Dalam rangka penyelenggaraan acara Open House ITB yang dimulai sejak tanggal 22 s/d 24 Februari 2008 di Auditorium Campus Centre ITB, Kantor Wakil Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ITB menggelar acara temu industri kreatif dan diskusi panel.

Acara yang dimulai pada jam 10.00 menghadirkan Pak Iwan sebagai pembicara utama dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Indonesia. Dalam pemaparannya Pak Iwan menekankan perlunya pendidikan tinggi sebagai pusat pengembangan keilmuan yang harus memiliki parameter sumberdaya lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi dibidangnya, memiliki daya saing dilingkungan pekerjaan dan kemampuan manajerial terhadap ilmu yang akan dikembangkan kepada masyarakat dalam hal ini industri kreatif. Untuk bisa mencapai semua itu Pak Iwan memberikan rumusan ABG, yaitu Akademik, Praktisi Bisnis dan Government (pemerintah). Oleh karena itu Pak Iwan menekankan apabila ITB ingin menjadi pusat pengembangan industri kreatif maka harus mampu menjadi perguruan tinggi berbasis kreativitas.

Sementara itu wakil pemerintah dari Direktur Jendral Usaha Kecil Menengah dan Industri Kecil, Pak Fauzi Aziz memaparkan tentang banyaknya hambatan regulasi yang membuat industri kreatif sulit berkembang pada saat ini. Salah satunya adalah tentang belum keluarnya aturan tentang Badan Hukum Perguruan Tinggi sehingga ada kesan pihak akademisi dalam hal ini perguruan tinggi menjadi terhambat dalam hal pengembangan industri kreatif. Karena apabila aturan tentang BHPT tersebut berhasil direalisasikan maka tentu perguruan tinggi akan lebih banyak mempunyai peran yang aktif bagi perkembangan industri kreatif. Dirjen UKM dan Industri Kecil menekankan bahwa strategi pengembangan industri kreatif terletak pada dukungan modal (financial support) dan aturan main/perundang-undangan (basic regulation). Dalam hal ini peraturan pemerintah yang mampu mengakomodir kepentingan perkembangan industri kreatif, SDM yang berkualitas dan pembentukan jaringan (network) yang solid antara pelaku industri kreatif, akademisi dan pemerintah.

Dari dunia akademisi diwakili oleh Prof. Emy Suparkah dari ITB yang memaparkan kontribusi ITB bagi perkembangan industri kreatif. Selama ini ITB telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan industri. ITB selama ini telah banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten dibidang kajian masing-masing. Misalnya dari Fakultas Seni Rupa dan Desain yang telah berperan langsung dalam berbagai kegiatan ekonomi industri kreatif. Lalu dari segi teknologi ITB telah banyak memberikan kontribusi teknologi seperti software dan mesin-mesin industri yang banyak menerapkan teknologi yang aplikatif dan ramah lingkungan. Dari segi manajerial dan pengembangan industri kreatif ITB memberikan kontribusi dengan dibukanya sekolah bisnis sekaligus menjadi inkubator bagi pengembangan UKM dan industri kecil. Disamping itu juga dari segi perlindungan hukum ITB menjadi fasilitator untuk pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar produk-produk industri kreatif terhindar dari kooptasi dan klaim dari pihak lain.

Masih dari mewakili akademisi, Pak Setiawan Sabana dari Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain, mengingatkan bahwa semua hasil produk industri kreatif harus memperhatikan aspek lingkungan hidup. Jangan sampai produk industri kreatif justru menjadi sesuatu yang “merusak” ekologi. Sebagai contoh papan-papan iklan yang bertebaran di penjuru kota sebagai hasil kreatifitas justru berubah menjadi “polusi visual” dikarenakan tidak adanya kejelasan aturan dan ketegasan dari pemerintah. Karena itulah perlunya para praktisi, akademisi dan pemerintah menjalin sebuah sinergi yang solid dalam merumuskan berbagai kebijakan agar hasilnya nanti dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Pak Sabana menilai bahwa kota Bandung cukup potensial untuk dikembangkan menjadi kota yang berbasiskan kreatifitas. Karena Bandung telah memiliki SDM yang berkualitas (talent) dan masyarakat yang toleran terhadap perubahan yang positif (tolerance). Dan semua itu perlu didukung oleh aturan dan regulasi yang mampu mengakomodir energi kreatifitas yang ada.

Dari komunitas kreatif diwakili oleh Fiki dari Kreative Independent Clothing Kompany (KICK). Fiki memaparkan tentang pertumbuhan industri kreatif di Bandung khususnya di bisnis clothing (pakaian jadi) dan distro (distribution outlet). Pada tahun 1997 kota Bandung hanya memiliki 5 buah distro. Tahun 2008 Bandung memiliki 300 distro dan mampu menyerap 300.000 tenaga kerja. Kemudian relasi dengan pemerintah sudah mulai terbangun melalui event KICK FEST yang rutin digelar setiap tahun. KICK FEST terakhir mampu mencetak nilai transaksi sebesar 400 miliar rupiah. Hal itu harus dipertahankan dengan cara pihak pemerintah mampu menyediakan fasilitas publik yang dapat diakses dengan mudah sehingga dapat dijadikan ajang berkreasi dan penyaluran ekspresi anak muda di Bandung. Karena pada dasarnya industri kreatif di bidang clothing dan distro di Bandung berawal dari kultur dan gaya hidup anak muda di kota Bandung yang mempunyai idealisme dan sarat dengan energi kreatif. Misalnya dari bidang musik dan olahraga yang selama ini sarana dan prasarananya dianggap sudah tidak mampu mengakomodir kegiatan kreatif di kota Bandung.

Dari kalangan praktisi teknologi diwakili oleh Setijadi Prihatmanto dari Sekolah Tehnik Elektro dan Informatika ITB yang memaparkan tentang perlunya dibangun sebuah pola kemitraan yang sejalan antara pelaku industri kreatif dengan praktisi teknologi. Karena bagaimanapun kreatifitas dan teknologi adalah sebuah proses yang harus selalu berjalan seiring. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang dimana jarak dan waktu bukan lagi menjadi hambatan bagi dinamika pergerakan ekonomi global. Contohnya industri games dan software yang pasti akan selalu membutuhkan sentuhan pengembangan estetika dari para praktisi seni rupa dan desain. Begitu juga sebaliknya para pelaku industri kreatif juga dituntut mampu mengikuti pekembangan teknologi. Apalagi di era internet sekarang dimana pada akhirnya banyak melahirkan media-media baru untuk dijadikan sarana berekspresi untuk berkesenian (new media art) dan media komunikasi dan informasi berbasiskan internet (new media journalism).

Selain diskusi panel, Open house ITB 2008, juga menggelar berbagai acara lainnya. Diantaranya pameran foto, workshop film, dan pameran pendidikan yang menampilkan stand-stand tiap fakultas yang ada di ITB lengkap dengan konsultasi dan presentasi tiap fakultas.

Penulis: Addy Handy