You are currently browsing the tag archive for the ‘Clothing’ tag.

Rabu, 23 April 2008

BANDUNG (SINDO) – Industri kreatif berkembang pesat di Kota Bandung dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Nilai perputaran uang yang mencapai Rp. 79 miliar/bulan membuat Pemkot Bandung mulai berinisiatif untuk melihat potensi industri kreatif. Salah satunya dengan membuat roadmap yang akan berlangsung sampai dengan 2012 mendatang. Kepala Bagian Perekonomian Kota Bandung Ema Sumarna menjelaskan, ada tiga dari 14 item industri kreatif yang menjadi unggulan Kota Bandung, yakni clothing, kuliner, dan craft. Industri tersebut mampu menyerap 650.000 tenaga kerja.

Kenyataannya, industri ini telah ada sejak 10 tahun lalu, tapi baru pada 2008 ini kami mulai membuat kebijakan sebagai bentuk inisiatif. Bentuknya berupa pembuatan roadmap potensi industri kreatif. Apalagi Kota Bandung telah terpilih sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur pada Juli 2007”, jelas Ema kepada SINDO kemarin. Ema mengatakan, proses pembuatan roadmap dimulai tahun ini dengan menginventarisir potensi unggulan dan permasalahan yang terjadi di lapangan.

Tahun depan, Pemkot mulai memikirkan proses institusional untuk berhubungan dengan stakeholder terkait dan asosiasi. ”Sampai akhirnya pada 2012, pelaku di industri kreatif sudah bisa established. Mandiri dalam segi network, pengembangan usaha, dan pemasaran”, ujarnya. Menurut Ema, Kota Bandung sendiri telah menjadi ikon pusat tekstil dan mode. Jumlah distro, salah satu indikator industri kreatif, berkembang pesat dari 200 unit pada 2002 menjadi 400 unit pada 2006.

Sampai saat ini, lanjutnya, setidaknya ada 250 merek distro. Setiap distro dapat memproduksi 2.400 buah dengan rata-rata penjualan 1.625/buah/merek. Dengan rata- rata harga Rp. 50.000/buah, total arus uang yang beredar di Kota Bandung mencapai Rp. 20,3 miliar/bulan atau Rp. 243 miliar/tahun.

Sementara itu, Ketua Kreatif Independent Clothing Komunity (KICK) Tb Fiki Shikara menjelaskan, jumlah pelaku usaha distro di Kota Bandung saat ini mencapai 300 pelaku. Namun hanya 30% yang masuk dalam kategori established, dan baru 90% sudah mematenkan produknya.

Penulis: Evi Panjaitan
Sumber: Koran Seputar Indonesia

Kamis, 3 April 2008

SAYA masih teringat, Bandung 18 tahun yang lalu sangat antusias dengan kemunculan Sex Pistols Night. Sebuah event di luar pentas seni (pensi) yang diadakan oleh komunitas punk. Seolah event itu sangat monumental bagi banyak anak remaja di masa itu, yang hanya bisa mengapresiasi jenis musik punk melalui kaset yang direkam dari CD orisinal, dibeli dari luar negeri ataupun pesan di muka dengan waktu yang sangat lama di toko musik. Koor lagu 99 Red Balloons masih terasa hingga kini.

Masih ingat dalam benak saya setelah event itu, Hullabalo membuat GOR Saparua menjadi ikon bagi pergelaran musik keras di Bandung. Dari gedung olah raga itu, lahirlah band-band seperti Sendal Jepit, BurgerKill, atau Puppen, yang mungkin telah menjadi legendaris di mata anak remaja sekarang.

Scene dan event yang berakar dari komunitas indie Bandung, kini tumbuh sangat pesat. Banyak band indie Bandung yang telah menjadi band nasional. Bandung menjadi magnet bagi pertumbuhan budaya kreatif di Indonesia. Dari event-lah semuanya bisa berkembang. Dunia kreatif kini merambah menjadi majalah, musik, clothing, distro, dll. Yang disajikan jauh lebih mapan dibandingkan dulu. Ya, kini semuanya telah menjadi industri.

Jadi “virus”
Semangat kreatif Bandung tidak tumbuh sendirian. Sebaliknya, dia menjadi virus bagi anak muda di kota lainnya. Bandung menjadi merek kreatif yang bisa dibisniskan di kota lain. Sebuah attitude yang dijual dengan produk yang dihasilkannya. Produk-produk dengan citra (image) budaya dari Bandung, kini sangat laku terjual di kota-kota lain. Visi ke depan adalah memberi cara pandang kreativitas dalam arti yang baru, independen. Berkreasi, berbisnis, menjual, dan bersenang-senang.

