Kamis, 29 November 2007

INI apa sih?” ucap seorang kawan Kampus bertanya pada teman di sebelahnya seraya menunjuk benda mini berbentuk kapal. Tak mau berlama-lama kebingungan, ia pun memerhatikan keterangan singkat yang tertempel di sebelahnya. Kening yang tadinya berkerut, lalu berganti anggukan kekaguman. Ternyata, benda itu adalah prototipe kapal penangkap ikan yang dirancang untuk menghemat bahan bakar fosil dengan menggunakan biodiesel. Itu salah satu pemandangan yang terlihat dalam “Desain Produk Berkarya 2”, Pameran Karya Akademik Mahasiswa Desain Produk ITB Semester 2 tahun 2006/2007, 26-28 November 2007 di Campus Center ITB.

Nuansa, keunikan, bahkan kebaruan, muncul dalam pameran yang menampilkan karya dari 57 orang mahasiswa Desain Produk (DP) FSRD ITB itu. Berasal dari tugas, pameran ini sekaligus juga uji kemampuan mahasiswa DP dalam tingkatannya masing-masing. Karya-karya itu berasal dari mata kuliah DP I, II, III, IV, V, dan tugas akhir, yang biasa dikenal dengan istilah “studio”. “Semuanya melewati proses seleksi oleh dosen masing-masing“, kata Agus, ketua panitia, pada Kampus. Mau tahu seperti apa karya mereka?

Ruangan pameran di-set sesuai dengan tingkatan studio. Di tengah ruangan ada belasan kertas kardus berwana cokelat alias corrugated paper, dengan rupa-rupa bentuk. Ternyata, itu karya dari kawan-kawan DP I, yang ditugaskan untuk membuat kursi dari kardus. Beban SKS dalam DP I memang berkutat soal eksplorasi material dan bentuk dasar. Hasilnya, tercipta aneka desain kursi, dari mulai pola sederhana sampai yang rumit dan berlapis.

Bergeser ke sebelahnya, ada karya berupa autodesk hingga gunting semiotomatis. Ya, ini adalah karya mahasiswa DP 2 yang banyak mengupas soal mekanisme gerak. Gegi Primanata, misalnya, membuat robot mini yang bisa membawa minuman ringan, berdesain atraktif berwarna kuning-hitam. “Ingin buat robot yang fungsional“, kata Gegi, yang merancang robot itu untuk membantu para pramusaji (waitress).

Beberapa karya lainnya malah punya fungsi signifikan dalam menjawab masalah kesehatan dan lingkungan, seperti karya-karya dari DP 5, berupa mobil tempat klinik kesehatan gigi dan mulut, ranjang lipat multifungsi, sampai alat penghalau burung kowak yang memanfaatkan gelombang ultrasonik. Karya-karya dengan fungsi pendidikan pun bertebaran dari mahasiswa DP 4, yang memang difokuskan pada elaborasi desain berbasis riset sosial budaya. Misalnya, alat bermain untuk anak yang menderita attention deficit disorder (ADD) alias sulit berkonsentrasi atau sendal berbentuk puzzle yang bermuatan edukasi.

Masih ada karya lainnya yang memiliki fungsi primer dan sekunder dengan model yang unik, misalnya, lampu dari kulit melon, kursi dari ban bekas, gitar, sepeda jungkat-jungkit, dan sebagainya. Kebanyakan barang-barang itu memang belum dibuat dalam jumlah yang siap dipasarkan. Namun demikian, bukannya tidak layak untuk dilirik dan diproduksi massal.

Menurut Harry Nugraha, ketua INDDES (komunitas mahasiswa DP ITB), tiap semester ada 150 karya dari berbagai studio dan sayang sekali kalau itu tidak diketahui banyak orang. Oleh karena itu, kini INDDES ingin semakin menggiatkan pameran, khususnya pameran akademis. Sebelumnya, INDDES juga pernah menggelar pameran besar dengan partisipan dari berbagai kampus tahun 2005 lalu di Sabuga. “Pameran juga bisa memotivasi kita supaya bikin tugas sebaik-baiknya,” kata Ikra, dari DP 1.

Dituturkan Harry, pameran diadakan agar orang bisa semakin mengenal DP yang pamornya belum menonjol. Pameran juga diharapkan bisa menjadi pintu mendatangkan pelaku-pelaku industri ke kampus. Menurut dia, pemerintah masih belum menggarap DP secara serius. Padahal, DP itu penting, apalagi dikaitkan dengan gaung industri kreatif sekarang ini. DP berperan dalam memberi nilai tambah bagi pembuatan produk dengan pertimbangan aspek estetis sekaligus fungsional. “Pekerjaan rumah sekarang ini adalah menyambungkan DP dengan industri kecil menengah (IM) lokal kita yang potensial“, katanya. ***

Dewi Irma (kampus_pr@yahoo.com)
Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat