You are currently browsing the tag archive for the 'Media' tag.
Apa itu zine? here we go. ‘zine’ sebenarnya adalah kependekan dari ‘magazine’ atau majalah. Dibacanya ‘ziin’ bukan ‘zain’, dimana konteks dan isinya tidak terdapat dalam majalah mainstream, atau bahasannya berbeda dengan majalah lainnya. Zine sendiri cukup umum dibelahan dunia sana, dan sekarang sedang berkembang disini. Biasanya zine memiliki penyebaran yang tidak terlalu luas dan pada umumnya diterbitkan secara independen. Sirkulasi pendistribusian suatu zine biasanya tidak besar, non komersil, tidak professional dimana para pembuatnya memproduksi, mempublikasikan dan mendistribusikannya sendiri.
Kebanyakan zine pada umumnya non-profit, bahkan kebanyakan zine biasanya lebih banyak kehilangan uang dibandingkan hanya sekedar balik modal. Dapat dikatakan sebagai proyek merugi yang menyenangkan, tapi pada dasarnya pula suatu zine adalah suatu produk amatir. Dalam dunia profesional istilah ini agak bergeser namun ‘keamatiran’ ini diterjemahkan oleh Mike Gunderloy, editor fanzine “factsheet five’ sebagai produk cinta: cinta akan ekspresi, cinta untuk berbagi dan cinta akan komunikasi, dimana media lainnya biasanya diproduksi untuk mencari keuntungan finansial atau satu prestise dalam publik. Zine keluar sebagai satu ekspresi protes kepada budaya dan lingkungan sosial yang menawarkan sedikit cinta. Zine juga dirilis sebagai satu bentuk kemarahan. Zine juga merupakan alat yang cukup ampuh untuk menyuarakan pendapat seseorang. Sebuah representasi seseorang tentang dirinya, komunitasnya dan hal-hal lain yang terkait. Zine juga memiliki halaman yang hanya 10 atau 40 halaman hingga 100 halaman.
Perkembangan paling signifikan dunia zine dimulai pada tahun 1930 di Amerika, ketika fans dari fiksi ilmiah (science fiction) melalui klub-klub yang mereka bentuk membuat suatu fanzine. Mereka memproduksi fanzine ini, mengisinya dengan cerita-cerita fiksi ilmiah dan komentar-komentar kritis dan tentunya berkomunikasi dengan dengan fans lainnya. Sekitar 40 tahun kemudian pada pertengahan tahun 70-an, pengaruh cukup signifikan juga datang dari fans punk rock. Pada saat itu media mainstream sama sekali mengacuhkan punk rock dan kemudian fans punk rock memilih untuk memproduksi sendiri zine tentang budaya dan komunitas mereka.
Salah satu zine yang krusial pada masa itu adalah Factsheet Five. Zine ini lebih merupakan zine info tentang zine lain, isinya mulai dari budaya, musik sampai politik. Sistem manajemen dan sirkulasi distribusi yang baik membuat zine ini dijadikan sumber informasi bagi orang-orang yang ingin mencari bacaan alternatif diluar media mainstream.
Maximum Rock n’ Roll atai MRR merupakan zine punk tertua di dunia. Setiap bulan zine ini memberikan info zine hardcore mancanegara dan manca budaya. Tim Yohannon, biasa dipanggil Tim Yo, mengkordinasikan hampir lebih 70 kontributor dan volunteer yang disebut ‘the shitworkers’. Malahan pada edisi Juli 1994 MRR memiliki 95 shitworkers yang bahu membahu secara kolektif untuk menghasilkan sebuah majalah punk dengan politik yang baik. Banyak kritikan yang ditujukan kepada MRR karena durasi eksistensinya yang lama. MRR sempat dituding sebagai ‘punk law’ atau ‘punk police’ karena opini yang dibuat MRR kemudian menjadi opini umum dalam komunitas. MRR disamakan dengan mainstream karena oplah dan pendistribusiannya yang cukup luas dan besar. MRR sebenarnya berawal dari sebuah acara underground di radio kemudian berkembang menjadi zine. Lewat tabungan yang mereka hasilkan, MRR kemudian mampu membuka epicenter sebuah space komunitas punk yang bernama Gilman Project, sebuah punk squad yang dirubah menjadi klub punk dan penerbitan yang bernama Pressure Drop Press. Pada tahun 1998 Rim Yo meninggal karena sakit, namun MRR tetap berjalan dengan zine kordinator yang berganti-ganti. Hal ini menunjukan bahwa sebuah zine sebenarnya mampu menjadi media komunikasi suatu komunitas (bahkan dengan komunitas lainnya). Zine juga mampu membuat jaringan hanya dengan inisiatif dan kordinasi yang baik hingga menjadi kuat dan terorganisir tanpa hirarki.
