You are currently browsing the tag archive for the 'Craft' tag.

Rabu, 23 April 2008

BANDUNG (SINDO) – Industri kreatif berkembang pesat di Kota Bandung dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Nilai perputaran uang yang mencapai Rp. 79 miliar/bulan membuat Pemkot Bandung mulai berinisiatif untuk melihat potensi industri kreatif. Salah satunya dengan membuat roadmap yang akan berlangsung sampai dengan 2012 mendatang. Kepala Bagian Perekonomian Kota Bandung Ema Sumarna menjelaskan, ada tiga dari 14 item industri kreatif yang menjadi unggulan Kota Bandung, yakni clothing, kuliner, dan craft. Industri tersebut mampu menyerap 650.000 tenaga kerja.

Kenyataannya, industri ini telah ada sejak 10 tahun lalu, tapi baru pada 2008 ini kami mulai membuat kebijakan sebagai bentuk inisiatif. Bentuknya berupa pembuatan roadmap potensi industri kreatif. Apalagi Kota Bandung telah terpilih sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur pada Juli 2007”, jelas Ema kepada SINDO kemarin. Ema mengatakan, proses pembuatan roadmap dimulai tahun ini dengan menginventarisir potensi unggulan dan permasalahan yang terjadi di lapangan.

Tahun depan, Pemkot mulai memikirkan proses institusional untuk berhubungan dengan stakeholder terkait dan asosiasi. ”Sampai akhirnya pada 2012, pelaku di industri kreatif sudah bisa established. Mandiri dalam segi network, pengembangan usaha, dan pemasaran”, ujarnya. Menurut Ema, Kota Bandung sendiri telah menjadi ikon pusat tekstil dan mode. Jumlah distro, salah satu indikator industri kreatif, berkembang pesat dari 200 unit pada 2002 menjadi 400 unit pada 2006.

Sampai saat ini, lanjutnya, setidaknya ada 250 merek distro. Setiap distro dapat memproduksi 2.400 buah dengan rata-rata penjualan 1.625/buah/merek. Dengan rata- rata harga Rp. 50.000/buah, total arus uang yang beredar di Kota Bandung mencapai Rp. 20,3 miliar/bulan atau Rp. 243 miliar/tahun.

Sementara itu, Ketua Kreatif Independent Clothing Komunity (KICK) Tb Fiki Shikara menjelaskan, jumlah pelaku usaha distro di Kota Bandung saat ini mencapai 300 pelaku. Namun hanya 30% yang masuk dalam kategori established, dan baru 90% sudah mematenkan produknya.

Penulis: Evi Panjaitan
Sumber: Koran Seputar Indonesia

Senin, 3 Juli 2006

BANDUNG, (PR).-
Perajin Bandung tidak hanya mengalami kendala permodalan, tetapi juga kekurangan media untuk berpromosi. Akibatnya, hasil kerajinan Bandung jarang dikenal oleh wisatawan. Padahal, jumlah perajin di Bandung mencapai 400 orang, yang masing-masing bisa mempekerjakan minimal dua orang untuk industri kerajinannya.

Masalah modal memang sering dikeluhkan para perajin. Namun, kurangnya publikasi/promosi akan produk yang dihasilkan juga merupakan keluhan lain yang sering dilontarkan para perajin”, kata Kepala Bagian Ekonomi Kota Bandung, Drs. Ema Sumarna, M.Si., Sabtu (1/7) di Pendopo Kota Bandung, seusai konferensi pers mengenai pelaksanaan ”Pesona Kriya Bandung (PKB) 2006”, yang dijadwalkan digelar 4-7 Juli 2006 di Graha Manggala Siliwangi.

PKB 2006 yang digelar Dekranasda Kota Bandung bekerja sama dengan Kaminari Production, akan dibuka Ketua Dekranasda Jawa Barat Ny. Danny Setiawan. Menurut Ketua Pelaksana Pameran, Denny Drimawan, berbagai acara dan aneka lomba disiapkan setiap hari hingga Jumat (7/7). Juga digelar talk show yang menghadirkan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Dr. Setiawan Sabana dan kurator seni rupa, Bambang Subarnas.

