You are currently browsing the tag archive for the 'Creative Forum' tag.

Artikel ini merupakan review singkat mengenai riset perkembangan ekonomi kreatif di Bandung. Sengaja saya langsung upload ke heterologia.multiply.com untuk melibatkan beberapa teman yang tertarik untuk berdiskusi secara interaktif. Bagi yang mau ikut membahas saya persilahkan…

I

Sudah selama beberapa bulan terakhir ini saya banyak mengumpulkan dan membaca artikel tentang perkembangan industri kreatif di kota Bandung. Selain melakukan kegiatan pengarsipan informasi digital di www.bandungcreativecityblog.wordpress.com, saya juga sempat menghadiri beberapa pertemuan yang secara khusus membicarakan masalah ini. Diantaranya mungkin masih ada yang ingat dengan pertemuan Bandung Creative City Forum di Common Room pada tanggal 7 Februari 2008 yang telah lalu. Selain itu ada banyak diskusi, seminar, pertemuan dan rapat-rapat khusus yang membahas peluang pengembangan industri kreatif di kota Bandung. Penyelenggaranya mulai dari komunitas, organisasi, universitas, sampai pada pemerintah pusat dan daerah.

Dalam sebuah pertemuan di Yokohama, Ridwan Kamil (arsitek/ urban planer, URBANE) menyatakan bahwa dengan segala potensi yang dimilikinya, kota Bandung telah mendapatkan penghargaan dan menjadi bagian dari jaringan pengembangan kota kreatif yang menghubungkan beberapa kota semisal Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Hanoi, Hong Kong, Taipei, London, Auckland, Istambul, Bogota dan Glasgow. Sampai tiga tahun ke depan, kota Bandung akan menjadi proyek percontohan pengembangan kota kreatif se-Asia Pasifik.

Hal ini pertama kali diungkap dalam seminar International Education & Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council di Bandung pada tanggal 29 s/d 31 Oktober 2007. Dalam pameran Bandung Creative Showcase yang diselenggarakan di Common Room pada waktu yang sama, beberapa delegasi seminar tersebut bahkan menyatakan bahwa mereka harus belajar dari pengalaman kota Bandung yang dapat mengembangkan aktifitas ekonomi kreatif yang berbasis komunitas dan peran usaha kecil dan menengah (UKM). Apa yang terjadi di kota Bandung bisa jadi merupakan kasus unik yang hanya bisa terjadi di negara berkembang. Hal ini tentunya merupakan sebuah contoh bagaimana kreatifitas betul-betul mampu menjadi pemicu gelombang pertumbuhan ekonomi baru di kawasan ini.

II

Banyak diantara teman saya yang bertanya mengenai pengertian dari ekonomi kreatif. Dari berbagai definisi yang saya kumpulkan, saya menyimpulkan kalau aktifitas ekonomi kreatif merupakan serangkaian kegiatan produksi dan distribusi barang maupun jasa yang dikembangkan melalui penguasaan di bidang informasi, pengetahuan dan kreatifitas. Ekonomi kreatif sangat menyandarkan aktifitasnya pada proses penciptaan dan transaksi nilai. Artinya aspek sumberdaya manusia (talent), teknologi, keberagaman budaya, dan pasar yang kritis (critical mass) merupakan sebuah ekosistem yang sangat dibutuhkan, bahkan dicari oleh para pelaku industri kreatif di seluruh dunia. Banyak orang yang berpandangan kalau Bandung sudah memiliki ekosistem yang dimaksud. Mudah-mudahan pandangan ini benar.

