Senin, 12 Februari 2008

Photobucket

KASET-KASET label rekaman independen yang dijual di toko kaset Riotic Jln. Sumbawa, Bandung. Keberadaan label di Kota Bandung telah menjadi pembuka jalan bagi industri musik independen di berbagai kota lain di Indonesia.* ADE BAYU INDRA

MENEMUKAN rilisan dari band-band seperti Mocca, Efek Rumah Kaca, atau Astrolab yang berasal dari label rekaman independen atau indie label bukanlah hal asing lagi di toko kaset. Bermodalkan keinginan yang kuat, label rekaman independen meretas jalannya di industri musik nasional. Dan tanpa banyak orang yang tahu, label-label seperti ini sudah berhasil menembus pasar musik internasional. Beberapa artisnya sudah melanglang buana ditonton oleh ribuan orang asing. Sebut saja The S.I.G.I.T. yang tahun lalu berkesempatan melakukan tur di Australia bersama Dallas Crane.

Label rekaman independen tidak lahir sehari dua hari. Jauh sebelum label-label independen tumbuh menjamur, kebanyakan band turun tangan sendiri dari mulai mengumpulkan modal sampai promosi. Contoh nyatanya adalah Puppen, salah satu band underground legendaris yang sudah bubar. “Waktu itu minjem duit sepuluh juta rupiah dari ibunya Ajo (gitaris). Baru dikembaliin lima tahun kemudian“, ujar Arian13, vokalis Puppen mengenang.

Rekaman dilakukan dengan menggunakan sisa shift rekaman dari Pas Band. “Shift-nya dibagi dua sama Pure Saturday“, ucap vokalis Seringai ini. Personel Puppen melakukan promosi dengan tangannya sendiri, termasuk dengan memanfaatkan momen meninggalnya Nike Ardilla. “Di tempat Nike Ardilla meninggal, banyak orang datang dan menempel puisi. Kita menyusupi, ikut-ikutan nempel poster di sana“, urai Arian13.

**

Semua bermula pada tahun `90-an di sebuah studio kepunyaan Richard Franklin Christian Mutter yang bernama Reverse Studio. “Waktu itu kepikiran merilis karena banyak band yang rekaman di studio tapi enggak bisa rilis karena mentok“, ucap pria yang pernah menjadi drummer Pas Band ini.

Mentok bisa diartikan karena tidak ada label rekaman yang bisa mewadahi mereka, juga karena keterbatasan biaya. Dari sini lahirlah label rekaman independen pertama di Bandung yaitu 40.1.24. Nama yang diambil dari kode pos di kawasan Sukasenang, markas dari Reverse Studio. “Pertama kali merilis itu albumnya Close Minded“, ujar Richard.

Merilis album di jalur independen pada masa itu, bisa dibilang cukup sederhana namun penuh perjuangan, yaitu dengan mengumpulkan materi rekaman yang sudah jadi dari band yang sering latihan di Reverse Studio. “Enggak ada perjanjian, pokoknya nerima master lagu, terus aku yang produksi cover dan (duplikasi) CD. Kalau enggak salah, sampai 1.000 kopi“, ucap pria kelahiran 18 Maret 1969 ini.

Kemudian 40.1.24 merilis album kompilasi “Masaindahbangetsekalipisan”, yang tidak disangka-sangka menarik minat banyak pendengar musik. Kompilasi yang hingga kini sangat fenomenal dan bisa dibilang memengaruhi berdirinya label rekaman independen di Indonesia.

Di Bandung kemudian bermunculan label rekaman independen seperti Riotic Records, Harder, FFWD Records, Spills, No Label Records, My Own Deck, Maritime Records, dll. Label-label seperti ini biasanya menaungi aliran musik tertentu, semisal emo, hardcore, indie pop, sampai grunge. Mereka biasanya mengambil artis tidak jauh-jauh dari tempat nongkrong-nya sendiri atau karena suka dengan bandnya.

Riotic Records misalnya, label yang diprakarsai oleh Dadan Ketu beserta teman-temannya di tahun 1996 didominasi oleh aliran punk rock. “Anak-anak punya rekaman lagu-lagu tapi belum ada label buat publish“, ujarnya.

Untuk aliran musik hardcore, Bandung mempunyai Harder. “Awalnya pengen memotivasi lingkungan terdekat dulu, lama-lama kita mengeksplorasi label juga dan mulai kerja sama dengan band di luar komunitas hardcore“, ujar Wawan Suherman.

Dalam merilis sebuah album, biasanya label rekaman dan artisnya patungan mengumpulkan modal. “Kalau ada bayaran manggung, kita sisihkan untuk membuat merchandise. Dari hasil penjualannya, kita recording“, urai pria yang akrab dipanggil Wale ini.