Di Indonesia sendiri, zine sedang berkembang dan dimotori oleh komunitas yang dapat dibilang bergerak secara underground (tidak disamakan dengan rock underground) dan juga yang paling menonjol sekarang adalah komunitas fans game dan japan animation/manga (umumnya berformat tabloid). Sebenarnya bentuk komunikasi tertulis ini sudah ada sebelumnya, hanya tidak terlalu signifikan berbentuk zine dan lebih banyak berupa news letter seperti news letter sastra, seni rupa, music underground dan agama. Namun memang jangkauannya hanya terbatas pada komunitasnya saja. Ada beberapa zine local seperti Mindblast, Brainwashed dan Revogram yang memfokuskan diri pada musik underground multi genre, The Beat tentang info dan acara di Bali, Ripple dengan hedonismenya, Sophia lewat pembahasan filosofinya, Kopi Pahit dengan wacana seni rupa, Terompet Rakyat dengan komik dan politik kiri dsb. Zine-zine tersebut memang tidak seluruhnya merupakan zine underground seperti yang biasanya (seperti membahas music death metal, punk dll), tetapi masih dapat dikategorikan sebagai zine independen, underground in a way.
Pendistribusian zine-zine lokal sangat bergantung pada komunitasnya. Seperti zine underground yang didistribusikan lewat distro atau mail order, zine game pada counter game rental, atau toko buku non-profit seperti pasar buku. Namun karena zine ini sangat terbatas maka pendistribusiannya tidak dapat mencakup semua wilayah di Indonesia. Di Indonesia sendiri tidak terbiasa dengan mengungkapkan opini sejak dini hingga perkembangan zine sebenarnya terlambat dibandingkan dengan negara di kawasan Asia lainnya. Malyasia dan Singapura memiliki zine-zine underground yang berkualitas dan kadang diproduksi oleh anak usia antara 12-17 tahun. Tentunya akan menjadi lebih menyenangkan melihat anak SMP-SMA membuat zine yang berisi hal-hal yang mereka sukai. Hal tersebut dapat membantu perkembangan kreativitas, apalagi pembuatan zine terbilang mudah. Dari yang hanya tulisan tangan sampai menggunakan layout komputer.
Pada akhirnya zine dengan segala keterbatasannya dan bahkan dengan segala kontradiksinya menawarkan sesuatu yang sangat penting bagi orang yang membuat dan menikmatinya, yakni sebuah tujuan. Dalam bayangan budaya dominan, zine dan budaya underground telah menemukan sebuah lahan bebas; sebuah lahan yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan imajinasi dan eksperimen dengan pemikiran-pemikiran yang lebih baru dan ideal, serta komunikatif. Ideal-ideal underground seperti otensitas dan kehidupan non instrumental menawarkan sebuah tantangan yang berbeda terhadap lingkungan modern. Zine merupakan harapan yang yang memungkinkan pembuat dan pembacanya untuk bergerak, tidak statis dan tiap partisipasi dalam suatu zine adalah menyenangkan. Mungkin terlalu berlebihan untuk dapat merubah dunia, tapi untuk mencoba akan selalu menyenangkan.
Ada beberapa kategori dan klasifikasi zine, dari mulai tema atau isu yang diangkat oleh suatu zine :
- Fanzine, merupakan bentuk zine yang paling besar dan paling tua, dan banyak pula yang mengatakan bahwa suatu zine adalah fanzine. Fanzine adalah media yang merepresentasikan ketertarikan suatu komunitas terhadap suatu genre budaya. Ada beberapa sub kategori yang terdapat pada fanzine. Fiksi ilmiah dimulai pada tahun 1930-an, publikasi dari dan untuk penggemat fiksi ilmiah dan merupakan zine pertama. Walau sekarang jumlahnya sedikit namun eksistensinya merupakan yang paling solid dalam dunia zine.
- Musik, biasanya lebih fokus pada suatu band, individu musisi atau suatu genre tertentu. Kebanyakan zine ini adalah zine punk arau alternative. Zine ini jenis yang paling besar di dunia.
- Olah raga, tidak terlalu populer kecuali di Inggris dimana sepakbola merupakan kegemaran yang umum sehingga banyak zine tentang sepakbola dan tim favorit. Di Amerika zine olah raga yang umum adalah baseball, surfing, skateboard dan gulat bebas.
- Televisi dan film, memfokuskan diri pada entertainment yang popular maupun tidak.
- Game, populer pada era 90-an, sejak game dari Nintendo atau Sony merajai dunia video game. Biasanya terdapat review mengenai game baru dan tips permainan.
- Zine politik, kategori yang ada pada pada zine politik secara tradisional seperti anarkisme, sosialisme, liberalian, fasis dan juga kategori identitas seperti feminism. Ada juga dengan unsur politik yang mengandung kritik politik atau budaya sebagai fokus bahasan.
- Zine komunitas (scene zine), menyangkut informasi dan berita dari komunitas tertentu.
- Zine jaringan, kategori ini mengkonsentrasikan zine pada review dan publikasi zine, music, seni rupa, dan segala kultur underground.
