Kamis, 14 Februari 2008

Photobucket

SEORANG pengunjung event musik “underground” melakukan aksi “moshing” saat menyaksikan band favoritnya tampil di Lapangan Persib Kota Bandung, pertengahan tahun 2005 lalu.* ROBY NUGRAHA/”PR”

“UNDERGROUND” adalah GOR Saparua. GOR Saparua adalah underground. Seberapa banyak dari Anda sulit membedakan kedua kata di atas. Mana yang diterangkan, mana yang menerangkan.

Ya, underground tentunya tak lepas dari peran GOR Saparua yang menjadi saksi bisu masa keemasan scene (baca: pergerakan) musik itu di Bandung. Kita tentu mengingat betapa ingar bingar musik cadas bergenre punk, hardcore, dan grindcore begitu masif di Bandung sekitar 14 tahun silam.

Bagi Anda yang masih ingat, mungkin kerap menemukan sosok lelaki kurus, berambut panjang sepinggang, dan mengenakan kaos tangan panjang warna hitam bertuliskan nama band di sepanjang lengannya. Tak lupa, mereka memakai pula jeans standar hitam atau celana cargo hitam, boot hitam, dan berkerumun hampir tiap akhir pekan di bilangan GOR itu.

Bila ditelisik lebih jauh lagi, di bibir panggung beberapa puluh penggemar musik genre ini segera merapat saat band kegemarannya tampil di panggung. Pogo untuk band punk, headbang untuk hardcore, hingga ber-moshing ria saat band grindcore mengentak dengan tempo tinggi dan ketukan–bass drum serta rimshot snare drum–yang rapat.

Di dalam, jangan tanya suasananya seperti apa. Bising bukan main. Dada berdegup kencang. Telinga pekak. Sulit untuk diam bertahan di tengah “panasnya” suasana.

Seusai sebuah lagu dibawakan, mendadak tercipta kondisi tertib. Sontak para penonton mengacungkan kepalnya ke langit. Riuh pujian pun tercipta. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi untuk band yang tampil. Dan begitulah, “ritual” itu terus terjalin dari akhir pekan ke akhir pekan lainnya di era pertengahan 90-an. Saparua pun menjadi venue wajib bagi pergelaran musik cadas saat itu. Mulai dari acara kecil, sedang, hingga besar. Maka, Saparua pun terkenal ke seluruh nusantara sebagai tempat paling legendaris bagi genre musik ini.

Apalagi, saat acara akbar seperti Hollabalo 1994, Bandung Berisik 1995, Bandung Underground 1996, Gorong-Gorong 1997, dan beberapa acara yang digelar setelahnya. Bandung menjadi pusat pertumbuhan musik genre ini, yang lantas menular ke kota-kota lainnya di Indonesia. “Tahun 1998, kita maen di Saparua. Yang nonton ada 4.000-an. Pokoknya kapasitas penuh lah. Pol banget“, kata vokalis Jeruji, yang akrab disapa Dempak, saat ditemui di Common Room, Jln. Kyai Gede Utama, Kota Bandung, Minggu (10/1). Jumlah tersebut saat itu belumlah mencapai klimaksnya. “Apalagi sekarang“, tambah Dempak menimpali.

Ya, apa yang disebut Dempak memang terbukti. Bayangkan saja, sepuluh tahun lalu terpaan media belum seperti saat ini. Internet belum menjadi hal yang primer. Radio belum banyak yang memutarkan lagu-lagu dari band indie seperti sekarang. Kebanyakan stasiun televisi pun nampak masih “alergi” menayangkan video klip band-band lokal.

Berkembangnya terpaan lewat kian mudahnya akses rekaman, akses duplikasi, serta akses publikasi di berbagai media, tentunya berjalan linier dengan jumlah penggemar.

Berdasar catatan yang dikompilasi komunitas ini, Indonesia tergolong lima besar negara yang memiliki komunitas underground terbesar di dunia.

