You are currently browsing the daily archive for April 7, 2008.
Senin, 31 Maret 2008
DUNIA sedang diterjang gelombang industri kreatif. Negara-negara adidaya seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan lainnya, kini berupaya mendongkrak potensi dan kemampuan mereka dalam industri ini, sebagai penopang perekonomian berbasis kemasyarakatan. Sementara, saya tinggal di Bandung, salah satu kota yang sudah dengan sendirinya merupakan “Kota Kreatif”, yang karenanya memiliki potensi luar biasa dalam industri ini.
Pendapat itu bukanlah angan-angan. Bertahun-tahun sudah saya dan rekan-rekan menggeluti bidang ini, di mana tanpa disadari selain mencari nafkah, kami mendedikasikan hidup demi menjadikan industri kreatif sebagai penopang perekonomian masyarakat yang juga berbasis kemasyarakatan. Sedari awal saya sudah meyakini bahwa Bandung memiliki potensi untuk itu–tanpa melebih-lebihkan fakta yang ada.
Keyakinan bermodalkan pengalaman itu kian kuat, setelah saya mendapatkan kesempatan untuk melongok perkembangan industri kreatif di Inggris Raya dengan undangan dari The British Council dalam program bernama “The Catalyst”. Bersama pengusaha, seniman, wakil pemerintah, dan insan media dari delapan negara lainnya, saya mengelupaskan kulit kreativitas orang Inggris di tiga kota andalan industri kreatif mereka yaitu London, Bristol, dan Glasgow (Skotlandia).
Terus terang, dalam berbagai pengamatan, diskusi, seminar, dan sebagainya selama mengikuti program yang difokuskan untuk industri kreatif tersebut, tak hilang gumaman saya dalam batin, “begitu beruntungnya Bandung”
Bagaimana mungkin, saya tidak merasa demikian sedangkan saya menyaksikan bagaimana pemerintah negara-negara adidaya seperti Inggris, begitu serius, untuk menghidupkan industri kreatif di negaranya. Mereka memfasilitasi berbagai hal “termasuk berinvestasi” untuk membangkitkan minat para pelaku usaha di tingkat akar rumput, untuk menjadikan industri kreatif sebagai penopang perekonomian mereka.
Setidaknya terdapat 27 organisasi dan instansi dibentuk untuk mendukung pengembangan industri kreatif. Organisasi tersebut, tersebar mulai dari skala kota sampai dengan skala nasional dan mereka semuanya berlomba-lomba dalam menumbuhkan bisnis, meningkatkan keterampilan dan kemampuan, serta berinvestasi dalam inovasi. Mereka juga giat dalam menggapai pasar, menginterkoneksikan komunitas-komunitas, sampai kepada mempromosikan wilayah kerja mereka.
Mereka senantiasa menyebarluaskan karya, inovasi, dan produk mereka ke seantero penjuru kota, mereka mendirikan galeri-galeri hampir di setiap jalan, dan mendayagunakan bangunan-bangunan tua–tanpa mengubah bentuk fisiknya–untuk dijadikan kantor-kantor kecil agar komunitas-komunitas kreatif dapat beraktivitas mengembangkan diri secara optimal.
Melihat gelagat yang mereka lakukan, sungguh kekaguman saya mencuat. Apa yang saya lihat di seluruh pelosok negara Inggris, sebenarnya saya lihat juga di Bandung, bahkan Bandung memiliki potensi yang jauh lebih besar daripadanya. Bedanya, mereka sudah berjalan sedangkan potensi Bandung masih tercerai berai, dalam pergerakan individual yang cenderung sporadis dengan arah positif masing-masing.
Para pelaku industri kreatif sudah ada dan cenderung untuk berkembang, pasarnya juga ada dan sangat siap menyerap produknya. Kini, tinggal masalah sumber pendanaan yang tadi sudah ada salah satu alternatif jawabannya. Masalah berikutnya, tinggal bagaimana memecah prosedur agar dapat terasa ideal bagi semua pihak. Saya pikir ini dapat dipecahkan, jika kita sudi untuk duduk di satu meja untuk menyatukan visi dan misi program pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.
Tengoklah Inggris barang sejenak, bagaimana mereka berupaya begitu keras untuk menggerakkan para pelaku industri kreatif di tingkatan akar rumput, sebagai ujung tombak perekonomian masa depan. Dengan sangat disadari, peningkatan pertumbuhan dan perkembangan industri kreatif di tingkatan akar rumput ini, telah sukses menjawab berbagai permasalah sosial yang timbul dalam tatanan masyarakat modern. Angka pengangguran yang menukik tajam, mengakibatkan berkurangnya kriminalitas dan tindak kekerasan dalam masyarakat.
