You are currently browsing the tag archive for the 'Literature' tag.
Kamis, 13 Juli 2006
BERONTAK terhadap praktik kekerasan di orientasi pengenalan kampus (ospek) oleh mahasiswa yang notabene teman-temannya, Deni Rachman diasingkan. Mencari aktualisasi baru, alumnus Kimia Unpad ini menoleh pada cita-cita terpendamnya, bikin toko buku. Dengan modal nekat dan dana pinjaman, ia membeli beberapa eksemplar buku dari pasar buku Palasari dan berjualan ngampar di lapangan Gasibu dan kompleks Pusdai. Itu tahun 2001.
DI tempat ngampar ini, Deni bertemu seorang distributor dan kerja sama pun terjalin. Atas dasar kepercayaan dan sistem konsinyasi (titip jual), ia bisa memilih buku yang laris untuk dijual dengan jumlah yang banyak relatif tanpa keluar modal.
Ia pun mulai merambah event-event lebih besar di tempat-tempat seperti Sabuga dan Graha Manggala Siliwangi. Tetapi, perlakuan tidak enak bukannya tidak sempat mampir. Sampai saat ini, ijazah SMA-nya yang dijadikan jaminan belum dikembalikan oleh sebuah penerbit besar. Padahal, urusan bisnis di antara mereka sudah beres.
Waktu berlalu. Tahun 2003, Deni tetap belum punya toko buku. Justru kos-nya makin penuh terisi dus buku. Berkat jam terbang, Deni mengetahui seluk-beluk bisnis perbukuan. Ia banting setir menjadi distributor dan mendirikan Lawangbuku. Apalagi toko-toko buku seperti yang pernah diidamkannya, mulai ramai bermunculan di Kota Bandung dan sekitarnya. “Waktu itu sebulan bisa muncul satu“, katanya mengenang.
Kini, tak sedikit dari toko-toko buku itu malah tumbang.
Wiku Baskoro, adalah salah satu mantan pengelola toko buku yang tumbang. Bukan hanya satu, tetapi dua toko, yakni toko buku Hitam Putih (2003) dan Warung Lesehan (2004). Hingga saat akhir, tinggal Wiku sendirian. Teman-temannya sudah lama pergi. Ia sendiri mulai terjun ke bisnis buku setelah sukses menggelar pameran buku di kampusnya, Universitas Widyatama. Toh, buku sempat mempertemukan Wiku dan Deni. Mereka mendirikan Dipan Senja pada 2004.
“Itu eforia“, kata Deni, ketika melihat basis pendirian toko buku yang labil.
Pasca orde baru (Orba), menurut dia, keran informasi terbuka luas namun berbarengan dengan krisis ekonomi. Periode 1999-2001 penerbit-penerbit buku dari Yogyakarta meluncurkan buku-buku yang pada masa Orba sulit diperoleh. Mahasiswa melihat peluang bisnis dan kebebasan mengakses buku lebih banyak. “Ada buku, ada modal, ada tempat, jadilah toko buku. Tapi komitmen nggak kuat“, kata Deni.
Namun benarkah, ada penjual buku karena semangat kumpul-kumpul dan prestise agar kelihatan intelek? “Wajar saja. Nggak munafik, saya memulainya juga karena pengin ada image itu. Tapi itu saja nggak cukup. Harus ada kemampuan manajerial. Fungsi manajemen mesti berjalan bagus.”
Deni sempat menerbitkan buku secara independen (“Sosialisme di Kuba: Idealisme Setengah Hati”, Kang Bondet/Sigit Susanto, 2004) yang mencuatkan namanya. Dipan Senja kemudian memfokuskan diri pada membangun jaringan komunikasi antarpegiat buku, terutama sisi manajemen. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, kurangnya kemampuan manajemen inilah yang membuat kondisi usaha perbukuan tidak sehat. Dipan Senja menjadi agen literasi. Workshop Buku 5 in One yang merupakan rangkaian kegiatan transformasi ilmu manajemen praktis untuk perbukuan digelar.
Dalam bisnis buku, Deni dan Wiku mengalami perubahan paradigma. Sebelumnya mereka menjual/menyalurkan buku menurut selera mereka. Kemudian karakter konsumen/retail mereka perhatikan. Konsumen di Gasibu tentu beda dengan di Sabuga. Image toko-toko buku tentu masing-masing tidak sama.
Penerbit pun mereka perhatikan. Sebagai distributor, Lawangbuku memilih penerbit yang peduli pada literasi, minimal mendukung program bedah buku mereka. Sikap manusiawi juga jadi pertimbangan. Pedagang punya kemampuan dan selayaknya diberi keleluasaan menyusun program-program. Bukannya digenjot terus untuk mengejar materi. Soal retail, Lawangbuku mempertimbangkan profil pengelola dan kelayakan tempat.
