Kamis, 14 Februari 2008

SATU lagi festival film di Bandung muncul; Ganesha Film Festival (Ganffest). Festival film yang digelar oleh Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB ini, menjadi penanda kembali berdetaknya kehidupan festival film alternatif di Bandung. Rangkaian acara di Kampus ITB itu dimulai dengan screening film-film official selection Ganffest 2008, 31 Januari-1 Februari, dan ditutup dengan malam penganugerahan pada 2 Februari lalu.

Sebanyak 98 film pendek termasuk video art masuk ke meja panitia penyelenggara. Karya-karya yang datang dari beberapa daerah, seperti Bandung, Jatinangor (Kab. Sumedang), Jakarta, Purbalingga, Yogyakarta, hingga Bali itu kemudian mengerucut menjadi 21 film pendek dan 4 video art, setelah melewati proses seleksi oleh dewan kurator yang terdiri dari belasan orang penggiat LFM ITB. Film-film yang lolos official selection kemudian dinilai oleh tiga juri, yakni, John de Rantau (sutradara film terbaik FFI 2006 “Denias, Senandung di Atas Awan”), Ariani Darmawan (programmer komunitas film Kineruku Bandung), dan Herry Hudrasyah (dosen komunikasi SBM ITB). Film-film dipilih berdasarkan kekuatan cerita, kualitas pemeran, kematangan teknik, dan konsep penyampaian visual.

Karya para peserta Ganffest terbilang beragam. Ada yang sekelas masih coba-coba, atau bermula dari tugas bikin film dari dosen. Ada juga yang sudah berpengalaman mengikuti beberapa festival, seperti festival film pendek Konfiden, kompetisi new media art tingkat ASEAN, atau beberapa festival film skala kecil. Kehadiran film-film itu hampir semuanya mendapat respons positif dari penonton, meski masih terlihat kekurangannya. Ada sekitar 50-an penonton yang hadir per pemutaran, yang dilanjutkan dengan diskusi bersama filmmaker-nya. Paling tidak, penonton bisa menikmati karya yang berbeda, di luar mainstream sinetron atau film bioskop besar yang tema dan ceritanya kerap dikritik tidak pernah mencerdaskan.

Kekurangan dalam karya-karya yang ada, misalnya, terlihat pada teknik penggarapan, akting pemeran yang belum pas dengan karakter cerita, segi editing, hingga penyutradaraan. Itu bisa dimaklumi, mengingat kebanyakan filmmaker indie, biasanya mengalami keterbatasan alat dan minim pengalaman. Namun, semangat para filmmaker muda untuk memproduksi film walaupun dengan modal nekat, merupakan angin segar yang mendukung iklim perfilman nasional.

Tercatat, ada 7 penghargaan yang dibagikan dalam malam penganugerahan Ganffest. Penghargaan Gajah Emas (film terbaik) untuk film “Sepeda” (2006) oleh Harvan Agustriansyah, Penghargaan Gading yang Tak Retak (film indie dengan teknis pembuatan terbaik) untuk film “Orde” (2007) oleh Harvan Agustriansyah, Penghargaan Spesial dari Juri untuk film “Yang Tercampakkan” (2007) oleh Irfan Kusmanjaya, Penghargaan Dalang Mumpuni (sutradara indie potensial) untuk Bowo Leksono lewat film “Peronika” (2004), Penghargaan Lakon Mumpuni (cast film indie terbaik) untuk Setyo Wibowo lewat film “Peronika”, Penghargaan Kang Jektor (film favorit penonton) untuk film “Teh Manis Panas” (2007) oleh Argin Hasta, dan Penghargaan Video Seni Mumpuni (video art terbaik) untuk “Young Tourist from The Near Countries” (2006) oleh Muhammad Akbar.

Malam penganugerahan digelar meriah dengan karpet merah. Konsep pembagian award juga berlangsung layaknya pagelaran acara Piala Oscar. Sekitar 100 orang hadir, termasuk para peserta asal luar kota. Mungkin, “kemewahan” pada puncak acara tersebut sesuatu yang kurang substansial. Namun, yang terpenting adalah bagaimana ajang semacam Ganffest ini bisa berjalan kontinu sebagai salah satu wadah unjuk karya para sineas muda. “Rencananya, ingin ada lagi Ganffest di tahun mendatang“, kata Agung Triyudanta, ketua panitia Ganffest pada Kampus.

Dituturkan Agung, motivasi penyelenggaraan Ganffest tak lain untuk mendukung perkembangan komunitas-komunitas film independen, yang juga disulut keprihatinan atas masih minimnya ajang penyaluran kreativitas mereka. “Festival-festival film di Bandung masih tidak konsisten. Sementara, kota lain seperti Jakarta, Surabaya, Malang sudah bergerak, kenapa Bandung nggak?