Sebagai contoh, di London Timur kini hampir tak mengenal istilah “geng motor”, nyaris tak ada lagi insan muda yang berhasrat untuk menjadi preman, dan angka pencurian kendaraan bermotor menurun drastis (sampai 33% dalam kurun satu tahun saja). Pengembangan industri kreatif ini, telah berhasil mengoptimalisasi public space, dalam penggunaannya sebagai sarana berbagai kegiatan positif yang jelas-jelas menghasilkan. Kini, industri kreatif juga memainkan peranan vital dalam bidang pariwisata, karena kegiatan-kegiatannya begitu ragam dan kaya dalam unsur seni dan hiburan. Industri kreatif terbukti mampu mengundang para wisatawan lokal dan mancanegara, serta mampu meningkatkan angka wisawatan yang kembali lagi (returning visitors).
Sekarang, tengoklah lagi Bandung yang kita cintai ini.
Bandung yang berkembang hanya secara alamiah dengan segala potensinya, telah menjadi tempat di mana tingkatan akar rumput tumbuh subur dan menggurita. Sayangnya, karena dibiarkan membesar tanpa dukungan pihak lainnya, pada level tertentu akan dirasakan mendapatkan beberapa masalah. Salah satu contohnya adalah salah satu komunitas musik dari daerah Bandung Timur, yang lahir belasan tahun silam, berupaya untuk tumbuh dan berjuang hidup sendirian. Mereka yang selama ini ada dalam kedamaian, terpaksa terpotret oleh masyarakat hanya karena terjadinya satu tragedi yang bersifat musibah.
Sangat disayangkan bahwa tragedi ini telah mendapat reaksi tidak proporsional dari berbagai pihak. Adakah yang menyadari reaksi semacam ini kontan mematikan salah satu poros perekonomian masyarakat? Prosedur perizinan yang dibuat bertingkat dan berlapis, kian memersulit mereka untuk menggelar hajatan-hajatan setingkat akar rumput yang bermodal tipis dan kering. Benarkah kita sudah berkaca pada cermin yang tepat untuk menelaah tragedi tersebut? Bukankah selalu ada dua sisi–dan mungkin lebih–pada setiap permasalahan?
Coba barang sejenak renungkan bagaimana mereka telah berjuang untuk dapat hidup dan berkembang selama belasan tahun, dengan cara saling membantu sesama kawan untuk sama-sama mendapatkan penghasilan. Adakah di antara Anda yang mengetahui bahwa mereka tengah berusaha untuk menyebarluaskan karya tangan sampai melintasi batas-batas wilayah negara?
Di Skotlandia sana, masyarakatnya begitu berbangga hati lantaran mereka mampu membuat satu pergelaran industri kreatif dengan nama “Six Cities Festival”. Setelah persiapan selama satu tahun, hajatan tiga pekan tersebut dihadiri 300.000 pengunjung. Sedangkan dalam era yang sama, orang Bandung memiliki perhelatan industri kreatif sejenis dengan nama “KICK-Fest”, yang dipersiapkan hanya dalam tempo singkat, namun dihadiri jumlah pengunjung yang sama dalam waktu hanya tiga hari saja.
Dari sekian banyak organisasi dan institusi di Inggris, beberapa di antaranya menjalankan fungsi sebagai simpul kreatif, salah satunya di kota Bristol bernama Watershed yang fokus pada pengembangan pusat media, di mana dengan dukungan pemerintah 3,5 juta poundsterling atau setara Rp 60 miliar untuk membangun infrastruktur serta fasilitas, mulai dari teater, ruang konferensi, kafe untuk komunitas kreatif, dan lainnya begitu repot untuk mencari dan mengumpulkan pelaku kreatif untuk mengimplementasikan program-programnya.
Di Bandung, kita memiliki organisasi sejenis seperti Common Room, dengan kemandirian tentunya secara fasilitas dan kemampuan kapital terlalu jauh untuk disamakan dengan Watershed. Setiap tahunnya mereka memiliki belasan program mulai dari pameran, diskusi, pelatihan sampai dengan penguatan jejaring dengan simpul kreatif lainnya mulai dari Asia, Eropa, sampai dengan Amerika. Sedikit fakta yang menarik untuk dibandingkan.