“Bisnis distribusi Lawangbuku tetap jalan. Secara finansial kita harus kuat. Tanggungjawab kita sebagai pelaku perbukuan itu di Dipan Senja. Jadi, nggak timpanglah. Kita nggak sekadar jadi manusia bisnis, tapi juga manusia yang sosial, bantu teman-teman. Minimal apa yang dipermasalahkan di Lawangbuku, itu bisa teratasi dengan kita ngumpul bareng. Saling menguntungkanlah“, kata Deni.
Transformasi toko buku menjadi toko buku berbasis komunitas atau toko buku plus taman bacaan dan perpustakaan, dilihat Wiku sebagai sebuah langkah manajemen.
“Saya ngelihat-nya sebagai perkembangan. Dulu muncul toko buku, lalu muncul toko buku komunitas, refresh lagi, muncul lagi toko buku dan taman bacan. Dari sisi bisnis, itu seperti tadi, salah satu bagian dari manajerial untuk menambah pemasukan“, kata Wiku.
Apakah menolong atau tidak, menurut Deni, itu yang mau dilihat dari workshop. Yang jelas, untuk toko buku plus taman bacaan sudah muncul ekses. “Ada beberapa penerbit yang nggak mau menyuplai toko buku yang ada taman bacaannya. Soalnya, katanya sih orang jadi lebih suka minjem daripada beli“, kata Deni.
Wiku menyatakan heran. mengapa bisnis buku belum pernah dibahas secara detil seperti consumer goods. Padahal, dari sisi crowded-nya pasar itu menarik. Konsumen tidak banyak, daya beli terbatas, belum lagi buku masuk skala prioritas entah ke berapa. Justru, hal inilah yang menumbuhkan kreativitas toko buku alternatif dengan membuat taman bacaan, misalnya.
Pelabelan alternatif, menurut Deni, juga mengundang ekses tersendiri. Entah siapa yang pertama kali menyebutkan. Istilah ini dialamatkan pada toko-toko buku yang menjual buku-buku bekas, buku-buku yang berasal dari penerbit relatif tidak besar. Karena alternatif, image yang dilayangkan kepada toko-toko buku ini adalah tidak profesional. Belum lagi pembedaan perlakuan yang dialami antara toko buku seperti ini dengan toko buku besar saat pameran, misalnya. “Kan sama-sama tamu, sama-sama toko buku , masa tidak diperlakukan setara“, kata Deni.
Pemberdayaan manajemen juga dan jaringan komunikasi perlu dilakukan untuk menutup celah kejahatan yang dapat terjadi dalam bisnis ini. Setidaknya menjadi penangkal dini. Model kejahatan “mafia” apa yang biasa terjadi? “Satu, pembajakan. Dua, penipuan“, kata Deni. “Teman saya ditipu orang dari Jakarta yang mengaku sebagai distributor. Dia ambil buku sekian juta tanpa dp (down payment-red) sedikitpun. Setelah dilacak ternyata nama orang dan distributor itu nggak ada. Saya pikir buku yang diambil diobral supaya laku aja dan itu merusak. Ada sistem, penerbit ke distributor berapa persen, distributor ke toko buku berapa persen, toko buku ke konsumen berapa. Cuma dengan penipuan seperti itu dia bisa langsung jual ke konsumen dengan harga penerbit ke distributor“.
Wiku menambahkan, kasus praktik kejahatan yang tengah menimpa sejumlah taman bacaan. “Di taman bacaan itu ada mafianya. Pinjam dan nggak ngembaliin lagi. Teman saya kehilangan buku-buku yang mahal seperti ‘Musashi’ dan ‘Eragon’. Beberapa tempat juga kehilangan banyak buku. Teman saya pengin bikin jaringan antar taman bacaan supaya kalau ada yang seperti itu, keanggotaannya di-black list dan nggak bisa masuk ke taman bacaan yang lain“, katanya.
Soal mafia perbukuan, Deni juga berusaha melihat ke dalam. “Saya juga sering bertanya. Ketika misalnya saya atau teman-teman yang lain telat bayar, jangan-jangan kita juga mafia. Karena itu menyusahkan dan melambatkan perputaran. Introspeksi juga. Jangan-jangan kita juga mafia buat orang lain, nih. Orang bisa bangkrut gara-gara kita nggak bayar.“
Pilihan Dipan Senja untuk menjadi agen literasi, ternyata memang bukan tanpa alasan. Semua lini kegiatan perbukuan seharusnya solid. Satu macet, macet semua. Maka, workshop yang diselenggarakan Dipan Senja, meliputi pengelolaan toko buku alternatif, distributor buku, penerbit, perpustakaan/taman bacaan, dan penulisan. Workshop diadakan secara paralel selama satu tahun hingga tahun 2007, bekerja sama dengan Bale Pustaka (Jln. Jawa No. 6, Kota Bandung). Informasi seputar workshop dapat diakses melalui milis workshopbuku@yahoogroups.com.
