Senin, 16 Juli 2007

Bandung, Kompas – Produktivitas sejumlah distribution outlet atau distro di Kota Bandung terhalang keterbatasan dan kecanggihan mesin sablon. Padahal, kualitas produksi dan desain kaus ataupun pakaian jadi dari distro-distro di Bandung sebanding dengan kualitas pakaian impor asal Amerika Serikat.

Menurut Yulius Dwi Putra, Bagian Promosi CV Lintas Arassy Indonesia, produsen kaus dengan label Airplane, Jumat (13/7), teknologi mesin-mesin yang ada jauh tertinggal dengan yang dimiliki negara lain. Kualitas produk tidak kalah sebab grafis-grafis dan desainer yang bagus-bagus tersedia dan tidak kalah dengan grafis luar negeri.

Produksi satu jenis desain tidak bisa dalam jumlah yang banyak, bahkan harus mengantre atau bergiliran dengan pemilik label yang lain. Sebab, umumnya penyablonan desain kaus dari sebuah label dikerjakan secara maklun oleh perajin sablon yang menerima pesanan sablon tidak dari satu label. Pengerjaannya pun bersifat produksi rumahan (home industry).

Akan tetapi, keterbatasan kapasitas produksi membuat produksi pakain dan kaus distro lebih eksklusif. Nilai eksklusivitas tersebut merupakan ciri khas distro yang tetap dipertahanakan. Umumnya, satu desain hanya diproduksi 100-200 lembar kaus. Jumlah itu harus disebarkan secara merata ke beberapa outlet, khususnya bagi label yang mempunyai lebih dari satu outlet di beberapa kota. Pembajakan desain

Sementara itu, menurut Public Relation and Promotion Ouval Irfan Bijaksana, masalah terbesar yang merugikan distro adalah pembajakan desain. Sejumlah distro ataupun pemilik label sempat dibuat jengkel dengan maraknya penjualan produk-produk kaus bajakan yang desainnya sama persis atau meniru sebagian desain ciptaan distro.

Irfan mengaku, belum ada upaya melaporkan pembajakan produk tersebut ke pihak berwajib ataupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan. “Saya sempat bingung, mana yang asli dan mana yang bajakan. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan lebih dari dalam distro, yaitu mempercepat perputaran desain. Maka, kita tahu produk mana yang dibajak“, kata Irfan.

Yulius mengatakan, pasar luar negeri memang menjanjikan, tetapi belum tergarap optimal. Sebab, distro terkadang kesulitan memenuhi permintaan konsumen asing dalam jumlah besar dengan tenggat waktu yang sempit. Dia mencontohkan, dalam sebulan penjualan ke luar negeri hanya sebesar Rp 5 juta, sedangkan pasar lokal bisa mencapai Rp 500 juta.

Distro merupakan salah satu bentuk industri kreatif yang diciptakan anak muda Bandung, dan bertahan hingga kini. Pertumbuhannya sempat meroket sekitar empat-lima tahun lalu. Jumlah distro di Bandung diperkirakan mencapai 300 outlet. (THT)

Sumber: Kompas