Di Surabaya budaya skateboard pernah sekali digelar oleh perusahaan clothing luar seperti Volcom dengan Jamorama-nya, untuk mengembangkan budaya skateboard yang lebih dulu maju di Amerika. Acara itu diadakan di jalanan dan menghadirkan Superman is Dead sebagai bintang tamu.

Event tersebut dapat menarik perhatian anak muda Surabaya. Hasilnya, seorang skater asal Surabaya, Nasa diminta untuk menjadi rider resmi dari brand tersebut. Selain itu, ia juga menyokong acara-acara komunitas skateboard dengan produk-produknya. Dari sinilah budaya skateboard berkembang hingga tercipta skatepark di Taman Bungkul dan beberapa komunitas skate baru.

Sejak tahun 2005 hingga saat ini, Bandung masih memberikan sumbangsih berupa produk-produk garmen anak mudanya di Surabaya. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan masuknya budaya kreatif Bandung di sini. Anak-anak muda Surabaya masih belum berani untuk berkreasi dan menjual hasil kreasinya kepada masyarakat. Event yang diadakan pun masih dalam bentuk pensi-pensi yang mengingatkan saya pada Bandung di tahun 1995. Tiga tahun terakhir ini, saya melihat perkembangan budaya anak muda tumbuh dengan pesat. Beberapa clothing lokal bermunculan, seperti Cuatro, Qlutch, Klover, Lolippop, dan lainnya.

Event independen pun kini mulai bermunculan, seperti Brother to Brother yang telah digelar hingga tujuh kali, Prambors Club Tuesday (event mingguan), pameran artwork, Surabaya Hardcore, dan banyak lagi yang tidak bisa disebut satu per satu. Sepertinya, budaya yang telah ada di Bandung mulai masuk ke Surabaya karena apa yang ditawarkan oleh budaya itu sangat cocok dengan keadaan anak muda. Bebas berkreasi dan menguntungkan secara finansial.

Masuknya gaya fashion Bandung ke Surabaya dimulai pada 2005, ketika Cosmic (clothing Bandung) mulai memasarkan produknya di Surabaya. Bagi Surabaya dan Cosmic tentu sebuah prospek yang bagus. Dengan ikatan untuk mengembangkan budaya dan bisnis yang ada di Surabaya, Cosmic ingin berbuat sesuatu bagi perkembangan kreativitas dan tentu hal ini bukan perkara yang mudah. Berbagai event digelar untuk meraih pasar dan mengakomodasi kreativitas remaja Surabaya. Event terkini yang digelar adalah Joy Invasion di Lapangan Basuki Rahmat, pada 1-3 Februari 2008.

Surabaya memang sempat terkenal dengan band rock-nya yang bermain di arena mainstream, seperti Power Metal, Boomerang, Dewa 19, Padi, dan lainnya. Tetapi, kini, bukan hanya band seperti itu yang bisa unjuk gigi. Melalui Joy Invasion, berbagai genre musik mulai naik ke permukaan. Anak muda Surabaya kini lebih variatif lagi untuk memainkan musiknya. Dan wadah yang ada pun kini semakin beragam.

Melalui event-event itu, potret-potret budaya anak muda satu-persatu terkumpul. Hingga kita jenuh dan merasa bahwa kuantitas event yang berlebih bisa membuat semuanya seperti tampak murahan. Surabaya membutuhkan suatu event yang berbeda, bukan hanya kuantitasnya. Surabaya butuh suatu kesadaran bersama, budaya ini milik bersama. Bukan budaya Bandung yang dikembangkan di sini. Tetapi kreativitas yang ter-stimuli dari rintisan event semenjak dulu yang dilakukan di Bandung (entah sadar atau tidak) sudah merangsang semuanya untuk berkreasi. Harus ada eksklusivitas dan stimuli untuk meyakinkan bahwa budaya bukan hanya dimainkan setiap hari, tapi juga harus ditunggu-tunggu oleh penikmatnya. Harus ada kelas yang berbeda dari budaya yang dibuat asal-asalan hanya karena tuntutan ekonomi semata. Bahkan kalau bisa melapaui event independen yang telah ada. Sebuah event yang sangat monumental dan ditunggu.

