You are currently browsing the daily archive for March 24th, 2008.
Minggu, 9 Maret 2008
Di tahun 1970-an, musik cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie, mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, Uriah Heep, dll. merupakan komoditas yang dianakemaskan oleh industri major label. Begitu pun dengan musik cadas di Indonesia semacam Giant Step, God Bless, Superkid, SAS, dll. yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik underground. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas batas toleransi pendengaran manusia. Istilah musik indie atau musik independen mulai melekat terhadap musik cadas di saat tren industri musik tadi mulai memudar.
Sementara di lain pihak para generasi penerus musik cadas tetap tidak ingin kehilangan aktualisasi diri. Dari situlah kemudian lahir istilah musik independen, sebuah istilah yang mencitrakan berbeda dengan musik yang tengah dimanjakan industri major label. Jargon musik indie dengan cepat bisa mengikat solidaritas, termasuk membangun jaringan musisi dan fans yang luas pula. Bersamaan dengan itu, sejumlah musisi cadas Amerika mencoba memanfaatkan realitas itu dengan membuat dan memasarkan album rekaman dengan caranya sendiri, termasuk melakukan berbagai pertunjukan melalui jaringan yang sudah terbentang luas.
Dalam perjalanannya kemudian sebutan musik indie bukan sebatas bagi aliran musik cadas saja. Musik alternatif sebagaimana yang diusung Cokelat, Mocca, Uthopia di Indonesia, aliran melodik sebagaimana yang diusung Nidji di Indonesia termasuk indie pop sebagaimana yang diusung anak-anak kreatif dari Bandung Pure Suterday terkategorikan sebagai band berbau indie.
Kecuali Cokelat, Mocca, Uthopia, dan Nidji, peredaran kaset/CD aliran musik berbau indie lainnya di Indonesia lebih banyak mengandalkan berbagai distro, atau menjual produk rekamannya di saat mereka melakukan pertunjukan mengingat toko-toko kaset pada umumnya dianggap sangat kurang berpihak.
Gerakan musik indie layak pula disebut sebagai gerakan masyarakat yang terpinggirkan sebab yang terjadi di sana bukan sebatas geliat pemberontakan para musisinya, melainkan secara sangat luas dimanfaatkan pula oleh anak-anak muda yang bukan musisi, namun ingin menggunakan eksistensi aliran hardcore, shoegaze, emo, black metal, dll. sebagai gerakan aktualisasi diri.
Pertanyaannya sekarang, mengapa di tahun dua ribuan ini tiba-tiba banyak gedung pertunjukan yang tidak mau memberi izin bagi pertunjukan musik indie? Bahkan mengapa ada sebuah pertunjukan musik indie yang sampai menelan korban sepuluh nyawa dan puluhan lainnya yang terluka?
Perilaku komunitas musik tersebut saat ini amat jauh berbeda dengan para pendahulunya di tahun-tahun tujuh puluhan. Pertunjukan musik superkeras saat ini selalu ditingkahi dengan perilaku para moshing, headbang, atau pogo yang dalam melakukan respons gerak tariannya hampir selalu ditingkahi adegan saling senggol atau saling dorong antar-penontonnya. Orang yang awam terhadap pertunjukan ini bisa dibuat ngeri saat melihatnya. Akan tetapi, bagi mereka perilaku seperti ini dipandang sebagai hal yang lumrah bahkan membanggakan. Setelah selesai pertunjukan, mereka kembali menunjukkan solidaritas yang kental. Malahan terhadap sesama komunitas indie di Bandung, mereka lazim bertegur sapa dengan memanggil lur kependekan dari kata dulur. Panggilan keakraban seperti itu diimplementasikannya pula dengan saling tolong saat ada kendaraan sesama penonton yang mogok atau kehabisan bensin usai menonton.
Punten kapayunan lur! Peryogi dibantos lur? Hatur nuhun lur! serta sapaan lur … lur … lur lainnya seakan sudah menjadi bahasa wajib sekalipun sebelumnya tidak saling kenal. Namun, suasana keakraban moshing, pogo, headbang bisa berubah jika ada oknum penonton yang mabuk. Apalagi, bila emosi mereka terus terpacu oleh lagu-lagu tempo cepat yang disertai kilauan lampu berkilat-kilat serta udara yang pengap dan panas.
Berdasarkan keterangan aparat kepolisian, terjadinya tragedi pada konser launching Grup Beside karena di sana telah beredar minuman keras. Penyebab lainnya adalah membeludaknya penonton yang jauh melampaui kapasitas gedung. Keterangan lain yang dikemukakan panitia melalui media massa adalah disebabkan kurangnya tenaga polisi pengaman. Ada pula yang menuduh bahwa pada saat kejadian chaos panitia seakan menghilang, termasuk tudingan disebabkan di Bandung tak ada tempat pertunjukan musik yang memadai, tidak adanya perda tentang pertunjukan, dst.
Namun, sesungguhnya ada yang lebih penting dari pernyataan semacam tadi. Yang menjadi penyebab inti tragedi konser 9 Februari tersebut sebetulnya adalah kita tidak pernah mau belajar banyak, padahal kematian penonton pada pertunjukan musik di Indonesia tidak hanya terjadi di Gedung Asia Afrika Culture Center (AACC).
Jangan dulu bicara muluk-muluk soal penyediaan fasilitas dsb. Yang kecil-kecil saja dulu, seberapa banyak orang tua mereka yang pernah mau menengok mencari tahu warna sosial mereka. Seberapa banyak pula pejabat, wakil rakyat, para pengurus organisasi musik, para wartawan, pendidik, tokoh agama, dsb yang pernah mau sekadar menengok pertunjukan musik mereka. Jangankan untuk menengok pertunjukan musik cadas, untuk pertunjukan musik biasa pun jarang sekali ada para inohong yang mau hadir, apalagi bertahan dari awal hingga akhir. Padahal, kehadiran tersebut bisa menjadi referensi penting guna membuat keputusan.
Realitas pada komunitas indie sesungguhnya tidaklah harus berhenti pada urusan fasilitas, mengingat pada hakikatnya komunitas indie sedang memperjuangkan sebuah pengakuan. Sangat disayangkan bila pada pertunjukan musik harus berkali-kali terjadi korban jiwa, padahal potensi konflik di antara mereka jauh lebih kecil daripada komunitas suporter sepak bola, yang sangat mudah tersulut permusuhan dengan suporter kesebelasan lawan.
Tragedi 9 Februari 2008 merupakan dosa kolektif dari pihak yang tidak mau belajar sungguh-sungguh, termasuk yang kurang mau tahu akan realitas peradaban yang sedang terjadi. Dan lebih khususnya lagi adalah dosa kolektif pihak-pihak yang sering bersentuhan dengan duia pertunjukan, namun tidak mau tahu banyak akan seluk-beluk soal ini. Kita sampaikan belasungkawa kepada sepuluh korban di AACC. Semoga pula konser musik yang lebih aman di masa depan, bisa membuat almarhum/almarhumah semakin bahagia di pangkuan-Nya.
Penulis: Adjie Esa Poetra (Penulis, guru vokal di Bandung)
Sumber: Pikiran Rakyat
Sabtu, 10 November 2007
Film dan bioskop pada awal kemunculannya dianggap sebagai ikonografi modernitas dunia hiburan. Pada dekade-dekade pertama abad ke-20, tidak lama dari titik penemuannya, penghiburan anyar ini segera merambah ke segenap penjuru dunia, mengisi waktu luang orang-orang kota saat itu.
Ikonografi modernitas hiburan tersebut kemudian sampai di Bandung, tepat satu abad silam pada tahun 1907. Saat itu dua bioskop pertama berdiri di Alun-alun Bandung dalam bangunan tenda semipermanen yang cukup besar. Bioskop-bioskop tersebut adalah de Crown Bioscoop milik seorang bernama Helant dan Oranje Electro Bioscoop milik Michel.
Pertunjukan perdana bioskop-bioskop tersebut berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan. De Crown Bioscoop adalah yang tampil lebih dulu. Oranje Electro Bioscoop menyusul tepat seminggu kemudian dengan pertunjukan perdananya pada Sabtu malam, 1 Desember 1907.
Tenda-tenda bioskop tersebut dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bendera dan umbul-umbul. Pada salah satu sisi bagian dalam tenda terpampang sebuah layar besar di mana gambar idoep diproyeksikan. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang hendak diputar. Lantai tenda tersebut dilapisi vloer dan alas semacam tikar. Walau sarana pertunjukan film terbilang masih sederhana, tenda bioskop ini tampil cukup menghebohkan untuk ukuran seabad lalu.
Di antara dua pertunjukan perdana tersebut, pertunjukan dari Oranje Electro Bioscoop tampaknya memang lebih meriah. Selain dipromosikan lebih serius, bioskop milik Michel ini juga dilengkapi peralatan proyeksi yang lebih canggih. Disebut ”electro bioscoop” karena alat proyeksi gambarnya memang telah menggunakan sistem elektronik yang memungkinkan pemutaran film berjalan mulus dengan gambar yang tidak berkedipan.
Pertunjukan perdana Oranje Electro Bioscoop berhasil mendapat sambutan meriah dari masyarakat Bandung. Malam itu tenda-bioskop ini dipenuhi orang-orang yang penasaran melihat ”keajaiban zaman” yang akan dipertunjukkan.
Saat itu film yang diputar tentu masih bisu. Oleh karena itu, Michel sang pemilik bioskop menyediakan sebuah orgel-elektrik yang besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu yang ditampilkan. Pertunjukan film dimulai pukul tujuh malam. Namun, beberapa waktu sebelumnya suara musik dari orgel Oranje Electro Bioscoop telah terdengar meramaikan atmosfer Alun-alun. Musik dari orgel tersebut segera menarik perhatian publik untuk datang ke Oranje Electro Bioscoop.
Dari malam ke malam bioskop-bioskop tersebut terus mendapat animo yang baik dan selalu ramai penonton. Kepenasaran orang saat itu atas film-film yang akan ditampilkan seolah tak kunjung habis. Saat cuaca kering maupun hujan, setiap malamnya orang-orang berebut sado, beranjak pergi ke Alun-alun Bandung dan segera memenuhi tenda-tenda bioskop Michel dan Helant.
Ruang pertunjukan di bioskop zaman itu dibagi menjadi beberapa kelas dengan harga karcis yang bervariasi. Karcis kelas I yang dijual lebih mahal tentu diperuntukkan bagi orang Eropa atau mungkin pribumi dari kalangan menak, kelas II, untuk kalangan Timur asing dan pribumi dari kalangan menengah, dan kelas III atau IV untuk kalangan menengah bawah. Pilihan lain untuk menonton film dengan tarif jauh lebih murah adalah di feesterrein (taman hiburan rakyat).
Dari Tenda ke Gedung
Tahun-tahun berikutnya, bioskop di Bandung berkembang dari bentuk tenda semipermanen, kemudian beralih ke bangunan permanen yang juga masih sangat sederhana. Bioskop-bioskop permanen yang kemudian muncul di antaranya adalah Elita Biograph, Varia Park, dan Oriental Show di Alun-alun Timur, Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja, Orion Bioscoop di Kebonjati, Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan, serta Deca Bioscoop yang bertempat tepat di belakang kantor pos pusat, Banceuy.
Saat itu bioskop-bioskop lazim tampil sebagai bagian dari sebuah gedung kesenian atau yang saat itu dikenal sebagai roemah koemedie. Film dalam bioskop adalah salah satu bentuk pertunjukan yang ditawarkan di suatu roemah koemedie, di samping pertunjukan-pertunjukan konvensional seperti koemedie stamboel, tonil, konser orkes musik, dan sebegainya. Orion merupakan bagian dari Preanger Theater (kemudian menjadi Luxor Theater dan Luxor Park), Alhambra Bioscoop merupakan bagian dari Apollo Theater (kemudian menjadi Empress Bioscoop), dan Elita Biograph sempat menjadi bagian dari Scala Theater.
