Rabu, 28 November 2007

DUNIA sudah memasuki peradaban keempat yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Tidak heran jika kemudian saat ini disebut era kreatif. Ekonomi kreatif yang bersumber dari ide, seni, dan teknologi itu diyakini akan tumbuh berkembang dengan pesat.

Menteri Perdagangan (Mendag) RI Mari Elka Pangestu pada Pekan Produk Budaya Indonesia di Jakarta, Juli lalu menyampaikan nilai ekonomi yang mengejutkan dari ekonomi kreatif ini. Menurut Mendag, nilai ekonomi kreatif global diperkirakan tumbuh 5% pertahun, berkembang dari 2,2 triliun dolar AS pada Januari 2000 menjadi 6,1 triliun dolar AS 2020.

Oleh karena itu, katanya saatnya Indonesia bangkit dan mempersiapkan diri menyambut gelombang ekonomi kreatif dengan orientasi pada kreativitas. Memang butuh waktu dan dana yang besar membangun ekonomi kreatif ini. “Paling tidak, pemerintah membutuhkan dana Rp 10 triliun untuk mengembangkan sektor ini“, tambah Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian RI, Sakri Widhianto di Bandung, beberapa waktu lalu.

Bagaimana dengan Jawa Barat dalam pengembangan potensi ekonomi kreatif ini? Sumber daya manusia Jawa Barat sejatinya memiliki talenta dan kemauan dalam kreativitas ini didukung adanya perguruan-perguruan tinggi berkulitas. Balai-balai besar penelitian juga bisa dimanfaatkan pendukung lainnya.

Di samping itu, generasi muda di Jawa Barat khususnya Kota Bandung dan sekitarnya dikenal gemar mengikuti perkembangan mode dan turut aktif sebagai pengguna produk-produk kreatif yang dihasilkan warga Jawa Barat khususnya Kota Bandung karena pada dasarnya masyarakat Jawa Barat terbuka menerima perubahan.

Semua itu merupakan keunggulan yang bisa dijual. Apalagi bersaing di industri kreatif ditentukan kemampuan unik sumber daya manusia. Potensi SDM Jabar ini sulit ditiru dan berpotensi menciptakan ceruk-ceruk pasar spesifik (niche market).

Bahkan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar, Agus Gustiar menegaskan agar kita tidak perlu takut dengan ancaman produk Cina. “Kita tidak perlu gentar dengan derasnya ancaman produk-produk Cina yang pada umumnya lebih bersifat mass production untuk mengejar keunggulan bersaing dari sisi harga yang murah. Kita bisa menyainginya dengan produk-produk yang inovatif dan kreatif yang mengangkat budaya lokal dengan sentuhan modern yang memenuhi tren dan selera konsumen“, ujarnya.

Menurut Gustiar, selain distro, industri kreatif yang potensial untuk tumbuh di Jawa Barat antara lain fashion, industri desain, komik, musik, animasi, video games, arsitektur, iklan, film, handy craft, kuliner, dan industri telematika. Diyakini Gustiar, pertumbuhan industri tersebut akan menciptakan multyplier effect terhadap pengembangan industri kreatif lain, misalnya industri-rekaman, video klip, film, event organizer, software, dan hardware, serta media musik.

**
SAAT ini, Disperindag Jabar telah mencoba menyusun rencana aksi pengembangan industri kreatif dari tahun 2008 hingga tahun 2012 bersama-sama dengan beberapa komunitas kreatif Jawa Barat, yakni Common Room, Pusat Urban Design ITB dan SBM ITB. “Kita menyadari bahwa dalam pengembangan industri kreatif haruslah ada kolaborasi yang kuat antara pemerintah dengan group independent yang profesional dan dengan sektor swasta“, tambah Gustiar.

Fokus tahun 2008, lanjut Gustiar adalah membangun fondasi industri kreatif yang kuat melalui mapping industri kreatif, analisa potensi, analisa kebijakan, menyusun strategi, menyusun blueprint dan road map. Dikatakan Gustiar, saat ini perkembangan industri kreatif masih terhambat karena ketiadaan pemetaan industri kreatif nasional. Oleh karena itu, dengan adanya mapping industri ini diharapkan industri kreatif dapat berkembang dengan baik pada track yang benar.

Inggris, kata Gustiar merupakan pelopor konsep industri kreatif dunia. Bahkan, saat ini industri ini menjadi sektor ekonomi kedua terbesar di Inggris setelah bisnis perbankan. Kontribusinya mencapai 121,6 miliar poundsterling terhadap PDB Inggris, dan menyerap 2 juta tenaga kerja per tahun. Selain itu, industri kreatif di Singapura pun mengalami perkembangan yang sangat pesat karena mereka telah memiliki pemetaan industri kreatif.

Bandung, belum lama ini telah ditunjuk sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur dan Asia Tenggara dalam program pengembangan industri kreatif yang akan mendapat bantuan dari Inggris sebesar 6 juta poundsterling atau setara dengan Rp 108 miliar. Duta Besar Inggris untuk Indonesia, H.E. Charles Humfrey C.M.G. beberapa waktu yang lalu mengatakan alokasi dana ini akan disalurkan selama empat tahun ke depan. Bantuan itu akan berbentuk kerja sama riset, kolaborasi program pertukaran, dan pengiriman siswa ke Inggris.

Lebih lanjut dikatakan Charles, berdasarkan catatan Bank Dunia, 50% konsumsi masyarakat dunia dipasok dari industri kreatif. Tahun 2005 industri manufaktur yang terkait kreativitas, memberi kontribusi 33% bagi pendapatan dunia, atau enam kali lipat lebih besar dibandingkan kontribusi minyak dan gas.

Banyak harapan yang ditumpukan pada industri kreatif. Boleh jadi, pertumbuhan industri kreatif di Jawa Barat, terutama Bandung akan memunculkan kota-kota kreatif yang dapat diperhitungkan dan disejajarkan dengan kota kreatif lainnya di dunia seperti Paris, London dan New York. (Kismi/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat