You are currently browsing the daily archive for March 27th, 2008.

ISTILAH ekonomi kreatif telah mulai ramai dibicarakan di Indonesia. Boleh dikatakan bahwa gerakan ekonomi kreatif sudah berlangsung secara alamiah di Kota Bandung. Kesadaran baru telah muncul terhadap potensi yang dimiliki oleh industri kreatif yang mampu bertahan di tengah-tengah resesi ekonomi dan mampu tumbuh berdasarkan budaya lokal.

Departemen Perdagangan RI sudah memetakan 14 sektor industri kreatif yang terdiri dari periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, video-film-dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, televisi dan radio, dan riset dan pengembangan. Mari Elka Pangestu mengatakan bahwa sumbangan ekonomi kreatif sekitar 4,75% pada PDB 2006 (sekitar Rp 170 triliun) dan 7% dari total ekspor pada 2006.

Pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai 7,3% pada 2006, atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,6%. Sektor ekonomi itu juga mampu menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja setara 4,7% total penyerapan tenaga kerja baru. Kontributor tiga terbesar adalah (1) fashion dengan kontribusi sebesar 29,85%, (2) kerajinan dengan kontribusi sebesar 18,38%, dan (3) periklanan dengan kontribusi sebesar 18,38%. Kontributor berikutnya adalah, (4) televisi dan radio, (5) arsitektur, (6) musik, dan (7) penerbitan dan percetakan.

Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB bekerja sama dengan Disperindag Jabar melakukan pemetaan cepat (rapid mapping) berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS (2007). Tidak semua sektor dapat dipetakan tetapi data yang diolah sudah bisa memberikan indikasi pentingnya industri kreatif bagi perekonomian Jawa Barat. PDRB Jawa Barat pada tahun 2005 mencapai Rp 257.535 miliar ( 25.75 million dolar AS) merupakan penyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional. Pada tahun 2005 industri kreatif di Jawa Barat telah menyerap tenaga kerja sekitar 2,54% dari jumlah total tenaga kerja atau sekitar 392.636 orang dan menyumbang 7,82% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau sekitar Rp 20 triliun.

Nilai rata-rata persentase penyerapan tenaga kerja per sektor industri kreatif terhadap total nilai penyerapan tenaga kerja oleh industri kreatif mayoritas diserap oleh industri desain fashion yaitu sekitar 59% pada tahun 2001 sampai 2005. Sektor industri kreatif lainnya yang menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang banyak yaitu industri kerajinan menyerap tenaga kerja sebanyak 29%. Sedangkan industri radio dan televisi serta industri penerbitan, percetakan, dan media rekaman menyerap tenaga kerja masing-masing 11% dan 1%.

Rata-rata nilai tambah dari industri kreatif terhadap PDRB dari tahun 2001 sampai tahun 2005 adalah 8% dan pertumbuhannya pada tahun 2004-2005 adalah sekitar 4,55%. Data-data mengenai penyerapan tenaga kerja oleh industri kreatif dan sumbangan industri tersebut terhadap PDRB mulai tahun 2001 sampai 2005 bisa dilihat pada Tabel 1. Dari data-data yang ada dapat diperoleh nilai rata-rata penyerapan tenaga kerja dari tahun 2001 sampai 2005 adalah 3,12%.

Saat ini memang belum ada sentuhan yang signifikan dalam membangun kota kreatif. Padahal industri kreatif di Kota Bandung misalnya diperkirakan dapat menyumbang 8-11% ekonomi kota yang pada umumnya bergerak di bidang fashion, desain, musik, dan kriya

Perguruan Tinggi
Kehadiran industri kreatif memberikan peluang bagi pengelola perguruan tinggi untuk memperlengkapi para mahasiswanya untuk dapat mau dan mampu bersaing sesuai dengan tuntutan pasar. Ada kecenderungan bahwa pengangguran terdidik terus meningkat sejak tahun 2003. Kontribusi PT setiap tahunnya sekitar 5-7% dari jumlah total penganggur.

Sudah menjadi perdebatan awam bahwa lulusan PT sudah seharusnya berani menciptakan lapangan kerja dan bukan memburu pekerjaan. Mengapa minat kewirausahaan begitu rendah? Jawabannya sudah kita ketahui bersama yaitu tidak dipersiapkannya para lulusan tersebut untuk mengenal seluk beluk perusahaan, tidak ada pengalaman berkolaborasi dengan orang lain mulai dari inisiasi projek bisnis sampai dengan selesai, bagaimana berurusan dengan pihak bank, dan bagaimana memperhitungkan risiko bisnis.

Kita mengakui bahwa ekonomi kreatif di Bandung baru berjalan secara alamiah, belum ada intervensi yang nyata dari pemerintah kota dan dunia perguruan tinggi di Kota Bandung. Pengembangan infrastruktur, keterampilan kewirausahaan, festival, kegiatan bazar, pasar seni, atau inkubator, ruang publik untuk industri kreatif, cinta buatan Bandung, dan akses permodalan sudah harus menjadi program rutin bersama oleh pemerintah, komunitas kreatif dan pendidikan tinggi dalam memberikan peluang bagi khalayak ramai supaya berani mencoba berkiprah di dunia industri kreatif.

Silahkan baca artikel lengkap: Perkembangan Industri Kreatif (file pdf)

Photobucket

Pada tanggal 18 Maret 2008, British Council bekerjasama dengan pemerintah Australia dan Australia Council for the Arts menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk Making Creative Cities: The Value of Cultural Diversity in the Arts yang diselenggarakan di kota Melbourne. Kegiatan ini juga juga didukung oleh pemerintah kota Melbourne dan the Arts Center yang menjadi tempat bagi penyelenggaraan seminar yang diisi dengan presentasi dan diskusi yang melibatkan para seniman, akademisi, praktisi bisnis, perwakilan pemerintah dan komentator yang berasal dari Inggris, Australia, New Zealand, Indonesia dan Taiwan.

Untuk seminar ini British Council secara khusus menghadirkan Keith Kahn (UK), seorang seniman yang merancang dan mengimplementasikan kegiatan Olimpiade Budaya yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan Olimpiade di kota London pada tahun 2012 mendatang. Sebelumnya, Keith Kahn diberi kesempatan untuk mempresentasikan makalahnya pada acara Melbourne Conversation yang diselenggarakan di gedung perpustaaan pemerintah Victoria pada tanggal 17 Maret 2008. Dalam sesi ini ia tampil di hadapan publik kota Melbourne bersama Elizabeth Burns Coleman (AU) dan Fotis Kapetopoulos (AU). Masing-masing adalah filsuf dan ahli komunikasi di bidang keberagaman budaya.

Selama dua hari berturut-turut, diskusi mengenai pengembangan kota kreatif dalam perspektif keberagaman budaya menjadi tema sentral yang memancing perdebatan dan diskusi diantara para peserta seminar. Topik ini dilandasi oleh prediksi Bank Dunia yang menyatakan bahwa setiap bulan kota-kota di wilayah Asia Tenggara akan didatangi oleh dua juta orang dalam dua dekade ke depan (Bank Dunia, 2007). Hal ini setidaknya membutuhkan perhatian khusus bagi para pemegang kebijakan, karena proses urbanisasi yang luar biasa saat ini sudah sangat sulit untuk dibendung. Dapat dikatakan bahwa hampir setengah dari populasi warga dunia kini hidup di lingkungan perkotaan sehingga salah satu alternatif yang mungkin untuk dilakukan adalah mengembangkan pemahaman akan keberagaman budaya, sehingga potensi konflik dan persoalan yang mungkin mucul dapat diselesaikan melalui inovasi dan kreatifitas.

Persoalan di atas setidaknya turut dipicu oleh proses globalisasi dan perkembangan di bidang teknologi yang semakin mencairkan batas antar negara dan sekat teritori budaya sehingga meningkatkan resiko akan konflik dan gesekan antar kelompok masyarakat yang berbeda. Dalam hal ini, perspektif keberagaman budaya adalah sebuah alternatif pemikiran yang idealnya dapat dipahami untuk menghindari terjadinya konflik dan gesekan antar kelompok masyarakat. Di beberapa negara, keberagaman budaya justru mampu melahirkan berbagai inovasi dan penemuan baru. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa tanpa perspektif yang menghargai keberagaman budaya, perbedaan dan keberagaman juga memiliki potensi konflik yang dapat menghambat terjadinya proses kohesi sosial yang inklusif.

Hal tersebut di atas bukan hanya disebabkan oleh entitas kebudayaan yang beragam, tetapi juga karena berbagai ketimpangan yang terjadi di ranah politik dan ekonomi, selain juga pertentangan yang terjadi di wilayah ideologi. Konflik semacam ini juga biasanya dapat dipicu oleh munculnya nilai-nilai baru yang lahir seiring dengan proses globalisasi dan perkembangan teknologi. Lain dari itu, potensi konflik yang ada juga setidaknya ikut dipicu oleh krisis pembentukan identitas masyarakat yang tidak lagi bersandar pada latar belakang etnis, ras atau keyakinan tertentu, tetapi juga merasuk kepada masalah perbedaan kelas sosial, ekonomi, gaya hidup, orientasi seksual dan lain sebagainya.

Dalam presentasinya, Keith Kahn memaparkan bahwa kota London barangkali merupakan contoh kota yang memiliki keberagaman budaya dan kompleksitas yang luar biasa. Dari 12 juta penduduknya, saat ini setidaknya ada 200 kelompok etnis dan 300 bahasa yang berkembang di kota London. Angka ini bersanding dengan kenyataan bahwa sekitar 35 % populasi kota London terdiri dari warga asing dan sekitar 40,7 % warga kota berasal dari kelompok etnis minoritas. Selain itu, persentase ini juga dilengkapi dengan fakta bahwa ada sekitar 1 berbanding 20 warga kota yang berasal dari keluarga yang mengalami persilangan ras ataupun perkawinan antar kelompok etnis yang berbeda. Dalam kenyataannya, keberagaman budaya yang dimiliki oleh kota London saat ini malah memicu pertumbuhan ekonomi kota yang bersandar pada inovasi dan kreativitas individu, sehingga potensi konflik yang ada relatif dapat dihindari.

Sementara itu Elizabeth Burns Coleman menyatakan bahwa pengembangan kota kreatif dalam perspektif keberagaman budaya dapat mendorong terjadinya proses kohesi sosial yang inklusif. Dalam perspektif keberagaman dan interaksi budaya, warga kota akan lebih terpacu untuk dapat terlibat dan berpartisipasi dalam melakukan serangkaian eksplorasi penciptaan nilai-nilai yang baru, karena proses interaksi budaya juga dapat mendorong terjadinya proses negosiasi, adaptasi dan perubahan. Dalam wacana kota kreatif, keberagaman budaya juga memiliki nilai ekonomi karena situasi keberagaman memungkinkan terjadinya proses penciptaan dan transaksi nilai-nilai, baik secara artistik maupun ekonomi.

Ada baiknya untuk disadari bahwa membangun perspektif keberagaman budaya adalah sebuah langkah politik yang diperlukan untuk meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat sipil, termasuk dalam mengembangkan kebijakan dan program pembangunan yang berkeadilan. Hal ini setidaknya tercermin melalui uraian Fotis Kapetopoulos yang memaparkan bahwa pengembangan pemahaman akan keberagaman budaya senantiasa memerlukan keterlibatan masyarakat secara langsung, selain pengembangan kebijakan dan alokasi dana pajak yang bertanggung jawab. Kepentingan publik harus dapat tercermin dalam keseluruhan proses pembentukan kebijakan, kegiatan kebudayaan dan aktifitas lain yang melibatkan masyarakat umum, karena keberagaman budaya merupakan tulang punggung dari aktifitas ekonomi masyarakat kota yang kreatif.

Profesor Marcia Langton AM (AU), salah seorang panelis dalam seminar ini lebih jauh menyatakan bahwa untuk membangun perspektif keberagaman budaya dibutuhkan kepemimpinan dan penghubung masyarakat yang berwawasan luas. Dalam beberapa hal, kebutuhan semacam ini dapat ditemukan pada energi kaum muda yang lebih dinamis dan terbuka akan gagasan-gagasan baru. Selain itu, kepemimpinan yang dibutuhkan adalah sosok yang memiliki tingkat intelektualitas dan kemampuan manajemen yang baik, sehingga dapat terhindar dari tata kelola pemerintahan yang buruk dan korup karena minimnya kemampuan intelektual yang terpuji. Untuk itu, tidaklah berlebihan apabila panelis Darcy Nicholas (NZ) menyatakan bahwa pemahaman akan keberagaman budaya hanya dapat ditemukan dalam sosok pemimpin yang memiliki kesadaran yang berlapis dan berorientasi pada inovasi dan perubahan. Dalam hal ini, seorang pemimpin yang memiliki intelektualitas dan perspektif keberagaman budaya akan secara kreatif mampu merancang dan mendorong proses perubahan ke arah yang lebih baik.

Penulis: Gustaff H. Iskandar (Seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation)
Sumber: http://commonroom.info/

Bersama ini kami beritahukan bahwa Inkubator Industri dan Bisnis ITB akan menyelenggarakan acara Seminar Nasional Industri Kreatif untuk kesejahteraan Bangsa

Hari/tanggal : Rabu, 2 April 2008
Waktu : 08.00 – 16.30 WIB
Tempat : Aula Barat ITB
Jl. Ganesha No. 10 Bandung

Tujuan diadakannya seminar tersebut adalah selain membangun kesadaran akan potensi industri kreatif bagi kesejahteraan bangsa Indonesia juga untuk mendorong inspirasi kewirausahaan di bidang industri kreatif serta
membangun jejaring kerja sama antara pihak-pihak terkait di bidang industri kreatif.

Pembicara:

  1. Jero Wacik (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata/ keynote speaker)
  2. Budi Darmadi (Direktur Jenderal IATT Depperin)
  3. Rinaldi Firmansyah (Dirut Telkom)
  4. H. Dada Rosada (Walikota Bandung)
  5. Effendi Ghozali (pencetus ide republik BBM)
  6. Purwacaraka (Praktisi industri musik)
  7. Yudhi Soerjaatmodjo (The British Council)
  8. Dr. Biranul Anas Zaman (Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain – ITB)
  9. M. Ridwan Kamil (PT. Urbane Indonesia)
  10. Dr. Ir. Togar Simatupang (Staf Pengajar SBM ITB)
  11. Dr. Suhono H Supangkat (Direktur Inkubator Industri dan Bisnis ITB)

Dalam seminar ini direncanakan akan diadakan pameran yang bertemakan industri kreatif dan tenant inkubator industri dan bisnis ITB, serta peluncuran buku berjudul “Industri Kreatif untuk Kesejahteraan Bangsa”.

Sehubungan dengan hal itu, kami mengundang bapak/ibu/saudara/i untuk menghadiri acara dimaksud dengan biaya Rp. 100.000,-/orang (umum) dan Rp. 50.000,-/orang (mahasiswa) sudah termasuk 2 kali snack, makan siang, seminar kit, makalah dan sertifikat.

Untuk pendaftaran dapat mengisi Surat Kesediaan Peserta & konfirmasi lebih lanjut mengenai keikutsertaan dan
pembayaran, mohon hubungi :
Inkubator Industri dan Bisnis – ITB (Indriani)
Jl. Ganesha No. 15 Bandung
Ph. (022) 2501006, Fx. (022) 2534163
e-mail : pib@inkubator.itb.ac.id

 

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

a

Top Clicks

  • None
Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email