Kini, kita tinggal memusatkan perhatian dan upaya pada bagaimana mencuri perhatian masyarakat konsumen dari luar Bandung dan menggiringnya ke sini secara berkesinambungan. Bandung, kini memang telah menjadi tempat yang begitu menarik wisatawan, karena inisiasi long weekend yang bertubi-tubi dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun, sampai kapankah hal ini akan terus berlangsung? Saya meyakini, sebagaimana terjadi di seluruh dunia, pertumbuhan industri kreatif Bandung dan “pesta” komunitasnya adalah jawaban yang paling pas.
Belum lagi jika kita membicarakan mengenai topik terhangat Bandung satu dekade terakhir: Kemacetan yang membahana. Industri kreatif juga mampu menjawab permasalahan ini dengan sangat cerdas dan cergas. Faktanya adalah: Jika seluruh mobil berpelat nomor “D” dibariskan, maka panjang total ruas jalan di Kota Bandung tidak dapat menampung bahkan setengahnya saja. Ini belum termasuk mobil-mobil dari luar daerah, yang semenjak hadirnya jalan tol Cipularang telah menjadi salah satu komponen semipermanen jalanan Kota Bandung.
Seandainya saja komunitas industri kreatif, diizinkan untuk mengolah ruang-ruang publik dengan cara menampilkan dan menggelar karya seni mereka di sana. Seandainya saja nuansa arsitektur bangunan kuno yang sangat “Bandung” diperkuat. Dan seandainya karya seni fungsional ditebar di titik-titik konsentrasi massa. Maka seluruh pelosok Kota Bandung akan terlalu asyik untuk dinikmati. Sehingga, para wisatawan punya alasan kuat untuk tidak bermobil di Bandung, karena mereka ingin menikmati beragam tontonan yang berbeda di setiap titik. Minimal apabila takdir berkendara dalam situasi macet, mereka dapat menikmatinya dengan pengalaman yang dapat kita semua rencanakan sebagai pemilik kota. Pada akhirnya, Bandung sebagai “Kota Kreatif” adalah satu kenyataan faktual.
Apalagi potensi kreativitas Kota Bandung, memang begitu lengkap dengan kekayaan dan keberagaman dalam musiknya, desain, seni rupa, arsitektur, penulisan kreatif, penerbitan dan media, film dan animasi, budaya lokal tradisionalnya, sampai ke pengembangan peranti lunak dan gamesnya. Ketika negara lain di seluruh dunia sibuk mencari, mengorek-ngorek, dan mengais-ngais–sampai harus melakukan duplikasi dari negara lain untuk kemudian diklaim sebagai karya lokalnya–Bandung justru telah memiliki semua itu.
Maka salahkah saya jika mengatakan bahwa Bandung memiliki potensi untuk menjadi kiblat industri kreatif, minimal di antara negara berkembang di dunia?
Pertanyaannya adalah, kapankah seluruh pelaku dan komponen pendukungnya menyadari bahwa mereka adalah “para pemegang saham” Kota Bandung? Karena, hanya dengan itulah mereka dapat berkolaborasi dengan sepenuh hati, ikhlas, dan bertoleransi, demi menjadikan Bandung sebagai Kiblat industri kreatif dunia.
Saya begitu bersyukur dan berbangga bahwa saya dilahirkan dan dibesarkan di Kota Bandung. Semoga apa yang saya lakukan dapat menjadi kontribusi kepada kota ini dan masyarakatnya.
Penulis: Fiki Chikara Safari (Creative Entrepreneur, Airplane System)
Sumber: Harian Pikiran Rakyat
Pada hari Rabu tanggal 2 April 2008 diadakan acara seminar nasional yang membahas berbagai hal tentang industri kreatif di Indonesia. Acara tersebut menghadirkan berbagai pemberi makalah dari lintas sektor. Hadir pula Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebagai keynote speaker. Makalah yang dipresentasikan mengambil tema “kebijakan pemerintah dalam mendorong daya saing industri kreatif Indonesia di kancah global dari perspektif departemen perdagangan”.
Materi yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan adalah berbagai paparan yang menjelaskan peran Departemen Perdagangan dalam mendorong kemajuan industri kreatif di Indonesia. Beberapa langkah telah diambil oleh departemen perdagangan untuk mendukung kemajuan industri kreatif di Indonesia. Diantaranya membuat identifikasi dan karakteristik industri kreatif di Indonesia dan pembuatan cetak biru rencana pengembangannya.
