You are currently browsing the tag archive for the ‘Music Instruments’ tag.
24 Oktober 1996
Angklung dan Dinamikanya
Jika mendengar kata “Angklung”, maka yang terbayang dalam benak kita adalah alunan musik yang berasal dari bambu yang memainkan lagu-lagu yang teramat sederhana, tradisional, dan mungkin berkesan konvensional. Fenomena ini sama sekali tidak dapat dipersalahkan mengingat bahwa hingga saat ini lagu-lagu angklung tradisional tetap dipertahankan, karena walau bagaimana pun “akar” dari musik angklung adalah musik daerah tersebut.
Musik angklung pun tidak mengenal adanya segmentasi. Golongan apapun, dan usia berapapaun tanpa kecuali, dapat memainkannya karena dibuat secara sederhana dan dapat dimainkan dengan mudah. Jika memperhatikan akan hal-hal tersebut, sangatlah disayangkan jika angklung ini tidak mendapatkan perhatian yang layak, serta tidak mendapatkan tempat sebagaimana mestinya. Apalagi kita semua mengetahui bahwa Angklung sudah dikenal di dunia internasional.
Indentifikasi Masalah
Dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, tentu saja tidak mungkin terlepas dari situasi dan kondisi yang tengah terjadi pada saat ini.
Dari berbagai kelebihan yang ada, penulis berpendapat bahwa Angklung sedikitnya memiliki berbagai kelemahan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- Belum adanya wadah / forum komunikasi yang secara rutin dapat mempertemukan grup angklung yang ada pada saat ini (kecuali ajang Festival atau Konser ?). Sehingga, “belum ada” kesamaan persepsi mengenai standardissai teknik, kualitas, aransemen, dan lain sebagainya.
- Belum ada standardisasi untuk manajemen organisasi Angklung. Di satu pihak ada tim dengan penataan organisasi yang sudah menjurus ke arah profesional - dengan struktur organisasi serta dukungan dana yang baik – sementara di lain pihak ada grup yang sengaja dibentuk secara “dadakan” dan pembentukannya hanya karena akan diikutsertakan dalam ajang Festival saja (bukan merupakan kegiatan rutin dan organisasi formal.) Dengan kata lain, belum ada satu pemahaman bahwa angklung pun perlu ada penataan manajemen secara sistematis.
- Belum ada standardisasi honorarium yang layak bagi seorang pelatih dan grup angklung secara utuh (dalam arti, sejauh mana para “aktor” angklung dapat diukur / dihargai secara materi yang medai.)
Jika masalah-masalah tersebut tidak segera ditangani secara dini, maka di masa yang akan datang, grup-grup angklung yang ada akan sulit berkembang bersama, atau mungkin hanya akan berkembang secara individual saja, bahkan mungkin banyak grup yang akan gulung tikar. Pembenahan kondisi internal memang harus sesegera mungkin diantisipasi, mengingat bahwa bukan tidak mungkin akar permasalahan yang biasa muncul, berawal dari sini.
Analisis/Perspektif dan Saran
Sebenarnya, grup angklung yang ada pada saat ini sudah cukup marak. Tidak hanya di tingkat sekolah saja (TK sampai dengan SLTA), tetapi juga sudah merambah ke tingkat Perguruan Tinggi. Namun demikian, karena tersebar di berbagai daerah, sehingga perkembangan yang terjadi di kota Bandung belum tentu dapat diikuti oleh daerah-daerah lain di luar kota Bandung. Kendalanya adalah sulitnya pengawasan dan informasi, sehingga kerap terjadi kesalahan persepsi (meskipun sifatnya sangat mendasar.)
Selanjutnya adalah, faktor kesempatan untuk menguji kemampuan. Bukan tidak mungkin pula, kelak kesempatan untuk tampil pada acara-acara terhormat hanya akan didapat oleh grup yang sudah memiliki reputasi dan sudah mapan saja. Sedangkan, grup lainnya akan sulit untuk mendapat kesempatan serupa (kecuali jika berbentuk Pementasan Angklung Massal.) Dengan demikian, kesempatan untuk mengasah kemampuan bagi grup-grup lainnya akan sangat minim, dan akhirnya terjadi pula kesenjangan kualitas. Disadari atau tidak, hal ini sudah mulai terjadi. Benar, bahwa ada festival Angklung yang diadakan secara rutin. Namun follow up dari festival itu masih belum transparan jika pada akhirnya tetap saja memunculkan kelompok kepentingan tertentu untuk ditampilkan pada event-event penting. Kontribusinya perlu lebih dipertegas lagi. Musik angklung memang tidak akan pernah tenggelam, namun jika yang tetap bertahan hanya gruo-grup tertentu saja, apakah kondisi ini juga tidak kalah mengkhawatirkan ?
