Kamis, 14 Februari 2008

FILM pendek? Tentu, bukan film panjang yang durasinya dipendekkan. Film pendek juga bukan film yang membuat kening berkerut dan rambut menjadi acak-acakkan karena tangan sering menggaruk kepala sebagai tanda tidak mengerti. Dan, yang pasti, film pendek mengandung pesan.

Dimas Jayasrana dalam tulisannya di www.filmalternatif.org, memaparkan bahwa film pendek merupakan gerakan yang dimulai sejak tahun 1970-an. Mahasiswa sinematografi dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (kini Institut Kesenian Jakarta-red.) membuat sinema 8 untuk membuat karya “film mini”.

Sinema 8 hadir sebagai jawaban anak muda untuk berkarya lebih bebas dan mandiri. Bebas dalam arti tidak ada tekanan pemilik modal sehingga kreativitas bisa berkembang leluasa dan mandiri berarti berusaha atas usaha swadaya para pelakunya sendiri.

Artinya, ada wacana perlawanan dalam gerakan ini. Tentu, bukan perlawanan dalam arti gusur-menggusur atau dengan kekuatan massa. Akan tetapi, pertunjukan kreativitas yang menjadi basis munculnya gerakan ini. Anak-anak muda itu, menurut tulisan Dimas, mengalami keresahan akibat komersialisasi karya film dan film sebagai propaganda politik pemerintah.

Nama-nama seperti Gotot Prakorasa, Henri Darmawan, dan Hadi Purnomo muncul sebagai ikon penggerak. Ada pula Sardono W. Kusumo yang merambah pada film eksperimental. Tahun 1982, muncul Forum Film Pendek yang digagas setelah kepulangan Gotot dari festival di Oberhausen. Tahun ini mulai teknologi video mulai dikenal. Lantas pada tahun 1985, muncul Pekan Sinema Alternatif yang diselenggarakan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki.

Semangat itu di kalangan anak muda sering disebut semangat independen. Sejak masuknya sinematografi ke era digital pembuat film independen pun bermunculan. Mereka lantas bergabung saling bertukar pikiran dan saling menunjukkan kebolehan mereka dalam berbagai festival film alternatif. “Hal ini pula yang turut memancing semakin banyak munculnya komunitas-komunitas film di Indonesia secara signifikan“, tuturnya.

Booming film alternatif atau film indie ini terjadi pada kurun 1999-2004. Dalam catatan Dimas, saat itu komunitas film dan cine club, yaitu kumpulan masyarakat peminat, pencinta, dan pemerhati film) ada di mana-mana. Tentu, ini menambah gairah perfilman dan komunitas film. Bahkan, sebuah TV swasta pada tahun 2003 semapat mengadakan Festival Film Independen Indonesia (FFII) yang digelar masif. Ada 1047 karya untuk megikuti FFII 2003. Tahun 2005 seperti klimaks. Setelah itu grafiknya turun-naik lagi.

Ada banyak masalah yang menyebabkan komunitas pembuat film dan cine club ibarat roller coaster. Kota Bandung pun hampir tidak ada jejak yang jelas tentang keberadaan mereka. Disebut hilang, kadang muncul. Namun, kadang pun hilang tanpa jejak. Dalam kasus komunitas film yang ada di dalam kampus, persoalannya kadang tidak terlepas dari masalah akademis dan pergantian kepemimpinan.

Di kampus, spirit itu berganti seiring dengan pergantian kepemimpinan. Berganti periode, berganti kebijakan. Kalau yang basisnya adalah kampus, harus siap memikirkan regenerasinya“, ujar John de Rantau, sutradara film “Denias”.

Namun, di luar kampus, persoalan yang lebih mendasar ternyata terkait pula dengan peran pemerintah. Kebijakan film impor dan sentralisasi pendidikan film menjadi salah satunya. Berikutnya adalah persoalan infrastruktur yang tidak ada sehingga proses penyelenggaraan pemutaran film pun tersendat biaya mahal. Lainnnya, masalah distribusi film.

Sebenarnya, keberadaan komunitas film dan cine club menjadi penting. Mereka bukan kepanjangan industri dan bukan sekadar sebagai komune membuat film. Di komunitas tersebut sebenarnya ada proses belajar. Belajar untuk mengerti tentang apa yang ditonton dan bisa belajar memberikan apresiasi. Bukan sekadar menjadi penonton yang datang untuk berhalusinasi di depan layar kaca atau sebuah bioskop.

Lantas apa yang mesti dilakukan? John berkata, “Spirit indie itu adalah berproduksi bukan hanya hasil“.

Penulis: Agus Rakasiwi
Sumber: Pikiran Rakyat