- Zine fringe culture, teori-teori konspirasi dan tema-tema seperti UFO, serial killer. Hamper seperti tabloid hanya lebih dalam pembahasannya dengan kualitas intelektual yang lebih dan kadang humor.
- Zine religious, focus pada ketertarikan suatu agama atau hal spiritual. Termasuk paganism, satanisme dan lain-lain.
Sebenarnya masih banyak zine yang lainnya, namun yang disebutkan tadi merupakan contoh yang umum.
Sedangkan yang berkembang sekarang adalah e-zines atau electronic zines. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, e-zines merupakan salah satu alternatif yang handal untuk menyebatkan informasi. Namun banyak kalangan menganggap hal tersebut tidak akan membunuh bentuk zine konvensional yaitu cetakan, karena pendistribusiannya akan terbatas.
*Disadur dari buku “Notes from Underground: Zines and Politics of Alternative Culture, World Zines dan juga berdasarkan pengamatan pribadi terhadap zine local.
Penulis: Arian Tigabelas
Sumber: Majalah Trolley edisi Januari tahun 2002 (Disalin ulang oleh Addy Handy)
Senin, 18 Februari 2008

BURGERKILL menggelar “Burgerkill Hellshow ‘05″, Agustus 2005 di Taman Budaya Dago dalam rangka memperingati ulang tahun kesepuluhnya.* ROBY NUGRAHA/”PR”
Sebut saja Submissive, Tigabelas, Emphaty Lies for Beyond, Empatika, No Compromise, Limbah, Halo Opository, Movement, re-action, Unfold, Rayuan Gombalz, ONe Life Stand, Poster, Setaramata, Ujungberung Update, Crypt from the Abyss, Loud n` Freaks, The Evening Sun, Rottrevore, Minor Bacaan Kecil, Wasted Rocker, menjadi sedikit dari sekian banyak zine yang beredar di komunitas underground pada ’90-an akhir hingga 2005. Media foto copy-an ini menyebar di antara jejaring underground, bukan hanya di Bandung tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai luar negeri.
Tradisi zine sebagai media propaganda, baru dikenal komunitas underground pada pertengahan tahun ’90-an. Saat salah satu anggota komunitas punk, mendapat zine dari jejaring pertemanan mereka di Belanda. Media sederhana dengan teknik fotocopy ini berisi review pertunjukan underground setempat, wawancara dengan personel-personel band, isu-isu seputar musik dan ideologi yang menyertainya. Opini pembuatnya tentang satu persoalan yang berkaitan dengan satu masalah yang sedang hangat di komunitas. Beberapa zine juga membahas isu yang spesifik seperti isu feminisme, lingkungan, fundamentalisme dan semua digarap tanpa perlu teknik jurnalistik yang canggih, modal besar, dan layout yang memukau. Semua serba apa adanya karena semuanya dijalankan dengan semangat Do It Yourself (DIY).
“Waktu itu terasa sekali zine sebagai sebuah kultur serapan. Isinya masih sangat copy-paste, jiplakan beneran dari luar (luar negeri) tapi bahasa Indonesia. Dan kebanyakan memang belum tahu apa yang ingin dikatakan“, jelas Pam, pembuat zine Submissive. Tulisan-tulisan dari kolektif CrimethInc (http://www.crimethinc.com/) menjadi langganan yang di terjemahkan dan disebarkan melalui zine seperti Submissive. Melalui zine, komunitas underground mengenal pemikiran-pemikiran Mikhail Bakunin, Emma Goldman dan wacana-wacana ideologis yang menyertai band-band favorit mereka. Hal-hal seperti ini tentunya tidak mungkin ditemui pada media mainstream pada saat itu. Dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir ’90-an, media underground seperti zine lebih dominan diwarnai oleh kultur musik yang digemari oleh komunitas pada masa itu. Meskipun situasi sosial, politik, ekonomi pada saat itu turut membentuk karakter komunitas dan apa yang disampaikannya lewat zine. (Baca: Dari Militansi ke Komodifikasi, Tarlen Handayani, “PR” 13/2).
Distribusi zine biasanya dilakukan dengan membuat beberapa master copy untuk disebarkan di jaringan komunitas di dalam dan luar negeri. Setelah itu, jejaring di tiap kota akan menyebarkan zine ke komunitas masing-masing. Jika dijual pun, harganya hanya sebesar ongkos ganti fotocopy. Semangat berbagi dan anti copyright membuat zine-zine underground seperti ini tersebar luas dan bisa digandakan secara bebas.