Di bidang kebijakan Departemen Perdagangan telah menyusun perundang-undangan di bidang perdagangan yang di harapkan dapat meningkatkan daya saing produk industri kreatif dikancah internasional. Walaupun beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan seperti misalnya pembukaan kran import sebagai konsekuensi ikut serta dalam perdagangan bebas (WTO) bagi beberapa produk ternyata pada akhirnya telah mematikan beberapa sektor industri kreatif di Bandung. Contohnya beberapa sentra kerajinan sepatu di Cibaduyut terpaksa gulung tikar karena pasar dibanjiri sepatu produk Cina. Ada tiga masalah utama yang jadi perhatian Departemen Perdagangan yaitu masalah hak atas kekayaan intelektual, pendanaan/permodalan dan proses pengembangan desain dalam menciptakan pasar.
Acara seminar tersebut terbagi menjadi tiga sesi diskusi. Sesi pertama membahas tentang perkembangan industri kreatif yang dilihat dari berbagai aspek. Menghadirkan tiga pembicara yaitu Ramon Purba sebagai Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian. Dalam draft ‘rancangan peraturan Presiden RI tentang kebijakan pengembangan industri nasional’, industri yang diprioritaskan kedepan adalah lebih mengandalkan pada SDM berpengetahuan, kreatif, dan trampil. Dalam rangka jangka pengembangan industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu atau bagian dari industri telematika merupakan salah satu klaster industri prioritas.
Sementara itu dari pihak PT Telkom menghadirkan Indra Utoyo sebagai Direktur IT/CEO PT Telkom yang memaparkan perkembangan industri kreatif banyak didukung oleh perkembangan di bidang teknologi digital. Sebagai sebuah korporasi yang bergerak dibidang telekomunikasi PT.Telkom menciptakan sebuah produk kreatif berbasiskan teknologi digital Indigo (Indonesian Digital Community). Produk yang dihasilkan oleh Indigo berupa hasil produk digital dalam berbagai bidang telematika. Diantaranya ring back tone, animasi program tv, dan game software.
Drs.Budi Istianto, Msn staf pengajar Seni Rupa dan desain ITB memberikan paparan tentang perkembangan industri kreatif dibidang kerajinan/craft. Menurut Budi Istianto sektor kerajinan masih belum bisa diketegorikan industri, karena sistem pengelolaan produksinya masih sangat tradisional. Sebagian masih menganggap bahwa sektor ini hanya sampingan. Dilihat dari sumber potensi sumberdaya alam sektor kerajinan memiliki sumber bahan baku yang berlimpah. Upaya untuk membudidayakannya masih rendah sehingga kelestarian lingkungan menjadi terganggu.
Sesi dua membahas tentang potensi bisnis dari industri kreatif. Menghadirkan Ir.Purwa Tjaraka sebagai salah seorang pelaku di industri kreatif di bidang musik. Berdasarkan pengalaman Purwa para pelaku bisnis di industri kreatif mempunyai idealisme dan sikap berani menempuh resiko. Sikap tersebut harus seimbang dengan pengetahuan dan penyerapan teknologi agar industri kreatif dapat berkembang dan mempunyai daya tahan ditengah era persaingan global. Dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB Dr.Ir.Togar Simatupang memberikan pemaparan tentang pemahaman industri kreatif dan potensi bisnisnya melalui retorika industri kreatif.
Diharapkan lewat proses retorika ini dapat memberikan pemahaman dan gambaran yang jelas mengenai peluang potensi bisnis industri kreatif. Sehingga paradigma masyarakat yang menganggap industri kreatif hanya milik seniman atau orang yang bergerak di dunia seni dan desain saja dapat dirubah. Intinya adalah bahwa semua orang bisa menghasilkan kreatifitas yang hebat. Dari pihak Pemerintah Kota Bandung diwakilkan kepada Drs.Ema Sumarna, M.Si memberikan pemaparan tentang kemajuan industri kreatif di Bandung. Beberapa sektor industri kreatif di Bandung bahkan telah mampu memberikan ‘wajah’ bagi kota Bandung. Dalam perkembangannya selama 10 tahun terakhir pihak pemerintah kota Bandung kurang antisipatif mengakomodir isu perkembangan industri kreatif. Yang terjadi hingga sekatang adalah para pelaku industri kreatif berjuang sendiri ditengah keruwetan birokrasi.
