You are currently browsing the tag archive for the 'Software' tag.
Sabtu, 26 November 2005
Burung raja udang suka makan ikan. Namun, karena ikan di sungai banyak diracun atau disetrum listrik, si burung raja udang terpaksa makan buah. Ia pun terbang mencari buah di gua-gua, seperti Gua Cukang Taneuh di Ciamis dan Sunyaragi di Cirebon.
Kisah mini yang mengandung pelajaran pengenalan dan pelestarian lingkungan itu terangkum dalam game animasi berjudul Si Jeknyeh Kalaparan karya Sony Rosyan. Menurut pria kelahiran 12 Juli 1965 ini, jeknyeh adalah nama lokal Sunda untuk burung raja udang.
Sony tidak sekadar menempelkan nama lokal Sunda. Sebab, hampir keseluruhan permainan animasi itu memang bernuansa Sunda. Mulai dari penjelasan hingga perintah, Sony mengusahakan memakai bahasa tradisional itu. Termasuk juga nama gua-gua tempat Si Jeknyeh berburu buah yang semuanya berlokasi di Jawa Barat. Untuk musik pengiring, Sony memakai potongan musik kendang dan kacapi suling.
”Tujuan utama saya untuk mengenalkan bahasa Sunda kepada anak-anak”, kata Sony. Memprogram permainan dalam bahasa Sunda diawali dari kegelisahan Sony melihat bahasa tradisi itu mulai ditinggalkan dalam percakapan sehari-hari. ”Banyak anak tetangga saya yang tidak bisa bahasa Sunda. Padahal, mereka asli Sunda”, tutur Sony yang tinggal di Jalan Sekelimus III No 1A, Bandung.
Menurut Sony, bahasa adalah bagian budaya yang perlu dilestarikan agar tidak punah. Alumnus Pendidikan Ahli Teknik Telekomunikasi (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Telkom) tahun 1989 ini mengatakan, bahasa tradisional suku mana pun perlu dilestarikan agar tidak punah.
Dari Kegelisahan
Menurut Sony, anak-anak suka meniru dan tidak takut salah. ”Anak saya bisa menghitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Spanyol gara-gara nonton Dora The Explorer”, kata Sony mencontohkan efektifnya belajar bahasa pada usia dini.
Kegelisahan itu mengantarnya pada suatu pertanyaan: saya bisa berbuat apa? ”Menulis (sastra Sunda), saya enggak bisa”, kata Sony. Ia sempat merasa tidak bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk menjawab kegelisahannya. Namun, Sony punya banyak teman yang mendorongnya untuk menggunakan talentanya dalam melestarikan bahasa Sunda.
Jadilah, lelaki yang bekerja sebagai Business Development Officer di PT Telkom itu mengawinkan teknologi modern dengan pernik-pernik tradisi. Si Jeknyeh Kalaparan dan Wanara Mulung Sentul adalah dua game berbahasa Sunda di antara belasan game animasi karyanya yang lain.
Suami Kartika (37) dan ayah dari Aridita Yasmina Dewi (14), Asarela Orchida Dewi (12), Aurora Rosena Dewi (6), dan Audira Gladiola Dewi (2 bulan) ini belajar animasi secara otodidak. Imajinasinya terlatih sejak kecil akibat kegemarannya membaca berbagai buku cerita dan komik. ”Ketika SMA, saya tergila-gila baca (karya) Khoo Ping Hoo,” ujar anak nomor tiga dari enam bersaudara ini.
Perkenalannya dengan komputer membuatnya suka bereksperimen. Ia sudah suka mencoba-coba membuat animasi sejak tersedia program Lotus, yang jika dibandingkan dengan program-program sekarang sudah sangat kuno dan ketinggalan.
Sebelum menciptakan game animasi berbahasa Sunda, Sony rajin membuat game dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Semula, ia hanya menyimpan game animasi berbahasa Sunda itu. Keterlibatannya di mailing list Komunitas Urang Sunda di Internet (Kusnet) memberinya banyak teman yang mendorong agar ia memublikasikan karyanya.
Tidak Memikirkan Hak Cipta
Dalam skala terbatas, Sony pun menunjukkan hasil kerjanya dan mendapat tanggapan positif. Salah satunya ketika Kongres Bahasa Sunda yang diselenggarakan di bulan Juli tahun ini. Ia dengan senang hati memberikan kopi game-nya kepada beberapa teman tanpa pusing memikirkan soal hak cipta.