Penulis: Ricky Yudhistira
Sumber: Pikiran Rakyat
Selasa, 2 Januari 2007
BANDUNG, KOMPAS – Persoalan fasilitas dan ketersediaan buku bacaan masih menjadi momok pengembangan budaya literasi atau baca tulis di masyarakat Jawa Barat. Dalam kondisi ini, keberadaan perpustakaan desa maupun taman bacaan menjadi vital dalam menumbuhkembangkan masyarakat gemar membaca, khususnya di daerah.
”Sesungguhnya, tidak ada persoalan dengan minat baca masyarakat. Berdasarkan penelitian kami di empat kabupaten, yaitu Bogor, Bandung, Subang dan Kuningan, minat baca mereka sebetuknya sudah ada. Yang selanjutnya jadi persoalan, adalah keterbatasan fasilitas hingga bahan-bahan bacaan”, ungkap Kepala Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jabar Dedi Junaedi, Selasa (2/1).
Menurut Dedi, dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Jawa Barat yang umumnya petani, keberadaan buku-buku bacaan tentunya bukanlah barang yang ”murah” dan mudah dijangkau. Untuk itu, penyediaan layanan jasa peminjaman buku semacam perpustakaan mau tidak mau menjadi solusi strategis.
Terkait kepentingan ini, mulai tahun anggaran 2007, Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jabar telah meningkatkan alokasi pengadaan perpustakaan desa hingga enam kali lipat dibanding periode-periode sebelumnya. Jika rata-rata alokasi pertumbuhan perpustakaan desa sebelumnya hanya 150-200 buah, kali ini jumlahnya ditargetkan hingga 925 buah.
”Saat ini, jumlah desa di Jabar sekitar 6.000. Sementara yang sudah terjangkau perpustakaan desa baru 598 desa. Jika tetap mengandalkan pola lama pertumbuhan perpustakaan desa, mungkin sepuluh tahun lebih baru bisa selesai. Dengan program peningkatan alokasi mulai tahun ini, target (pencapaian) bisa diperpendek menjadi empat tahun”, ucapnya.
Bertambahnya alokasi pengadaan perpustakaan desa ini adalah berkat dukungan pemerintah pusat yang bersedia menganggarkan dana dekonsentrasi untuk keperluan ini. Tahun ini, besaran dana dekonsentrasi untuk pengembangan perpustakaan desa Rp 17,2 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dari dana APBD Jabar 2007 sebesar Rp 11,5 miliar untuk keperluan serupa.
Perpustakaan Keliling
Selain perpustakaan daerah, upaya jemput bola dilakukan melalui pengadaan perpustakaan keliling. Saat ini, hampir setiap kabupaten/kota memiliki fasilitas ini. Apalagi, ditambah hibah enam unit fasilitas tersebut dari Perpusatakaan Pusat. Tahun 2007, Pemprov Jabar akan menambah 500 eksemplar koleksi buku ke masing-masing perpustakaan keliling.
Adapun jenis buku yang diprioritaskan antara lain budidaya pertanian, peternakan, dan perikanan (40 persen), pendidikan umum (15 persen), agama (15 persen), teknologi tepat guna, dan buku cerita. ”Jenis buku-buku bacaan sengaja ditentukan supaya variatif namun tidak terlepas dari local content sebagai masyarakat agraris”, ucapnya.
Penulis: Yulvianus Harjono
Sumber: Kompas Cyber Media Community
Apa itu zine? here we go. ‘zine’ sebenarnya adalah kependekan dari ‘magazine’ atau majalah. Dibacanya ‘ziin’ bukan ‘zain’, dimana konteks dan isinya tidak terdapat dalam majalah mainstream, atau bahasannya berbeda dengan majalah lainnya. Zine sendiri cukup umum dibelahan dunia sana, dan sekarang sedang berkembang disini. Biasanya zine memiliki penyebaran yang tidak terlalu luas dan pada umumnya diterbitkan secara independen. Sirkulasi pendistribusian suatu zine biasanya tidak besar, non komersil, tidak professional dimana para pembuatnya memproduksi, mempublikasikan dan mendistribusikannya sendiri.
Kebanyakan zine pada umumnya non-profit, bahkan kebanyakan zine biasanya lebih banyak kehilangan uang dibandingkan hanya sekedar balik modal. Dapat dikatakan sebagai proyek merugi yang menyenangkan, tapi pada dasarnya pula suatu zine adalah suatu produk amatir. Dalam dunia profesional istilah ini agak bergeser namun ‘keamatiran’ ini diterjemahkan oleh Mike Gunderloy, editor fanzine “factsheet five’ sebagai produk cinta: cinta akan ekspresi, cinta untuk berbagi dan cinta akan komunikasi, dimana media lainnya biasanya diproduksi untuk mencari keuntungan finansial atau satu prestise dalam publik. Zine keluar sebagai satu ekspresi protes kepada budaya dan lingkungan sosial yang menawarkan sedikit cinta. Zine juga dirilis sebagai satu bentuk kemarahan. Zine juga merupakan alat yang cukup ampuh untuk menyuarakan pendapat seseorang. Sebuah representasi seseorang tentang dirinya, komunitasnya dan hal-hal lain yang terkait. Zine juga memiliki halaman yang hanya 10 atau 40 halaman hingga 100 halaman.
