You are currently browsing the daily archive for April 16, 2008.

Pelaksanaan pengadaan Focus Group Discussion (FGD) pada bulan Mei mendatang semakin dikonsep secara serius. Rencananya FGD akan dilangsungkan pada tanggal 12-15 Mei 2008. Sebelum memulai perencanaan pembentukan FGD, tim dari SP perlu mengetahui gambaran awal akan kondisi industri kreatif di Bandung. Oleh karena itu, Yasmin Kartikasari, salah seorang dari tim SP yang sedang membuat tesis dengan tema industri kreatif, diminta untuk mempresentasikan (gambaran) tesisnya.

Tesis Yasmin sendiri memfokuskan pada 3 penggolongan industri kreatif, yaitu (independent) Clothing, Musik, dan Film. Presentasi dimulai dengan menjelaskan mengenai tujuan tesis yaitu menemukan variable dan aktor-aktor yang berperan dalam jaringan industri kreatif di Bandung, serta peran masing-masing dan relasi yang terbentuk diantara mereka dan ditutup dengan menayangkan beberapa foto kegiatan kreatif yang terjadi di Bandung dalam kurun waktu 6 bulan kebelakang.

Berangkat dari gambaran tersebut, akhirnya muncul beberapa pertanyaan umum yang akan diajukan pada saat FGD mendatang, diantaranya adalah:

  1. Bagaimana proses penyebaran pengetahuan di dalam perkembangan industri kreatif termasuk dalam kaitannya dengan pekerja (tempat produski/vendor)?
  2. Bagaimana para pelaku (komunitas/bisnis) menyikapi akan aktivitas jual/beli yang hanya peak pada weekend ataupun liburan panjang? (Bandung yang masih bergantung pada wisatawan Jakarta yang datang ke Bandung)?
  3. Apa saja hambatan yang dihadapi dalam pengembangan industri kreatif?
  4. Lembaga mana saja yang membantu pengembangan usaha?
  5. Apa visi/misi/rencana jangka panjang para pelaku (komunitas/bisnis)?
  6. Bagaimana hubungan antara pelaku (komunitas/bisnis)?
  7. Bagaimana hubungan industri kreatif yang ada di Bandung dengan budaya lokal/tradisional?

Hingga akhirnya melakukan perombakan pada TOR dengan mengganti tujuan dan ouput awal. Akhirnya disepakati tujuan pengadaan FGD ini adalah menjembatani (mengkomunikasikan) para/sesama stakeholders dalam mengembangkan industri kreatif, merumuskan pengembangan kebijakan industri kreatif di Jawa Barat, Bandung pada khususnya, mengetahui potensi dan kendala yang dihadapi oleh pelaku industri kreatif di Bandung. Sedangkan output yang ingin dicapai adalah tersusunnya peta isu industri kreatif yang berkaitan dengan para stakeholder, mencakup kondisi yang telah ada, kondisi yang diharapkan dan pengembangan kebijakan.

Penulis: Yasmin Kartikasari

Kamis, 3 April 2008

SAYA masih teringat, Bandung 18 tahun yang lalu sangat antusias dengan kemunculan Sex Pistols Night. Sebuah event di luar pentas seni (pensi) yang diadakan oleh komunitas punk. Seolah event itu sangat monumental bagi banyak anak remaja di masa itu, yang hanya bisa mengapresiasi jenis musik punk melalui kaset yang direkam dari CD orisinal, dibeli dari luar negeri ataupun pesan di muka dengan waktu yang sangat lama di toko musik. Koor lagu 99 Red Balloons masih terasa hingga kini.

Masih ingat dalam benak saya setelah event itu, Hullabalo membuat GOR Saparua menjadi ikon bagi pergelaran musik keras di Bandung. Dari gedung olah raga itu, lahirlah band-band seperti Sendal Jepit, BurgerKill, atau Puppen, yang mungkin telah menjadi legendaris di mata anak remaja sekarang.

