Kamis, 23 agustus 2007

SELAMAT datang ke Kota Bandung. Kawan, tidak rugi datang ke kota ini, karena segala kebutuhan dari mulai buku, makanan, dan fashion tumpah ruah di kota ini. Karena itu, Kota Bandung punya banyak citra, mulai dari sebagai kota pendidikan, kuliner, sampai pusat mode. Citra Bandung sebagai kota pendidikan tidak lepas dari kehadiran pusat-pusat percetakan, penerbit, dan toko buku. Penerbit dan percetakan paling tua, menurut catatan Haryanto Kunto, adalah N.V. Mij. Vorklink, yang berdiri pada tahun 1896. Jejak toko buku besar seperti Toko Buku Van Dorp masih ada sampai sekarang. Toko buku itu sudah beralih fungsi menjadi diskotek dan tempat pameran yang dikenal Gedung Landmark.

Zaman sekarang, semangat kota intelek tetap terpelihara. Penerbit buku sudah ratusan dan bertebaran di mana-mana. Hal sama juga terjadi untuk toko buku. Dan, inilah sebagian tempatnya.Bagi kawan-kawan yang lama tinggal di Bandung, pasti tidak asing dengan Pasar Palasari. Kawasan yang berdiri sekitar dekade 1970-an ini, sekarang berpenghuni sekitar 198 kios buku, terdiri dari distributor dan pengecer.Asyiknya belanja di sini adalah potongan harga hingga 30% untuk buku baru, mulai dari buku pelajaran SD sampai perguruan tinggi, buku cerita, novel, buku umum, serta majalah bekas. Akan tetapi, ada pula yang mematok aturan pemotongan jika harga buku lebih dari Rp 15 ribu. Selain fasilitas harga potongan, fasilitas layanannya berupa sampul gratis.

Kawasan lain yang punya fasilitas buku berpotongan harga ini misalnya, di Bursa Buku Cihargeulis yang terletak di Pasar Cihaurgeulis, Jln. Surapati, Kota Bandung. Buku pelajaran segala strata ada di area yang berdiri sejak 1987 ini. Hanya karena masalah persaingan, beberapa kios tutup dan beralih menjadi pedagang buku kaki lima di kawasan Cicadas, Jln. Ahmad Yani, Bandung. “Saya sejak masih di SD sudah ke Palasari karena lengkap dan dapat diskon”, kata Fefi, seorang mahasiswa saat bertemu Kampus di pasar itu. Belanja di Palasari, juga perlu teliti karena tidak selamanya diskon besar diraih. “Kalau satu kios tidak punya barangnya, kita akan dioper-oper ke toko lain. Nah, jasa yang mengoper itu akan memengaruhi diskon”, kata Fefi.

Selain buku baru, Bandung juga tidak kehabisan stok buku dan majalah bekas. Ambil saja contoh para pedagang buku kaki lima di pelataran kantor PLN di Jln. Cikapundung Barat, tak jauh dari Alun-alun Bandung. Kawasan ini berdiri tahun 1970 dengan jumlah pedagang saat ini ada 20 orang. Di sini, kita masih bisa menemukan majalah lokal dan luar seperti, Newsweek, Times, National Geographic, selain majalah arsitektur, desain interior, grafis, desain produk, sampai otomotif. Harganya dari Rp 3.000,00 untuk lokal, dan mulai dari Rp 15.000,00 untuk majalah luar negeri. Trisno, seorang pedagang, mengatakan, tempat ini biasanya ramai oleh kalangan mahasiswa dan pekerja profesional yang mencari bahan-bahan referensi.

Belanja buku yang murah dan punya kesempatan berdiskusi dengan pengelola tentang isi buku, bisa dilakukan di toko-toko buku lain. Misalnya, Tobucil, Omonium, Alabene, Bacabaca, dan Ultimus. Tidak kuat belanja dan ingin meminjam buku bisa datang ke Rumah Buku di kawasan Hegarmanah. Totalnya ada 2.192 judul buku, sebagian besar tentang arsitektur.Di Tobucil, belanja buku juga punya keuntungan lain bisa mengenal ragam komunitas yang ada di sana. Dari mulai komunitas menulis, film, musik, sampai merajut. Tobucil adalah salah satu dari sekian toko buku alternatif yang berangkat dari konsep memajukan budaya literasi di Kota Bandung.

