Jumat, 26 Oktober 2007

Anak Bandung itu jago menyerap desain arsitektur global, dibanding dengan anak muda di kota lain. Apa yang terjadi di tingkat global, bisa diterjemahkan dan disiasati oleh mereka dan dijadikan komoditas gaya hidup baru dan menjadi tren. Mereka mendefinisikan kembali coolness yang sesuai dengan konteks mereka. Selain itu juga ada pasar yang menyerap komoditas baru itu“, Jawab Hikmat Budiman, penulis buku Lubang Hitam Kebudayaan, ketika dimintai komentar tentang kreativitas anak muda Bandung.

Tahun 2003-2004, pertumbuhan clothing store di Bandung memang gila-gilaan. Hampir 200 clothing store bermunculan. Belum lagi ratusan clothing label yang memproduksi produk fashion anak muda. Booming ini dipicu oleh pemberitaan yang cukup gencar di media massa mengenai nilai ekonomi dari bisnis ini.

Siapa yang tak tergiur ketika omzet setiap bulannya bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah menjelang hari raya. Meskipun pada tahun 2005-2007, industri clothing yang ada mengalami proses seleksi. Kekuatan modal menjadi faktor penentu untuk bertahan hidup. Namun, hal yang seringkali dilupakan oleh banyak orang mengenai bisnis ini adalah bagaimana pada awalnya, para pelaku membangun usaha ini dengan modal kultural awalnya.

Selama ini, sektor industri kreatif yang digerakan anak muda Bandung dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, diklaim sebagai gerakan kultural yang lahir dari perlawanan dan semangat independen atau kemandirian.

Bermula Dari Hobi
Siapa sangka, dari sebuah skatepark kecil di salah satu sudut Taman Lalu Lintas Bandung (Taman Ade Irma Suryani), di awal tahun 1990-an, menjadi tempat bersejarah yang melatar belakangi perkembangan fashion anak muda Bandung dalam satu dekade terakhir ini. Skateboard kemudian menjadi benang merah yang menjadi ciri dan eksplorasi fashion dan lifestyle yang dielaborasi oleh para pelakunya.

Pertemuan di Taman Lalu Lintas membuat Didit atau dikenal dengan nama Dxxxt, Helvi, dan Richard Mutter (mantan drumer Pas Band), kemudian bersepakat mengelola sebuah ruang bersama di Jalan Sukasenang Bandung. Ruang ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal yang munculnya bisnis clothing lokal. “Kenapa ya, si Cihampelas itu enggak bikin produk-produk dengan merek-merek sendiri, kenapa mereka bikin mereknya Reply lah, Armani lah…kenapa enggak bikin sendiri, Reverse misalnya.. terus Helvi bilang nama itu bagus. Ya udah akhirnya dipakai buat nama toko.

Tahun 1994, mereka membangun studio musik dan toko yang menjual CD, kaset poster, T-shirt, majalah, poster, dan asesori band yang diimpor langsung dari luar negeri. Reverse pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas dari scene yang berbeda. Punk, hardcore, pop, surf, bmx, skateboard, rock, grunge, semua bisa bertemu di tempat itu. PAS dan Puppen adalah beberapa band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse.

Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan Zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan.

Generasi Global
Jika dicermati lebih jauh, apa yang terjadi di bandung pada dekade ’90-an, memang tak bisa lepas dari kecenderungan global pada saat itu. Musik dan gaya hidup, sebagai dua hal yang tak terpisahkan, memberi pengaruh sangat besar dalam perkembangan fashion anak muda Bandung. Sejak generasi Aktuil di tahun ’70-an, Bandung dikenal sangat adaptif pada perkembangan musik dunia. Ketika merunut aliran musik apa saja yang berkembang dalam dekade ’90-an, kita bisa melihat bagaimana perkembangan musik itu memengaruhi eksplorasi anak muda Bandung di bidang fashion. Termasuk juga masuknya MTV ke Indonesia yang memperkenalkan life style. Perbedaan menjadi komoditas yang dirayakan bersama-sama.

Kita emang banyak dipengaruhi oleh musik yang kita sukai, dari label-label skateboard yang kita pakai dulunya, karena kita besarnya, growing up-nya di situ. Karena musik ini kan sangat terkait dengan fashion“, Helvi yang juga Creative Director Airplane, mengakui hal itu.

Pendapat Helvi diperkuat Arian tigabelas, mantan vokalis Puppen dan kini menjadi vokalis band Seringai. “Ada fenomena yang menarik ceuk urang mah, dulu Bandung terkenal dengan band-band yang keren-keren tapi waktu berlalu dan rupanya band enggak terlalu menghasilkan/menghidupi, dan kini para pelaku band tersebut pindah ke clothing.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dalam dekade ’90-an, menjadi faktor penting dalam proses yang disebut Hikmat Budiman sebagai penyerapan desain arsitektur global. Ketika tahun 1995 bisnis internet service provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta, menurut catatan sebuah media nasional, Bandung menjadi salah satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar. Jika saat itu tercatat ada sekitar 14 ribu pemakai internet di Indonesia, Bandung menjadi kota pengguna internet terbesar ketiga (1.000 pengguna), setelah Jakarta (10.000 pengguna) dan Surabaya (3.000 pengguna). Bagaimana kemudian perkembangan teknologi informasi ini diserap dalam waktu yang hampir bersamaan di Bandung. Belanja on line dilakukan Reverse untuk memperoleh produk-produk impor yang mereka jual kembali di Bandung. Juga yang dilakukan Anonim yang muncul tahun 1999, mengikuti jejak pendahulunya dengan menjual t-shirt import merchandise band yang dipesannya melalui internet.

Ketika masa kekuasaan Orde Baru berakhir, kehidupan sosial politik Indonesia mengalami banyak perubahan di era reformasi. Warga Bandung memperlihatkan pola relasi yang baru dengan ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung. Beragam aktivitas dan perayaan dilakukan di jalan. Jalanan seperti Dago, menjadi catwalk publik. Individu kemudian mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Saat itu, banyak pertunjukan-pertunjukan musik yang kemudian disponsori oleh clothing company yang mulai memiliki kemampuan ekonomi.

Disadari atau tidak, clothing industry yang muncul dan berkembang di Bandung ini, justru memicu perkembangan industri-industri kecil baru yang juga berbasis kreativitas. Secara organik, infrastruktur pendukungnya, bermunculan satu per satu. “Waktu itu lagi booming-booming-nya clothing, terus gue pikir, ngapain juga ikut-ikutan bikin clothing, mendingan gue bikin usaha lain yang bisa mendukung usaha mereka… Kalau mereka berbisnis ya harus berpromosi, mereka punya produk yang bagus, buat apa kalau enggak berpromosi“, ungkap Uchunk, salah satu pendiri Suave, Free Catalogue Magazine. Suave awalnya dicetak sebanyak 3000 eksemplar dengan modal sebuah komputer pribadi. Kini tirasnya mencapai 8.000 eksemplar dengan 90 halaman full color. Selain didesain dengan tampilan yang menurut Uchunk, terlihat mainstream, jauh dari kesan indie dan underground, Uchunk juga memberi halaman galeri bagi siapa pun yang ingin memamerkan karya grafisnya di satu halaman Suave.

Menurut Uchunk, saat ini banyak clothing company yang kemudian menggunakan jasa desainer grafis, fotografer, dan biro iklan untuk menggarap materi promosi produk yang bersangkutan. Baginya kondisi ini sangat menggembirakan karena bidang industri kreatif lainnya kemudian bermunculan. Helvi menambahkan, “Waktu kita bikin ini, enggak kepikiran kalau di depan ternyata akan berhubungan dengan segala macam. Fotografer, advertising, itu kan seru jadinya. Jadi kayak punya dunia sendiri, infrastrukturnya jadi ke bentuk dan ini adalah wilayahnya anak muda. Yang paling keren menurut gua adalah, di mana sekarang anak-anak muda enggak gengsi dan malu lagi pake produk lokal. Dan kita juga seneng, karya kita dihargai orang dari mulai yang naik angkot sampai mobil mewah, pake kaos lokal.” Helvi mengatakan itu dengan mata-mata berbinar-binar lega.

Masa depan bisnis ini, kata Fiki C. Satari yang kini menjabat sebagai Direktur Airplane tetap akan seperti itu. “Ini akan tetap jadi bisnis anak muda, sepuluh tahun ke depan tetap akan seperti itu. Kita mungkin akan mundur, dan memberikan tempat bagi anak muda“, katanya.

Dan, Bandung menjadi kata kunci. ”Di produk dibuat made in Bandung. Dalam melakukan ekspansi pun, Bandung sebagai identitas ini yang tetap dijaga.” (Dirangkum dari tulisan “Rethinking Cool, Gaya Anak Muda Bandung” yang di muat di blog penulis, www.vitarlenology.blogspot.com)***

Penulis: Tarlen Handayani
Sumber: Pikiran Rakyat/ Disperindag Jabar