Photobucket

Pada tanggal 18 Maret 2008, British Council bekerjasama dengan pemerintah Australia dan Australia Council for the Arts menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk Making Creative Cities: The Value of Cultural Diversity in the Arts yang diselenggarakan di kota Melbourne. Kegiatan ini juga juga didukung oleh pemerintah kota Melbourne dan the Arts Center yang menjadi tempat bagi penyelenggaraan seminar yang diisi dengan presentasi dan diskusi yang melibatkan para seniman, akademisi, praktisi bisnis, perwakilan pemerintah dan komentator yang berasal dari Inggris, Australia, New Zealand, Indonesia dan Taiwan.

Untuk seminar ini British Council secara khusus menghadirkan Keith Kahn (UK), seorang seniman yang merancang dan mengimplementasikan kegiatan Olimpiade Budaya yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan Olimpiade di kota London pada tahun 2012 mendatang. Sebelumnya, Keith Kahn diberi kesempatan untuk mempresentasikan makalahnya pada acara Melbourne Conversation yang diselenggarakan di gedung perpustaaan pemerintah Victoria pada tanggal 17 Maret 2008. Dalam sesi ini ia tampil di hadapan publik kota Melbourne bersama Elizabeth Burns Coleman (AU) dan Fotis Kapetopoulos (AU). Masing-masing adalah filsuf dan ahli komunikasi di bidang keberagaman budaya.

Selama dua hari berturut-turut, diskusi mengenai pengembangan kota kreatif dalam perspektif keberagaman budaya menjadi tema sentral yang memancing perdebatan dan diskusi diantara para peserta seminar. Topik ini dilandasi oleh prediksi Bank Dunia yang menyatakan bahwa setiap bulan kota-kota di wilayah Asia Tenggara akan didatangi oleh dua juta orang dalam dua dekade ke depan (Bank Dunia, 2007). Hal ini setidaknya membutuhkan perhatian khusus bagi para pemegang kebijakan, karena proses urbanisasi yang luar biasa saat ini sudah sangat sulit untuk dibendung. Dapat dikatakan bahwa hampir setengah dari populasi warga dunia kini hidup di lingkungan perkotaan sehingga salah satu alternatif yang mungkin untuk dilakukan adalah mengembangkan pemahaman akan keberagaman budaya, sehingga potensi konflik dan persoalan yang mungkin mucul dapat diselesaikan melalui inovasi dan kreatifitas.

Persoalan di atas setidaknya turut dipicu oleh proses globalisasi dan perkembangan di bidang teknologi yang semakin mencairkan batas antar negara dan sekat teritori budaya sehingga meningkatkan resiko akan konflik dan gesekan antar kelompok masyarakat yang berbeda. Dalam hal ini, perspektif keberagaman budaya adalah sebuah alternatif pemikiran yang idealnya dapat dipahami untuk menghindari terjadinya konflik dan gesekan antar kelompok masyarakat. Di beberapa negara, keberagaman budaya justru mampu melahirkan berbagai inovasi dan penemuan baru. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa tanpa perspektif yang menghargai keberagaman budaya, perbedaan dan keberagaman juga memiliki potensi konflik yang dapat menghambat terjadinya proses kohesi sosial yang inklusif.

Hal tersebut di atas bukan hanya disebabkan oleh entitas kebudayaan yang beragam, tetapi juga karena berbagai ketimpangan yang terjadi di ranah politik dan ekonomi, selain juga pertentangan yang terjadi di wilayah ideologi. Konflik semacam ini juga biasanya dapat dipicu oleh munculnya nilai-nilai baru yang lahir seiring dengan proses globalisasi dan perkembangan teknologi. Lain dari itu, potensi konflik yang ada juga setidaknya ikut dipicu oleh krisis pembentukan identitas masyarakat yang tidak lagi bersandar pada latar belakang etnis, ras atau keyakinan tertentu, tetapi juga merasuk kepada masalah perbedaan kelas sosial, ekonomi, gaya hidup, orientasi seksual dan lain sebagainya.