Mungkin bisa saja kita bayangkan sendiri. Kondisi lingkungan yang sejuk dan ukuran kota yang tidak begitu besar tampaknya lebih memungkinkan warga kota Bandung untuk dapat bergerak dan berinteraksi dengan lebih leluasa. Selama ini Bandung juga dikenal sebagai sebuah kota yang memiliki sumberdaya manusia yang relatif lebih ideal apabila dibandingkan dengan kota lain. Ada banyak sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi yang menjadi pemasok ratusan komunitas kreatif di kota ini. Selain itu, sikap masyarakat kota Bandung yang terbuka dan toleran membuat karakter mereka lebih dinamis dalam mengadaptasi perubahan. Hikmat Budiman (Penulis buku Lubang Hitam Kebudayaan) bahkan menyatakan kalau generasi muda di kota Bandung mampu mengadaptasi trend global dan mendefinisikan perkembangan yang ada sesuai dengan konteks mereka. Dia bahkan menambahkan kalau selama ini telah terbangun pasar yang menyerap berbagai kecenderungan yang ada.

Saya jadi teringat pada acara The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang diselenggarakan pada tanggal 4 – 12 Agustus 2005 di kota Bandung. Waktu itu kami mengundang sekitar 20 mahasiswa seni dari negara Asia dan Eropa untuk mengikuti serangkaian diskusi dan workshop di bidang seni, media dan teknologi. Salah satu topik yang dibahas pada saat itu salah satunya adalah wacana mengenai fenomena dan pertumbuhan ekonomi kreatif. Seorang pembicara yang bernama Rob van Kranenburg (Waag Society, NL) waktu itu menyatakan kalau pemerintah Belanda sangat menyadari kalau aplikasi seni, media dan teknologi merupakan sendi penting bagi perkembangan di bidang ekonomi kreatif. Oleh karena itu, di Belanda pemerintahnya banyak berinvestasi dan memberikan dukungan bagi aktifitas yang berhubungan dengan seni dan perkembangan teknologi.

Selanjutnya perbincangan mengenai ekonomi kreatif kembali mengemuka pada sebuah seminar internasional Artepolis 2006: Creative Culture and the Making of Place, yang diselenggarakan oleh Departemen Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Arsitektur – ITB dan Pusat Studi Urban Desain (PSUD-ITB). Saat itu, ada banyak pendapat yang menyatakan pentingnya untuk mengembangkan aktifitas ekonomi kreatif yang mengedepankan peran partisipasi komunitas masyarakat, penentu kebijakan publik dan tata kelola lingkungan hidup yang baik. Hal ini terutama agar berbagai bentuk sumber daya yang ada bisa dimanfaatkan dengan maksimal sehingga dapat menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi maupun kehidupan warga masyarakat secara umum.

III

Melalui berbagai arsip dokumentasi yang saya kumpulkan, ada beberapa temuan yang menggembirakan namun sekaligus menyedihkan terjadi di kota Bandung selama 10 – 15 tahun terakhir. Seiring dengan situasi perubahan dan perkembangan yang pesat di bidang teknologi informasi, telah lahir sebuah generasi baru yang ikut membentuk wajah kota Bandung masa kini. Kebanyakan didominasi oleh para musisi, seniman dan desainer muda di kota Ini. Melalui buah tangan mereka, ada banyak karya cemerlang yang dihasilkan sehingga mereka berhasil membawa kota Bandung masuk ke dalam kancah dunia global.

Yang mengherankan, perkembangan ini sepertinya sama sekali tidak tersentuh oleh berbagai kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah. Bahkan bisa dikatakan pemerintah kita terlambat dalam menyadari potensi yang dimiliki oleh masyarakatnya. Dengan segala keterbatasan, berbagai komunitas anak mudia di kota Bandung berhasil mengembangkan potensi dan kreatifitas mereka secara mandiri. Dalam sebuah catatan, gelombang ekonomi baru yang digerakan oleh anak muda di kota Bandung berhasil menciptakan sekurang-kurangnya 650.000 lapangan kerja baru. Sebagaian besar diantaranya diisi oleh mereka yang berkarya di bidang musik, fashion, seni, desain, arsitektur sampai dunia IT.

