You are currently browsing the tag archive for the ‘Education’ tag.

Togar Simatupang, “Butuh Intervensi Nyata Perguruan Tinggi”


RICKY Gianjani (26) pemilik toko alat musik Dinasti Music Instrument dan Sound System di Jln Gamelan Turangga Buahbatu, Kota Bandung. Dari keuntungan yang dikumpulkan saat masih menjadi calo jual beli alat musik, Ricky mampu membuka toko alat musik dengan menyewa sebuah kios di Jln. Buah Batu Bandung.* HANDRI HANDRIANSYAH

Sabtu, 5 April 2008

BANDUNG, (PR).-
Gerak ekonomi kreatif di Bandung masih berjalan secara alamiah. Belum ada intervensi nyata dari dunia perguruan tinggi (PT), untuk mengoptimalkannya. Padahal, melihat pertumbuhan ekonomi kreatif nasional yang meliputi 14 sektor sebesar 7,3 persen di tahun 2006, sebenarnya mahasiswa berpeluang menggarapnya secara mendalam.

Demikian diungkapkan Togar M. Simatupang, Anggota Senat Akademik ITB dan dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) kepada “PR” di Kampus SBM, Jln. Tamansari Bandung, Selasa (25/3).

Menurut Togar, jiwa kreativitas mahasiswa memungkinkan mereka untuk berkecimpung dalam kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif. Di sisi lain, industri kreatif memiliki potensi besar bagi penggerakan ekonomi masyarakat. Sumbangan sektor industri kreatif di Jawa Barat (Jabar) pada 2005 , misalnya, mencapai 7,82 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 257, 535 miliar (25,75 miliar dolar AS).

Hanya, potensi itu menunjukkan gejala penurunan. Proyeksi tahun 2007 menunjukkan penurunan menjadi 7 persen dari sebelumnya 7,3 persen. Angka tersebut akan tetap bertahan dan membuat pertumbuhannya pada tahun 2008 tetap pada tingkat yang sama“, ucapnya.

Sektor ini, kata Simatupang, sudah mencapai titik kejenuhan dan mulai terlihat sejak 2003. Saat itu ekonomi kreatif yang diawali dengan menjamurnya factory outlet (FO) mulai mengalami iklim usaha yang monoton. Pelaku usaha relatif bersaing relatif pada harga, bukan pada desain produk.

Peran Perguruan Tinggi
Ia mengingatkan, selama tidak ada peningkatan permintaan dari masyarakat, ekonomi kreatif akan cenderung stagnan. “Ekonomi kreatif memberikan gambaran kepada kita tentang situasi bisnis yang persaingannya paling kejam. Kelas kreatif di dalam industri ini menuntut setiap pelakunya untuk terus berinovasi apabila ingin terus bertumbuh.

Untuk itu, perguruan tinggi berperan besar membangkitkan kembali potensi ekonomi kreatif ini dengan menyinergikan potensi tersebut dengan berbagai program akademik yang mendukung. “Lulusan PT harus terus dilengkapi dengan jiwa kewirausahaan karena lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.

Kemudian, projek bisnis antarprogram studi PT juga semakin ditingkatkan. Demikian juga dengan bazar atau pasar seni, harus menjadi kegiatan rutin.

Selain itu, pengelola PT perlu melengkapi mahasiswanya dengan kurikulum yang sesuai tuntutan pasar.

Namun, ia mengingatkan, kunci sukses itu cenderung menjadi sebuah teori, manakala pelaku industri kreatif yang notabene banyak digeluti oleh anak-anak muda tidak berinovasi.

Bagi pemerintah, kata Togar Simatupang, melihat kenyataan bahwa kontribusi PT terhadap penambahan pengangguran mencapai 5-7 persen/tahun dari jumlah total pengangguran di Indonesia, intervensi positif menjadi keniscayaan.