Beberapa majalah pernah terbit dan mewarnai perkembangan media komunitas underground. Swirl terbit tahun 1994 dan menjadi majalah komunitas skateboard dengan tampilan sederhana cetak hitam putih. Terbit tidak sampai lima edisi dan setelah itu menghilang. Tahun 1999, Ripple terbit pertama kali dengan ukuran saku. Pada awalnya Ripple terbit sebagai katalog produk distro 347 dan berkembang memuat kegiatan tulisan-tulisan komunitas yang berkumpul di distro 347, sampai kemudian berubah menjadi majalah dalam arti yang sesungguhnya. Tahun 2001, majalah Boardriders dan Trolley, ikut mewarnai perkembangan media yang mewakili komunitas anak muda Bandung saat itu.
Berubah format, membuat beban pengelolaannya menjadi lebih berat. Majalah-majalah ini menjadi tidak lagi sesederhana zine dalam penggarapannya, termasuk juga biaya produksi yang sangat besar. Pemilik modal menjadi faktor yang menentukan keberlangsungan hidup majalah-majalah seperti ini. “Karena pemilik modalnya nggak paham soal media, kita berhenti terbit“, ungkap Didit E. Aditya, mantan Editor in Chief Boardriders. Sementara Ripple lebih beruntung karena pada awalnya media ini adalah media promosi clothing label 347, sehingga aspek permodalan relatif lebih terjamin. “Awalnya majalah ini kan sebagai fun, tapi ternyata kesininya bisa juga jadi andalan ekonomi“, kata Idhar Remadi, Editor In chief Majalah Ripple.
Pertumbuhan bisnis clothing dan distro di Bandung, ternyata memberi dampak yang cukup penting pada perkembangan media-media komunitas underground Bandung. Ketika booming distro tahun 2003 hingga 2005, lahir banyak media gratisan yang terbit untuk kepentingan promosi. Kemampuan distro untuk memproduksi media seperti ini, dalam pengamatan Pam, melibas pertumbuhan zine komunitas. “Mereka bisa membuat media yang lebih menarik secara tampilan dan dibagikan gratis. Tetapi ini juga membuat perubahan di tingkat komunitas dan membaginya jadi dua kubu. Kubu pertama sebagai produsen zine yang masih punya semangat untuk membuat zine dan mencari komunitas lain yang bisa jadi tempat aktualisasi diri yang baru, dan satu lagi yang hanya mengonsumsi saja“, ujar Pam. Sementara Kimung, pengelola Minor Bacaan Kecil berpendapat, “Generasi yang sekarang mau aja diseragamin penampilannya maupun isi kepalanya. Padahal, dengan punya media sendiri, bisa menyampaikan manifestasi diri dan mengekspresikan ide-ide lewat bahasa dan tulisan.“
Untuk beberapa media yang bertahan seperti majalah Ripple dan Jeune, keberadaan distro dan clothing industri justru menjadi nyawa yang membuat media ini bisa bertahan. “Sembilan puluh sembilan persen nyawa kita ada di pemasang iklan“, tutur Idhar. Sampai kini, Ripple telah terbit 59 edisi dan sejak edisi ke 42, Ripple menjadi media gratis dengan jumlah cetak 10.000 eksemplar setiap edisinya. “Salah satu faktornya kenapa kita gratis karena kita ingin memperluas jangkauan distribusi. Kalau distribusinya cukup luas, bisa menarik pemasang iklan lebih banyak lagi”.
Senada dengan Idhar, Candra vokalis band Cupumanik yang juga Editor in Chief Majalah Jeune yang terbit 5.000 sampai 7.500 eksemplar (tergantung dari pemasang iklan) sejak tahun 2004 ini, mengemukankan hal yang hampir sama. “Kenapa mereka masih membeli majalah indie atau majalah lokal seperti Jeune atau Ripple, karena memang sudah saatnya kita-kita yang di lokal ini tahu betul dan harusnya yang paling pintar mendokumentasikan apa yang terjadi di lokal trend fashion atau musik apa yang terjadi di lokal“, kata Candra.
Keberadaan media-media yang masih bertahan, memunculkan pertanyaan besar dalam benak Pam, “Bisakah konsistensi dan kontinuitas itu terjaga?” Bagi Pam, konsistensi dan kontinuitas itu penting untuk mematangkan komunitas dan juga media yang mewakilinya. “Buat saya, situasi komunitas underground yang berubah cepat kaya sekarang ini sebenarnya bisa dilihat sebagai hal yang wajar. Zine kan sesuatu yang baru, distro juga, banyak hal baru yang menjadi pilihan dan karena ini kultur serapan, proses mencoba menjadi bagian dari pencarian identitas. Konsistensi dan kontinuitas itu justru akan mematangkan pilihan-pilihan itu“, tutur Pam.
Penulis: Tarlen Handayani (Sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs)
Sumber: Pikiran Rakyat
Jumat, 26 Oktober 2007
“Anak Bandung itu jago menyerap desain arsitektur global, dibanding dengan anak muda di kota lain. Apa yang terjadi di tingkat global, bisa diterjemahkan dan disiasati oleh mereka dan dijadikan komoditas gaya hidup baru dan menjadi tren. Mereka mendefinisikan kembali coolness yang sesuai dengan konteks mereka. Selain itu juga ada pasar yang menyerap komoditas baru itu“, Jawab Hikmat Budiman, penulis buku Lubang Hitam Kebudayaan, ketika dimintai komentar tentang kreativitas anak muda Bandung.