Pada pertemuan di Auditorium Rosada pada tanggal 2 Mei 2008, Pemerintah Kotamadya Bandung akhirnya memperlihatkan dukungan penuh bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif melalui rencana pembentukan kebijakan dan pembangunan infrastruktur kota. Hal ini diharapkan dapat menjawab ironi akan berbagai potensi yang dimiliki oleh kota Bandung yang sepertinya masih berserakan dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pihak yang kemudian sangat berharap kalau dukungan pemerintah bisa mendorong perkembangan ekonomi kreatif ke arah yang lebih baik. Selama ini, berbagai perkembangan di bidang ekonomi kreatif sepertinya memang belum tersentuh oleh kebijakan publik dan prasarana yang memadai sehingga perkembangan yang ada berjalan secara tersendat-sendat.

Kita mungkin masih ingat akan insiden Sabtu Kelabu yang merenggut 11 nyawa anak muda ketika terjadi kericuhan selepas konser kelompok Beside di gedung AACC pada tanggal 9 Februari 2008. Lepas dari faktor kelalaian penyelenggara dalam mengelola konser, insiden ini menunjukan kalau sampai saat ini kota Bandung belum memiliki fasilitas publik yang mampu mengakomodasi aspirasi dan kreatifitas yang dimiliki oleh warganya. Hal ini terasa semakin miris ketika pemerintah memperketat penerbitan izin konser musik sehingga beberapa pekerja di bidang ini harus ikut-ikutan mengencangkan ikat pinggang sebagai buntut dari terjadinya insiden. Selain itu, ruang publik tempat berbagai komunitas berkumpul dan berinteraksi rasanya semakin minim, sehingga ruang untuk membangun jejaring dan berekspresi secara bebas semakin terbatas.

Sementara itu, kita juga sama-sama tahu kalau ada ketimpangan yang terjadi di sektor produksi. Kebijakan yang ada saat ini dianggap lebih mendahulukan kepentingan pengusaha, sehingga kondisi buruh belum tersentuh dan nyaris tidak terperhatikan. Contohnya ada banyak diantara para pekerja sablon, penjahit sampai penjaga gerai-gerai toko terpaksa hidup dengan cara yang tidak layak dengan gaji di bawah standar. Ketimpangan penghasilan yang dihasilkan oleh angin sepoi-sepoi pertumbuhan ekonomi kreatif tampaknya lebih banyak menguntungkan para pemilik modal ketimbang pekerjanya. Tidaklah mengherankan juga kalau ada banyak juga seniman, desainer dan musisi yang harus hidup seadanya karena kondisi ini.

IV

Di bidang pendidikan situasinya tidak kalah menyedihkan. Dunia kreatifitas membutuhkan sumberdaya yang memiliki potensi dan karakter individu yang otentik. Sistem pendidikan formal yang sedianya dikembangkan agar dapat menggali karakter dan potensi individu ikut-ikutan mandul karena standarisasi. Kegiatan pendidikan saat ini banyak yang didominasi oleh sistem dan tata kelola yang kurang ideal, sehingga kebanyakan sumber daya kreatif justru dapat lebih bekembang lewat model pendidikan di luar sekolah yang sangat mengandalkan jaringan pertemanan dan komunitas. Di kalangan anak muda, ada banyak yang merasa bahwa kreatifitas yang mereka miliki justru dipasung ketika mereka berada di lingkungan sekolah formal.