Surabaya memang bukan Bandung. Tetapi, virus kreatif dari Bandung sudah ditularkan melalui budayanya. Kini sepertinya budaya kreatif bisa menjadi milik bersama. Walaupun asalnya dari Bandung, ia bisa berkembang di mana saja.

Penulis: Aulia Mauludi (Penggiat kegiatan anak muda di Surabaya)
Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Selasa, 6 November 2007

JAKARTA, KOMPAS- Sektor industri kreatif mengalami peningkatan dari 5,6 persen mencapai 7,3 persen dengan pemasukan terbesar dari bisnis fashion. Melihat perkembangan yang demikian signifikan, pemerintah melalui Departemen Perindustrian bersedia memfasilitasi pinjaman kredit ke sejumlah bank bagi 300 unit usaha distro.

Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widhianto mengungkapkan hal itu dalam pameran Distro & Clothing Fiesta di Jakarta, Selasa (06/11). Menurut dia,dengan program penyaluran kredit koperasi dan UKMK, pengusaha industri alternatif seperti distribution outlet (distro) dapat mengajukan kredit tanpa harus memberikan agunan.

Sakri menambahkan, dari 1.000 unit usaha distro yang ada, sekitar 300 unit usaha layak mendapat pinjaman kredit usaha. “Untuk sementara, pinjaman kredit akan diberikan kepada produsen produk distro dan fashion yang potensial berkembang”, ujar dia.

Permohonan kredit dapat dilaksanakan secara langsung atau sendiri-sendiri. Namun, melalui asosiasi pengusaha distro, Departemen Perindustrian akan memfasilitasi pinjaman tersebut. Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Fiki Chikara Satari memaparkan, saat ini berkembang 100 distro dengan 1.000 unit usaha yang tersebar di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, bahkan Papua. “Dari seribu unit usaha itu, kami meraup omset sebesar 22 miliar per bulan”, ungkap Fiki.

Sumber: Kompas

Senin, 31 Maret 2008
DUNIA sedang diterjang gelombang industri kreatif. Negara-negara adidaya seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan lainnya, kini berupaya mendongkrak potensi dan kemampuan mereka dalam industri ini, sebagai penopang perekonomian berbasis kemasyarakatan. Sementara, saya tinggal di Bandung, salah satu kota yang sudah dengan sendirinya merupakan “Kota Kreatif”, yang karenanya memiliki potensi luar biasa dalam industri ini.

Pendapat itu bukanlah angan-angan. Bertahun-tahun sudah saya dan rekan-rekan menggeluti bidang ini, di mana tanpa disadari selain mencari nafkah, kami mendedikasikan hidup demi menjadikan industri kreatif sebagai penopang perekonomian masyarakat yang juga berbasis kemasyarakatan. Sedari awal saya sudah meyakini bahwa Bandung memiliki potensi untuk itu–tanpa melebih-lebihkan fakta yang ada.

Keyakinan bermodalkan pengalaman itu kian kuat, setelah saya mendapatkan kesempatan untuk melongok perkembangan industri kreatif di Inggris Raya dengan undangan dari The British Council dalam program bernama “The Catalyst”. Bersama pengusaha, seniman, wakil pemerintah, dan insan media dari delapan negara lainnya, saya mengelupaskan kulit kreativitas orang Inggris di tiga kota andalan industri kreatif mereka yaitu London, Bristol, dan Glasgow (Skotlandia).

Terus terang, dalam berbagai pengamatan, diskusi, seminar, dan sebagainya selama mengikuti program yang difokuskan untuk industri kreatif tersebut, tak hilang gumaman saya dalam batin, “begitu beruntungnya Bandung”

Bagaimana mungkin, saya tidak merasa demikian sedangkan saya menyaksikan bagaimana pemerintah negara-negara adidaya seperti Inggris, begitu serius, untuk menghidupkan industri kreatif di negaranya. Mereka memfasilitasi berbagai hal “termasuk berinvestasi” untuk membangkitkan minat para pelaku usaha di tingkat akar rumput, untuk menjadikan industri kreatif sebagai penopang perekonomian mereka.