Belum cukup, scene underground Indonesia secara keseluruhan juga terbilang berpengaruh di Asia. Editor majalah Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto, berkata, “Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang diambil untuk kemudian dibuat film sekuel `Metal Headbangers Journey` karya sutradara asal Kanada. Di Asia, negara lain yang diambil adalah Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Ini menjadi bukti betapa masifnya scene musik underground di negara ini.

Di satu sisi, kemajuan merupakan hal yang menggembirakan. Namun, di sisi lain, kebanyakan band di Bandung justru mengeluh. Bertambahnya jumlah penggemar ternyata tak sebanding dengan kapasitas venue yang biasa mereka gunakan.

Belum lagi, hal-hal lainnya yang cukup mengganggu. “Mengurus perizinan untuk menggelar konser di GOR Saparua makin sulit“, kenang Dempak.

Alhasil, mereka lantas bergerilya mencari tempat lainnya di Bandung. Tentunya, tempat yang mendekati definisi representatif. Teater terbuka dan teater tertutup Taman Budaya Dago atau Dago Tea Huis lantas menjadi pilihan. Tempat ini lantas menjadi legenda berikutnya setelah Saparua. Namun, berubahnya kebijakan pengelola ditambah harga sewa yang tak sebanding dengan pemasukan, perlahan membuat Tea Huis mulai ditinggalkan. Di era 2000-an, acara-acara seperti ini lantas mulai meredup.

Ternyata, industri musik underground pun ternyata memicu pertumbuhan industri lainnya, seperti industri distro (kependekan dari distribution) dan clothing. Perlahan tapi pasti, ketiga industri ini ternyata tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Mereka pun saling mendongkrak. Dimulai dari distro Harder dan Riotic, musik underground yang laksana “berhibernasi” siap menggeliat kembali.

Pada bagian lain, “adik kandung” musik underground, yang lebih bergenre pop dan retro, mulai bermunculan kembali setelah sebelumnya sempat mengalami nasib serupa. Era 2004, bersama-sama dengan industri rekaman indie label yang kian menggeliat, menjadi kebangkitan kembali semua genre musik ini.

Akan tetapi, permasalahan selanjutnya tetaplah sama, mereka kekurangan venue sebagai tempat berekspresi. Hanya orang-orang kreatiflah yang juga mampu berkreasi di saat sulit.

Acara pun kemudian digeser ke Asia Africa Culture Center (AACC), YPK Naripan, Dezon, Parahyangan Plaza, STSI, Unpas Setiabudhi, hingga ke kafe-kafe yang berkapasitas lebih kecil. Sebut saja, kafe Laga Asia Afrika, TRL, hingga Classic Rock Trunojoyo.

Kesulitan ini pun dirasakan mantan vokalis Puppen, Arian13, yang kini menjadi vokalis Seringai. “Di Bandung, memang enggak ada gedung konser yang representatif. Dari dulu anak-anak nunggu realisasi dari pemerintah. Tapi, itu kayak nunggu sapi break dance. Pemerintah kayaknya enggak apresiasi scene musik ini. Padahal dampaknya ke sektor perekonomian terbilang besar“, kata Arian13.

Ia lantas mencontohkan tempat yang terbilang representatif yang pernah dipakai Seringai bermain di kota lain. “Di Yogyakarta, ada Liquid Cafe yang berkapasitas 700-an pengunjung. Hawa Yogya kan panas, tapi enggak tahu kenapa kita nyaman banget maen di sana. Di Jakarta, Viky Sianipar Centre juga cukup nyaman“, tambah dia.

Khusus di Bandung, Arian13 berpendapat ada baiknya meniru 924 Gilman Street di Berkeley, San Fransisco (baca, “Pelajaran Berharga dari Berkeley“). Misalnya, ada gedung kosong milik pemerintah di Bandung, dan dipercayakan pengelolaannya kepada komunitas secara kolektif dan kelembagaan.

Berkaca pada kejadian “Sabtu Kelabu”, adakah pemikiran kolektif ke arah sana?

Penulis: Roby Nugraha
Sumber: Pikiran Rakyat