Internet, salah satu sarana untuk mengakses informasi dan pengetahuan bagi masyarakat juga saat ini semakin diawasi. Pada tanggal 25 Maret 2008 pemerintah menerbitkan Undang-Undang Informasi dan Elektronika (UU ITE) yang membuka peluang untuk melakukan pembatasan akses dan kriminalisasi bagi pengguna internet. Hampir sebulan setelahnya, pada tanggal 2 April 2008 pemerintah menyebarkan surat pemblokiran situs yang memasang film Fitna yang diproduksi dan disebarkan oleh politisi sayap kanan Belanda yang bernama Geert Wilders. Beberapa situs penyedia jaringan sosial semisal Youtube, Myspace, Multiply, dsb., diblokir selama satu minggu lebih. Hal ini memicu polemik yang mempersoalkan kebebasan untuk mengakses informasi bagi masyarakat umum. Dalam hal ini pembatasan sepihak oleh pemerintah ditakutkan memasung akses atas informasi dan pengetahuan yang menjadi modal dasar bagi pengembangan platform ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Ketidakjelasan hukum semakin memperparah situasi karena ada banyak pekerja kreatif yang harus kehilangan hak mereka karena aktifitas pembajakan dan pemalsuan. Saat ini, ekosistem bisnis kreatif yang ada di kota Bandung bahkan terancam oleh pembajakan yang semakin membabi buta. Sungguh patut untuk disayangkan mengingat ekosistem ini dibangun dengan susah payah dan pengorbanan oleh banyak pihak. Hal ini juga berhimpitan dengan situasi ekonomi yang tak kunjung menentu. Terasa semakin menakutkan ketika membayangkan resesi yang semakin menghantui di tengah melonjaknya harga minyak dan komoditi. Tidaklah mengherankan kalau daya beli masyarakat harus berkompromi dengan situasi. Hari-hari ini ada semakin banyak orang yang lebih untuk rela antri gas dan minyak tanah ketimbang nonton konser atau beli baju baru.

Apabila saya bayangkan lebih jauh, rasanya situasi semakin runyam saja. Namun ada satu hal yang membuat saya tetap optimis. Etos kemandirian yang dimiliki oleh para pekerja kreatif di kota Bandung bisa jadi merupakan jawaban atas gejala krisis ekonomi baru yang semakin menunjukan tanda-tandanya selama beberapa waktu terakhir ini. Saya masih ingat bagaimana generasi muda di kota Bandung justru memulai geliat mereka ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Di tengah situasi ekonomi dan politik yang serba chaos saat itu, komunitas kreatif di kota Bandung justru berhasil bergerak dan menjadi pendobrak. Mudah-mudahan pengalaman yang kita miliki dapat menjadi solusi dan menjaga harapan akan masa depan yang lebih baik. Tabik!

Jumat, 9 November 2007

Bandung Creative City (BCC) akan dimulai pada Agustus 2008, di mana sejumlah negara secara rutin akan memantau perkembangan Bandung sebagai pilot project industri kreatif hingga Agustus 2010.

Berikut ini wawancara Bisnis dengan Direktur Urbane Indonesia M. Ridwan Kamil mengenai konsep, proses perjalanan dan tujuan BCC dilihat dari kacamata pelaku industri kreatif.

Apa konsep BCC menurut Anda sebagai perwakilan Indonesia pada pertemuan di Yokohama Juli lalu?

Sebenarnya proyek ini merupakan kampanye untuk menciptakan kesadaran dan kepedulian dunia internasional terhadap potensi Bandung sebagai kota kreatif. Tentu saja sebelum kampanye ke luar, seluruh komponen yang ada di Kota Bandung mulai dari pemerintah hingga masyarakat harus mengerti dan peduli.

Seberapa besar potensi Bandung untuk bersaing menjadi kota kreatif di tingkat internasional?

Bandung punya potensi besar untuk mengembangkan kehidupan masyarakat berdasarkan kreativitas. Berawal dari individu kreatif, komunitas kreatif, industri kreatif, ekonomi kreatif, hingga kota kreatif. Sebenarnya hal ini sudah ada di Bandung, hanya belum terpetakan dengan baik dan dikelola secara maksimal.

Tantangan apa yang akan dihadapi selama mengembangkan BCC?

Tantangan terbesar adalah bagaimana menciptakan kepedulian publik, termasuk pemkot,dan mengubah kepedulian tersebut menjadi nilai ekonomis yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian Kota Bandung.