Menjelang akhir dasawarsa 1910-an, bioskop-bioskop di Bandung mulai dibangun dengan bangunan khusus yang dirancang sebagai gedung bioskop. Di Alun-alun Timur, Elita Biograph dan Oriental Show dirombak menjadi bangunan yang jauh lebih memadai dan tampil utuh dengan bentuk standar sebuah gedung bioskop zaman itu.
Bioskop-bioskop terus berkembang dari jumlah dan fasilitasnya. Pada pertengahan 1920-an, di Braga yang saat itu merupakan pemusatan hiburan kalangan Eropa, dibangun Concordia Bioscoop (kemudian populer sebagai Majestic Theater), bioskop elite berstandardisasi Eropa.
Masa Kejayaan
Dalam era film bersuara pada 1930-an, bioskop-bioskop di Bandung makin mengalami kemajuan. Saat itu bioskop-bioskop di Bandung dikuasai satu jaringan besar Elita Concern yang dikelola seorang “Raja Bioskop” bernama F.F.A. Buse.
Pada masa itu gedung-gedung bioskop baru yang megah dengan arsitektur yang khas, lengkap dengan fasilitas mutakhir, gencar didirikan oleh F.F.A. Buse. Elita Biograph dan Oriental Show di Alun-alun Timur dibangun ulang dalam rupa gedung besar yang modern dengan corak art-deco yang kental. Dengan bangunan barunya, Elita Biograph bahkan dikenal sebagai salah satu dari dua bioskop terbaik di negeri ini saat itu. Pembaruan fasilitas dan daya tarik dilakukan pula pada bioskop-bioskop Elita Concern lainnya.
Bioskop-bioskop baru pun terus dibangun. Di kawasan Pecinan muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi dan Liberty Bioscoop di Cicadas.
Bioskop-bioskop Elita Concern tersebut terpilah atas kelas-kelas tertentu yang fasilitasnya disesuaikan dengan daya beli masing-masing kalangan masyarakat. Sedari Concordia Bioscoop (Majestic Theater) yang tampil sebagai bioskop elite kalangan orang Eropa, hingga bentuk feesterrein yang mengakomodasi kebutuhan hiburan “rakyat kecil” seperti Varia Park.
Dalam mengagumi kemegahan gedung serta standar kualitas bioskop-bioskop di Bandung, Gravin de Réthy, seorang bangsawan Belgia yang berkunjung ke kota ini pada 1930-an sempat bertutur, “Zoo’n welverzorgd theater moest Brussel hebben” (Bioskop-bioskop seperti ini sepantasnya ada di Brussel). Komentar Gravin de Réthy menggambarkan bahwa kemajuan bioskop-bioskop di Bandung paling tidak telah menyentuh standar kualitas bioskop di kota-kota besar dunia, seperti Brussel.
Elita Concern terbilang unggul dalam mengelola bioskop-bioskopnya. Salah satu keberhasilan yang menonjol misalnya tampak dari keberhasilan menekan harga karcis. Tarif biokop di Bandung kala itu bahkan adalah yang termurah di Hindia Belanda, dengan fasilitas terbaik yang ditawarkan.
Kegemerlapan gedung-gedung bioskop Elita Concern berimbang dengan animo masyarakat Bandung atas film. Pada masa Hindia Belanda dulu, bioskop dan feesterrein di Bandung tidak pernah sepi pengunjung. Pada akhir pekan bahkan orang harus berebut karcis agar tidak kehabisan karcis.
Bioskop Dulu dan Sekarang
Sebagian besar artefak sisa kejayaan bioskop di Bandung masa Hindia Belanda telah punah berganti menjadi bangunan-bangunan baru. Sedikit sisa yang masih bisa kita temukan saat ini adalah bangunan bekas Majestic Theater (sempat bernama Gedung AACC) di Jalan Braga yang pada masa pascakemerdekaan sempat bertahan sebagai bioskop dengan nama Bioskop Dewi. Di Kosambi masih berdiri pula bangunan bekas Rivoli Teater yang sekarang digunakan sebagai gedung kesenian Rumentang Siang. Sementara di Alun-alun Selatan masih berdiri bangunan bekas bioskop Radio City milik J.F.W. de Kort yang beroperasi sejak awal 1940-an.
