Senin, 3 Juli 2006

BANDUNG, (PR).-
Perajin Bandung tidak hanya mengalami kendala permodalan, tetapi juga kekurangan media untuk berpromosi. Akibatnya, hasil kerajinan Bandung jarang dikenal oleh wisatawan. Padahal, jumlah perajin di Bandung mencapai 400 orang, yang masing-masing bisa mempekerjakan minimal dua orang untuk industri kerajinannya.

Masalah modal memang sering dikeluhkan para perajin. Namun, kurangnya publikasi/promosi akan produk yang dihasilkan juga merupakan keluhan lain yang sering dilontarkan para perajin”, kata Kepala Bagian Ekonomi Kota Bandung, Drs. Ema Sumarna, M.Si., Sabtu (1/7) di Pendopo Kota Bandung, seusai konferensi pers mengenai pelaksanaan ”Pesona Kriya Bandung (PKB) 2006”, yang dijadwalkan digelar 4-7 Juli 2006 di Graha Manggala Siliwangi.

PKB 2006 yang digelar Dekranasda Kota Bandung bekerja sama dengan Kaminari Production, akan dibuka Ketua Dekranasda Jawa Barat Ny. Danny Setiawan. Menurut Ketua Pelaksana Pameran, Denny Drimawan, berbagai acara dan aneka lomba disiapkan setiap hari hingga Jumat (7/7). Juga digelar talk show yang menghadirkan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Dr. Setiawan Sabana dan kurator seni rupa, Bambang Subarnas.

Sumbangan Industri Kerajinan ke Produk Domestik Regional Bruto
Industri kerajinan, kata Ema, merupakan potensi Kota Bandung yang harus terus dipromosikan. ”Hasil industri kerajinan Bandung telah memenuhi kualifikasi untuk kualitas ekspor”, ujarnya.

Meskipun Ema tidak menyebutkan nilai rupiah yang dihasilkan oleh industri kerajinan, dia menyebutkan, sumbangan industri kerajinan ke produk domestik regional bruto (PDRB) tidak bisa diabaikan. ”Sektor perdagangan, termasuk kerajinan, nilainya bisa sampai 59% di PDRB.

Apalagi, kerajinan merupakan salah satu sektor industri yang mampu bertahan di tengah iklim ekonomi yang kurang kondusif ini. ”Mereka memang mengalami kendala permodalan, tetapi tetap bisa bertahan dengan pinjaman yang hanya sedikit”, ujar Ema.

Pemkot Bandung menginginkan adanya pembentukan sentra industri kerajinan unggulan di Bandung. ”Karena banyaknya jenis produk, kami perlu menentukan mana yang akan dikembangkan, dilihat dari hasil pameran 4 Juli nanti”, ujarnya.

Kurang Percaya Diri
Sementara itu, kurangnya promosi menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, Drs. H. Muh. Askary Wiranata Atmadja juga disebabkan keengganan para perajin untuk mencatatkan ”Made in Bandung” pada produk mereka. Padahal, hal ini penting untuk identitas produk dan sebagai bukti eksistensi para perajin.

Askary menilai, para perajin kurang percaya diri untuk mencantumkan merek ”Bandung” pada karya mereka karena takut tidak laku. Untuk itu, sekarang para perajin didorong untuk mulai percaya diri dan memberanikan diri mencantumkan ”Made in Bandung” pada karyanya. ”Bisa saja barang hasil karya mereka dijual lagi di luar memakai merek orang luar. Kan, itu merugikan industri kerajinan kita.

Dia memandang perlu dikembangkannya kesadaran akan hak cipta suatu karya kepada para perajin. Jika tidak, hasil karya orang Bandung akan sulit menembus pasar internasional, karena kurang dikenal.

Dia pun mengimbau kepada pemilik hotel maupun restoran yang ada di Bandung untuk mulai membuka kerja sama dengan para perajin dengan memberikan tempat untuk para perajin berpromosi di hotel atau restoran. (A-155)***

Sumber: Pikiran Rakyat