Kamis, 25 Oktober 2007

Kendala keruwetan perizinan (red tape malfeasance) serta perilaku korup di jajaran birokrasi bisa menghambat tumbuhnya iklim kreatif yang kondusif. Ada pajak di bawah tangan segala, berarti kan tidak masuk negara.

PENUH energi dan gairah mengeksplorasi ide, kalangan muda berkarya dan berani terjun berbisnis meski awalnya hanya ”modal dengkul”. Disadari atau tidak, komunitas kreatif ini turut menjadi penggerak industri kreatif, yang kini ramai
dibicarakan. Sebuah industri yang tidak lagi semata bermodal uang, tanah, atau halhal material, namun lebih berbasis pengetahuan atau intelektual.

Ingin desain ”tidak pasaran” dan jenuh dengan peniruan merek luar negeri di pasar lokal, Marcel, mahasiswa DKV Universitas Kristen Maranatha (UKM) 2004, terdorong memproduksi kaus bikinan sendiri. Itu dimulainya tahun 1999, ketika masih duduk di bangku kelas III SMP.

Daripada cuma pesan satu kaus, waktu itu langsung bikin dua lusin saja, supaya jatuhnya lebih murah, terus dijualin ke teman-teman. Eh, keterusan sampai sekarang”, ungkap Marcel pada Kampus. Ia mengisahkan awal mula clothing line
Oro, sampai akhirnya memiliki distro sendiri di bilangan Jalan Trunojoyo, Kota Bandung.

Hal serupa banyak menghiasi cerita para pionir ”perdistroan” di Kota Bandung. Sebab, alasan ekonomi–tidak mampu beli kaus idaman yang mahal– sampai penunjang lifestyle, keisengan membuat sendiri produk yang digemari, ternyata
potensial jika dikembangkan lebih jauh.

Uniknya, keterbatasan modal dan fasilitas yang ada malah menjadi motivasi untuk lebih baik. Sampai kini akhirnya clothing line dan distro mewabah gila-gilaan ke seluruh penjuru kota. Seiring ramainya merek pakaian lokal indie, semakin subur pula tumbuhnya musik indie, media indie, dsb., yang saling menunjang satu sama lain. Komunitas kreatif ini boleh dibilang terpengaruh budaya urban, di mana globalisasi informasi deras memasuki keseharian mereka, dari mulai fashion, musik, sampai olah raga ekstrem.

Perkembangan teknologi informasi yang pesat dalam dekade ’90-an, juga menjadi faktor penting menggeliatnya industri kreatif. Dulu, profesi web designer mungkin tidak dikenal. Kini, segala profesi dari perluasan di internet menjadi pilihan banyak orang. Hadary Mallafi, mahasiswa STT Telkom 2004, bersama beberapa temannya, termasuk yang tertarik pada peluang berkreasi di internet. Mereka menjual layanan web design sampai migrasi ke Linux (www.kitaklik.com). ”Jadi, kita bukan pengguna internet saja, tapi bisa tambah-tambah penghasilan”, kata Hadary.

Orientasi bukan hanya jadi pekerja, tetapi ingin mempekerjakan, rupanya cukup kental di kalangan muda ini. Itu pula yang diniatkan Dennan Mujtahid, ketika mendirikan agensi iklan lokal One Communication, awal tahun 2007. Profesionalitas pekerja kreatif sebatas rambut gondrong atau gaya ”nyentrik” sudah cerita kuno, sebab banyak tantangan untuk survive di dunia nyata. Lulusan Periklanan Fikom Unpad 2003 ini pun melewati rupa-rupa proses pembelajaran, dari accounting, ditipu orang, penyusunan short term dan long term, sampai berhubungan dengan birokrasi.

Yang terakhir ini sekaligus jadi kritiknya, sebab kendala keruwetan perizinan (red tape malfeasance) serta perilaku korup di jajaran birokrasi bisa menghambat tumbuhnya iklim kreatif yang kondusif. ”Ada pajak di bawah tangan segala, berarti kan tidak masuk negara. Kita mah sebenarnya cuma perlu transparansi, segitu ya segitu”, kata Dennan.

Di luar soal hambatan yang ada, masih banyak potensi-potensi kreatif dari kalangan muda ini yang belum terkuak. Sementara yang sudah berjalan, baik berkiprah di Bandung, di luar Bandung, hingga di luar negeri, terus berdenyut dan mengalirkan pendapatan bagi pajak dan retribusi kota, langsung ataupun tidak langsung.

Penulis: Dewi Irma (kampus_pr@yahoo.com)
Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat