Photobucket

Pada hari minggu, tanggal 2 Maret 2008 bertempat di Common Room digelar acara nonton bareng dan diskusi. Acara ini adalah hasil kerjasama antara management band Burgerkill dan Common Room Networks Foundation. Film yang ditonton pada acara tersebut adalah film dokumenter yang berjudul “Metal, a Headbanger Journey”. Film tersebut diproduseri oleh Scott Mc Fadyen dan Sam Dunn. Ditulis dan disutradarai oleh Sam Dunn, Scott Mc Fayden, dan Jessica Joy Wise.

Acara nonton bareng ini adalah salah satu program band Burgerkill dalam memberikan media edukasi bagi para fansnya yang akrab di panggil “begundal”. Acara yang dimulai pukul 16.00 dihadiri oleh para ‘begundal’ dan rekan-rekan musisi indie kota Bandung.

Secara keseluruhan, film tersebut mengisahkan perjalanan Sam Dunn seorang penggemar musik metal yang juga seorang ahli antropologi. Melalui film ini, ia mencoba menggali kembali sejarah perkembangan musik metal di beberapa belahan dunia. Sam Dunn dengan bekal ilmu antropologi melakukan kajian menyeluruh tentang perkembangan musik metal beserta pengaruh-pengaruhnya bagi perkembangan budaya khususnya budaya anak muda diberbagai belahan dunia. Lewat kajian keilmuan yang menyeluruh, akhirnya pertanyaan seputar musik metal sebagai musik yang begitu digemari dan banyak menuai kontroversi berhasil dijawab di film produksi tahun 2007 ini.

Setelah acara nonton selesai dilanjutkan dengan acara diskusi yang membahas tentang dinamika komunitas musik di kota Bandung. Acara diskusi dipandu oleh Gustaff H. Iskandar dari Common Room. Diskusi ini kemudian menghadirkan beberapa pembicara semisal Gebeg sebagai perwakilan dari komunitas music indie, Eben Burgerkill dari band Burgerkill, Idhar dari majalah independen Ripple Magazine dan Richard Mutter sebagai wakil dari musisi indie senior.

Dari pemaparan masing-masing pembicara akhirnya dapat disimpulkan bahwa bermain musik adalah juga merupakan sebuah sikap pengaktualisasian diri. Oleh karena itu dibutuhkan sikap konsisten dari pelakunya. Terbukti sikap konsisten tersebut ternyata mampu mendorong produktifitas dalam proses penciptaan karya-karya yang layak untuk diapresiasi oleh masyarakat luas. Bahkan, lebih jauh sikap totalitas dalam bermusik ini dapat dijadikan lahan profesi dan membawa perubahan ekonomi kearah yang lebih baik. Tinggal semua elemen pendukung ke arah tersebut harus terus dapat dimaksimalkan dan dikelola dengan benar.

Penulis: Addy Handy
Foto: Dame Christina

* Berita lebih lengkap mengenai kegiatan ini bisa diakses di Harian Pikiran Rakyat