Perkembangan paling signifikan dunia zine dimulai pada tahun 1930 di Amerika, ketika fans dari fiksi ilmiah (science fiction) melalui klub-klub yang mereka bentuk membuat suatu fanzine. Mereka memproduksi fanzine ini, mengisinya dengan cerita-cerita fiksi ilmiah dan komentar-komentar kritis dan tentunya berkomunikasi dengan dengan fans lainnya. Sekitar 40 tahun kemudian pada pertengahan tahun 70-an, pengaruh cukup signifikan juga datang dari fans punk rock. Pada saat itu media mainstream sama sekali mengacuhkan punk rock dan kemudian fans punk rock memilih untuk memproduksi sendiri zine tentang budaya dan komunitas mereka.
Salah satu zine yang krusial pada masa itu adalah Factsheet Five. Zine ini lebih merupakan zine info tentang zine lain, isinya mulai dari budaya, musik sampai politik. Sistem manajemen dan sirkulasi distribusi yang baik membuat zine ini dijadikan sumber informasi bagi orang-orang yang ingin mencari bacaan alternatif diluar media mainstream.
Maximum Rock n’ Roll atai MRR merupakan zine punk tertua di dunia. Setiap bulan zine ini memberikan info zine hardcore mancanegara dan manca budaya. Tim Yohannon, biasa dipanggil Tim Yo, mengkordinasikan hampir lebih 70 kontributor dan volunteer yang disebut ‘the shitworkers’. Malahan pada edisi Juli 1994 MRR memiliki 95 shitworkers yang bahu membahu secara kolektif untuk menghasilkan sebuah majalah punk dengan politik yang baik. Banyak kritikan yang ditujukan kepada MRR karena durasi eksistensinya yang lama. MRR sempat dituding sebagai ‘punk law’ atau ‘punk police’ karena opini yang dibuat MRR kemudian menjadi opini umum dalam komunitas. MRR disamakan dengan mainstream karena oplah dan pendistribusiannya yang cukup luas dan besar. MRR sebenarnya berawal dari sebuah acara underground di radio kemudian berkembang menjadi zine. Lewat tabungan yang mereka hasilkan, MRR kemudian mampu membuka epicenter sebuah space komunitas punk yang bernama Gilman Project, sebuah punk squad yang dirubah menjadi klub punk dan penerbitan yang bernama Pressure Drop Press. Pada tahun 1998 Rim Yo meninggal karena sakit, namun MRR tetap berjalan dengan zine kordinator yang berganti-ganti. Hal ini menunjukan bahwa sebuah zine sebenarnya mampu menjadi media komunikasi suatu komunitas (bahkan dengan komunitas lainnya). Zine juga mampu membuat jaringan hanya dengan inisiatif dan kordinasi yang baik hingga menjadi kuat dan terorganisir tanpa hirarki.
Di Indonesia sendiri, zine sedang berkembang dan dimotori oleh komunitas yang dapat dibilang bergerak secara underground (tidak disamakan dengan rock underground) dan juga yang paling menonjol sekarang adalah komunitas fans game dan japan animation/manga (umumnya berformat tabloid). Sebenarnya bentuk komunikasi tertulis ini sudah ada sebelumnya, hanya tidak terlalu signifikan berbentuk zine dan lebih banyak berupa news letter seperti news letter sastra, seni rupa, music underground dan agama. Namun memang jangkauannya hanya terbatas pada komunitasnya saja. Ada beberapa zine local seperti Mindblast, Brainwashed dan Revogram yang memfokuskan diri pada musik underground multi genre, The Beat tentang info dan acara di Bali, Ripple dengan hedonismenya, Sophia lewat pembahasan filosofinya, Kopi Pahit dengan wacana seni rupa, Terompet Rakyat dengan komik dan politik kiri dsb. Zine-zine tersebut memang tidak seluruhnya merupakan zine underground seperti yang biasanya (seperti membahas music death metal, punk dll), tetapi masih dapat dikategorikan sebagai zine independen, underground in a way.
Pendistribusian zine-zine lokal sangat bergantung pada komunitasnya. Seperti zine underground yang didistribusikan lewat distro atau mail order, zine game pada counter game rental, atau toko buku non-profit seperti pasar buku. Namun karena zine ini sangat terbatas maka pendistribusiannya tidak dapat mencakup semua wilayah di Indonesia. Di Indonesia sendiri tidak terbiasa dengan mengungkapkan opini sejak dini hingga perkembangan zine sebenarnya terlambat dibandingkan dengan negara di kawasan Asia lainnya. Malyasia dan Singapura memiliki zine-zine underground yang berkualitas dan kadang diproduksi oleh anak usia antara 12-17 tahun. Tentunya akan menjadi lebih menyenangkan melihat anak SMP-SMA membuat zine yang berisi hal-hal yang mereka sukai. Hal tersebut dapat membantu perkembangan kreativitas, apalagi pembuatan zine terbilang mudah. Dari yang hanya tulisan tangan sampai menggunakan layout komputer.