Tahun 2003-2004, pertumbuhan clothing store di Bandung memang gila-gilaan. Hampir 200 clothing store bermunculan. Belum lagi ratusan clothing label yang memproduksi produk fashion anak muda. Booming ini dipicu oleh pemberitaan yang cukup gencar di media massa mengenai nilai ekonomi dari bisnis ini.
Siapa yang tak tergiur ketika omzet setiap bulannya bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah menjelang hari raya. Meskipun pada tahun 2005-2007, industri clothing yang ada mengalami proses seleksi. Kekuatan modal menjadi faktor penentu untuk bertahan hidup. Namun, hal yang seringkali dilupakan oleh banyak orang mengenai bisnis ini adalah bagaimana pada awalnya, para pelaku membangun usaha ini dengan modal kultural awalnya.
Selama ini, sektor industri kreatif yang digerakan anak muda Bandung dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, diklaim sebagai gerakan kultural yang lahir dari perlawanan dan semangat independen atau kemandirian.
Bermula Dari Hobi
Siapa sangka, dari sebuah skatepark kecil di salah satu sudut Taman Lalu Lintas Bandung (Taman Ade Irma Suryani), di awal tahun 1990-an, menjadi tempat bersejarah yang melatar belakangi perkembangan fashion anak muda Bandung dalam satu dekade terakhir ini. Skateboard kemudian menjadi benang merah yang menjadi ciri dan eksplorasi fashion dan lifestyle yang dielaborasi oleh para pelakunya.
Pertemuan di Taman Lalu Lintas membuat Didit atau dikenal dengan nama Dxxxt, Helvi, dan Richard Mutter (mantan drumer Pas Band), kemudian bersepakat mengelola sebuah ruang bersama di Jalan Sukasenang Bandung. Ruang ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal yang munculnya bisnis clothing lokal. “Kenapa ya, si Cihampelas itu enggak bikin produk-produk dengan merek-merek sendiri, kenapa mereka bikin mereknya Reply lah, Armani lah…kenapa enggak bikin sendiri, Reverse misalnya.. terus Helvi bilang nama itu bagus. Ya udah akhirnya dipakai buat nama toko.“
Tahun 1994, mereka membangun studio musik dan toko yang menjual CD, kaset poster, T-shirt, majalah, poster, dan asesori band yang diimpor langsung dari luar negeri. Reverse pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas dari scene yang berbeda. Punk, hardcore, pop, surf, bmx, skateboard, rock, grunge, semua bisa bertemu di tempat itu. PAS dan Puppen adalah beberapa band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse.
Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan Zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan.
Generasi Global
Jika dicermati lebih jauh, apa yang terjadi di bandung pada dekade ‘90-an, memang tak bisa lepas dari kecenderungan global pada saat itu. Musik dan gaya hidup, sebagai dua hal yang tak terpisahkan, memberi pengaruh sangat besar dalam perkembangan fashion anak muda Bandung. Sejak generasi Aktuil di tahun ‘70-an, Bandung dikenal sangat adaptif pada perkembangan musik dunia. Ketika merunut aliran musik apa saja yang berkembang dalam dekade ‘90-an, kita bisa melihat bagaimana perkembangan musik itu memengaruhi eksplorasi anak muda Bandung di bidang fashion. Termasuk juga masuknya MTV ke Indonesia yang memperkenalkan life style. Perbedaan menjadi komoditas yang dirayakan bersama-sama.
“Kita emang banyak dipengaruhi oleh musik yang kita sukai, dari label-label skateboard yang kita pakai dulunya, karena kita besarnya, growing up-nya di situ. Karena musik ini kan sangat terkait dengan fashion“, Helvi yang juga Creative Director Airplane, mengakui hal itu.
Pendapat Helvi diperkuat Arian tigabelas, mantan vokalis Puppen dan kini menjadi vokalis band Seringai. “Ada fenomena yang menarik ceuk urang mah, dulu Bandung terkenal dengan band-band yang keren-keren tapi waktu berlalu dan rupanya band enggak terlalu menghasilkan/menghidupi, dan kini para pelaku band tersebut pindah ke clothing.“
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dalam dekade ‘90-an, menjadi faktor penting dalam proses yang disebut Hikmat Budiman sebagai penyerapan desain arsitektur global. Ketika tahun 1995 bisnis internet service provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta, menurut catatan sebuah media nasional, Bandung menjadi salah satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar. Jika saat itu tercatat ada sekitar 14 ribu pemakai internet di Indonesia, Bandung menjadi kota pengguna internet terbesar ketiga (1.000 pengguna), setelah Jakarta (10.000 pengguna) dan Surabaya (3.000 pengguna). Bagaimana kemudian perkembangan teknologi informasi ini diserap dalam waktu yang hampir bersamaan di Bandung. Belanja on line dilakukan Reverse untuk memperoleh produk-produk impor yang mereka jual kembali di Bandung. Juga yang dilakukan Anonim yang muncul tahun 1999, mengikuti jejak pendahulunya dengan menjual t-shirt import merchandise band yang dipesannya melalui internet.