Adhi Setyo, salah satu pegiat LFM ITB, mengatakan, proses penyelenggaraan Ganffest sendiri cukup melelahkan. Acara berbiaya sekitar Rp 20 juta itu belum menarik hati sponsor, sehingga mereka harus menggunakan dana mandiri yang didapat di antaranya dari usaha membuat karya visual komersial, seperti video profile perusahaan. Meskipun tidak mudah, mereka tetap bertekad Ganffest dan festival film lainnya harus tetap berjalan, sebagai salah satu solusi masalah klasik filmmaker indie, yaitu kemandegan distribusi karya.

Nasionalisme
Film-film yang masuk ke kantong dewan juri, sebenarnya, merupakan karya-karya yang jauh lebih baik dari karya-karya independen dua atau tiga tahun sebelumnya. Dari sisi teknis setiap karya sudah menguasai sinematografi yang tidak kalah hebat dari para seniornya. “Sekarang ada tema cinta, tetapi bukan sekedar dua orang manusia yang jatuh cinta saja. Tidak seperti sinetron kita umumnya“, ujar Ariani Darmawan, salah satu dewan juri.

Tema cinta yang ada dalam karya-karya di festival itu, telah berani mengeksplorasi pada simbol-simbol lain dari kehidupan. Misalnya, film berjudul “Oh! Mas Je…”. Pada film tersebut seorang laki-laki berusaha menjadi seseorang yang diidolakan kekasihnya. Uniknya, idola sang kekasih bukan artis sinetron tapi sosok Yesus.

Dari sekian banyak film yang menjadi perhatian dewan juri, banyak pula yang bertema nasionalisme. Ada film yang menerjemahkan istilah tersebut dalam konsep bendera merah putih, ada juga yang menerjemahkannya dalam cara pandang lain yang lebih menyentuh aspek keseharian.

Film “Merah Putih di Jam 7 Lewat 10”, sepertinya bisa menjadi pemenang untuk tema ini. Di dalam film tersebut terlihat perjuangan tiga anak SD yang mengejar waktu untuk mengikuti upacara bendera. Namun, dalam pandangan dewan juri, konsep itu sudah terlalu banyak dan tidak ada sesuatu yang baru.

Berbeda halnya dengan terjemahan dewan juri terhadap film “Sepeda”. Film ini menawarkan tema yang terkesan biasa, namun sebenarnya mengandung pesan yang cukup dalam. Potret kemiskinan dipadu dengan budaya konsumtif dalam tema film ini membuat dewan juri terkesan. Tetapi, yang paling membuat juri terkesan, rangkaian cerita dibuat runtut dan logis. “Kaya tema warna lokalnya dan di sini mereka bicara ikon modern yang bisa merusak tatanan tradisi“, ujar John.

Distribusi
Soal distribusi film alternatif seperti film pendek, T. Lintang dari Konfiden, mengatakan bahwa ruangnya masih sedikit. Sangat jarang di bioskop besar. Di sisi lain, meski ada ratusan film pendek pernah dibuat, namun biasanya sulit diketahui rimbanya. Di situlah perlunya lembaga-lembaga yang peduli pada pengarsipan materi. Konfiden kini memiliki sekitar 800 film pendek Indonesia periode 1999-2007 di perpustakaan filmnya. “Biar nggak hilang begitu aja“, kata Lintang, pada diskusi tentang distribusi dan ekshibisi Ganffest 2008 di Bioskop Kampus ITB, Jumat (1/2).

Itu baru dari segi pengarsipan untuk pendataan. Belum pendistribusian. Dimas Jayasrana, programmer film CCF Jakarta dan pengelola situs www.filmalternatif.org, menuturkan ada macam-macam skema distribusi film alternatif. Yang standar lewat hard copy, dalam bentuk DVD atau memberi hak tayang televisi.

Cara lainnya adalah mengikutsertakan karya pada berbagai festival atau screening. Namun, menurut Dimas, sebenarnya saat ini medium distribusi karya bisa diciptakan sendiri. Hal itu terbantu oleh kehadiran internet sebagai raja promosi dan distribusi secara do it yourself. “Bisa dengan masukin karya di situs Youtube atau, bikin situs sendiri.

Secara umum, memang, masih belum ada skema pendistribusian film alternatif yang ajeg. Apalagi, menrut Dimas, industri film jalur mainstream juga belum memiliki bentuk ideal, sehingga film alternatif masih mencari acuan. “Tetapi yang pertama harus dijawab oleh filmmaker adalah untuk apa dan siapa ia membuat karyanya. Distribusi bukan selalu artinya menjual, tapi yang terpenting karyanya sampai ke publik untuk diapresiasi atau dapat kritik dan masukan“, kata Dimas.

Bagi Dimas, perkembangan film alternatif di Indonesia, dalam hal ini film pendek, bisa tidak ke mana-mana, jika para filmmaker-nya tidak beranjak dari fase sekadar hobi ke arah yang lebih serius lagi. Kesempatan untuk berkembang harus selalu diciptakan, termasuk oleh filmmaker sendiri. “Masuklah ke jaringan, jangan malu nge-share karya, dan yang jelas, bikin film aja, nggak usah mikirin bagus atau nggak, bikin aja dulu“, kata Dimas.

Penulis: Dewi Irma & Agus Rakasiwi
Sumber: Kampus Pikiran Rakyat