Pada akhirnya zine dengan segala keterbatasannya dan bahkan dengan segala kontradiksinya menawarkan sesuatu yang sangat penting bagi orang yang membuat dan menikmatinya, yakni sebuah tujuan. Dalam bayangan budaya dominan, zine dan budaya underground telah menemukan sebuah lahan bebas; sebuah lahan yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan imajinasi dan eksperimen dengan pemikiran-pemikiran yang lebih baru dan ideal, serta komunikatif. Ideal-ideal underground seperti otensitas dan kehidupan non instrumental menawarkan sebuah tantangan yang berbeda terhadap lingkungan modern. Zine merupakan harapan yang yang memungkinkan pembuat dan pembacanya untuk bergerak, tidak statis dan tiap partisipasi dalam suatu zine adalah menyenangkan. Mungkin terlalu berlebihan untuk dapat merubah dunia, tapi untuk mencoba akan selalu menyenangkan.
Ada beberapa kategori dan klasifikasi zine, dari mulai tema atau isu yang diangkat oleh suatu zine :
- Fanzine, merupakan bentuk zine yang paling besar dan paling tua, dan banyak pula yang mengatakan bahwa suatu zine adalah fanzine. Fanzine adalah media yang merepresentasikan ketertarikan suatu komunitas terhadap suatu genre budaya. Ada beberapa sub kategori yang terdapat pada fanzine. Fiksi ilmiah dimulai pada tahun 1930-an, publikasi dari dan untuk penggemat fiksi ilmiah dan merupakan zine pertama. Walau sekarang jumlahnya sedikit namun eksistensinya merupakan yang paling solid dalam dunia zine.
- Musik, biasanya lebih fokus pada suatu band, individu musisi atau suatu genre tertentu. Kebanyakan zine ini adalah zine punk arau alternative. Zine ini jenis yang paling besar di dunia.
- Olah raga, tidak terlalu populer kecuali di Inggris dimana sepakbola merupakan kegemaran yang umum sehingga banyak zine tentang sepakbola dan tim favorit. Di Amerika zine olah raga yang umum adalah baseball, surfing, skateboard dan gulat bebas.
- Televisi dan film, memfokuskan diri pada entertainment yang popular maupun tidak.
- Game, populer pada era 90-an, sejak game dari Nintendo atau Sony merajai dunia video game. Biasanya terdapat review mengenai game baru dan tips permainan.
- Zine politik, kategori yang ada pada pada zine politik secara tradisional seperti anarkisme, sosialisme, liberalian, fasis dan juga kategori identitas seperti feminism. Ada juga dengan unsur politik yang mengandung kritik politik atau budaya sebagai fokus bahasan.
- Zine komunitas (scene zine), menyangkut informasi dan berita dari komunitas tertentu.
- Zine jaringan, kategori ini mengkonsentrasikan zine pada review dan publikasi zine, music, seni rupa, dan segala kultur underground.
- Zine fringe culture, teori-teori konspirasi dan tema-tema seperti UFO, serial killer. Hamper seperti tabloid hanya lebih dalam pembahasannya dengan kualitas intelektual yang lebih dan kadang humor.
- Zine religious, focus pada ketertarikan suatu agama atau hal spiritual. Termasuk paganism, satanisme dan lain-lain.
Sebenarnya masih banyak zine yang lainnya, namun yang disebutkan tadi merupakan contoh yang umum.
Sedangkan yang berkembang sekarang adalah e-zines atau electronic zines. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, e-zines merupakan salah satu alternatif yang handal untuk menyebatkan informasi. Namun banyak kalangan menganggap hal tersebut tidak akan membunuh bentuk zine konvensional yaitu cetakan, karena pendistribusiannya akan terbatas.
*Disadur dari buku “Notes from Underground: Zines and Politics of Alternative Culture, World Zines dan juga berdasarkan pengamatan pribadi terhadap zine local.
Penulis: Arian Tigabelas
Sumber: Majalah Trolley edisi Januari tahun 2002 (Disalin ulang oleh Addy Handy)
Senin, 18 Februari 2008

BURGERKILL menggelar “Burgerkill Hellshow ‘05″, Agustus 2005 di Taman Budaya Dago dalam rangka memperingati ulang tahun kesepuluhnya.* ROBY NUGRAHA/”PR”
Sebut saja Submissive, Tigabelas, Emphaty Lies for Beyond, Empatika, No Compromise, Limbah, Halo Opository, Movement, re-action, Unfold, Rayuan Gombalz, ONe Life Stand, Poster, Setaramata, Ujungberung Update, Crypt from the Abyss, Loud n` Freaks, The Evening Sun, Rottrevore, Minor Bacaan Kecil, Wasted Rocker, menjadi sedikit dari sekian banyak zine yang beredar di komunitas underground pada ’90-an akhir hingga 2005. Media foto copy-an ini menyebar di antara jejaring underground, bukan hanya di Bandung tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai luar negeri.