Antara lain, dengan melakukan pemetaan potensi jenis industri kreatif yang dapat dikembangkan dan menyusun program-program yang lebih kongkret. “Misalnya akses permodalan, insentif, ruang publik untuk berkreasi, ajang promosi, perizinan, prasarana teknologi informasi, dukungan terhadap inkubator industri kreatif, dukungan terhadap pendidikan kreatif, dukungan terhadap pusat desain dan pelatihan, serta statistik industri kreatif.

Dalam hal ini, pemerintah akan berposisi sebagai promotor, komunikator, stimulator, dan fasilitator pengembangan industri kreatif.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Dalam rangka penyelenggaraan acara Open House ITB yang dimulai sejak tanggal 22 s/d 24 Februari 2008 di Auditorium Campus Centre ITB, Kantor Wakil Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ITB menggelar acara temu industri kreatif dan diskusi panel.

Acara yang dimulai pada jam 10.00 menghadirkan Pak Iwan sebagai pembicara utama dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Indonesia. Dalam pemaparannya Pak Iwan menekankan perlunya pendidikan tinggi sebagai pusat pengembangan keilmuan yang harus memiliki parameter sumberdaya lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi dibidangnya, memiliki daya saing dilingkungan pekerjaan dan kemampuan manajerial terhadap ilmu yang akan dikembangkan kepada masyarakat dalam hal ini industri kreatif. Untuk bisa mencapai semua itu Pak Iwan memberikan rumusan ABG, yaitu Akademik, Praktisi Bisnis dan Government (pemerintah). Oleh karena itu Pak Iwan menekankan apabila ITB ingin menjadi pusat pengembangan industri kreatif maka harus mampu menjadi perguruan tinggi berbasis kreativitas.

Sementara itu wakil pemerintah dari Direktur Jendral Usaha Kecil Menengah dan Industri Kecil, Pak Fauzi Aziz memaparkan tentang banyaknya hambatan regulasi yang membuat industri kreatif sulit berkembang pada saat ini. Salah satunya adalah tentang belum keluarnya aturan tentang Badan Hukum Perguruan Tinggi sehingga ada kesan pihak akademisi dalam hal ini perguruan tinggi menjadi terhambat dalam hal pengembangan industri kreatif. Karena apabila aturan tentang BHPT tersebut berhasil direalisasikan maka tentu perguruan tinggi akan lebih banyak mempunyai peran yang aktif bagi perkembangan industri kreatif. Dirjen UKM dan Industri Kecil menekankan bahwa strategi pengembangan industri kreatif terletak pada dukungan modal (financial support) dan aturan main/perundang-undangan (basic regulation). Dalam hal ini peraturan pemerintah yang mampu mengakomodir kepentingan perkembangan industri kreatif, SDM yang berkualitas dan pembentukan jaringan (network) yang solid antara pelaku industri kreatif, akademisi dan pemerintah.

Dari dunia akademisi diwakili oleh Prof. Emy Suparkah dari ITB yang memaparkan kontribusi ITB bagi perkembangan industri kreatif. Selama ini ITB telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan industri. ITB selama ini telah banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten dibidang kajian masing-masing. Misalnya dari Fakultas Seni Rupa dan Desain yang telah berperan langsung dalam berbagai kegiatan ekonomi industri kreatif. Lalu dari segi teknologi ITB telah banyak memberikan kontribusi teknologi seperti software dan mesin-mesin industri yang banyak menerapkan teknologi yang aplikatif dan ramah lingkungan. Dari segi manajerial dan pengembangan industri kreatif ITB memberikan kontribusi dengan dibukanya sekolah bisnis sekaligus menjadi inkubator bagi pengembangan UKM dan industri kecil. Disamping itu juga dari segi perlindungan hukum ITB menjadi fasilitator untuk pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar produk-produk industri kreatif terhindar dari kooptasi dan klaim dari pihak lain.