Sumbangan Industri Kerajinan ke Produk Domestik Regional Bruto
Industri kerajinan, kata Ema, merupakan potensi Kota Bandung yang harus terus dipromosikan. ”Hasil industri kerajinan Bandung telah memenuhi kualifikasi untuk kualitas ekspor”, ujarnya.

Meskipun Ema tidak menyebutkan nilai rupiah yang dihasilkan oleh industri kerajinan, dia menyebutkan, sumbangan industri kerajinan ke produk domestik regional bruto (PDRB) tidak bisa diabaikan. ”Sektor perdagangan, termasuk kerajinan, nilainya bisa sampai 59% di PDRB.

Apalagi, kerajinan merupakan salah satu sektor industri yang mampu bertahan di tengah iklim ekonomi yang kurang kondusif ini. ”Mereka memang mengalami kendala permodalan, tetapi tetap bisa bertahan dengan pinjaman yang hanya sedikit”, ujar Ema.

Pemkot Bandung menginginkan adanya pembentukan sentra industri kerajinan unggulan di Bandung. ”Karena banyaknya jenis produk, kami perlu menentukan mana yang akan dikembangkan, dilihat dari hasil pameran 4 Juli nanti”, ujarnya.

Kurang Percaya Diri
Sementara itu, kurangnya promosi menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, Drs. H. Muh. Askary Wiranata Atmadja juga disebabkan keengganan para perajin untuk mencatatkan ”Made in Bandung” pada produk mereka. Padahal, hal ini penting untuk identitas produk dan sebagai bukti eksistensi para perajin.

Askary menilai, para perajin kurang percaya diri untuk mencantumkan merek ”Bandung” pada karya mereka karena takut tidak laku. Untuk itu, sekarang para perajin didorong untuk mulai percaya diri dan memberanikan diri mencantumkan ”Made in Bandung” pada karyanya. ”Bisa saja barang hasil karya mereka dijual lagi di luar memakai merek orang luar. Kan, itu merugikan industri kerajinan kita.

Dia memandang perlu dikembangkannya kesadaran akan hak cipta suatu karya kepada para perajin. Jika tidak, hasil karya orang Bandung akan sulit menembus pasar internasional, karena kurang dikenal.

Dia pun mengimbau kepada pemilik hotel maupun restoran yang ada di Bandung untuk mulai membuka kerja sama dengan para perajin dengan memberikan tempat untuk para perajin berpromosi di hotel atau restoran. (A-155)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Minggu, 16 Januari 2005

APA yang Anda bayangkan tentang seni serat? Lembaran kain tebal, berbulu, dengan warna-warni mencolok, dan motif-motif yang mengacu pada nilai-nilai tradisi sebuah suku di pegunungan sana? Kecanggihan anyaman yang tali-temali membentuk benda-benda lengkung atau tas atau membentuk bubu, atau peranti gendong bayi di punggung? Atau kain tebal yang dikoyak-koyak, dicelup, dibubuhi warna secara langsung, dan menghasilkan motif maupun warna yang tumpang tindih?

BANYAK pertanyaan dan beragam pula kemungkinannya. Hal seperti itulah yang diperlihatkan oleh sebuah pameran seni rupa serat kontemporer di Bentara Budaya, Jakarta, yang berlangsung 12-21 Januari 2005. Pameran “Posting Fiber” ini menampilkan karya-karya tempel di dinding, tetapi juga seni instalasi maupun susunan yang meruang dari empat peseni serat. Mereka adalah Biranul Anas, John Martono, Kahfiati Kahdar, dan Tiarma Dame Ruth Sirait.

Begitu beragam, seiring dengan luasnya wilayah pencarian para senimannya. Tampak di ruang pameran sejumlah lembar karya yang menempel di dinding. Ada kesan seperti tapestri, tenunan benang wol, misalnya yang datang dari studio Biranul Anas. Di tangannya, tapestri menjadi hanya bagian dari seluruh karya, yang diisi dengan material lain, seperti goni dan potongan kayu.

Dengan kerja tempel-menempel cukup menonjol, karya-karya Anas di dalam hal ini tetaplah boleh dianggap “lembaran” yang enak dipajang di dinding. Dan, sebagian besar memang menarik, sebutlah itu seperti Pohon Emas, Pohon Terang, atau Rising Sun.

Namun, Biranul Anas juga menyuguhkan karya instalasi. Di sini, ia menggunakan kertas tisu yang dicelup ke dalam cairan kanji yang berdaya rekat tinggi. Kertas-kertas itu kemudian diremas. Sebagian kertas remasan itu dibiarkan, sebagaimana adanya, ditaruh berserak di lantai. Selebihnya ia kembangkan ke luas semula. Kertas remasan yang menjadi cukup kaku ini ia susun lembar demi lembar masing-masing berjarak sekitar satu kaki, dengan benang yang melewati lubang di bagian tengah. Puluhan benang bersusun kertas ini menjulur dari arah atap ruang pamer, langsung menyambut penonton di depan pintu.

Judul karya seni instalasi serat ini, Future Forest 2 (2005) memicu renungan penonton untuk melampaui suguhan visualnya yang mencekam di dalam kembang-kembang kertas serba putih. Penggunaan kertas yang berasal dari batang-batang pohon ini berbanding lurus dengan penebangan hutan, yang di Indonesia telah menghancurkan lingkungan.

Seni serat sudah melangkah jauh meski mungkin perlu lebih sering ditampilkan ke tengah masyarakat agar lebih dikenal“, tutur Biranul Anas yang terus berkarya di tengah kesibukan mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung. Selain dia, ketiga rekannya yang berpameran kali ini berasal dari kampus seni yang sama.

Karya-karya John Martono di dalam “seri” Grow memperlihatkan pergulatan yang tak kalah menarik. Ia antara lain menggunakan kain sutra dipadu dengan berbagai bahan lain seperti poliester.

Sebuah karya seni instalasinya di dalam tajuk serupa sesungguhnya telah benar-benar melumerkan jarak antara serat dan seni rupa ruang. Ia memberi bentukan-bentukan persegi tanpa isi, yang sisi-sisinya dibangun dengan kawat tembaga dan kawat baja dilapis kain. Semua itu ditancapkan di atas base setinggi pinggang di dalam satu jajaran.

Sejumlah kain sutra yang ia warnai langsung terpajang di dinding, memberi tamasya warna dalam jarak pandang cukup jauh. Ia menyodok persoalan ketika berada satu meter di depannya: sebuah proses garap yang bisa jadi cukup intensif, tetapi tidak cukup mudah terapresiasi oleh awam yang umumnya tak mengenal seluk-beluk serat maupun teknik garapnya.

Berbagai persoalan yang katakanlah lebih bermakna internal ini juga menjadi lahan garapan Kahfiati Kahdar lewat sejumlah bahan kain bermotifnya. Dengan bahan dasar kain “sarung” bermotif tradisi, misalnya, ia menaruh berbagai warna keemasan di dalam karyanya Mixing Culture Brown Sarong.

Dengan teknik tertentu, ia membuat kainnya bolong di beberapa tempat, koyak, menyulam benang halus di beberapa bagian, atau menorehkan warna baru, menindih motif yang sudah ada. Ia menggarap lembaran kain yang permukaannya berserabut dan menutupnya sebagian dengan lembaran kain berpermukaan halus di dalam Mixing Culture, White Expression. Bidang berwarna putih di atas putih ini mempermainkan imaji yang memikat.

Di dalam Selamat Siang, Kahfiati menonjolkan kesan bekas “malam” pada motif batik di atas kain berwarna saga. “Saya sangat suka batik“, tutur perempuan yang mengaku melakukan sendiri semua proses pengerjaan kain-kainnya sejak mencelup sampai membubuhi warna langsung.

Pameran ini mendapatkan daya tarik visualnya juga lewat karya Tiarma DR Sirait. Lihatlah sebuah boneka manis berukuran manusia, yang mengenakan gaun sangat lebar yang ujungnya menyentuh lantai. Gaun itu dibuat dari anyaman mendong. Karyanya yang berjudul The Bride in Waiting ini mencekam oleh ukuran besarnya, tetapi kemudian juga mendorong ingatan akan sang pengantin. Gaun pengantin yang biasanya mewah, bisa berharga ratusan juta rupiah, oleh Tiarma dikacaukan dengan mendong yang menyeret kesan akan suasana pedusunan dan alami.