Sesi tiga membahas tentang pengembangan industri kreatif. Menghadirkan pembicara dari British Council yang diwakili oleh Yudhi Soerjaatmodjo. Yudhi memberikan beberapa contoh kota dibeberapa negara yang melakukan pengembangan industri kreatif. Inggris adalah salah satu contoh negara yang berhasil menjadikan industri kreatif sebagai lokomotif perekonomian regional kota dan negara. Hal tersebut dapat terwujud karena pemerintah Inggris berhasil membuat sebuah langkah yang sinergis antara sesama stake holder dan pelaku dibidang industri kreatif.
Pembicara kedua adalah M.Ridwan Kamil seorang arsitek dan dosen arsitek ITB. Dalam pemaparannya Ridwan menjelaskan bahwa kota Bandung telah memenuhi syarat untuk melakukan pengembangan industri kreatif. Budaya kreatif hanya bisa tumbuh di lingkungan yang kondusif terhadap 3 hal : talent, technology, dan tolerant, maka kota Bandung telah mempunyai prasyarat tersebut. Tinggal potensi tersebut dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah yang diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang mampu menyentuh kepentingan grass root. Dan selama ini yang terjadi adalah setiap kebijakan yang dikeluarkan mempunyai potensi yang kontra produktif bagi perkembangan industri kreatif di Bandung.
Secara umum acara seminar nasional tersebut hanyalah ajang presentasi para pakar industri kreatif. Berbagi sudut pandang dan kepentingan dalam rangka pengembangan industri kreatif di tingkat lokal kota Bandung. Sementara irisan utama dari pengembangan industri kreatif yaitu komunitas kreatif yang menjadi grass roots sama sekali tidak tersentuh permasalahannya.
Penulis: Addy Handy
Pada hari Selasa tanggal 1 April 2008 diadakan pertemuan antara para pelaku industri kreatif dengan beberapa pejabat dari Departemen Perdagangan dan Industri. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memberi waktu khusus bagi Ibu Mari Pangestu untuk berdialog dengan praktisi di bidang kreatif. Awalnya, memang dialog tersebut direncanakan melibatkan Ibu Mari Pangestu tetapi karena satu dan lain hal beliau tidak dapat datang ke Jabar Craft Center dan digantikan oleh Bapak Ardiansyah, Dirjen Perdagangan dan Perindustrian.
Setiap pelaku industri kreatif diberi kesempatan memamerkan produk mereka. Ada Tiarma Sirait, seniman yang sudah berpameran di berbagai belahan dunia, memamerkan boneka Barbie berbaju tradisional khas beberapa daerah di Indonesia. Kemudian ada sekelompok seniman kerajinan dengan produk mereka yang terbuat dari anyaman. Beberapa seniman kerajinan lainnya memamerkan kain batik. Dari komunitas distro, ada Fiki sebagai ketua KICK yang mewakili distro-distro membawa produk-produk hasil komunitas Indie seperti: clothing dan sepeda unik buatan Rockmen. FFWD Records yang dikenal sebagai pelopor label record Indie memajang cd-cd artist lokal yang diorbitkan oleh label rekaman tersebut. Dalam pertemuan ini, FFWD Records diwakili oleh Helvi dan Dxxxt.
Sambil berkeliling melihat produk Industri Kreatif, Dirjen Perdagangan dan Perindustrian, berdialog dengan pelaku Industri Kreatif yang produknya sedang dilihat. Para usahawan di bidang Industri Kreatif tersebut satu persatu menjelaskan produk mereka sambil di saat yang sama mengkomunikasikan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha mereka. Tiarma Sirait, seniman senior, mengeluhkan sistem tarif yang diterapkan atas barang-barang pamerannya. Seringkali Tiarma harus berpameran di luar negeri, tetapi saat pameran selesai dan barang-barang pamerannya harus dikembalikan ke dalam negeri, Tiarma dikenakan pajak atas karyanya tersebut. Helvi dari FFWD Records mengeluhkan penolakan surat bebas fiskal oleh pihak imigrasi saat harus membawa band keluaran FFWD konser ke luar negeri. Surat bebas fiskal yang dikeluarkan oleh pihak Disbudpar tidak diterima oleh pihak imigrasi di airport. Menurut Bapak Ardiansyah ada kesalahpahaman dari pihak imigrasi untuk kasus tersebut.