Masih dari mewakili akademisi, Pak Setiawan Sabana dari Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain, mengingatkan bahwa semua hasil produk industri kreatif harus memperhatikan aspek lingkungan hidup. Jangan sampai produk industri kreatif justru menjadi sesuatu yang “merusak” ekologi. Sebagai contoh papan-papan iklan yang bertebaran di penjuru kota sebagai hasil kreatifitas justru berubah menjadi “polusi visual” dikarenakan tidak adanya kejelasan aturan dan ketegasan dari pemerintah. Karena itulah perlunya para praktisi, akademisi dan pemerintah menjalin sebuah sinergi yang solid dalam merumuskan berbagai kebijakan agar hasilnya nanti dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Pak Sabana menilai bahwa kota Bandung cukup potensial untuk dikembangkan menjadi kota yang berbasiskan kreatifitas. Karena Bandung telah memiliki SDM yang berkualitas (talent) dan masyarakat yang toleran terhadap perubahan yang positif (tolerance). Dan semua itu perlu didukung oleh aturan dan regulasi yang mampu mengakomodir energi kreatifitas yang ada.

Dari komunitas kreatif diwakili oleh Fiki dari Kreative Independent Clothing Kompany (KICK). Fiki memaparkan tentang pertumbuhan industri kreatif di Bandung khususnya di bisnis clothing (pakaian jadi) dan distro (distribution outlet). Pada tahun 1997 kota Bandung hanya memiliki 5 buah distro. Tahun 2008 Bandung memiliki 300 distro dan mampu menyerap 300.000 tenaga kerja. Kemudian relasi dengan pemerintah sudah mulai terbangun melalui event KICK FEST yang rutin digelar setiap tahun. KICK FEST terakhir mampu mencetak nilai transaksi sebesar 400 miliar rupiah. Hal itu harus dipertahankan dengan cara pihak pemerintah mampu menyediakan fasilitas publik yang dapat diakses dengan mudah sehingga dapat dijadikan ajang berkreasi dan penyaluran ekspresi anak muda di Bandung. Karena pada dasarnya industri kreatif di bidang clothing dan distro di Bandung berawal dari kultur dan gaya hidup anak muda di kota Bandung yang mempunyai idealisme dan sarat dengan energi kreatif. Misalnya dari bidang musik dan olahraga yang selama ini sarana dan prasarananya dianggap sudah tidak mampu mengakomodir kegiatan kreatif di kota Bandung.

Dari kalangan praktisi teknologi diwakili oleh Setijadi Prihatmanto dari Sekolah Tehnik Elektro dan Informatika ITB yang memaparkan tentang perlunya dibangun sebuah pola kemitraan yang sejalan antara pelaku industri kreatif dengan praktisi teknologi. Karena bagaimanapun kreatifitas dan teknologi adalah sebuah proses yang harus selalu berjalan seiring. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang dimana jarak dan waktu bukan lagi menjadi hambatan bagi dinamika pergerakan ekonomi global. Contohnya industri games dan software yang pasti akan selalu membutuhkan sentuhan pengembangan estetika dari para praktisi seni rupa dan desain. Begitu juga sebaliknya para pelaku industri kreatif juga dituntut mampu mengikuti pekembangan teknologi. Apalagi di era internet sekarang dimana pada akhirnya banyak melahirkan media-media baru untuk dijadikan sarana berekspresi untuk berkesenian (new media art) dan media komunikasi dan informasi berbasiskan internet (new media journalism).

Selain diskusi panel, Open house ITB 2008, juga menggelar berbagai acara lainnya. Diantaranya pameran foto, workshop film, dan pameran pendidikan yang menampilkan stand-stand tiap fakultas yang ada di ITB lengkap dengan konsultasi dan presentasi tiap fakultas.

Penulis: Addy Handy

Jumat, 2 November 2007

Bandung, Kompas – Industri kreatif diyakini akan tumbuh pesat dan mampu meningkatkan pendapatan negara secara signifikan. Guna mengembangkan potensi industri kreatif ini, peran dunia pendidikan diperlukan untuk bersinergi bersama industri dan pemerintah.

Mike Hardy, Direktur British Council, pada simposium regional bertajuk Strategic Dialogue in South East Asia-Developing Creative Industry di Bandung, Senin (29/10), mengatakan bahwa kurikulum pendidikan yang konservatif perlu diubah dan dibawa ke arah dukungan tumbuhnya kreativitas. Kebijakan-kebijakan pun perlu dibuat berpihak pada peluang dan upaya bagi tumbuhnya industri kreatif.

