa ini secara khusus membahas keberadaan ruang inisiatif dan kaitannya dengan praktik seni media baru.

Bagi mereka yang sudah akrab dengan dunia seni rupa, bisa jadi keberadaan istilah ruang inisiatif (artist initiatives space) dan seni media baru (new media arts) bukanlah sebuah istilah yang asing lagi. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir misalnya, penggunaan istilah ruang inisiatif memang banyak dipakai untuk menjabarkan keberadaan ruang-ruang seni yang dikelola secara mandiri oleh para seniman. Melalui ruang-ruang semacam ini, berbagai kegiatan seni yang melibatkan publik secara terbuka banyak dilakukan sehingga memperkaya pemahaman dan pengalaman masyarakat luas tentang wacana ataupun perkembangan seni rupa zaman sekarang, baik di tingkat lokal maupun internasional. Tidak hanya melalui pameran, tetapi juga melalui berbagai aktivitas lain semisal workshop, diskusi, dan berbagai kegiatan yang memanfaatkan instrumen teknologi baru seperti internet.

Sementara itu, keberadaan istilah seni media baru setidaknya juga ikut mewarnai perbincangan seni rupa di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini. Sederhananya, seni media baru sebetulnya merupakan cabang perkembangan seni yang terintegrasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi. Beberapa contoh yang bisa dikategorikan sebagai karya seni media baru mungkin di antaranya adalah karya para seniman yang memanfaatkan medium fotografi, video, internet, dsb. Namun jangan salah, dalam perbincangan mengenai wacana seni media baru, keberadaan teknologi sebetulnya tidak muncul secara dominan. Rob van Kranenburg, salah seorang narasumber dalam kegiatan ini menyatakan bahwa sebetulnya yang terlihat sangat spesifik dalam praktik seni media baru adalah aktivitas komunikasi dan diseminasi informasi, selain juga cara melihat persoalan dengan perspektif yang berbeda & multidisiplin. Shuddhabrata Sengupta, seorang narasumber dari India malah lebih jauh lagi menyatakan bahwa sebetulnya tidak ada yang baru dalam seni media baru, karena sebetulnya yang dominan dalam praktik seni media baru adalah cara memandang persoalan sehari-hari dengan cara yang berbeda.

Apabila dalam praktik seni yang selama ini dianggap lazim unsur-unsur estetika selalu menjadi tolok ukur yang utama, dalam praktik seni media baru masalah estetika mungkin hanya menjadi elemen penunjang. Yang utama sebetulnya adalah mekanisme produksi dan distribusi informasi, termasuk di dalamnya berbagai praktik yang mengaburkan batasan-batasan disiplin pengetahuan yang selama ini dianggap sudah terlampau mapan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila dalam praktik seni media baru, batasan antara yang seni dan bukan seni, ataupun batasan antara yang seni dan yang sehari-hari merupakan wilayah yang sering dipermainkan atau malah diintervensi. Dari sini tampaknya kita bisa melihat praktik seni media baru sebagai sebuah wilayah irisan yang mempertautkan seni dengan wacana ilmu pengetahuan dan teknologi, yang juga dapat terkait dengan persoalan keseharian kita. Dalam presentasinya, Akos Maroy (narasumber dari Hongaria) menyarankan kepada para peserta mahasiswa yang notabene memiliki latar belakang pendidikan seni, untuk bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar pengetahuan yang berbeda, seperti misalnya ilmuwan dan ahli teknik. Menurutnya, “banyak seniman yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup di bidang teknik sehingga memandang teknisi hanya sebagai tukang, padahal banyak juga yang bisa dipelajari dari seorang teknisi, dan demikian juga sebaliknya”.

Hal ini senada dengan uraian yang disampaikan oleh Dr. I. Bambang Sugiharto dalam tulisannya yang berjudul “Nomadic Aesthetics: The Aftermath of the End of Art”. Menurutnya, berbagai ekspansi yang terjadi di ranah seni visual, mulai dari seni lukis sampai seni patung, ataupun melalui berbagai materi hybrid yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan seperti misalnya penggunaan tubuh manusia dalam performance art, penggunaan benda tak terlihat semisal gas, energi (telepati), dan berbagai proyek seni di wilayah tak bertuan ataupun di ruang-ruang urban, sampai pada intervensi terhadap institusi sosial & politik, termasuk penggunaan komputer, barang-barang elektronik, postcard, video, dsb; setidaknya mendorong pemahaman yang baru mengenai seni.

Seni kemudian harusnya dapat dilihat sebagai istilah yang dinamis, yang dapat berpindah dari satu makna ke maknanya yang lain. Bergerak dari satu habitat ke habitatnya yang lain. Mungkin lebih jauhnya lagi, seni kemudian tidak harus hanya menjadi milik para seniman, tetapi juga bisa menjadi milik semua orang.

Penulis: Gustaff H. Iskandar
Sumber: Pikiran Rakyat