Dalam rangka rencana pelaksanaan studi banding oleh tim Creative City kota Bandung ke beberapa kota kreatif dan industri kreatif di Inggris, Skotlandia, dan Australia selama bulan Maret 2008, pihak Bapedda kota Bandung mengadakan rapat pada hari Selasa, tanggal 4 Maret 2008 di kantor Bappeda kota Bandung jalan Taman Sari no. 76 Bandung.

Dalam rapat tersebut dipaparkan tentang rencana kota Bandung untuk dijadikan percontohan kota kreatif se-Asia Pasifik. Hadir Yudhi Soerjoatmodjo perwakilan dari British Council yang memberikan pemaparan mengenai indikator perkembangan industri kreatif sebuah kota. Ada empat parameter yang harus dicapai sebuah kota jika ingin perkembangan industri kreatifnya maju:

  1. Birokrat yang mempunyai visi kepemimpinan yang kreatif (creative leadership). Kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan oleh pihak birokrat dalam level pembuat kebijakan haruslah mampu mendorong kemajuan industri kreatif.
  2. Wirausahawan yang kreatif (creative entrepreneurship). Para pelaku industri kreatif yang dituntut untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru dalam berbagai hal sehingga mampu menciptakan iklim usaha yang positif sehingga pihak konsumen dapat diuntungkan melalui pilihan produk-produk yang inovatif.
  3. Pengembangan industri kreatif yang terencana, terukur dan mempunyai parameter yang jelas (design project).
  4. Memiliki program dan kegiatan yang menampilkan berbagai macam ekspresi kreatif para pelaku industri kreatif yang melibatkan semua stake holder di bidang industri kreatif (Festival, Public Celebration, Exhibition, Concert, dsb.).

Sementara itu perwakilan dari Bappeda kota Bandung mempresentasikan hasil kajian yang telah dilakukan pihak Bappeda kota Bandung yang nantinya akan dijadikan bahan acuan untuk melakukan studi banding ke beberapa kota kreatif di Eropa dan Australia. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Proyek pemetaan (road map). Diharapkan dari kegiatan pemetaan komunitas kreatif ini dapat didapatkan analisis kebutuhan yang komprehensif.
  2. Membentuk working group diantara sesama stake holder industri kreatif sehingga dapat terbangun sebuah jaringan yang berkesinambungan dan tercipta sebuah acuan regulasi dan kebijakan yang akan meningkatkan perkembangan di bidang industri kreatif.
  3. Mengembangkan kapasitas persaingan diantara jaringan komunitas kreatif di kota Bandung.
  4. Mengembangkan brand image kota Bandung sebagai kota kreatif yang bermartabat.

Dalam rapat tersebut ikut hadir juga beberapa undangan diantaranya dari KICK (Kreative Independent Clothing Komunity), Common Room Networks Foundation, British Council Indonesia, Komunitas Ujungberung Rebels, Republic Entertainment, ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) kota Bandung, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Perdagangan kota Bandung, Kepala Bagian Pengembangan Ekonomi kota Bandung, Disperindag Provinsi Jabar, dsb.

Penulis: Addy Handy