Simposium yang merupakan bagian dari Prime Minister Initiative II (PMI2) Inggris ini diikuti 40 pengambil kebijakan dan praktisi senior pendidikan dari 10 negara. Para peserta berasal dari Thailand, Singapura, New Zealand, Jepang, Filipina, Malaysia, Taiwan, Australia, Inggris, dan Indonesia.

Industri kreatif punya potensi besar. Inggris sendiri memfokuskan pada pengembangan industri kreatif karena berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Kerja sama untuk mendukung tumbuhnya industri kreatif ini perlu didukung, termasuk juga melalui pendidikan“, kata Charles Humfrey, Duta Besar Inggris untuk Indonesia.

Di Indonesia, salah satu kota yang mampu mengembangkan industri kreatif adalah Bandung. Di sini, ada 400 outlet fashion, desain, dan musik. Sebagian besar dijalankan para pengusaha muda berusia 15-25 tahun. Kontribusi industri kreatif Indonesia mencapai 33 persen pendapatan negara, jauh lebih besar daripada gas dan minyak bumi yang berkisar enam persen. (ELN)

Sumber: Kompas

Rabu, 19 Desember 2007

Bandung, Rabu – Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Djoko Santoso, menyatakan pemerintah sudah selayaknya mengembangkan industri kreatif pada 2008 untuk memperkuat struktur ekonomi dan sistem industri nasional. “Potensi untuk mendukung peningkatan industri nasional di negara kita ini cukup banyak, salah satunya industri kreatif itu. Jika dikembangkan setidaknya industri nasional kita tidak akan tergantung pada kepemilikan modal asing“, ujar Djoko, di Bandung, Rabu (19/12).

Industri kreatif merupakan industri yang tidak terbatas pada satu jenis produk tertentu, seperti karya desain, film, musik, piranti lunak (software), media elektronik, penerbitan, periklanan, arsitektur, seni dan budaya, serta industri multimedia.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada tahun 2006, setiap tahun industri kreatif mampu menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional secara signifikan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 15 persen. Perkembangan industri tersebut telah menyokong 33,5 persen total angka PDB yang setara dengan Rp 693 triliun.

Menurut Djoko, pada sejumlah negara di kawasan Uni Eropa, industri kreatif senantiasa dikembangkan dan menjadi salah satu penerima tenaga kerja terbesar. Di Inggris serta di Australia, lanjut Djoko, industri tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap perolehan pendapatan PDB setempat.

Djoko menyatakan, pengembangan industri tersebut akan menjadi sektor ekonomi potensial yang mampu menyerap serta memanfaatkan tenaga kerja muda pada berbagai bidang secara menyeluruh, apabila dikelola dan dikembangkan secara mandiri memanfaatkan berbagai potensi nasional. “Industri kreatif pada dasarnya mengembangkan tiga pilar utama sebagai modal awal, yakni kreativitas sumber daya manusia, inovasi serta semangat kewirausahaan“, demikian pendapat Rektor ITB. (ANT/IMA)

Sumber: Kompas Cyber Media

Kamis, 29 November 2007

INI apa sih?” ucap seorang kawan Kampus bertanya pada teman di sebelahnya seraya menunjuk benda mini berbentuk kapal. Tak mau berlama-lama kebingungan, ia pun memerhatikan keterangan singkat yang tertempel di sebelahnya. Kening yang tadinya berkerut, lalu berganti anggukan kekaguman. Ternyata, benda itu adalah prototipe kapal penangkap ikan yang dirancang untuk menghemat bahan bakar fosil dengan menggunakan biodiesel. Itu salah satu pemandangan yang terlihat dalam “Desain Produk Berkarya 2″, Pameran Karya Akademik Mahasiswa Desain Produk ITB Semester 2 tahun 2006/2007, 26-28 November 2007 di Campus Center ITB.