Pada umumnya masalah-masalah yang dikeluhkan oleh para pelaku industri kreatif saat itu berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak kondusif mendukung perkembangan dan pertumbuhan industri kreatif. Komunitas pembuat film indie Bandung mengeluhkan pajak yang dikenakan pada mereka atas penayangan film indie mereka di bioskop. Wakil dari komunitas tersebut mempertanyakan komposisi pajak yang dikenakan; yang dianggapnya tidak memberi pemasukan bagi pengembangan film independen.
Lewat pertemuan ini, pemerintah mendapat kesempatan mendengar masalah-masalah di lapangan yang dihadapi oleh para pelaku industri kreatif. Para pelaku berharap ada tindakan konkrit dari pemerintah dan pertemuan-pertemuan seperti ini akhirnya benar-benar memberi kontribusi bagi kemajuan industri kreatif yang katanya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.
Penulis: Dame Christina

PERPADUAN keindahan bangunan lama dengan pengelolaan modern di Kawasan Buchanan Street, Glasgow, Skotlandia.* Islaminur Pempasa/”PR”
Senin, 31 Maret 2008
SELAMA sepekan wartawan “PR” Islaminur Pempasa mengikuti program The Catalyst – Creative City. Program yang digelar The British Council ini, memberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi pengalaman pengembangan ekonomi kreatif di beberapa kota di Inggris Raya. Berikut laporannya.
SEBAGIAN besar orang mengingat Glasgow sebagai kota manufaktur yang bangkrut. Sopir taksi yang mengantar dari bandara, menceritakan gedung-gedung besar bekas industri perkapalan dan alat berat, apartemen bekas pekerja, dan kehidupan keras kota industri sebelum 1990-an. Namun, dengan mengelola energi kreatifnya, kota ini mengubah diri hanya dalam satu dekade terakhir. “Persepsi orang tentang Glasgow diubah dari gangland menjadi city of culture,” kata Charles Bell, Art Manager di Culture and Sport Glasgow.
Perubahan itu digambarkan dalam sampul salah satu majalah. “Sepuluh tahun lalu salah satu majalah memasang sampul laporan mengenai Glasgow, dengan botol (minuman) berserakan dan kaca jendela yang pecah. Kini, majalah yang sama memuat sampul Glasgow yang jauh lebih rapi,” kata Bell.
“Regenerasi” kota begitu terasa ketika menyusuri Sauciehall, Buchanan, dan kawasan Merchant City. Disebut regenerasi, karena projek “Merchant City” sama sekali tidak membongkar bangunan-bangunan tua. Hasilnya, warna merah dan madu gaya victoria, batu-batu Italia abad pertengahan, dan menara-menara neo-gothik, dan gaya menggoda art nouveou dipadukan dengan warna-warna modern pertokoan, serta kantor.
Bukan cuma gaya, secara ekonomi Glasgow mengalami pertumbuhan signifikan dengan berfokus pada sektor tersier industri, seperti jasa finansial dan bisnis, komunikasi, industri kreatif, retail, dan pariwisata. Lebih dari 153.000 lapangan kerja tercipta di kota itu sejak 2000. Tahun 2005 saja, tercipta 17.000 lapangan kerja baru. Industri manufaktur besar perlahan digantikan bentuk ekonomi lain. Salah satunya adalah ekonomi kreatif.
Untuk Glasgow, memilih jalan mengembangkan ekonomi kreatif memang tidak mudah. Kota yang berbasis industri manufaktur, sebenarnya relatif tidak memiliki basis kultural yang cukup kuat. Tidak banyak kegiatan kreatif yang sebelumnya tercatat menjadi ciri khas Glasgow, kecuali beberapa event musik yang sempat digelar di kota itu.
Untungnya, dalam skala yang lebih besar Glasgow ikut dalam gelombang industri kreatif Inggris Raya. Momentum penting dalam skala nasional dikisahkan Josephine Burns, co-Director dari lembaga konsultan BOP, adalah kesadaran dan pengakuan dari pemerintah. “Tahun 1997, pemerintah membuat satuan tugas untuk industri kreatif. Hasilnya ada pemetaan, dokumentasi, dan yang penting adalah ada hasil audit kultural, yang menghasilkan cultural significance (penanda kultural) bagi berkembangnya industri kreatif di satu kota,” katanya.
Pemetaan itu dikembangkan dalam pengembangan regional dan kota-kota di Inggris Raya, termasuk Manchester, Bristol, Glasgow, dan kota-kota lain. Selain pengakuan pemerintah terhadap nilai ekonomi dari industri kreatif, pemetaan dan roadmap yang–bukan saja nilai ekonomi–tetapi juga disertai dengan “penanda kultural” membuat setiap kota bisa memilih cara yang berlainan sesuai dengan kondisinya.