Lihatlah, biarpun dianggap “pinggiran”, dibandingkan dengan seni lukis dan patung seni serat, yang lazim disebut fabric art atau textile art, merupakan lahan bagus untuk melahirkan karya-karya yang kuat. Kurator pameran ini, Aminudin TH Siregar, berpendapat, seni rupa serat merupakan idiom yang mandiri dan sejajar dengan idiom seni rupa yang lain. Tampaknya ia benar meski penampilannya di dalam ruang publik sungguh sangat jarang. (EFIX)

Sumber: Kompas

Kamis, 31 Agustus 2006

Photobucket

BANDUNG, (PR).-
Para perajin Jawa Barat kini dapat memamerkan hasil kerajinan unggulannya di Jabar Craft Center (JCC) di Jalan Ir. H. Juanda, Bandung. Gedung yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, Rabu (30/8), itu merupakan wadah promosi bagi para perajin di Jawa Barat untuk memamerkan produk kerajinannya. GUBERNUR Jabar Danny Setiawan (tengah) didampingi Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan (ke-2 kanan), mencoba memainkan gitar saat peninjauan seusai meresmikan Gedung Jabar Craft Center Dekranasda Provinsi Jawa Barat di Jln. Ir. H. Djuanda Bandung, Rabu (30/8).*ANDRI GURNITA/”PR”

Bisa Menjadi Wadah Promosi Bagi Para Perajin
Kehadiran gedung pameran untuk kerajinan, disambut gembira para pelaku industri kerajinan, apalagi selama ini mereka sangat menanti-nanti kehadiran ruang pameran, sebab melalui pameran dinilai jadi tempat yang ideal untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.

Pemilihan lokasi JCC di Jalan Ir. H. Juanda (Dago), pun menurut Wakil Ketua Umum Bidang UKM, Perbankan dan Kemitraan Kamar Dagang Industri (Kadin) Jabar, Agung S. Soetisno, sangat tepat. Selain representatif, kawasan ini komersial dan terkenal di luar Bandung. Diharapkan, lokasi yang tepat ini dapat dimanfaatkan para wisatawan yang berkunjung dan melihat sejumlah kerajinan daerah yang ada di Jabar melalui JCC.

Pentingnya ruang pameran itu juga diakui Direktur Jenderal Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Sakri Widhianto. Menurutnya pameran, merupakan salah satu bentuk promosi yang paling efektif. Dengan adanya tempat khusus sangat dimungkinkan dikunjungi masyarakat banyak termasuk wisatawan.

Apalagi dikatakan Sakri, meski kualitas produk kerajinan kita termasuk unggulan, beberapa perajin dinilai masih belum memiliki skill untuk memasarkan produk kerajinannya. Akibatnya, masalah pemasaran produk menjadi kendala utama para perajin.

Selain itu, apresiasi para perajin terhadap hasil karyanya pun perlu dituangkan dalam bentuk hak cipta akan produk tersebut. “Kalau perajin mempunyai hak cipta akan produknya, tidak ada orang lain yang akan mengklaim produk tersebut,” tutur Sakri.

Menurut dia, yang diperlukan para perajin yakni agresivitas untuk menangkap peluang pasar yang terbuka lebar. Tugas pemerintahlah untuk membimbing para perajin tersebut agar mampu memasarkan produk kerajinannya. Para perajin juga diharapkan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi mereka, sehingga mereka juga siap menerima pesanan dalam jumlah yang besar.

Sentuhan Iptek
Sementara itu Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan usai meresmikan JCC mengatakan, potensi yang dapat dikembangkan dalam industri kerajinan sebagai sumber penghidupan yang layak bagi masyarakat sangat besar. Namun, potensi-potensi itu tidak akan menjadi potensial sepanjang tidak dikelola dengan baik.

Menurutnya di era informasi saat ini, berbagai potensi lokal akan sulit berkembang jika kurang mendapat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), baik dalam aspek produksi, pengemasan, promosi dan pemasaran hingga manajerial .