Ketika masa kekuasaan Orde Baru berakhir, kehidupan sosial politik Indonesia mengalami banyak perubahan di era reformasi. Warga Bandung memperlihatkan pola relasi yang baru dengan ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung. Beragam aktivitas dan perayaan dilakukan di jalan. Jalanan seperti Dago, menjadi catwalk publik. Individu kemudian mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Saat itu, banyak pertunjukan-pertunjukan musik yang kemudian disponsori oleh clothing company yang mulai memiliki kemampuan ekonomi.
Disadari atau tidak, clothing industry yang muncul dan berkembang di Bandung ini, justru memicu perkembangan industri-industri kecil baru yang juga berbasis kreativitas. Secara organik, infrastruktur pendukungnya, bermunculan satu per satu. “Waktu itu lagi booming-booming-nya clothing, terus gue pikir, ngapain juga ikut-ikutan bikin clothing, mendingan gue bikin usaha lain yang bisa mendukung usaha mereka… Kalau mereka berbisnis ya harus berpromosi, mereka punya produk yang bagus, buat apa kalau enggak berpromosi“, ungkap Uchunk, salah satu pendiri Suave, Free Catalogue Magazine. Suave awalnya dicetak sebanyak 3000 eksemplar dengan modal sebuah komputer pribadi. Kini tirasnya mencapai 8.000 eksemplar dengan 90 halaman full color. Selain didesain dengan tampilan yang menurut Uchunk, terlihat mainstream, jauh dari kesan indie dan underground, Uchunk juga memberi halaman galeri bagi siapa pun yang ingin memamerkan karya grafisnya di satu halaman Suave.
Menurut Uchunk, saat ini banyak clothing company yang kemudian menggunakan jasa desainer grafis, fotografer, dan biro iklan untuk menggarap materi promosi produk yang bersangkutan. Baginya kondisi ini sangat menggembirakan karena bidang industri kreatif lainnya kemudian bermunculan. Helvi menambahkan, “Waktu kita bikin ini, enggak kepikiran kalau di depan ternyata akan berhubungan dengan segala macam. Fotografer, advertising, itu kan seru jadinya. Jadi kayak punya dunia sendiri, infrastrukturnya jadi ke bentuk dan ini adalah wilayahnya anak muda. Yang paling keren menurut gua adalah, di mana sekarang anak-anak muda enggak gengsi dan malu lagi pake produk lokal. Dan kita juga seneng, karya kita dihargai orang dari mulai yang naik angkot sampai mobil mewah, pake kaos lokal.” Helvi mengatakan itu dengan mata-mata berbinar-binar lega.
Masa depan bisnis ini, kata Fiki C. Satari yang kini menjabat sebagai Direktur Airplane tetap akan seperti itu. “Ini akan tetap jadi bisnis anak muda, sepuluh tahun ke depan tetap akan seperti itu. Kita mungkin akan mundur, dan memberikan tempat bagi anak muda“, katanya.
Dan, Bandung menjadi kata kunci. ”Di produk dibuat made in Bandung. Dalam melakukan ekspansi pun, Bandung sebagai identitas ini yang tetap dijaga.” (Dirangkum dari tulisan “Rethinking Cool, Gaya Anak Muda Bandung” yang di muat di blog penulis, www.vitarlenology.blogspot.com)***
Penulis: Tarlen Handayani
Sumber: Pikiran Rakyat/ Disperindag Jabar
Jumat, 9 Januari 2004
Enggak mau ikutan tren, anak-anak indie bikin gaya sendiri biar berbeda. Nyatanya, gaya mereka malah banyak pengikut dan jadi ngetren.
Musik bisa dibilang jadi ujung tombak berkembangnya komunitas indie. Sudah lama kan kita mendengar tentang band-band yang bergerak sendiri untuk memproduksi dan mengedarkan album mereka, yang biasa disebut pergerakan underground. Angkanya memang tidak besar jika dibandingkan dengan Sheila on 7 atau Padi. Tetapi, angka 50 ribu kopi untuk album indie sudah sangat bagus.
Makin lama, dukungan terhadap indie pun besar. Terbukti dengan masuknya nama band asal Bandung, Mocca, dalam deretan grup yang mendapatkan award dari MTV. Stasiun TV yang fokus pada musik itu pun memberikan tempat yang cukup besar bagi musik yang bergerak dengan semangat indie. Tak ketinggalan, sejumlah radio ikut menyediakan segmen khusus bagi musisi-musisi lokal.