Scene dan event yang berakar dari komunitas indie Bandung, kini tumbuh sangat pesat. Banyak band indie Bandung yang telah menjadi band nasional. Bandung menjadi magnet bagi pertumbuhan budaya kreatif di Indonesia. Dari event-lah semuanya bisa berkembang. Dunia kreatif kini merambah menjadi majalah, musik, clothing, distro, dll. Yang disajikan jauh lebih mapan dibandingkan dulu. Ya, kini semuanya telah menjadi industri.

Jadi “virus”
Semangat kreatif Bandung tidak tumbuh sendirian. Sebaliknya, dia menjadi virus bagi anak muda di kota lainnya. Bandung menjadi merek kreatif yang bisa dibisniskan di kota lain. Sebuah attitude yang dijual dengan produk yang dihasilkannya. Produk-produk dengan citra (image) budaya dari Bandung, kini sangat laku terjual di kota-kota lain. Visi ke depan adalah memberi cara pandang kreativitas dalam arti yang baru, independen. Berkreasi, berbisnis, menjual, dan bersenang-senang.

Di Surabaya budaya skateboard pernah sekali digelar oleh perusahaan clothing luar seperti Volcom dengan Jamorama-nya, untuk mengembangkan budaya skateboard yang lebih dulu maju di Amerika. Acara itu diadakan di jalanan dan menghadirkan Superman is Dead sebagai bintang tamu.

Event tersebut dapat menarik perhatian anak muda Surabaya. Hasilnya, seorang skater asal Surabaya, Nasa diminta untuk menjadi rider resmi dari brand tersebut. Selain itu, ia juga menyokong acara-acara komunitas skateboard dengan produk-produknya. Dari sinilah budaya skateboard berkembang hingga tercipta skatepark di Taman Bungkul dan beberapa komunitas skate baru.

Sejak tahun 2005 hingga saat ini, Bandung masih memberikan sumbangsih berupa produk-produk garmen anak mudanya di Surabaya. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan masuknya budaya kreatif Bandung di sini. Anak-anak muda Surabaya masih belum berani untuk berkreasi dan menjual hasil kreasinya kepada masyarakat. Event yang diadakan pun masih dalam bentuk pensi-pensi yang mengingatkan saya pada Bandung di tahun 1995. Tiga tahun terakhir ini, saya melihat perkembangan budaya anak muda tumbuh dengan pesat. Beberapa clothing lokal bermunculan, seperti Cuatro, Qlutch, Klover, Lolippop, dan lainnya.

Event independen pun kini mulai bermunculan, seperti Brother to Brother yang telah digelar hingga tujuh kali, Prambors Club Tuesday (event mingguan), pameran artwork, Surabaya Hardcore, dan banyak lagi yang tidak bisa disebut satu per satu. Sepertinya, budaya yang telah ada di Bandung mulai masuk ke Surabaya karena apa yang ditawarkan oleh budaya itu sangat cocok dengan keadaan anak muda. Bebas berkreasi dan menguntungkan secara finansial.

Masuknya gaya fashion Bandung ke Surabaya dimulai pada 2005, ketika Cosmic (clothing Bandung) mulai memasarkan produknya di Surabaya. Bagi Surabaya dan Cosmic tentu sebuah prospek yang bagus. Dengan ikatan untuk mengembangkan budaya dan bisnis yang ada di Surabaya, Cosmic ingin berbuat sesuatu bagi perkembangan kreativitas dan tentu hal ini bukan perkara yang mudah. Berbagai event digelar untuk meraih pasar dan mengakomodasi kreativitas remaja Surabaya. Event terkini yang digelar adalah Joy Invasion di Lapangan Basuki Rahmat, pada 1-3 Februari 2008.