Apa tujuan akhir proyek ini selain meningkatkan ekonomi kota dan pengakuan internasional?

Kita ingin semua jaringan industri kreatif yang selama ini tidak terdata bisa terkumpul dan menarik kembali para insan kreatif Indonesia, khususnya Kota Bandung yang selama ini lari ke luar negeri akibat frustasi dengan tidak adanya dukungan dari pemerintah.

Tidak sedikit jumlah mereka yang lari ke Singapura, Hong Kong, hingga AS karena merasa kesulitan merealisasikan ide di Indonesia akibat sistem yang tidak mendukung. Padahal jumlah mereka cukup banyak dan pastinya akan terus bertambah.

Harapan Bandung sebagai kota kreatif bisa menarik perhatian mereka untuk kembali ke sini dan membangun ekonomi kreatif mulai dari Bandung.

Pewawancara: Fita Indah Maulani (Kontributor Bisnis Indonesia)
Sumber: Bisnis Indonesia Online

Jumat, 09 September 2007

Terpilihnya Bandung sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur merupakan sebuah penghargaan sekaligus tantangan untuk membuktikan keandalan kota yang selama ini dikenal sebagai pionir perkembangan industri kreatif di Indonesia.

Berdasarkan catatan Bisnis, Kota Bandung terpilih sebagai proyek percontohan kota kreatif tersebut dalam pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif yang diikuti 11 negara di Yokohama Jepang akhir Juli 2007.

M. Ridwan Kamil, perwakilan dari Indonesia pada pertemuan tersebut, mempresentasikan daya tarik industri kreatif di Bandung yang dihasilkan oleh komunitas-komunitas yang berkembang sendiri selama 10 tahun terakhir dan produknya kini menjadi tren hidup kaum muda.

Perkembangan tersebut menjadi sebuah daya tarik, sehingga Bandung diberi kepercayaan untuk semakin memopulerkan semangat kota kreatif di dunia global melalui proyek percontohan ini.

Bandung Creative City (BCC), nama proyek ini, direncanakan berjalan selama tiga tahun mulai Agustus 2008. Sejauh ini beberapa elemen yang berpengaruh dalam proyek ini sudah melakukan berbagai persiapan, mulai dari komunitas kreatif yang ada hingga para pelaku industri kreatif.

Yudhi Soerjoatmodjo, Project Team Leader Learning and Creativity British Council, menegaskan BCC bukan untuk mendorong perkem-bangan industri kreatif di Kota Bandung.

Saat ini industri kreatif di Bandung sudah ber-gerak ke arah ekonomi kreatif dengan semangat komunitas tanpa mengandalkan donasi pihak tertentu seperti pemerintah ataupun lembaga lainnya“, ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Menurut dia, konsep program ini bertujuan untuk semakin meningkatkan kepopuleran Bandung sebagai kota kreatif di tingkat internasional. Tentu saja, sebelumnya segala elemen di kota ini harus mengerti dan mendukung demi kemajuan bersama.

Dia menjelaskan perlu dukungan penuh untuk mewujudkan BCC, terutama dari Pemkot Bandung. Pihak lainnya seperti komunitas, pelaku industri, dan sebagian besar masyarakat sudah menyatakan dukungannya terhadap BCC.

Komunitas kreatif, salah satunya melalui wadah Common Room, sudah bersiap diri untuk membantu berjalannya proyek kampanye, pemetaan, dan eksplorasi potensi dan pengembangan jaringan selama tiga tahun proyek ini.

Pelaku industri kreatif, lanjut Yudhi, yang juga berasal dari komunitas kreatif telah menyatakan dukungan untuk menjadikan Bandung sukses sebagai rujukan konsep kota kreatif yang dikenal dunia internasional.

Respons Pemkot Kurang
Sayangnya, respons Pemerintah Kota Bandung dirasa masih kurang. Ketika pemerintah pusat melalui Dirjen Perindustrian dalam dua tahun terakhir sudah memfasilitasi berbagai kegiatan kreatif di Bandung seperti dalam acara festival industri kreatif atau KICKFest, Pemkot Bandung masih meraba istilah industri kreatif itu sendiri.