Perjalanan belum selesai sampai di sana, Ketu, demikian Dadan biasa dipanggil, menuturkan, pada waktu itu untuk memperbanyak kaset dilakukan dengan cara manual. “Dulu kita rekam per kaset di rumah, sampulnya masih di-print satu-satu“, tutur Ketu sambil tertawa.

Seiring perjalanan, Riotic Records akhirnya menemukan sebuah tempat bernama Tropik untuk keperluan menduplikasi. “Namanya Koh Teddy (alm.), orangnya baik banget. Walau cuma duplikasi 200 buah, dia ngebolehin. Bahkan 25 buah juga boleh!” ujar Ketu.

Nama Tropik pun menyebar. “Wah, pokoknya Koh Teddy itu mantap, mau copy berapa juga bebas!” ujar Arian13. Lewat Tropik, label-label ini bisa mengedarkan rilisannya seperti Turtles Jr., kompilasi Bandung`s Burning, Brain Beverage, Savor of Filth, Balcony, dan Homicide.

Pada tahun `90-an, yang menjadi masalah di label independen adalah distribusi. “Dari 1.000 kopi, yang balik uangnya cuma 500 kopi. Gitulah, plus plos“, ucap Ketu. Promosi dilakukan dengan menyebarkan flyers dan fanzine. “Karena dulu enggak bisa main di bazar, kita bikin acara sendiri yang mengisinya ya band yang ada di album!” ucap Ketu sambil tertawa.

Merilis album dengan jalur do it yourself (DIY) memang tidak segampang membalikkan tangan. Biaya produksi yang semakin lama semakin mahal dan risiko kerugian tak jarang membuat label-label independen ini berguguran. “Sejak krismon, kita enggak pernah rilis lagi“, kata Wale. Ketu lantas menimpali, “Lieur, euweuh duitan. Pusing!

Keterabatasan manajemen yang juga disinyalir sebagai faktor lain penyebab label-label independen ini tutup. “Kebanyakan label independen di Bandung hanya diurus oleh satu orang!” ungkap Idhar, wartawan majalah musik Ripple. Hal ini diakui oleh Dadan Ketu, Riotic Records yang tadinya diurus oleh 10 orang, sekarang hanya menyisakan dia seorang.

Meskipun demikian, label rekaman independen Bandung tidak tinggal kenangan. Saat ini beberapa label masih bisa merilis album. Seperti FFWD Records yang digagas oleh Helvi Sjarifuddin, Achmad Marin, dan Didit Aditya. Label ini mulanya merilis band luar negeri seperti Cherry Orchard dan 800 Cherries. “Tahun `94-an, di Bandung susah dapat band pop karena musiknya lagi keras“, ucap Helvi.

Belum menemukan band lokal yang sesuai dengan selera dan biaya produksi yang mahal disebutkan Didit sebagai alasan mengapa mereka baru merilis band lokal yaitu Mocca pada tahun 2002. Selain Mocca, sekarang FFWD records juga mengurus band lain seperti Homogenic, The S.I.G.I.T, Polyester Embassy, sampai artis independen luar negeri seperti Jens Lekman, The Postmarks, Club 8, dll.

Nama lain yang mulai menyeruak ke permukaan adalah Maritime Records yang didirikan oleh Eggy Yuditia Yusadiredja (Joz) dan Anggara Heryudasa (Ncut). Lewat misi “help each other as a friend”, Maritime Records sudah berhasil menembus chart (tangga lagu) radio di Inggris. Sama seperti FFWD Records sebagian artisnya dirilis juga di label independen luar negeri.

Di tengah maraknya label independen, keberadaan net label tidak bisa dilupakan begitu saja, seperti Deathrockstar (drs). “Sudah hampir setahunan, drs sebenarnya hanya menyediakan hosting. Biasanya label membagikan single-single kalau yang full album baru dua“, urai Eric Wiryanata. Koil termasuk band yang menyebarkan album terakhirnya di Deathrockstar. Nantinya, siapa pun bisa mengunduh lagu-lagu yang disimpan di net label ini tanpa biaya sepeser pun. “Setelah dua bulan, Koil sudah di-download 7.000 kali. Kalau dipikir-pikir sih masih kurang, targetnya 30.000“, ungkap pria kelahiran 10 Februari 1982 ini.

Terlepas dari banyaknya label rekaman independen yang berguguran, keberadaan label ini di Kota Bandung telah menjadi pembuka jalan bagi industri musik independen di Indonesia. Nama negeri ini pun ikut harum ketika band-band yang dirilis label ini menyejajarkan posisinya di kancah musik internasional. Semoga saja keberadaan label-label ini tidak seperti rumah kartu yang susah dibangun tapi mudah runtuh dengan sekali tiupan.

Penulis: Astrid Isnawati
Sumber: Pikiran Rakyat