Dengan penanda kultural yang minim, bahkan dibandingkan dengan Bandung (Baca: Beruntungnya Bandung), Glasgow adalah kota yang harus memulainya dari awal. “Pemerintah lokal bahkan direorganisasi. Ada proses pelepasan, yaitu pendelegasian tugas pada profesional dalam mewujudkan creative scotland ini,” kata Charles Bell.
Membangun Simpul
Menurut pengarang buku The Creative Economy, John Howkins, faktor penting pertama bertumbuhnya ekonomi kreatif adalah creative ecology atau domain. “Orang harus merasa nyaman, sehingga memunculkan bakat-bakat kreatif,” katanya di London.
Direktur Shoreditch Trust (salah satu lembaga pengembangan ekonomi kreatif di London Timur), Michael Peyner menyebut satu kota harus cukup nyaman untuk bisa menumbuhkan individual cultural sebagai penanda kultural awal.
Mendapatkan individu kreatif, memang bukan hal yang bisa secara cepat dilakukan. Seraya menumbuhkan kreativitas, Glasgow membuka keran bagi influx of talent atau “mengundang” talenta-talenta kreatif. “Migrasi memang bisa mempercepat proses ini,” kata Josephine Burns.
Glasgow dibuat terbuka bagi talenta kreatif yang masuk. Camille Lorigo adalah salah seorang migran dari New York, yang sukses mengembangkan industri fashion dan mendapatkan penghargaan sebagai “Scotland`s Creative Entrepreneur of The Year”. “Wacana yang harus dikembangkan untuk menarik talenta adalah bagaimana struktur (birokrasi), dukungan finansial, perencanaan kota, dan pelibatan publik,” kata Camille, yang memiliki brand Che Camille.
“Strategi kunci berikutnya adalah community engagement,” Nick Barley, Direktur Lighthouse. Talenta yang ada diberi ruang untuk berjejaring. Lighthouse didirikan sebagai salah satu simpul kreatif penting di Glasgow.
Menempati gedung tua bekas penerbitan dan gudang kertas, Lighthouse menjadi warga berpameran, mengikuti program pendidikan, workshop, hingga entrepreneurial. Anak-anak bisa mendapat kelas dasar mengenai disain di hari Sabtu. “Tempat ini menjadi urban learning center, pendidikan, dan juga berhubungan dengan publik, dalam hal ini berjejaring dan mendapatkan lingkungan bisnis melalui program konsultasi dan pendanaan,” katanya.
Satu program penting di Lighthouse adalah Creative Entrepreneur Club. Dalam klub yang tercatat beranggotakan 2.500 orang ini, setiap orang, mahasiswa, calon entrepreneur bisa mengikuti berbagai workshop dalam memulai dan mengembangkan diri sebagai creative entrepreneur. Ini bisa dilihat dari tema-tema workshop April 2008 ini, antara lain “Know Your Rights & Protect Your Business”, “Understanding the Peer-to-Peer Revolution with Michel Bauwens”, “The Science of Sponsorship”, “How to produce Media Packs & News Releases”, “Learning Spaces, Working Places with Stephen Heppell”.
Pembentukan institusi-institusi ini menjadi salah satu strategi besar membangun kota kreatif. Di Glasgow, selain Lighthouse, ada Glasgow Urban Laboratory yang diinisiasi oleh Fakultas Seni Glasgow, Dewan Kota, dan Lighthouse. Di dalamnya ada peneliti, warga, dan praktisi yang bekerja sama untuk menentukan agenda, serta pengembangan masa depan kota.
Selain itu, dibentuk pula Cultural Enterprise Office yang memberi pelayanan pada pebisnis dan praktisi kreatif dan kultural. “Tugas kami sederhana, menemani pemula, membawa para entrepreneur kreatif ke arena dengan pelayanan generik,” kata Deborah Keogh.
Yang dimaksud pelayanan generik menurut Keogh, sangat sederhana, para calon entrepreneur bisa mengobrol apa saja mengenai rencana bisnis. “Kita bahkan menghindari memaksa mereka membuat business-plan, karena itu seringkali malah membuat mereka mundur,” ujar Keogh.