Hal tersebut diakui dalam pidato Wali Kota Bandung Dada Rosada yang dibacakan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandung Tjetje Soebrata dalam pembukaan sebuah seminar internasional di Bandung 29 Oktober 2007.

Istilah industri kreatif masih dirasa baru dan belum terlalu dikenal oleh masyarakat, khususnya oleh Pemkot Bandung“, ujarnya.

Dia menjelaskan di dalam statistik perekonomian Kota Bandung, keuntungan-keuntungan dari industri kreatif belum secara khusus teridentifikasi. Namun, pemkot yakin industri kreatif memiliki potensi untuk maju dan menjadi industri utama di Bandung.

Menurut dia, Kota Bandung memiliki berbagai jenis universitas teknologi dan seni, yang berpotensi sebagai sumber kreativitas.

Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Tb. Fiki Cikara Satari mengatakan pelaku industri kreatif di Kota Bandung akan terus berjalan, dengan atau tanpa proyek BCC.

Selama 10 tahun terakhir kami berkembang dari sebuah komunitas hingga menjadi industri yang relatif maju saat ini. Pengembangan BCC selama tiga tahun sebenarnya menjadi sebuah pengakuan sekaligus momentum yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendongkrak pertumbuhan industri ini“, paparnya.

Menurut dia, konsep ekonomi kreatif merupakan jawaban untuk Indonesia, khususnya Kota Bandung untuk bersaing dengan negara lain dalam era global. Tentu saja kesiapan sumber daya manusia menjadi mutlak selain adanya ketersediaan sumber daya alam.

Bandung, tambahnya, memiliki potensi untuk mengembangkan hal tersebut. Iklim untuk ber-gerak secara kreatif sudah berkembang sejak dahulu di berbagai bidang seni mulai dari fashion, musik, hingga desain arsitektur.

Ketua Kadin Kota Bandung Deden Y Hidayat mengatakan siap mendukung program BCC selama memiliki kontribusi yang positif, terutama dalam menyerap tenaga kerja sehingga menurunkan angka pengangguran.

Kadin dalam satu tahun terakhir ini sudah mengembangkan industri kreatif baik dari segi peningkatan kualitas produksi dan sumber daya pelaku usahanya, hingga pengembangan pasar ke luar negeri“, ujarnya.

Dia menjelaskan Kadin Kota Bandung tahun ini berkonsentrasi mengembangkan pengusaha kecil yang bergerak dalam ekonomi kreatif melalui Badan Promosi dan pengelolaan Keterkaitan Usaha (BPPKU).

Selain itu, lanjutnya, Kadin membuka pasar ekspor melalui program kerja sama dengan kota lain yang berada di dekat negara lain seperti Batam dan Balikpapan.

Program Batam sudah berjalan. Beberapa pengusaha mulai memasarkan produknya hingga Singapura dan Malaysia. Dalam waktu dekat Balikpapan akan kami ajak kerja sama“, paparnya.

Menurut Deden, Pemkot Bandung sebaiknya juga memberikan peningkatan dukungan untuk industri kreatif. Pemkot selama setahun terakhir berkonsentrasi untuk mengembangkan lima kawasan industri yaitu Binong Jati, Cihampelas, Cibaduyut, Cigondewah, dan sentra kaos di Jl. Suci.

Padahal, lanjut Deden, terdapat puluhan ribu komunitas dan titik-titik perkembangan industri kreatif yang harus diperhatikan. (Hary Satriawan)

Sumber: Bisnis Indonesia Online

Senin, 04 Februari 2008

BULAN Oktober 2004, United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (Unesco) memperkenalkan program bernama The Creative Cities Network. Melalui program ini, Unesco menjajaki kota-kota di dunia yang memiliki sumber daya kreativitas. Ada beberapa sumber daya kreativitas yang mereka lihat, seperti literatur, sinema, musik, kerajinan tangan dan seni daerah, desain, media arts, dan gastronomi.