Nuansa, keunikan, bahkan kebaruan, muncul dalam pameran yang menampilkan karya dari 57 orang mahasiswa Desain Produk (DP) FSRD ITB itu. Berasal dari tugas, pameran ini sekaligus juga uji kemampuan mahasiswa DP dalam tingkatannya masing-masing. Karya-karya itu berasal dari mata kuliah DP I, II, III, IV, V, dan tugas akhir, yang biasa dikenal dengan istilah “studio”. “Semuanya melewati proses seleksi oleh dosen masing-masing“, kata Agus, ketua panitia, pada Kampus. Mau tahu seperti apa karya mereka?

Ruangan pameran di-set sesuai dengan tingkatan studio. Di tengah ruangan ada belasan kertas kardus berwana cokelat alias corrugated paper, dengan rupa-rupa bentuk. Ternyata, itu karya dari kawan-kawan DP I, yang ditugaskan untuk membuat kursi dari kardus. Beban SKS dalam DP I memang berkutat soal eksplorasi material dan bentuk dasar. Hasilnya, tercipta aneka desain kursi, dari mulai pola sederhana sampai yang rumit dan berlapis.

Bergeser ke sebelahnya, ada karya berupa autodesk hingga gunting semiotomatis. Ya, ini adalah karya mahasiswa DP 2 yang banyak mengupas soal mekanisme gerak. Gegi Primanata, misalnya, membuat robot mini yang bisa membawa minuman ringan, berdesain atraktif berwarna kuning-hitam. “Ingin buat robot yang fungsional“, kata Gegi, yang merancang robot itu untuk membantu para pramusaji (waitress).

Beberapa karya lainnya malah punya fungsi signifikan dalam menjawab masalah kesehatan dan lingkungan, seperti karya-karya dari DP 5, berupa mobil tempat klinik kesehatan gigi dan mulut, ranjang lipat multifungsi, sampai alat penghalau burung kowak yang memanfaatkan gelombang ultrasonik. Karya-karya dengan fungsi pendidikan pun bertebaran dari mahasiswa DP 4, yang memang difokuskan pada elaborasi desain berbasis riset sosial budaya. Misalnya, alat bermain untuk anak yang menderita attention deficit disorder (ADD) alias sulit berkonsentrasi atau sendal berbentuk puzzle yang bermuatan edukasi.

Masih ada karya lainnya yang memiliki fungsi primer dan sekunder dengan model yang unik, misalnya, lampu dari kulit melon, kursi dari ban bekas, gitar, sepeda jungkat-jungkit, dan sebagainya. Kebanyakan barang-barang itu memang belum dibuat dalam jumlah yang siap dipasarkan. Namun demikian, bukannya tidak layak untuk dilirik dan diproduksi massal.

Menurut Harry Nugraha, ketua INDDES (komunitas mahasiswa DP ITB), tiap semester ada 150 karya dari berbagai studio dan sayang sekali kalau itu tidak diketahui banyak orang. Oleh karena itu, kini INDDES ingin semakin menggiatkan pameran, khususnya pameran akademis. Sebelumnya, INDDES juga pernah menggelar pameran besar dengan partisipan dari berbagai kampus tahun 2005 lalu di Sabuga. “Pameran juga bisa memotivasi kita supaya bikin tugas sebaik-baiknya,” kata Ikra, dari DP 1.

Dituturkan Harry, pameran diadakan agar orang bisa semakin mengenal DP yang pamornya belum menonjol. Pameran juga diharapkan bisa menjadi pintu mendatangkan pelaku-pelaku industri ke kampus. Menurut dia, pemerintah masih belum menggarap DP secara serius. Padahal, DP itu penting, apalagi dikaitkan dengan gaung industri kreatif sekarang ini. DP berperan dalam memberi nilai tambah bagi pembuatan produk dengan pertimbangan aspek estetis sekaligus fungsional. “Pekerjaan rumah sekarang ini adalah menyambungkan DP dengan industri kecil menengah (IM) lokal kita yang potensial“, katanya. ***

Dewi Irma (kampus_pr@yahoo.com)
Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.