Kemudian, dukungan dari berbagai pihak akan sangat kita butuhkan untuk memperlancar langkah dalam mencapai tujuan. Akan lebih baik lagi jika bantuan itu datangnya dari media cetak maupun media elektronik yang bersedia menayangkan secara reguler dan berotasi, tanpa mengurangi segi komersialnya. Sebab, media ini sangat ampuh untuk menyentuh segala lapisan masyarakat, sehingga perkembangan angklung pun dapat langsung dirasakan oleh semua pihak. Lalu, yang tidak kalah pentingnya adalah upaya pendekatan terhadap pihak-pihak yang memiliki otoritas. Hal ini seyogyanya dapat dilakukan secara aktif karena akan melicinkan segala sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya. Jika kita hanya bersikap “menunggu bola” saja, maka eksesnya hanya kan merugikan kita saja. Memang, usaha-usaha ke arah itu selalu dilakukan oleh para sesepuh angklung. Namun, untuk menunjang kontinuitas program, siapa yang kelak yang akan terus mengusahakannya?
Selanjutnya, jika kelak dibentuk organisasi resmi yang merupakan gabungan dari berbagai grup angklung yang ada, maka kesenjangan kualitas dan kesalahan persepsi itu diharapkan akan dapat dikurangi. Di samping itu, bukan tidak mungkin jika setiap permasalahan akan dapat dipecahkan secara bersama-sama. Termasuk juga nantinya masalah alokasi dana dan manajemen organisasi yang biasanya menjadi penghambat utama kemajuan angklung di setiap sekolah. Kalaupun nantinya masalah dana tetap menjadi kendala utama, minimal organisasi ini bisa menjadi mediator antara grup yang bermasalah dengan pihak-pihak yang terkait. Organisasi yang dibentuk ini pun diharapkan tidak hanya aktif ketika awal dibentuknya saja, namun juga harus terjaga konsistensinya secara berkesinambungan, tidak terjadi missing link, dan semua krgiatannya harus terprogram dengan teratur sehingga tidak terjadi overlapping ataupun mismanagement. Para pengelolanya harus merupakan orang-orang yang memiliki loyalitas tinggi dan komitmen yang besar terhadap kemajuan organisasi. Sehingga, manfaat dari organisasi ini dapat dirasakan maksimal oleh seluruh anggotanya tanpa kecuali. Jika perlu, dijadikan sebuah Yayasan tersendiri agar dapat lebih kuat dan mengikat secara hukum.
Memajukan musik Angklung tidak semudah menjual karcis sepakbola atau pertunjukan musik barat, karena penggemarnya teratas dan tingkat apresiasi masyarakat terhadap angklung pun belum terllau menggembirakan. Terlalu banyak kendala yang harus dihadapi. Jika pengelolanya tidak memiliki kapasitas sebagai seorang “idealis” yang baik, maka jangan harap bahwa angklung akan terus berkembang.
Kesimpulan
Eksistensi musik angklung di masa yang akan datang, akan sangat bergantung pada kesungguhan kita dalam mengelolanya dengan penuh perhatian dan kejujuran, tanpa adanya hipokrasi serta maksud-maksud untuk membela kepentingan kelompok tertentu, atau hal-hal yang mengarah pada primordialisme. Dalam berbaagai hal, terbukti bahwa jika ada kelompok kepentingan yang bendominasi suatu perkumpulan, maka bisa jadi bumerang bagi perkumpulan tersebut. Sebab, kesalahan sedikit saja akan dapat memperbesar masalah yang telah ada, dan mungkin akan semakin menghambat kemajuan musik angklung ini. Jika sudah demikian adanya, maka segala idealisme yang muncul selama ini hanya akan sia-sia belaka.
Penulis: Drs. Yan Raspati (Pemerhati Masalah Angklung dan Pernah Melatih pada Corps Angklung SMAN 5 Bandung)
Sumber: Pikiran Rakyat/ Angklung Web Institute

PROSES pendempulan dan pengecatan gitar yang dilakukan berkali-kali hingga mengkilap. Untuk pengerjaan itu, cuaca menentukan lamanya proses.* ADE BAYU INDRA
Rabu, 20 Februari 2008
Proses pengerjaan handmade di pabrik gitar milik Syafri Rasid (73), perintis gitar merek Arista, berawal dari membentuk badan gitar triplek yang di-press selama setengah hari. Setelah itu, penutupan body dan pembolongan. Sementara itu, batang dibentuk dan diberi jari-jari senar. Selanjutnya, proses pengampelasan sekaligus pemasangan jembatan gitar.