Jika kita bicara kota-kota di Indonesia , kita tidak bisa melupakan peran Kota Bandung yang digadang-gadang memiliki sumber daya kreativitas. Bandung punya segalanya dari mulai desain, musik, sinema, film, fashion, kesenian tradisi, komik, kartun, penulis, dan lain-lain. Sebagai contoh, pada 11-13 Agustus 2007, pergelaran Kickfest bisa menghadirkan 307 peserta dari 8 provinsi. Saat itu terdapat 300 ribu pengunjung dengan pendapatan total Rp 4 miliar. Dalam acara tersebut, potensi besar kreativitas berasal dari desain sebesar 47%, seni visual 16%, dan kerajinan (craft) 12%.

Sementara itu, potensi pendapatan bagi pemerintah Provinsi Jawa Barat dari keberadaan industri kreatif ini adalah 11% dari pendapatan daerah (PAD) tahun 2004 sebesar Rp 2,1 triliun. Industri kreatif di Bandung juga berhasil menyerap tenaga kerja sebesar 344.244 orang pada tahun itu. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat tiap tahunnya.

Meski begitu, masih ada beberapa kelemahan seperti minimnya pengetahuan karena kurangnya akses dan cipta kreatif, kurang akses pada teknologi, finansial, dan yang paling penting adalah kelemahan pada infrastuktur ekonomi yang dapat membantu produksi dan distribusi. Selain itu, kurangnya perhatian infrastuktur fisik maupun fasilitasi dari pemerintah.

Persoalan pengetahuan dan akses teknologi masih dapat diatasi dengan kerja-kerja jaringan. Sebut saja contoh gagasan pembentukan Bandung Creative Community Forum. Gagasan ini lahir dari pertemuan aneka pegiat kreativitas di Common Room, Jln. Kyai Gede Utama, Bandung , pada 6 Desember dan 25 Desember 2007.

Forum ini terdiri dari seniman, musisi, pemilik distro, clothing, penulis, akademisi, arsitektur, media massa, seni rupa, dan lain-lain. Forum ini juga mencoba mengajak pemerintah daerah untuk ikut serta memikirkan masa depan dunia kreativitas di Bandung dan Jawa Barat secara umum. Gustaff Iskandar, salah satu penggagas forum ini, mengatakan, peran pemerintah dapat membantu memberikan pelayanan dan membangun infrastruktur bagi dunia kreatif di Bandung, misalnya pembangunan ruang publik dalam jumlah banyak.

Program baru Unesco tentang kota kreatif, sebenarnya menantang Bandung untuk tampil di pentas dunia. Ridwan Kamil, urban designer yang juga pendiri biro Arsitektur Urbane dan pemenang International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006 mengatakan, kelemahan Bandung adalah pada ketidakkompakan pemerintah dengan pegiat kreatif di kotanya sendiri.

Walaupun kehidupan dan kematian kreativitas bukan ditentukan tangan pemerintah, namun adanya aturan main dalam sistem negara membuat hubungan itu menjadi penting. Beberapa kali pertemuan dengan pemerintah daerah menghasilkan gagasan-gagasan penting sampai 2012. Gagasan itu di antaranya membuat pemetaan industri kreatif dan kebijakan yang berpihak pada keberadaan industri kreatif itu sendiri.

Untuk membuka mata dunia terhadap Bandung memerlukan waktu panjang. Tinggal semua pihak mau konsisten berkolaborasi dan bekerja sama. Sebagai bukti adanya konsistensi itu, termasuk niat baik pemerintah, mari saksikan gong kreativitas Bandung pada 2008.

Agus Rakasiwi (kampus_pr@yahoo.com)

Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat

 

November 2009
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

a

Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email