“Sentuhan iptek sangat penting sebab dari sisi komoditas, cukup memiliki prospek yang menjanjikan karena didukung ketersediaan bahan baku, keanekaragaman seni dan budaya sebagai sumber inspirasi produk. Selain itu didukung lembaga perguruan tinggi, lembaga penelitian serta semakin terbukanya peluang pasar di dalam maupun di luar negeri.

Hadir pada peresmian itu, Direktur Jenderal Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Sakri Widhianto, Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jabar Hj. Rinania Danny Setiawan, Sekretaris Daerah Jawa Barat Lex Laksamana Zainal, Wali Kota dan Bupati Bandung, pengurus Dekranasda Kab./Kota se-Jawa Barat dan undangan. (A-155/A-134)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Kamis, 22 Juni 2006

Pertumbuhan industri kecil di bidang kerajinan tangan yang dikerjakan ibu-ibu rumah tangga semakin meningkat 10- 20 persen per tahun. Biaya kebutuhan hidup yang semakin besar mengharuskan ibu rumah tangga mencari sumber penghasilan lain untuk keluarga.

Menurut Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jabar Ina Primiana, semakin banyak ibu rumah tangga terjun dalam bisnis kerajinan tangan. Kondisi perekonomian memaksa mereka mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Pertumbuhannya sangat pesat, perbandingan laki-laki dan perempuan satu banding dua. Namun, produksi mereka masih barang-barang untuk memenuhi kebutuhan domestik keluarga, seperti kerajinan tangan hiasan rumah, aksesori, dan fashion“, kata Ina, Selasa (20/6) di Bandung.

Sekretaris Asosiasi Ekspor dan Produsen Handycraft Indonesia (ASEPHI) Jabar Elina Farida Eksan Alfonso menjelaskan, pasar utama produk kerajinan tangan itu adalah ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitarnya.

Saat ini, kata Elina, 70 persen perajin kerajinan tangan adalah perempuan, atau ibu-ibu rumah tangga. Bisnis kerajinan tangan ini dipilih ibu rumah tangga karena pekerjaan ini tidak mengharuskan mereka meninggalkan rumah selama bekerja.

Modal usaha bisnis ini bergantung pada kapasitas produksi, jenis bahan baku, peralatan dan mesin yang digunakan, serta lama produksinya. Menurut Elina, modal bisnis kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga Rp 5 juta-Rp 10 juta.

Balik modalnya bergantung modal dan jenis produksinya. Yang modal kecil, tidak menggunakan mesin, BEP (break event point)-nya sekitar enam bulan sampai setahun. Yang pakai mesin butuh waktu tiga tahun“, katanya.

Sektor Riil
Koko Zakaria, Humas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, mengakui, dalam setahun perempuan yang berbisnis kerajinan tangan meningkat 10-20 persen. Umumnya perajin di kota memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan usahanya, seperti pendidikan keramik atau menjahit, sehingga peningkatan keterampilan mengarah pada kualitas dan diversifikasi produk.

Sementara menurut Kepala Bidang Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Bandung Ananda Pulungan, bisnis ibu-ibu rumah tangga mampu meningkatkan sektor riil dan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.

Ananda menjelaskan, permasalahan utama yang dihadapi ibu-ibu rumah tangga bukan modal, melainkan manajerial produksi dan pemasaran. Sistem produksi yang dilakukan masih berorientasi pesanan, tidak berdasarkan pada standar mutu dan kapasitas produksi. Manajemen keuangan tidak ketat antara keuangan perusahaan dan uang pribadi. Perajin yang mampu mengekspor, kata Ananda, adalah yang telah memanfaatkan teknologi dan manajemen pemasaran yang luas serta berkesinambungan.

Sebenarnya, tutur Ina, kerajinan tangan asal Jabar diminati pasar luar negeri. Namun, belum dilakukan promosi dan penyediaan pasar untuk memamerkan produk tersebut. “Di Jabar peluang masih besar, tetapi belum ada pasar yang khusus menjual atau memamerkan produk kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga itu. Ibu-ibu itu tidak bisa terbebani dengan masalah pemasaran karena waktunya habis untuk berproduksi“, kata Ina. (THT)

Sumber: Kompas/ Disperindag Jabar

 

November 2009
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

a

Top Clicks

  • None
Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email