Tradisi zine sebagai media propaganda, baru dikenal komunitas underground pada pertengahan tahun ’90-an. Saat salah satu anggota komunitas punk, mendapat zine dari jejaring pertemanan mereka di Belanda. Media sederhana dengan teknik fotocopy ini berisi review pertunjukan underground setempat, wawancara dengan personel-personel band, isu-isu seputar musik dan ideologi yang menyertainya. Opini pembuatnya tentang satu persoalan yang berkaitan dengan satu masalah yang sedang hangat di komunitas. Beberapa zine juga membahas isu yang spesifik seperti isu feminisme, lingkungan, fundamentalisme dan semua digarap tanpa perlu teknik jurnalistik yang canggih, modal besar, dan layout yang memukau. Semua serba apa adanya karena semuanya dijalankan dengan semangat Do It Yourself (DIY).
“Waktu itu terasa sekali zine sebagai sebuah kultur serapan. Isinya masih sangat copy-paste, jiplakan beneran dari luar (luar negeri) tapi bahasa Indonesia. Dan kebanyakan memang belum tahu apa yang ingin dikatakan“, jelas Pam, pembuat zine Submissive. Tulisan-tulisan dari kolektif CrimethInc (http://www.crimethinc.com/) menjadi langganan yang di terjemahkan dan disebarkan melalui zine seperti Submissive. Melalui zine, komunitas underground mengenal pemikiran-pemikiran Mikhail Bakunin, Emma Goldman dan wacana-wacana ideologis yang menyertai band-band favorit mereka. Hal-hal seperti ini tentunya tidak mungkin ditemui pada media mainstream pada saat itu. Dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir ’90-an, media underground seperti zine lebih dominan diwarnai oleh kultur musik yang digemari oleh komunitas pada masa itu. Meskipun situasi sosial, politik, ekonomi pada saat itu turut membentuk karakter komunitas dan apa yang disampaikannya lewat zine. (Baca: Dari Militansi ke Komodifikasi, Tarlen Handayani, “PR” 13/2).
Distribusi zine biasanya dilakukan dengan membuat beberapa master copy untuk disebarkan di jaringan komunitas di dalam dan luar negeri. Setelah itu, jejaring di tiap kota akan menyebarkan zine ke komunitas masing-masing. Jika dijual pun, harganya hanya sebesar ongkos ganti fotocopy. Semangat berbagi dan anti copyright membuat zine-zine underground seperti ini tersebar luas dan bisa digandakan secara bebas.
Beberapa majalah pernah terbit dan mewarnai perkembangan media komunitas underground. Swirl terbit tahun 1994 dan menjadi majalah komunitas skateboard dengan tampilan sederhana cetak hitam putih. Terbit tidak sampai lima edisi dan setelah itu menghilang. Tahun 1999, Ripple terbit pertama kali dengan ukuran saku. Pada awalnya Ripple terbit sebagai katalog produk distro 347 dan berkembang memuat kegiatan tulisan-tulisan komunitas yang berkumpul di distro 347, sampai kemudian berubah menjadi majalah dalam arti yang sesungguhnya. Tahun 2001, majalah Boardriders dan Trolley, ikut mewarnai perkembangan media yang mewakili komunitas anak muda Bandung saat itu.
Berubah format, membuat beban pengelolaannya menjadi lebih berat. Majalah-majalah ini menjadi tidak lagi sesederhana zine dalam penggarapannya, termasuk juga biaya produksi yang sangat besar. Pemilik modal menjadi faktor yang menentukan keberlangsungan hidup majalah-majalah seperti ini. “Karena pemilik modalnya nggak paham soal media, kita berhenti terbit“, ungkap Didit E. Aditya, mantan Editor in Chief Boardriders. Sementara Ripple lebih beruntung karena pada awalnya media ini adalah media promosi clothing label 347, sehingga aspek permodalan relatif lebih terjamin. “Awalnya majalah ini kan sebagai fun, tapi ternyata kesininya bisa juga jadi andalan ekonomi“, kata Idhar Remadi, Editor In chief Majalah Ripple.