Propaganda
Perkembangan hebat ini kemudian diikuti oleh elemen lain yang sangat menunjang. Salah satunya adalah media cetak. Untuk menunjang promosi, biasanya band membuat newsletter untuk memberitakan perkembangan bandnya. Berawal dari selembar kertas fotokopian, lalu mulai dicetak tipis, dan akhirnya bermunculanlah majalah-majalah yang tampilannya enggak kalah keren dibandingkan dengan media cetak mapan.
Bandung, enggak bisa dibilang enggak, adalah sarangnya orang-orang yang punya semangat indie. Dari kota ini dikenal beberapa majalah yang punya nama cukup besar, seperti Ripple dan Pause. Belum lagi majalah-majalah baru yang mulai berkembang.
Kota lain penghasil media cetak indie adalah Yogyakarta yang punya Outmagz dan Medan dengan M-teens, misalnya. Belum lagi yang berupa newsletter dengan kemasan lebih rapi seperti 10.05 (ten o’ five) yang dibagikan gratis.
Awalnya media cetak tersebut adalah ajang untuk propaganda. Tetapi, sekarang sudah berubah jadi bacaan yang bisa kita nikmati dan menambah wawasan kita.
“Fashion”
Style orang-orang ini juga terlihat berbeda dan unik, tetapi enggak “sejorok” seniman. Mereka tetap memperhatikan penampilan, tetapi dengan satu syarat: harus beda dengan yang lain. Syarat tersebut membuat mereka mendesain pakaian sendiri, biasanya berupa t-shirt, yang berbeda dengan rancangan orang lain. Walau sederhana, hanya mengandalkan kekuatan kata dan gambar pada kaus, ternyata desain mereka bisa memancing minat para pencinta fashion.
Biasanya tiap desain dibuat dalam jumlah kecil. Paling banyak satu desain hanya diproduksi 10 potong.
Perkembangan usaha ini makin menjamur. Puluhan merek bermunculan. Usaha bikin kaus itu disebut clothing. Enggak cuma t-shirt, tetapi juga berbagai aksesori, seperti belt, handband, sepatu, sampai boxer.
Makin hari, persaingan semakin ketat. Dalam persaingan ini yang utama adalah ide! Semakin unik dan fresh, clothing tersebut bakal makin dicari.
Distribusi
Banyak produk bersemangat indie dihasilkan, tetapi sedikit tempat yang bisa menjualnya. Karena keterbatasan dana, mereka kesulitan masuk ke toko-toko buku besar. Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu distribution outlet yang lebih dikenal dengan sebutan distro. Biasanya bermula dari menjual produk-produk mereka sendiri, kemudian berkembang banyak yang menitipkan barang untuk dijual di situ.
Belakangan distro makin menjamur di berbagai kota di Indonesia. Apalagi kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, dan Medan. Sebut saja 347 di Bandung, Cynical MD, atau Locker di Jakarta. Begitu banyak nama-nama baru bermunculan. Persaingan yang makin ketat membuat tiap distro adu unik dan eksklusif.
Banyak Pengikut
Puncaknya sekarang ini kita banyak melihat anak muda yang gayanya distro banget. Dan yang sedang in saat ini adalah dandanan ala punk, dengan berbagai atribut, seperti spike dan belt, plus gaya rambut dan tato.
Indie, yang berasal dari kata independent, niatan awalnya adalah antitren. Tetapi keantitrenan itu justru membuat karya- karya mereka dicintai banyak orang. Akibatnya, malah ngetren.
Bahkan, tren itu makin besar gelombangnya. Banyak label rekaman besar yang mencari grup-grup band di kalangan indie. Bahkan sebuah label besar sampai membuat divisi khusus untuk band-band indie. Sudah jadi bisnis menguntungkan, rupanya.
Indie Asli
Saat ini memang sudah sulit membedakan mana yang anak indie asli dan mana yang hanya pengikut. Tetapi, sebenarnya ada ciri-ciri yang tak bisa hilang dari komunitas ini.
Tak sedikit anak band indie yang mendesain sendiri pakaian mereka. Bahkan, turun sendiri ke jalan untuk menempel poster- poster event yang juga mereka buat sendiri.
Mereka bekerja keras untuk mempromosikan apa yang mereka lakukan dengan cara mereka. Maka bertebaranlah newsletter, flyer, dan poster, baik di distro-distro, kedai kopi, maupun toko buku dan kaset tertentu.
Semangat indie adalah semangat menjadi diri sendiri. Semangat tidak ikut arus.
Sumber: Tim Muda Kompas
Rabu, 12 Desember 2007
Mengapa Helvi Sjarifuddin memperoleh Anugerah Produk Asli Indonesia 2007? Dia ternyata mengembangkan industri kreatif tidak hanya melalui clothing, namun juga musik dan media komunikasi (media cetak).