Menurut Sarah Keay, salah seorang “lulusan” Cultural Enterprise Organizations, ia bisa mendapatkan konsultasi umum bisnis, seperti bagaimana langkah-langkah untuk mewujudkan gagasan secara gratis. “Soal-soal legal, marketing, finance, pajak, properti, dan konsultasi bentuk-bentuk karya bisa dicari di sini. Jadi, intinya menghubungkan skill ke market,” katanya.
Institusi penting lain adalah Glasgow Grows Audience (GGA). GGA adalah biro pengembangan audiens yang bekerja dalam bidang pengembangan audiens. “Kami berusaha memberi konteks pada karya seni. Audience development ini sama pentingnya dengan produksi karya seni itu sendiri,” kata direkturnya Julie Tait.
Bristol: “Screen Economy”
Kota yang mengembangkan ekonomi kreatif dengan karakteristik berbeda adalah Bristol. “Kota Sains” ini tinggal meneruskan apa yang telah ada. Dan salah satu yang menjadi fokus dari industri kreatif di kota ini adalah animasi dan film. Penggemar film animasi, pasti tak lupa Chicken Run yang merupakan salah satu produk Bristol. Produk film lain yang cukup dikenal adalah program dokumenter mengenai alam. Sekitar 25 persen dari program dokumenter alam di dunia ini produk kota ini. Program yang cukup dikenal, seperti “The Living Planet” (1984), “The Trials of Life” (1990), “The Private Life of Plants” (1995), “The Life of Birds” (1998), “The Life of Mammals” (2002), dan “Life in The Undergrowth” (2005). Bristol juga rumah bagi “Wildscreen”, salah satu festival pembuatan film lingkungan terbesar di dunia.
Bristol merupakan pusat dari industri media di kawasan Southwest. Sektor media ini saja menghasilkan 3,7 miliar poundsterling setahun dan mempekerjakan 30 ribu orang. Total angka dari ekonomi kreatif di Southwest sendiri, tercatat mencapai 10 persen total ekonomi kreatif Inggris.
Dengan berbisnis di “layar”, Bristol menjadi kota dengan pendapatan per kapita terbesar kedua setelah London. Inilah yang membuat Bristol dan kawasan Southwest dikenal dengan Screen Economy.
Di Bristol, secara regional, dibangun lingkungan kolaboratif antara perpaduan teknologi, riset, dan industri. Pemerintah juga meluncurkan program untuk mendukung “Aardman Training Centre”. Proses pembibitan talenta dibangun di Knowle West Media Centre. Di sini, anak-anak sudah mulai belajar membuat film dan animasi pendek. Sejumlah agen pengembangan kreatif, seperti Pervasive Media Studio (riset dan pengembangan), Watershed (pusat media), Tobacco Factory (model regenerasi teater, cafe, dan ruang kreatif) dikembangkan.
Berbagai festival digelar dalam mengembangkan keterlibatan publik antara lain Festival Encounters, Wildscreen, Mayfest, Festival of Ideas, Great Reading, Adventure, Light-up Bristol, dan Grafiti.
Impresif
Glasgow dan Bristol adalah dua kota berbeda yang sama-sama menjalani pilihan sebagai kota kreatif. Di Inggris yang sudah memancangkan salah satu fokus ekonominya pengembangan kota kreatif menjadi lebih terarah, mulai dari identifikasi dan penguatan “penanda kultural” hingga jejaringnya dengan pasar.
Selain itu, fokus pengembangan bentuk industri kreatifnya pun sudah dirancang dan dibagi dalam setiap wilayah. North East mendapat konsentrasi dan kluster bagi publishing, arsitektur, software, multimedia, film, dan kriya. . West Midlands berkonsentrasi di bidang software, film, seni dan barang antik, periklanan dan seni pertunjukan. Wilayah lain, seperti Yorkshire dan Humberside, Eastt Midlands, Eastern, South West, South East, London, Northern Ireland, Skotlandia, dan Wales juga memiliki konsentrasi masing-masing.
Seperti definisi kerja yang disepakati, pengembangan industri kreatif didasari oleh kreativitas individu dan inovasi, yang berujung pada kesejahteraan dan penyediaan lapangan kerja. Secara nasional, Inggris sudah menikmati hasil pengembangan industri kreatif dengan kontribusi 60 miliar poundsterling setahun, atau setara dengan 7,3 persen bagi ekonomi Inggris. Dua juta orang juga mendapat tempat di sektor ini.
“Ekonomi kreatif adalah bentuk ekonomi yang paling impresif saat ini,” kata John Howkins.
Penulis: Islaminur Pempasa
Sumber: Harian Pikiran Rakyat