Pertumbuhan bisnis clothing dan distro di Bandung, ternyata memberi dampak yang cukup penting pada perkembangan media-media komunitas underground Bandung. Ketika booming distro tahun 2003 hingga 2005, lahir banyak media gratisan yang terbit untuk kepentingan promosi. Kemampuan distro untuk memproduksi media seperti ini, dalam pengamatan Pam, melibas pertumbuhan zine komunitas. “Mereka bisa membuat media yang lebih menarik secara tampilan dan dibagikan gratis. Tetapi ini juga membuat perubahan di tingkat komunitas dan membaginya jadi dua kubu. Kubu pertama sebagai produsen zine yang masih punya semangat untuk membuat zine dan mencari komunitas lain yang bisa jadi tempat aktualisasi diri yang baru, dan satu lagi yang hanya mengonsumsi saja“, ujar Pam. Sementara Kimung, pengelola Minor Bacaan Kecil berpendapat, “Generasi yang sekarang mau aja diseragamin penampilannya maupun isi kepalanya. Padahal, dengan punya media sendiri, bisa menyampaikan manifestasi diri dan mengekspresikan ide-ide lewat bahasa dan tulisan.“
Untuk beberapa media yang bertahan seperti majalah Ripple dan Jeune, keberadaan distro dan clothing industri justru menjadi nyawa yang membuat media ini bisa bertahan. “Sembilan puluh sembilan persen nyawa kita ada di pemasang iklan“, tutur Idhar. Sampai kini, Ripple telah terbit 59 edisi dan sejak edisi ke 42, Ripple menjadi media gratis dengan jumlah cetak 10.000 eksemplar setiap edisinya. “Salah satu faktornya kenapa kita gratis karena kita ingin memperluas jangkauan distribusi. Kalau distribusinya cukup luas, bisa menarik pemasang iklan lebih banyak lagi”.
Senada dengan Idhar, Candra vokalis band Cupumanik yang juga Editor in Chief Majalah Jeune yang terbit 5.000 sampai 7.500 eksemplar (tergantung dari pemasang iklan) sejak tahun 2004 ini, mengemukankan hal yang hampir sama. “Kenapa mereka masih membeli majalah indie atau majalah lokal seperti Jeune atau Ripple, karena memang sudah saatnya kita-kita yang di lokal ini tahu betul dan harusnya yang paling pintar mendokumentasikan apa yang terjadi di lokal trend fashion atau musik apa yang terjadi di lokal“, kata Candra.
Keberadaan media-media yang masih bertahan, memunculkan pertanyaan besar dalam benak Pam, “Bisakah konsistensi dan kontinuitas itu terjaga?” Bagi Pam, konsistensi dan kontinuitas itu penting untuk mematangkan komunitas dan juga media yang mewakilinya. “Buat saya, situasi komunitas underground yang berubah cepat kaya sekarang ini sebenarnya bisa dilihat sebagai hal yang wajar. Zine kan sesuatu yang baru, distro juga, banyak hal baru yang menjadi pilihan dan karena ini kultur serapan, proses mencoba menjadi bagian dari pencarian identitas. Konsistensi dan kontinuitas itu justru akan mematangkan pilihan-pilihan itu“, tutur Pam.
Penulis: Tarlen Handayani (Sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs)
Sumber: Pikiran Rakyat
Kamis, 27 Mei 2004
DARI namanya saja sudah bisa ditebak. Prof Jakobus (biasa disebut Jakob) Sumardjo bisa dipastikan bukan berasal dari etnis Sunda. Biarpun sudah lebih dari 40 tahun tinggal di Bandung, waktu tidak berhasil mengubah segalanya. Logat Jawanya masih sangat kental. Tetapi jangan tanya kemampuannya dalam menafsirkan pantun-pantun Sunda.
TAK KURANG dua guru besar, Ayatrochaedi Universitas dan Prof Saini KM Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, memuji minat “baru” rekannya, sehingga ia dijuluki sebagai “juru tafsir” Sunda. Kajian dilakukan merupakan paling mutakhir. Jika kajian sebelumnya hanya salah satu pantun, Jakob menggarap sejumlah cerita pantun segi yang selama ini luput dari perhatian para pengkajinya.
Uniknya, Jakob tidak fasih berbahasa Sunda. Untuk menolong kekurangannya, ia harus membolak-balik Kamus Bahasa Sunda karangan Satjadibrata. Tetapi tidak semua kata-kata yang dicari padanannya dalam bahasa Indonesia bisa ditemukan dalam kamus tersebut. Pantun banyak menggunakan lambang-lambang sehingga tidak mudah dimengerti, apalagi jika sebelumnya tidak mendalami kebudayaan masyarakat Sunda.
“Untuk mengetahui arti kata-kata tersebut, saya bertanya ke sana-ke mari“, tuturnya.
Di kalangan masyarakat Sunda, seni pantun merupakan jenis pertunjukan teater tutur yang memperlihatkan kemampuan bercerita dari “sang juru pantun” dengan diiringi kacapi pantun. Pagelarannya diselenggarakan sejak pukul 20.00 sampai menjelang subuh sekitar pukul 04.30. Ceritanya pada umumnya berkisar tentang lakon makhluk-makhluk suci atau keramat atau mempunyai hubungan dengan Raja dan putra-putra Raja Kerajaan Pajajaran. Beberapa cerita pantun, seperti Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Mundinglaya, dan Nyi Sumur Bandung, dianggap sebagai keramat.