Dalam presentasinya, Keith Kahn memaparkan bahwa kota London barangkali merupakan contoh kota yang memiliki keberagaman budaya dan kompleksitas yang luar biasa. Dari 12 juta penduduknya, saat ini setidaknya ada 200 kelompok etnis dan 300 bahasa yang berkembang di kota London. Angka ini bersanding dengan kenyataan bahwa sekitar 35 % populasi kota London terdiri dari warga asing dan sekitar 40,7 % warga kota berasal dari kelompok etnis minoritas. Selain itu, persentase ini juga dilengkapi dengan fakta bahwa ada sekitar 1 berbanding 20 warga kota yang berasal dari keluarga yang mengalami persilangan ras ataupun perkawinan antar kelompok etnis yang berbeda. Dalam kenyataannya, keberagaman budaya yang dimiliki oleh kota London saat ini malah memicu pertumbuhan ekonomi kota yang bersandar pada inovasi dan kreativitas individu, sehingga potensi konflik yang ada relatif dapat dihindari.

Sementara itu Elizabeth Burns Coleman menyatakan bahwa pengembangan kota kreatif dalam perspektif keberagaman budaya dapat mendorong terjadinya proses kohesi sosial yang inklusif. Dalam perspektif keberagaman dan interaksi budaya, warga kota akan lebih terpacu untuk dapat terlibat dan berpartisipasi dalam melakukan serangkaian eksplorasi penciptaan nilai-nilai yang baru, karena proses interaksi budaya juga dapat mendorong terjadinya proses negosiasi, adaptasi dan perubahan. Dalam wacana kota kreatif, keberagaman budaya juga memiliki nilai ekonomi karena situasi keberagaman memungkinkan terjadinya proses penciptaan dan transaksi nilai-nilai, baik secara artistik maupun ekonomi.

Ada baiknya untuk disadari bahwa membangun perspektif keberagaman budaya adalah sebuah langkah politik yang diperlukan untuk meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat sipil, termasuk dalam mengembangkan kebijakan dan program pembangunan yang berkeadilan. Hal ini setidaknya tercermin melalui uraian Fotis Kapetopoulos yang memaparkan bahwa pengembangan pemahaman akan keberagaman budaya senantiasa memerlukan keterlibatan masyarakat secara langsung, selain pengembangan kebijakan dan alokasi dana pajak yang bertanggung jawab. Kepentingan publik harus dapat tercermin dalam keseluruhan proses pembentukan kebijakan, kegiatan kebudayaan dan aktifitas lain yang melibatkan masyarakat umum, karena keberagaman budaya merupakan tulang punggung dari aktifitas ekonomi masyarakat kota yang kreatif.

Profesor Marcia Langton AM (AU), salah seorang panelis dalam seminar ini lebih jauh menyatakan bahwa untuk membangun perspektif keberagaman budaya dibutuhkan kepemimpinan dan penghubung masyarakat yang berwawasan luas. Dalam beberapa hal, kebutuhan semacam ini dapat ditemukan pada energi kaum muda yang lebih dinamis dan terbuka akan gagasan-gagasan baru. Selain itu, kepemimpinan yang dibutuhkan adalah sosok yang memiliki tingkat intelektualitas dan kemampuan manajemen yang baik, sehingga dapat terhindar dari tata kelola pemerintahan yang buruk dan korup karena minimnya kemampuan intelektual yang terpuji. Untuk itu, tidaklah berlebihan apabila panelis Darcy Nicholas (NZ) menyatakan bahwa pemahaman akan keberagaman budaya hanya dapat ditemukan dalam sosok pemimpin yang memiliki kesadaran yang berlapis dan berorientasi pada inovasi dan perubahan. Dalam hal ini, seorang pemimpin yang memiliki intelektualitas dan perspektif keberagaman budaya akan secara kreatif mampu merancang dan mendorong proses perubahan ke arah yang lebih baik.

Penulis: Gustaff H. Iskandar (Seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation)
Sumber: http://commonroom.info/

About these ads