Surabaya memang sempat terkenal dengan band rock-nya yang bermain di arena mainstream, seperti Power Metal, Boomerang, Dewa 19, Padi, dan lainnya. Tetapi, kini, bukan hanya band seperti itu yang bisa unjuk gigi. Melalui Joy Invasion, berbagai genre musik mulai naik ke permukaan. Anak muda Surabaya kini lebih variatif lagi untuk memainkan musiknya. Dan wadah yang ada pun kini semakin beragam.

Melalui event-event itu, potret-potret budaya anak muda satu-persatu terkumpul. Hingga kita jenuh dan merasa bahwa kuantitas event yang berlebih bisa membuat semuanya seperti tampak murahan. Surabaya membutuhkan suatu event yang berbeda, bukan hanya kuantitasnya. Surabaya butuh suatu kesadaran bersama, budaya ini milik bersama. Bukan budaya Bandung yang dikembangkan di sini. Tetapi kreativitas yang ter-stimuli dari rintisan event semenjak dulu yang dilakukan di Bandung (entah sadar atau tidak) sudah merangsang semuanya untuk berkreasi. Harus ada eksklusivitas dan stimuli untuk meyakinkan bahwa budaya bukan hanya dimainkan setiap hari, tapi juga harus ditunggu-tunggu oleh penikmatnya. Harus ada kelas yang berbeda dari budaya yang dibuat asal-asalan hanya karena tuntutan ekonomi semata. Bahkan kalau bisa melapaui event independen yang telah ada. Sebuah event yang sangat monumental dan ditunggu.

Surabaya memang bukan Bandung. Tetapi, virus kreatif dari Bandung sudah ditularkan melalui budayanya. Kini sepertinya budaya kreatif bisa menjadi milik bersama. Walaupun asalnya dari Bandung, ia bisa berkembang di mana saja.

Penulis: Aulia Mauludi (Penggiat kegiatan anak muda di Surabaya)
Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Togar Simatupang, “Butuh Intervensi Nyata Perguruan Tinggi”


RICKY Gianjani (26) pemilik toko alat musik Dinasti Music Instrument dan Sound System di Jln Gamelan Turangga Buahbatu, Kota Bandung. Dari keuntungan yang dikumpulkan saat masih menjadi calo jual beli alat musik, Ricky mampu membuka toko alat musik dengan menyewa sebuah kios di Jln. Buah Batu Bandung.* HANDRI HANDRIANSYAH

Sabtu, 5 April 2008

BANDUNG, (PR).-
Gerak ekonomi kreatif di Bandung masih berjalan secara alamiah. Belum ada intervensi nyata dari dunia perguruan tinggi (PT), untuk mengoptimalkannya. Padahal, melihat pertumbuhan ekonomi kreatif nasional yang meliputi 14 sektor sebesar 7,3 persen di tahun 2006, sebenarnya mahasiswa berpeluang menggarapnya secara mendalam.

Demikian diungkapkan Togar M. Simatupang, Anggota Senat Akademik ITB dan dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) kepada “PR” di Kampus SBM, Jln. Tamansari Bandung, Selasa (25/3).

Menurut Togar, jiwa kreativitas mahasiswa memungkinkan mereka untuk berkecimpung dalam kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif. Di sisi lain, industri kreatif memiliki potensi besar bagi penggerakan ekonomi masyarakat. Sumbangan sektor industri kreatif di Jawa Barat (Jabar) pada 2005 , misalnya, mencapai 7,82 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 257, 535 miliar (25,75 miliar dolar AS).

Hanya, potensi itu menunjukkan gejala penurunan. Proyeksi tahun 2007 menunjukkan penurunan menjadi 7 persen dari sebelumnya 7,3 persen. Angka tersebut akan tetap bertahan dan membuat pertumbuhannya pada tahun 2008 tetap pada tingkat yang sama“, ucapnya.