Setidaknya terdapat 27 organisasi dan instansi dibentuk untuk mendukung pengembangan industri kreatif. Organisasi tersebut, tersebar mulai dari skala kota sampai dengan skala nasional dan mereka semuanya berlomba-lomba dalam menumbuhkan bisnis, meningkatkan keterampilan dan kemampuan, serta berinvestasi dalam inovasi. Mereka juga giat dalam menggapai pasar, menginterkoneksikan komunitas-komunitas, sampai kepada mempromosikan wilayah kerja mereka.

Mereka senantiasa menyebarluaskan karya, inovasi, dan produk mereka ke seantero penjuru kota, mereka mendirikan galeri-galeri hampir di setiap jalan, dan mendayagunakan bangunan-bangunan tua–tanpa mengubah bentuk fisiknya–untuk dijadikan kantor-kantor kecil agar komunitas-komunitas kreatif dapat beraktivitas mengembangkan diri secara optimal.

Melihat gelagat yang mereka lakukan, sungguh kekaguman saya mencuat. Apa yang saya lihat di seluruh pelosok negara Inggris, sebenarnya saya lihat juga di Bandung, bahkan Bandung memiliki potensi yang jauh lebih besar daripadanya. Bedanya, mereka sudah berjalan sedangkan potensi Bandung masih tercerai berai, dalam pergerakan individual yang cenderung sporadis dengan arah positif masing-masing.

Para pelaku industri kreatif sudah ada dan cenderung untuk berkembang, pasarnya juga ada dan sangat siap menyerap produknya. Kini, tinggal masalah sumber pendanaan yang tadi sudah ada salah satu alternatif jawabannya. Masalah berikutnya, tinggal bagaimana memecah prosedur agar dapat terasa ideal bagi semua pihak. Saya pikir ini dapat dipecahkan, jika kita sudi untuk duduk di satu meja untuk menyatukan visi dan misi program pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.

Tengoklah Inggris barang sejenak, bagaimana mereka berupaya begitu keras untuk menggerakkan para pelaku industri kreatif di tingkatan akar rumput, sebagai ujung tombak perekonomian masa depan. Dengan sangat disadari, peningkatan pertumbuhan dan perkembangan industri kreatif di tingkatan akar rumput ini, telah sukses menjawab berbagai permasalah sosial yang timbul dalam tatanan masyarakat modern. Angka pengangguran yang menukik tajam, mengakibatkan berkurangnya kriminalitas dan tindak kekerasan dalam masyarakat.

Sebagai contoh, di London Timur kini hampir tak mengenal istilah “geng motor”, nyaris tak ada lagi insan muda yang berhasrat untuk menjadi preman, dan angka pencurian kendaraan bermotor menurun drastis (sampai 33% dalam kurun satu tahun saja). Pengembangan industri kreatif ini, telah berhasil mengoptimalisasi public space, dalam penggunaannya sebagai sarana berbagai kegiatan positif yang jelas-jelas menghasilkan. Kini, industri kreatif juga memainkan peranan vital dalam bidang pariwisata, karena kegiatan-kegiatannya begitu ragam dan kaya dalam unsur seni dan hiburan. Industri kreatif terbukti mampu mengundang para wisatawan lokal dan mancanegara, serta mampu meningkatkan angka wisawatan yang kembali lagi (returning visitors).

Sekarang, tengoklah lagi Bandung yang kita cintai ini.

Bandung yang berkembang hanya secara alamiah dengan segala potensinya, telah menjadi tempat di mana tingkatan akar rumput tumbuh subur dan menggurita. Sayangnya, karena dibiarkan membesar tanpa dukungan pihak lainnya, pada level tertentu akan dirasakan mendapatkan beberapa masalah. Salah satu contohnya adalah salah satu komunitas musik dari daerah Bandung Timur, yang lahir belasan tahun silam, berupaya untuk tumbuh dan berjuang hidup sendirian. Mereka yang selama ini ada dalam kedamaian, terpaksa terpotret oleh masyarakat hanya karena terjadinya satu tragedi yang bersifat musibah.

Sangat disayangkan bahwa tragedi ini telah mendapat reaksi tidak proporsional dari berbagai pihak. Adakah yang menyadari reaksi semacam ini kontan mematikan salah satu poros perekonomian masyarakat? Prosedur perizinan yang dibuat bertingkat dan berlapis, kian memersulit mereka untuk menggelar hajatan-hajatan setingkat akar rumput yang bermodal tipis dan kering. Benarkah kita sudah berkaca pada cermin yang tepat untuk menelaah tragedi tersebut? Bukankah selalu ada dua sisi–dan mungkin lebih–pada setiap permasalahan?