Pada proses pengampelasan, gitar didempul dan dicat berulang-ulang untuk menghasilkan gitar yang mengkilap. Namun sayangnya, kata Syafri, cuaca menjadi hambatan dalam pengeringan cat. “Kalau cuasa lembap, harus menggunakan pengkilap kualitas tinggi“, ungkap dia.
Selain itu, berhubung pabrik gitarnya menerima pesanan partai maupun individual, maka ia pun menerima segala bentuk permintaan konsumen. “Bisa bikin apa aja yang ada digambar, foto istri pun bisa mejeng di gitar“, jelas Jangun (49), salah seorang karyawan Abang, panggilan akrab Syafri.
Begitu pula dengan waktu pengerjaan satu pesanan, menurut Wenardi Wigono yang membuat gitar merek Secco, bisa menghabiskan waktu satu sampai dua bulan. “Belum lagi perubahan permintaan konsumen“, kata dia.
Namun, pengguna mempunyai keleluasaan sepenuhnya untuk menentukan jenis dan model gitar menurut selera masing-masing. “Gitar itu sesuai dengan selera pribadi. Begitu pula dengan proses pembuatan gitar secara handmade maupun pabrikan (mesin), mempunyai keunggulan masing-masing, juga dari segi nada yang dihasilkan“, tutur Wenardi.
Tidak selamanya keberuntungan berpihak pada usaha gitar yang dijalani Moch. Husni Nasution, Abang, dan Wenardi berjalan mulus. Kendala senantiasa menghadang dari berbagai hal. Bagi Secco penghambat majunya usaha gitar berasal dari SDM yang hanya mempunyai mental pekerja tanpa mencintai pekerjaannya. “Kegiatan membuat gitar bisa menjadi hal yang membosankan“, jelas Wenardi. Padahal, dia telah mengeluarkan biaya khusus untuk pendidikan bagi para pekerjanya.
“Kendala itu bukan dari produk tetapi dari attitude, visi, dan motivasi pekerja“, tutur Wenardi.
Dia mengaku tidak terlalu mengejar profit, walaupun bisnis tidak menafikan adanya hal itu. Menurut Wenardi, kalau mengutamakan profit, waktu pengerjaan lebih pendek, tetapi kualitas belum tentu terjamin. “Kalau mengutamakan kualitas, pasti rugi dulu“, ungkapnya.
Kendala lain datang dari segi regenerasi. Hal itu dialami oleh Syafri, tidak satu pun anaknya meneruskan usaha yang ia rintis. Namun, harapan tertumpu pada salah satu menantunya, Wagiman (49) yang mengurusi pabrik rumahan gitar di Parakan Bolang.
Hal serupa pun dirasakan Husni, modal untuk menambah jumlah produksi gitarnya belum kunjung datang. Oleh karena itu, Ia mengharapkan ada bantuan modal dengan bunga rendah.
**
Musisi Bandung, Riko Prayitno, gitaris band Mocca, mengakui, perkembangan musik indie di Bandung ada sekitar 200 lebih band. “Ini sangat berhubungan dengan gitar“, katanya.
“Anak muda Bandung itu terkenal kreatif dan ngulik“, ucapnya. “Mereka nyari sound dan bentuk yang beda, kalau harga relatif“, tutur Riko.
Menurut dia, kecenderungan model gitar vintage dan old style era tahun 1950-an akan kembali menjadi tren.
Riko mendukung eksistensi produk gitar lokal Bandung, karena menurut pemetik gitar ini, orang-orang Jakarta umumnya mencari gitar di Bandung. “Bandung itu kecil, jadi mudah untuk dijangkau, banyak pilihan, dan harganya relatif murah“, jelas dia.
“Di Jakarta, gitar lokal tersedia, namun harganya jauh lebih mahal daripada Bandung“, lanjutnya. “Ke depan produsen gitar lokal harus hati-hati dengan serbuan produk gitar dari Cina dengan menunggangi merek terkenal Amerika“, ucapnya mengimbau.
Riko menyarankan, produsen gitar harus pintar melihat sasaran anak muda dan tidak terlalu mengikuti selera mainstream. “Intinya, penting untuk menggalakan promosi“, kata Riko.