Untuk memainkannya, banyak persyaratan yang harus dipenuhi, baik pada saat akan dimulai maupun menjelang akhir pagelaran dengan menyampaikan rajah. Rajah artinya sama dengan jampi-jampi atau permohonan pagelaran berlangsung lancar, baik pada saat diselenggarakan maupun sesudahnya.
Guru Besar STSI Bandung itu mengemukakan, gejala pantun sudah ada sebelum tahun 1518, sebagaimana ditunjukkan oleh naskah lama, Siksa Kandang Karesian. Boleh jadi masyarakat Sunda sudah mengenalnya sekitar tahun 1400-an, pada saat berkembangnya budaya Hindu-Buddha di Jawa Barat, sehingga cara berpikir agama-agama tersebut telah masuk ke dalam pantun. Cara berpikir tersebut kemudian berkembang dan menyesuaikan diri dengan masuknya Islam di Tatar Sunda. Selain itu, pantun juga mengandung unsur-unsur budaya lokal.
LAHIR di Jombor-Danguran, Klaten, 26 Agustus 1939, bagi ayah tiga anak dari perkawinannya dengan Jovita Siti Rochma pada tahun 1969 itu, dunia pantun merupakan dunia “baru”. Setelah belajar di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, dan kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung, ia mengajar di SMA St Angela, Bandung, sebagai guru sejarah dan menggambar. Di tempat ini ia bertemu calon istrinya.
Ia juga mengajar di STSI, selain di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pasundan (Unpas) untuk mata kuliah Filsafat Seni, Antropologi Seni, Sejarah Teater, dan Sosiologi Seni. Tetapi segudang kegiatannya itu tidak mengurangi minat yang sudah lama digeluti sebagai pengarang cerita pendek, kritikus sastra dan penulis esai di berbagai media, baik di Bandung maupun Jakarta. Dari tangannya sudah lahir lebih dari 20 buku.
Sejak “tergila-gila” dengan pantun Sunda, ia berusaha memburu transkrip naskah-naskah pantun Sunda. Ia sudah menghasilkan dua buku kumpulan tulisannya: Hermeneutika Sunda, Simbol-simbol Babad Pakuan/Guru Gantangan dan Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda, Tafsir-tafsir Pantun Sunda.
Kedua kumpulan karya-karyanya itu menempatkannya sebagai “orang Sunda” yang lebih nyunda karena kemampuannya menafsirkan karya-karya sastra masyarakat Sunda. Namun, kelebihan ini tidak mengubah dirinya sebagai budayawan yang rendah hati dan hidup sederhana.
PERKENALAN Jakob Sumardjo dengan pantun Sunda sebenarnya belumlah lama. Itu berawal ketika diminta Saini KM untuk mengulas karyanya berupa naskah drama Pangeran Sunten Jaya yang akan dipentaskan Kelompok Actors Unlimited di Bandung pada 31 Agustus 2000 di teater terbuka Selasar Sunarjo. Ia bersedia mengulasnya kalau bisa membaca cerita pantunnya yang asli, yang ternyata karya Saini KM sendiri, Mundinglaya di Kusumah.
Perkenalan pertama itu menumbuhkan rasa penasarannya terhadap naskah-naskah pantun lainnya. Ia menyadari, untuk memahami naskah-naskah itu dibutuhkan ilmu tentang kebudayaan dan sejarah Sunda, pemahaman religi asli Sunda, religi Hindu Buddha-Tantra, dan antropologi budaya suku-suku Indonesia.
Hanya karena ketekunannya, satu per satu naskah-naskah pantun tersebut bisa ditafsirkan. Namun, karena cukup banyaknya naskah-naskah tersebut, ia mengakui baru sebagian kecil yang sudah berhasil diteliti.
Dari naskah-naskah yang sudah diteliti, ia menyimpulkan, cerita pantun bukan hanya merupakan karya sastra lisan yang luhur dari masyarakat Sunda. Naskah-naskah tersebut mengandung bagian-bagian yang menyangkut peristiwa sejarah Sunda, maka pantun memiliki nilai sejarah. Karena itu, cerita pantun dianggapnya sebagai artefak budaya masyarakat Sunda sekaligus bentuk kebudayaan Sunda yang paling besar.
“Jika di Jawa terkenal dengan wayang kulit, maka di Sunda sebenarnya seni pantun. Bukan wayang golek“, ujar pengamat film yang tergabung dalam Forum Film Bandung (FFB) itu.
Sebagai bentuk kesenian rakyat, seni pantun tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat dan Banten. Nasibnya tak berbeda dengan kesenian tradisional lainnya yang terdesak. Bahkan, juru pantun sudah makin langka.
Penulis: Her Suganda (Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat)
Sumber: Kompas