Selain ia sendiri yang hobi main game, anak-anaknya pun ketularan. Baginya, game adalah media yang cukup ampuh untuk menyampaikan sesuatu. Ia beralasan bahwa pada dasarnya manusia suka bermain. ”Pada game ada tantangan, bikin penasaran, dan pembelajaran kalah atau menang”, kata Sony.
Karena hanya dikerjakan sebagai pengisi waktu luang, perlu waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu permainan. Meski demikian, ia punya mimpi jika hasil karyanya bisa digandakan lantas dibagikan kepada khalayak luas. ”Kalau bisa, tidak komersial”, harap Sony.
Namun, sekali lagi, niat seperti itu sering terkendala banyak hal, terutama dana. ”Di Indonesia sangat banyak bahan (cerita), tetapi kita tidak pintar menyajikannya. Selain itu, penghargaan terhadap karya yang sudah ada juga kurang”, ujar Sony.
Hal itu tidak membuatnya berhenti berkarya. Di kepalanya kini ada imajinasi untuk menghadirkan gedung-gedung tua di Bandung lengkap dengan petanya dalam sebuah game animasi. ”Akan sangat bagus kalau bisa dikerjakan bersama ahli sejarah dan desain”, kata Sony. (D06/D11)
Sumber: Kompas
Senin, 06 Maret 2000
SELAMA masa krisis ekonomi ini, untuk dapat bangkit dari keterpurukannya, Indonesia masih dapat mengandalkan pendapatan dari ekspor minyak dan gas yang belakangan ini harganya di pasaran dunia mulai naik. Selain itu banyak yang masih beranggapan tekstil dan hasil hutan merupakan produk unggulan nonmigas yang terbanyak memberi pemasukan devisa. Ternyata perkiraan itu meleset. Dalam setahun terakhir, laporan Departemen Perindustrian dan Perdagangan menyebutkan sektor industri elektronika justru dapat survive dan menempati ranking kedua pemasok devisa setelah sektor minyak dan gas bumi. Sektor migas mencatat meraih devisa 7 milyar-8 milyar dollar AS, berikutnya elektronika 3,9 milyar dollar AS.
Peranan elektronika di banyak negara ternyata juga tidak jauh berbeda dalam kurun dua dasawarsa terakhir ini. Di beberapa negara, bidang ini bahkan merupakan sumber penghasilan devisa dan pencipta lapangan kerja utama.
Di Malaysia, sebagai contoh, meskipun sebagian besar investasi dari perusahaan asing, kegiatan industri ini menjadi penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja terbesar dalam industri manufaktur. Sementara Singapura hampir 50 persen ekspornya dari industri elektronika.
Negara-negara tersebut tergolong sangat berhasil dalam mengembangkan industri elektronika, menurut pengamatan pakar mikro-elektronika Prof Dr Samaun Samadikun, karena menerapkan beberapa pendekatan, yaitu produknya berorientasi pada ekspor, menerapkan kebijaksanaan khusus yang menyangkut pengelolaan permodalan dan perpajakan, dan mempunyai kaitan dengan industrinya di luar negeri. Selain itu, pemerintahnya juga menyiapkan dukungan tenaga ahli dan lembaga penelitian yang dikaitkan erat dengan usaha ekspornya.
Sementara itu, Indonesia dinilainya tidak terlalu berhasil dalam mengembangkan industri elektronika, karena menerapkan strategi substitusi impor dan tidak terlalu peka untuk teknologi baru akibat memberi perlindungan terhadap persaingan di dunia perdagangan internasional. Indonesia juga kurang diminati industri atau investor asing karena insentif yang diberikan tidak sebaik negara-negara tetangga.
Industri elektronika sudah muncul sejak lama di Indonesia, namun, menurut dia, hingga kini volumenya masih kecil dibandingkan potensi yang dapat dipetik dari seluruh kegiatan iptek dan industri tersebut. “Sudah waktunya Indonesia memberikan perhatian kepada bidang ini sebelum peluangnya habis ditutup oleh negara lain yang lebih jeli melihat kesempatan emas ini“, ujar Samaun.