Sebagai rencana memajukan industri alat musik seperti gitar, Agus Gustiar, Kepala Dinas Prindustrian Dan Perdagangan Jabar, berencana untuk mengadakan pameran musik dengan konsep general, spesifik dari gitar saja. “Proses pengembangan ini bersifat simultan“, kata dia.
Dari rancangan kegiatan tersebut, ia mengharapkan bisa memperluas jaringan pemasaran.
Selain tiga produsen gitar Bandung tersebut, masih ada beberapa home industry yang berkecimpung dalam produksi gitar lokal, di antaranya Asia Guitar Labs (AGL), Gilles de Neve di Taman Cibeunying Selatan No. 37 Bandung, Stranough Guitar Builder & Labs, Bapak Hanung di Jln. Jalaprang No.51 Sukaluyu Bandung, Alergo di Banjaran, dan beberapa industri sejenis di Palasari dan Setiabudhi, Bandung.
**
Empu gitar, Ki Anong Naeni (75) yang mendapatkan penghargaan Anugerah Budaya 2007 ini, baru saja diuji dengan memburuknya kondisi kesehatannya. Tiga bulan lalu ia terserang hipertensi yang mengharuskan ia melepaskan sejenak gergaji dan bornya, mengulik alat musik berdawai itu.
Sang empu gitar mulai kerasan tinggal di Cipatat Elok Kab. Bandung Barat (KBB), tepat sebelum Jembatan Rajamandala, batas KBB dengan Cianjur. Dia kini harus menyelesaikan beberapa pesanan dari tempat dia bekerja sekarang. Setidaknya Ki Anong harus menuntaskan permintaan satu gitar pelanggan tiap bulannya.”Ya itung-itung ngebimbing cucu saja“, ujar kakek delapan cucu itu.
Bersama cucunya, Awan Abu Sofyan, Ki Anong beraksi mengubah kayu mahoni, eboni, rosewood, maple, dan spruce menjadi senjata yang selalu dipetik oleh Ferry Curtis.
“Pengennya mah ada investor yang punya uang buat mendirikan perusahan gitar baru“, ungkap suami Amas Supiah ini.
Dia mengaku tidak ingin menjadi pengusaha, karena berniat menjadi guru saja. “Saya ingin menyalurkan ilmu, berharap ada orang yang mempunyai kemampuan lebih, namun sampai sekarang belum nemu“, kata lelaki yang mulai membuat gitar pada tahun 1947, berawal dari kegemarannya mengulik alat musik petik itu.
Di ruangan berukuran 5 x 2 meter persegi itu, Ki Anong kembali mengaplikasikan kemampuannya dengan mengarahkan cucunya agar mahir membuat gitar. “Banyak yang mesti dipelajari dalam membuat gitar“, kata anak ketiga dari lima bersaudara ini. “Matematika, fisika, gelombang, dan kimia mempengaruhi kualitas gitar“, jelas rekan Moch. Husni Nasution, pendiri gitar Genta itu.
“Menciptakan gitar bukan sekadar mengenal kayu saja“, lanjut dia. “Menggeluti produksi gitar kiranya dibarengi dengan kecintaan dan ketulusan hati“, tutur Anong.
Dia mengatakan, tanpa sepenuh hati tidak akan menghasilkan karya yang luar biasa, yang ada hanya kejenuhan. Makanya banyak pegawai yang keluar dari industri gitar. “Di luar negeri banyak orang yang mendalami pembuatan gitar, namun di Indonesia tidak“, keluhnya.
Menurut Anong, rahasia gitar itu tergantung pada bahan dan prosesnya. Ada gitar yang membutuhkan penggarapan sebulan penuh. Hal itu karena tidak semua kayu lokal memenuhi karakter nada yang diinginkan konsumen. Oleh karena itu, lanjut dia, diperlukan kayu impor yang berasal dari negara empat musim seperti Spanyol. Selain itu, kayu dari Afrika juga sering dijadikan bahan utama pada produksi gitarnya.
“Ketebalan kayu dari daun suara itu tidak sama, begitu pula dengan tulang rangka dalam gitar pun menentukan kualitas“, ungkap lulusan sekolah teknik menengah itu.
“Serat kayu memengaruhi mutu gitar. Jadi bukan sembarang kayu“, kata pria yang mengaku sering menggunakan solid wood sebagai bahan body gitar.
Untuk mahir dalam membuat gitar, menurut dia, harus menekuni teori dan praktiknya, minimal selama 13 tahun. “Itu pun masih bisa dikatakan amatir“, katanya.
Penulis: Novianti Nurulliah
Sumber: Pikiran Rakyat