Dia yang memprakarsai berdirinya label independen Fast Forward Record, tempat band indie terkenal bernaung seperti Mocca dan The Sigit, serta majalah indie terkenal bernama Trolley.
Helvi lahir pada Januari 1971. Menikah pada 1998, kini memiliki dua anak. Pernah memiliki keinginan untuk kuliah di Seni Rupa ITB, namun tidak tembus-tembus UMPTN. Sempat kuliah selama satu semester di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA), lulusan SMUN 2 Bandung ini memutuskan untuk menghentikan jenjang pendidikannya.
Salah satu anggota komunitas skateboard Taman Lalu Lintas ini memulai usahanya dengan membuka Reverse sekitar 3 tahun setelah lulus SMU.
Usaha yang pertama kali dibuka adalah bisnis clothing bernama Reverse pada awal 1994. Helvi menggandeng Richard (mantan drumer Pas band) dan Didit, teman main skateboard di Taman Lalu Lintas.
Awalnya, Reverse menjual barang-barang impor mulai dari baju hingga sepatu yang modelnya mengarah pada tren musik dan skateboard anak muda saat itu.
Antara 1995-1996 Reverse mulai memproduksi merek lokal sendiri. Awalnya mereka membuat barang yang mudah dibuat seperti pin, kaos, dan stiker yang berhubungan dengan merchandise band indie seperti Pas Band dan Puppen (Marcell pernah jadi drumernya).
Helvi mengaku membuka usaha bukan berorientasi pada uang, namun karena keinginan membuat sesuatu ataupun untuk memenuhi keinginannya.
Pertama membuka Reverse karena produk fashion yang dia dan komunitasnya inginkan jarang ada di pasaran. Mulai memproduksi sendiri karena produk impor harganya semakin mahal, sementara model produk fashion yang dicari masih belum ada di pasaran.
Dalam membuat produk clothing Reverse, Helvi berusaha menciptakan desain original, tidak mencontek desain dari produk impor. Dari sisi harga juga sengaja dibuat murah sesuai dengan kantung anak muda di Kota Bandung.
Sebagai gambaran, harga sebuah kaos impor sekitar Rp. 100.000, Reverse memproduksi kaos seharga Rp. 50.000 – Rp. 60.000 dengan desain dan kualitas yang tidak kalah bersaing.
Niatnya menjadi fasilitator bagi orang-orang berjiwa muda di Bandung yang susah mencari produk impor dengan harga mahal. Efeknya, sejak saat itu sudah banyak orang yang mengambil barangnya untuk dijual kembali di kota lain seperti Bogor, Jakarta, dan Yogyakarta.
Tak Untung Berlebih
Dia berprinsip tidak ingin mengambil keuntungan berlebihan menjadikan perputaran modal hampir setiap usahanya cukup cepat sehingga kegiatan yang semula hobi berubah menjadi bisnis yang dikelola profesional tanpa meninggalkan semangat pertemanan.
Belajar otodidak dalam menjalankan bisnisnya, namun dia selalu memegang kepercayaan pada hubungan pertemanan dan saling mendukung temannya yang ingin membuka usaha dibidang yang sama.
Hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah clothing, perusahaan rekaman independen, dan majalah fashion indie jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.
Komunitas ini terus mendukung perkembangan satu sama lain melalui persaingan yang sehat seperti tidak saling membajak ide desain dan menjatuhkan clothing atau perusahaan rekaman dan majalah indie lainnya.
Setelah Reverse, pada 1998 Helvi membangun Airplane bersama Cholay dan Fiki, yang merupakan temannya di Taman Lalu Lintas. Airplane merupakan clothing yang sejak awal memproduksi merek sendiri dengan komoditas lokal.
Airplane masih bertahan hingga saat ini dan menjadi salah satu brand clothing terbesar di Indonesia dengan formasi kepemilikan tiga orang (Helvi, Cholay, Fiki). Sementara dari Reverse Helvi keluar dan pengelolaannya kini dilakukan oleh Didit tanpa memiliki toko lagi.
Helvi saat ini memiliki dua usaha, yaitu Airplane dan Fast Forward Record yang didirikan sejak 1999. Label rekaman ini juga mendi pelopor berdirinya puluhan label rekaman indie di Bandung, Jakarta, dan beberapa kota besar lainnya.
Majalah Trolley sendiri dibuat pada tahun 2000 oleh komunitas skateboard taman lalu-lintas yang memiliki clothing dan komunitas Common Room (termasuk Gustaff yang saat ini menjadi ketua komunitas tersebut).
Helvi hanya mengelola majalah tersebut selama satu setengah tahun untuk berkonsentrasi di bisnis clothing melalui Airplane dan industri musik melalui Fast Forward Record (kaset dan CD kompilasi finalis LA Indie Fest juga salah satu yang diproduksi oleh perusahaan rekaman ini).
Penulis: Fita Indah Maulani (Kontributor Bisnis Indonesia)
Sumber: Bisnis Indonesia Online