Berbagai kebijakan, dikatakan Samaun, perlu diciptakan guna mengembangkan bidang ini serta berbagai industri yang berkaitan dengannya. Pengembangan industri elektronika di Indonesia dapat diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk elektronika buatan Indonesia di pasaran internasional, meningkatkan kemampuan melakukan rancang bangun dan rekayasa, serta menciptakan iklim sehingga investasi dari dalam maupun luar negeri dalam bidang ini dapat ditingkatkan.
Dengan melihat tingkat pertumbuhan sektor elektronika sekitar delapan hingga 10 persen pada pascakrisis ekonomi, ditambah potensi pasarnya di tingkat global terus meningkat hingga mencapai 800 milyar dollar AS per tahun, menurut Ir Armein ZR Langi MSc PhD, peneliti di Pusat Penelitian Antar-Universitas (PPAU) ITB, sektor elektronika hendaknya menjadi riset unggulan di Indonesia.
BHTV
Teknologi mikroelektronika, lanjut Guru Besar ITB ini, dipandang sebagai sesuatu yang fundamental-menjadi dasar-bagi suatu revolusi industri baru yang akan jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan revolusi industri akibat penemuan mesin uap. Karena itu berada di baris depan dari penguasaan teknologi ini akan menjadi modal untuk meraih kemakmuran bangsa pada masa mendatang.
Dalam mengembangkan industri elektronika termasuk mikroelektronika, institusi pendidikan teknologi di Indonesia sebaiknya memainkan peran yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan tenaga ahli bidang elektronika.
Banyak universitas terkemuka di dunia menjadi pendorong utama industri di sekitarnya. Salah satunya, Lembah Silikon di California sebagai pusat pengembangan bidang mikroelektronika tumbuh di sekitar Universitas Stanford karena peran universitas tersebut.
Di lembah silikon lembaga pendidikan berperan sebagai sumber ilmu dan teknologi, dan juga menghasilkan manusia-manusia yang akan menerapkan hasil interaksi antara universitas dan masyarakat lingkungannya. Namun, untuk dapat terjadi sinergisme yang menghasilkan suatu kegiatan ekonomi, maka diperlukan dukungan lain seperti komitmen pemerintahan setempat dan dana modal ventura.
Samaun berpendapat, ide pengembangan Lembah Silikon hendaknya dijadikan acuan dalam pembangunan Bandung Hi Tech Valley. Gagasan untuk menjadikan dataran tinggi Bandung sebagai pusat kegiatan industri elektronika ini pernah dicetuskan Prof Iskandar Alisyahbana ketika masih menjadi Rektor ITB pada tahun 1970-an.
Untuk mewujudkan gagasan itu, Iskandar bersama rekan-rekan dari laboratorium radio dan microwave ITB mendirikan industri elektronika di lereng lembah Bandung yang sampai sekarang masih beroperasi. Keadaan lembah Bandung pada saat ini sudah jauh berbeda dibanding saat dekade 1970-an.
Lembaga penelitian yang menunjang ide itu di antaranya LEN Industri, PT INTI dan Risti Telkom saat ini telah menjadi industri dan lembaga yang besar. Sementara itu industri strategis lainnya di lembah Bandung seperti IPTN dan Pindad, juga dapat menjadi pemakai dan pencetus gagasan peralatan elektronika baru. Dengan adanya terminal peti kemas di Gedebage, maka Bandung juga dekat dengan pasaran nasional dan internasional.
Sementara itu, ITB yang mempunyai jurusan teknik elektro yang paling besar di Indonesia juga telah mengembangkan beberapa segi sistem mikroelektronika. Hal ini ditunjang dengan beroperasinya PPAU bidang mikroelektronika tahun 1990. “Pengembangan lembah mikroelektronika di sekeliling ITB merupakan suatu usaha yang panjang dan terus-menerus“, ujarnya.
Selain ITB, di Bandung juga ada perguruan tinggi lain di antaranya Universitas Padjadjaran dan Politeknik Bandung yang dapat memasok kebutuhan tenaga ahli dan teknisi bagi berkembangnya kawasan industri berteknologi tinggi di kota kembang itu.
Untuk mewujudkan Bandung Hi Tech Valley, saat ini Pemda Jawa Barat tengah menyusun Master Plan Kota Bandung. Tujuannya untuk mengembangkan infrastruktur lebih lanjut berdasarkan potensi sumber daya, perguruan tinggi, industri, dan sarana transportasi yang telah ada.
Cilegon-Padalarang
Dilihat dari skala nasional, menurut Direktur Industri Elektronika, Ir Ardiansyah Parman, Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk berkembangnya industri elektronika, yaitu memiliki pasar yang besar setelah AS, Cina dan India. Memiliki tenaga kerja yang cukup dan upahnya bersaing.
Saat ini secara alamiah sebenarnya telah terbentuk cluster industri elektronika dan mikroelektronika berorientasi pasar global di sepanjang koridor Jakarta-Cikampek. Dalam strategi dan kebijakan pengembangan industri elektronika lebih lanjut untuk menembus peraihan devisa sebesar 30 milyar dollar AS pada tahun 2010, kawasan industri elektronika dikembangkan lebih lebar, mulai dari koridor Cilegon hingga ke Padalarang. Sedangkan Bandung akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan.
Koridor terbagi dalam tiga bagian, yaitu koridor Cilegon-Jakarta dan Jakarta-Cikampek yang saat ini telah terbentuk, serta koridor Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) yang tengah dikembangkan. Tiga koridor itu akan dibangun sebagai kawasan industri dan perdagangan elektronika, sedangkan Bandung akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan.
Terbangunnya Bandung Hi-Tech Valley yang melibatkan lembaga riset BUMN dan perguruan tinggi di Bandung dan sekitarnya, paling tidak ikut menghela lahirnya inovasi-inovasi baru di bidang elektronika, terutama untuk software. BHTV yang berfungi sebagai dapur pengembangan riset dan penelitian, antara lain bersinergi dengan Telkom, IPTN, Lembaga Elektronika Nasional (LEN); Industri Telekomunikasi (INTI); Pindad; Universitas Katolik Parahyangan. Tak ketinggalan pula lembaga-lembaga riset seperti Divisi Risti Telkom.
Menurut Armein, karena BHTV bermarkas di gedung PPAU-ITB, Armein yakin cluster-nya tidak hanya berorientasi regional Jawa Barat dan Jakarta. Tetapi, lebih dari itu, menjadi semacam dapur penggodokan inovasi teknologi elektronika buat seluruh Indonesia. Itu karena PPAU-ITB selalu terbuka untuk menerima peneliti dan dosen dari semua universitas di Tanah Air. “Kita sudah saatnya berpikir nasional, karena devisa yang hendak diraup dari inovasi teknologi ini berorientasi devisa bagi bangsa“, papar Armein.
Bandung Hi Tech Valley dan PPAU diarahkan menjadi semacam link yang bisa saling terkait dengan dunia usaha, sehingga produknya bisa bersaing di pasar global. Cluster BHTV memfokuskan risetnya pada bidang mikroelektronika yaitu pada desain semi konduktor dan software, komponen modul, dan perangkat telekomunikasi. Produk tersebut diyakini berprospek cerah dan tanpa mengenal masa krisis maupun pascakrisis ekonomi.
Selain itu untuk mendukung cluster mikroelektronika, Bandung juga akan dijadikan Kota Multi Media, Pusat pendidikan ahli desain chip; software; dan aplikasi teknologi informasi, serta sebagai infrastruktur teknologi penghela koridor Jakarta-Padalarang.
Industri elektronika dapat makin cerah di masa depan, menurut Armein, tidak terlepas dari fenomena mengalirnya investor asing dalam bidang itu. Sejak tahun 1998, setidaknya ada lima “raksasa” industri elektronika yang kini menancapkan kakinya di negeri ini, dengan total investasi 1.021 juta dollar AS, dan menyerap tenaga kerja 37.489 orang. Mereka adalah Sony, Sanyo, LG, Matsushita, dan Epson.
Adanya simbiosis mutualisme antara BHTV, PPAU-ITB, dan para investor, diharapkan bisa memacu Indonesia mengejar ketertinggalannya dibanding negara-negara ASEAN. Sebagai gambaran, saat ini subsektor semi konduktor dirajai oleh Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Tetapi, untuk subsektor consumer electronic Indonesia unggul dibandingkan ASEAN bahkan Asia, yaitu mencapai 53 persen dari seluruh produk elektronikanya, sedangkan negara Asia lainnya berkisar 4 hingga 44 persen.
Penulis: Nasrullah Nara/ Yuni Ikawati
Sumber: Kompas