Coba barang sejenak renungkan bagaimana mereka telah berjuang untuk dapat hidup dan berkembang selama belasan tahun, dengan cara saling membantu sesama kawan untuk sama-sama mendapatkan penghasilan. Adakah di antara Anda yang mengetahui bahwa mereka tengah berusaha untuk menyebarluaskan karya tangan sampai melintasi batas-batas wilayah negara?

Di Skotlandia sana, masyarakatnya begitu berbangga hati lantaran mereka mampu membuat satu pergelaran industri kreatif dengan nama “Six Cities Festival”. Setelah persiapan selama satu tahun, hajatan tiga pekan tersebut dihadiri 300.000 pengunjung. Sedangkan dalam era yang sama, orang Bandung memiliki perhelatan industri kreatif sejenis dengan nama “KICK-Fest”, yang dipersiapkan hanya dalam tempo singkat, namun dihadiri jumlah pengunjung yang sama dalam waktu hanya tiga hari saja.

Dari sekian banyak organisasi dan institusi di Inggris, beberapa di antaranya menjalankan fungsi sebagai simpul kreatif, salah satunya di kota Bristol bernama Watershed yang fokus pada pengembangan pusat media, di mana dengan dukungan pemerintah 3,5 juta poundsterling atau setara Rp 60 miliar untuk membangun infrastruktur serta fasilitas, mulai dari teater, ruang konferensi, kafe untuk komunitas kreatif, dan lainnya begitu repot untuk mencari dan mengumpulkan pelaku kreatif untuk mengimplementasikan program-programnya.

Di Bandung, kita memiliki organisasi sejenis seperti Common Room, dengan kemandirian tentunya secara fasilitas dan kemampuan kapital terlalu jauh untuk disamakan dengan Watershed. Setiap tahunnya mereka memiliki belasan program mulai dari pameran, diskusi, pelatihan sampai dengan penguatan jejaring dengan simpul kreatif lainnya mulai dari Asia, Eropa, sampai dengan Amerika. Sedikit fakta yang menarik untuk dibandingkan.

Kini, kita tinggal memusatkan perhatian dan upaya pada bagaimana mencuri perhatian masyarakat konsumen dari luar Bandung dan menggiringnya ke sini secara berkesinambungan. Bandung, kini memang telah menjadi tempat yang begitu menarik wisatawan, karena inisiasi long weekend yang bertubi-tubi dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun, sampai kapankah hal ini akan terus berlangsung? Saya meyakini, sebagaimana terjadi di seluruh dunia, pertumbuhan industri kreatif Bandung dan “pesta” komunitasnya adalah jawaban yang paling pas.

Belum lagi jika kita membicarakan mengenai topik terhangat Bandung satu dekade terakhir: Kemacetan yang membahana. Industri kreatif juga mampu menjawab permasalahan ini dengan sangat cerdas dan cergas. Faktanya adalah: Jika seluruh mobil berpelat nomor “D” dibariskan, maka panjang total ruas jalan di Kota Bandung tidak dapat menampung bahkan setengahnya saja. Ini belum termasuk mobil-mobil dari luar daerah, yang semenjak hadirnya jalan tol Cipularang telah menjadi salah satu komponen semipermanen jalanan Kota Bandung.

Seandainya saja komunitas industri kreatif, diizinkan untuk mengolah ruang-ruang publik dengan cara menampilkan dan menggelar karya seni mereka di sana. Seandainya saja nuansa arsitektur bangunan kuno yang sangat “Bandung” diperkuat. Dan seandainya karya seni fungsional ditebar di titik-titik konsentrasi massa. Maka seluruh pelosok Kota Bandung akan terlalu asyik untuk dinikmati. Sehingga, para wisatawan punya alasan kuat untuk tidak bermobil di Bandung, karena mereka ingin menikmati beragam tontonan yang berbeda di setiap titik. Minimal apabila takdir berkendara dalam situasi macet, mereka dapat menikmatinya dengan pengalaman yang dapat kita semua rencanakan sebagai pemilik kota. Pada akhirnya, Bandung sebagai “Kota Kreatif” adalah satu kenyataan faktual.

