Kamis, 21 Desember 2007

Pemerintah Kota Bandung dinilai tidak siap mengantisipasi pertumbuhan industri kreatif yang muncul pascakrisis. Perbincangan mengenai industri kreatif yang kian sering muncul jarang sekali disambut pemerintah. Meski begitu, pengusaha industri kreatif optimistis terus tumbuh dan berkembang meski tanpa dukungan pemerintah. Direktur Common Room, Gustaff Iskandar mengatakan hal itu dalam diskusi mengenai industri kreatif di aula Bappeda Kota Bandung, Jln. Tamansari 76 Kota Bandung, Rabu (19/12).

Gustaff mengatakan, yang diperlukan adalah membangun sinergi antara pemerintah, pelaku industri kreatif, dunia pendidikan, dan masyarakat. Sinergi itu bisa diawali dengan memperkecil kesenjangan informasi tentang industri kreatif di kalangan masyarakat. “Dari sisi SDM (sumber daya manusia), pemerintah mau bantu atau tidak, mereka bisa jalan“, tuturnya.

Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan, sektor industri kreatif menyumbang 4,75% dari Produk Domestik Bruto nasional atau sekitar 19 miliar dolar AS dan pertumbuhan industri rata-rata 7,3%, yang berarti di atas rata-rata pertumbuhan 13 sektor industri nasional yang mencapai 5,6%. Industri kreatif juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi 4,7% angkatan kerja atau sekitar 3,7 juta orang di Indonesia. Bidang fashion masih merajai, yaitu sekitar 30%, menyusul crafts 23% dan 18% bagi industri advertising.

Perwakilan British Council, Yudhi S. optimistis pemerintah sudah mulai menaruh perhatian terhadap industri kreatif. Hal itu terbukti, Departemen Perdagangan sudah mulai melakukan pemetaan perkembangan industri kreatif. “Dari hasil pemetaan Departemen Perdagangan, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan terutama di bidang musik dan fashion“, katanya.

Selain dari unsur pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), kalangan pengusaha industri kreatif yang hadir di antaranya PT Urbane Indonesia, Ujungberung Rebels, Minor Books, Common Room, Tatar Ukur, dan lain-lain. Plh. Bappeda Kota Bandung, Kamalia mengharapkan diskusi tersebut dapat memberi masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan seputar industri kreatif.

Eddy Noor dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung mengatakan, industri kreatif harus sering dikomunikasikan kepada kalangan perbankan. “Di Singapura dan Malaysia saja, karya seni dan desain sebagai salah satu produk industri kreatif sudah bisa dijaminkan. Sementara di Indonesia belum bisa“, ujarnya. (A-156)***

Sumber: Pikiran Rakyat