Dari buku, kita berpindah ke makanan. Nah, Bandung punya seabrek tempat makan. Bicara tentang makanan, kawan mesti ingat sejarah kuliner Bandung yang terletak di Braga. Di kawasan eksotis itu, kita akan menemukan dua toko makanan terkenal, yaitu Toko Roti Sumber Hidangan dan restoran Braga Permai.Sumber Hidangan berdiri pada 1929. Jenis makanannya masih memakai nama-mana Belanda, seperti, saucysbrood (puff pastry yang isinya daging cincang dengan rasa cengkeh yang terasa), dan nesselrode (es krim vanilla, cocktail, dengan taburan kacang dan gula). Mana yang paling enak makanannya? Bagi Kampus enak semua. Soal rasa juga ditunjang dengan penanganan makanan yang memakai cara-cara lama. Tidak ada bahan pengawet dan tanpa bungkus plastik. Kemudian, di restoran Braga Permai yang berdiri 1918, nama makanannya juga memakai bahasa Belanda. Dulu tempat ini sering menjadi tempat nongkrong dosen dan profesor dari Institut Teknologi Bandung.

Dan, kalau mau menikmati tempat ini paling enak memang sore menjelang malam. Masih di dekat kawasan Braga, tepatnya di pertigaan Jln. Naripan dan Jln. Cikapundung, ada sosok pengusaha kuliner bernama Ceu Mar. Namanya menjadi nama warung makanan miliknya. Ada 20 jenis makanan khas Sunda, seperti, babat dan gepuk memenuhi rak makanan. Warung ini buka setelah azan isya sampai menjelang subuh. Pengunjungnya rata-rata kawan Kampus yang iseng jalan-jalan ke tengah kota di malam hari, atau abis pulang dugem. Bergeser ke arah tengah di Stasiun Kota, ada warung unik dengan nama perkedel bondon. Pemilknya Ny. Nenti, yang sekarang berusia 80 tahun. Warung ini buka sejak pagi hari, namun perkedel baru siap pukul 23.00 WIB. Oleh karenanya, jangan datang terlalu larut malam karena pasti antreannya bisa 20 langkah.

Warung ini sudah buka sejak 1950-an dan mulai terkenal semenjak banyak wanita penjaja seks nangkring di sekitar stasiun. Akan tetapi, bukan karena itu warung ini menjadi terkenal. Hendri, alumnus Universitas Parahyangan (Unpar) kerap mampir ke warung makanan sederhana ini karena doyan perkedel buatan Ny. Nenti. Perkedelanya kering, dan rasa kentangnya begitu terasa di lidah. Makin nikmat kalau makannya dengan nasi hangat yang masih mengepulkan asap. “Saya beli 10 biji dan untuk sendiri”, kata Hendri, yang tidak punya langganan warung perkedel lain.

Sebelum menghabiskan malam dengan makanan berat, kawan juga bisa mampir ke jajaran minuman hangat bernama ronde jahe. Ronde jahe di kawasan Alkateri, punya nama yang ngetop. Tapi, kalau kawan mau mencari kuah ronde dengan rasa jahe yang terasa, bisa coba yang berada di jajaran Jln. Gardujati. Setelah makanan, kita bahas sedikit tentang fashion dimana Braga menjadi saksi bisu kejayaan mode Bandung. Depan pertokoan Sarinah, ada gedung tua yang tidak terawat. Itu adalah bangunan Modemagazijn “Au Bon Marche”, salah satu toko baju yang terkenal di Jln. Braga tempo dulu. Dari sinilah kebiasan orang Bandung yang kaya dan none-sinyo Belanda berbelanja. Kebiasaan itu berlangsung sampai sekarang.

Selain jajaran factory outlet (FO) dan kawasan Cihampelas yang menggerakkan tren fashion, kalangan kawan muda yang kreatif ikut menyemarakan tren itu dengan distro dan clothing-nya. Ada 300 unit industri kreatif itu di Kota Bandung. Ciri dari industri mereka adalah stok pakaian yang terbatas untuk satu jenis desain. Alhasil baju kawan tidak seragam dengan kawan lain. Lalu, untuk kawan yang senang berburu pakaian bekas, tentu saja kawasan Cimol menjadi pilihan utama. Pertengahan tahun 1990-an, Cimol terletak di kawasan Tegallega. Sekarang mereka berada di ujung Timur Bandung, alias di area Pasar Gede Bage. Datang ke tempat ini memang butuh perjuangan, apalagi kala cuaca Bandung sangat terik di tengah hari. Ada sekitar 2.000 pedagang baju, celana, jaket, dan sepatu dengan harga mulai dari Rp 10.000,00. Butuh tenaga ekstra untuk mengubek-ubek pakaian.

Nah, begitulah cerita ringkas tempat-tempat murah yang bisa kawan kunjungi. Buku, fashion, dan makanan tumpah ruah di kota ini, tapi tinggal kawan mau sering jalan-jalan untuk mencari yang terbaik. Oke, kawan, selamat menikmati Bandung dan… hati-hati copet!.

Penulis: Agus Raskawi
Sumber: Pikiran Rakyat/ http://agusnews.wordpress.com