Apalagi potensi kreativitas Kota Bandung, memang begitu lengkap dengan kekayaan dan keberagaman dalam musiknya, desain, seni rupa, arsitektur, penulisan kreatif, penerbitan dan media, film dan animasi, budaya lokal tradisionalnya, sampai ke pengembangan peranti lunak dan gamesnya. Ketika negara lain di seluruh dunia sibuk mencari, mengorek-ngorek, dan mengais-ngais–sampai harus melakukan duplikasi dari negara lain untuk kemudian diklaim sebagai karya lokalnya–Bandung justru telah memiliki semua itu.

Maka salahkah saya jika mengatakan bahwa Bandung memiliki potensi untuk menjadi kiblat industri kreatif, minimal di antara negara berkembang di dunia?

Pertanyaannya adalah, kapankah seluruh pelaku dan komponen pendukungnya menyadari bahwa mereka adalah “para pemegang saham” Kota Bandung? Karena, hanya dengan itulah mereka dapat berkolaborasi dengan sepenuh hati, ikhlas, dan bertoleransi, demi menjadikan Bandung sebagai Kiblat industri kreatif dunia.

Saya begitu bersyukur dan berbangga bahwa saya dilahirkan dan dibesarkan di Kota Bandung. Semoga apa yang saya lakukan dapat menjadi kontribusi kepada kota ini dan masyarakatnya.

Penulis: Fiki Chikara Safari (Creative Entrepreneur, Airplane System)
Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Senin, 16 Juli 2007

Bandung, Kompas – Produktivitas sejumlah distribution outlet atau distro di Kota Bandung terhalang keterbatasan dan kecanggihan mesin sablon. Padahal, kualitas produksi dan desain kaus ataupun pakaian jadi dari distro-distro di Bandung sebanding dengan kualitas pakaian impor asal Amerika Serikat.

Menurut Yulius Dwi Putra, Bagian Promosi CV Lintas Arassy Indonesia, produsen kaus dengan label Airplane, Jumat (13/7), teknologi mesin-mesin yang ada jauh tertinggal dengan yang dimiliki negara lain. Kualitas produk tidak kalah sebab grafis-grafis dan desainer yang bagus-bagus tersedia dan tidak kalah dengan grafis luar negeri.

Produksi satu jenis desain tidak bisa dalam jumlah yang banyak, bahkan harus mengantre atau bergiliran dengan pemilik label yang lain. Sebab, umumnya penyablonan desain kaus dari sebuah label dikerjakan secara maklun oleh perajin sablon yang menerima pesanan sablon tidak dari satu label. Pengerjaannya pun bersifat produksi rumahan (home industry).

Akan tetapi, keterbatasan kapasitas produksi membuat produksi pakain dan kaus distro lebih eksklusif. Nilai eksklusivitas tersebut merupakan ciri khas distro yang tetap dipertahanakan. Umumnya, satu desain hanya diproduksi 100-200 lembar kaus. Jumlah itu harus disebarkan secara merata ke beberapa outlet, khususnya bagi label yang mempunyai lebih dari satu outlet di beberapa kota. Pembajakan desain

Sementara itu, menurut Public Relation and Promotion Ouval Irfan Bijaksana, masalah terbesar yang merugikan distro adalah pembajakan desain. Sejumlah distro ataupun pemilik label sempat dibuat jengkel dengan maraknya penjualan produk-produk kaus bajakan yang desainnya sama persis atau meniru sebagian desain ciptaan distro.

Irfan mengaku, belum ada upaya melaporkan pembajakan produk tersebut ke pihak berwajib ataupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan. “Saya sempat bingung, mana yang asli dan mana yang bajakan. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan lebih dari dalam distro, yaitu mempercepat perputaran desain. Maka, kita tahu produk mana yang dibajak“, kata Irfan.

Yulius mengatakan, pasar luar negeri memang menjanjikan, tetapi belum tergarap optimal. Sebab, distro terkadang kesulitan memenuhi permintaan konsumen asing dalam jumlah besar dengan tenggat waktu yang sempit. Dia mencontohkan, dalam sebulan penjualan ke luar negeri hanya sebesar Rp 5 juta, sedangkan pasar lokal bisa mencapai Rp 500 juta.

Distro merupakan salah satu bentuk industri kreatif yang diciptakan anak muda Bandung, dan bertahan hingga kini. Pertumbuhannya sempat meroket sekitar empat-lima tahun lalu. Jumlah distro di Bandung diperkirakan mencapai 300 outlet. (THT)

Sumber: Kompas

September 2014
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.