Sektor ini, kata Simatupang, sudah mencapai titik kejenuhan dan mulai terlihat sejak 2003. Saat itu ekonomi kreatif yang diawali dengan menjamurnya factory outlet (FO) mulai mengalami iklim usaha yang monoton. Pelaku usaha relatif bersaing relatif pada harga, bukan pada desain produk.

Peran Perguruan Tinggi
Ia mengingatkan, selama tidak ada peningkatan permintaan dari masyarakat, ekonomi kreatif akan cenderung stagnan. “Ekonomi kreatif memberikan gambaran kepada kita tentang situasi bisnis yang persaingannya paling kejam. Kelas kreatif di dalam industri ini menuntut setiap pelakunya untuk terus berinovasi apabila ingin terus bertumbuh.

Untuk itu, perguruan tinggi berperan besar membangkitkan kembali potensi ekonomi kreatif ini dengan menyinergikan potensi tersebut dengan berbagai program akademik yang mendukung. “Lulusan PT harus terus dilengkapi dengan jiwa kewirausahaan karena lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.

Kemudian, projek bisnis antarprogram studi PT juga semakin ditingkatkan. Demikian juga dengan bazar atau pasar seni, harus menjadi kegiatan rutin.

Selain itu, pengelola PT perlu melengkapi mahasiswanya dengan kurikulum yang sesuai tuntutan pasar.

Namun, ia mengingatkan, kunci sukses itu cenderung menjadi sebuah teori, manakala pelaku industri kreatif yang notabene banyak digeluti oleh anak-anak muda tidak berinovasi.

Bagi pemerintah, kata Togar Simatupang, melihat kenyataan bahwa kontribusi PT terhadap penambahan pengangguran mencapai 5-7 persen/tahun dari jumlah total pengangguran di Indonesia, intervensi positif menjadi keniscayaan.

Antara lain, dengan melakukan pemetaan potensi jenis industri kreatif yang dapat dikembangkan dan menyusun program-program yang lebih kongkret. “Misalnya akses permodalan, insentif, ruang publik untuk berkreasi, ajang promosi, perizinan, prasarana teknologi informasi, dukungan terhadap inkubator industri kreatif, dukungan terhadap pendidikan kreatif, dukungan terhadap pusat desain dan pelatihan, serta statistik industri kreatif.

Dalam hal ini, pemerintah akan berposisi sebagai promotor, komunikator, stimulator, dan fasilitator pengembangan industri kreatif.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Selasa, 6 November 2007

JAKARTA, KOMPAS- Sektor industri kreatif mengalami peningkatan dari 5,6 persen mencapai 7,3 persen dengan pemasukan terbesar dari bisnis fashion. Melihat perkembangan yang demikian signifikan, pemerintah melalui Departemen Perindustrian bersedia memfasilitasi pinjaman kredit ke sejumlah bank bagi 300 unit usaha distro.

Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widhianto mengungkapkan hal itu dalam pameran Distro & Clothing Fiesta di Jakarta, Selasa (06/11). Menurut dia,dengan program penyaluran kredit koperasi dan UKMK, pengusaha industri alternatif seperti distribution outlet (distro) dapat mengajukan kredit tanpa harus memberikan agunan.

Sakri menambahkan, dari 1.000 unit usaha distro yang ada, sekitar 300 unit usaha layak mendapat pinjaman kredit usaha. “Untuk sementara, pinjaman kredit akan diberikan kepada produsen produk distro dan fashion yang potensial berkembang”, ujar dia.

Permohonan kredit dapat dilaksanakan secara langsung atau sendiri-sendiri. Namun, melalui asosiasi pengusaha distro, Departemen Perindustrian akan memfasilitasi pinjaman tersebut. Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Fiki Chikara Satari memaparkan, saat ini berkembang 100 distro dengan 1.000 unit usaha yang tersebar di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, bahkan Papua. “Dari seribu unit usaha itu, kami meraup omset sebesar 22 miliar per bulan”, ungkap Fiki.

Sumber: Kompas

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.