Berbeda dengan dulu, di masa sekarang bioskop seolah memang tidak lagi bisa dikenali melalui rupa fisiknya. Bioskop-bioskop masa kini lazim tampil sebagai bagian dari bangunan besar pusat belanja. Rupa dari sebuah bioskop kini menjadi semu, melesap dalam kompleks town square, mal atau plaza. Tak ada lagi bioskop dalam “gedung bioskop”. Tak ada lagi penanda jejak zaman yang dibuat dalam rupa gedung bioskop.
Penulis: Taufanny Nugraha (Penggiat Klab Aleut, komunitas apresiasi dan wisata sejarah)
Sumber: Pikiran Rakyat
Senin, 17 September 2006
“Bandung? Anak Bandung mah cuma bisa mulai tapi ngga bisa mempertahankan apa yang sudah dimulai!” Begitulah komentar beberapa orang ketika ditanyai mengenai perkembangan perfilman di Bandung. Saya hanya tersenyum mendengarnya, dalam hati saya membenarkan komentar itu. Tapi memulai masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Jika mau jujur, siapa komunitas film di Bandung yang cukup berpengaruh? Apa karya mereka yang cukup menonjol yang pantas diperhitungkan dalam geliat kebangkitan perfilman nasional? Sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Atau malah bukan seperti itu pertanyaannya. Ataukah sebaiknya lihatlah Bandung sebagai Bandung.
Sebut saja Forum Film Bandung yang cukup berpengaruh pada dasawasa 80 an. Lalu, sekitar dua tahun di penghujung 90an, dimana Bandung gempita dengan semangat komunitas-komunitas pecinta film yang membentuk Kine Klub. Mulai dari kampus-kampus, cafe sampai studio seniman membuka diri untuk kegiatan apresiasi film. Namun di tahun 2002 tidak lebih dari lima yang masih bertahan dengan kegiatannya. Dan Forum Film Bandung? Bertahan sebatas seremonial penganugrahan award.
Memang, tidak banyak ajang film yang cukup menjadi barometer perkembangan film komunitas film di Bandung. Meski Festival Film Independen garapan Konfiden, pertama kali diadakan di Bandung, namun kelanjutan ajang serupa selalu saja berhenti sebatas gagasan. Pusat kebudayaan asing seperti CCF, Erasmus Huis dan British Council, yang memboyong festival filmnya ke Bandung, juga tidak menampilkan pilihan selengkap Jakarta.
Jika seperti mode yang seringkali berulang, tahun 2002 ini, apresiator film di Bandung bisa bersenang hati, bayak event film yang telah berlangsung maupun akan berlangsung di kota Bandung. Mulai dari British Film Festival, Festival Sinema Perancis, JIFFEST Film Travelling yang semuanya memang kegiatan tahunan, dan tahun ini pula Dutch Film Festival sempat mampir di Bandung meski publikasinya tidak segencar event film serupa.
Peristiwa lain yang penting untuk dicatat adalah Bandung Video, Film and New Media Art Forum, ajang eksibisi film, video dan performance art yang mengeksplorasi media baru dalam karya rupa dan pertunjukan, dan film menjadi media baru yang terus diekplorasi. Sebuah sinergi yang patut dicermati. Event seperti ini bisa menjadi penanda sekaligus barometer perkembangan film atau video art, yang dapat menjadi eksplorasi visual artistik, bahkan mungkin referensi artistik dunia perfilman kita. Hanya saja untuk event seperti ini, saya selalu cemas, jika ini adalah peristiwa yang lahir sekali sesudah itu mati.
Tak kalah menarik pada event yang akan datang, yaitu pada pertengahan Oktober. Apa yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya TRAFFIC (Territorial Research For Independent Film Community), yang akan menggelar Bandung Hair Cut Film Festival 2002 yang menampilkan video dokumentasi lokal band-band Bandung dan film-film dokumentasi musik. Dengan upaya mengusung wacana sub kultur Bandung yang kuat, event ini merupakan eksibisi film perjalanan musik baik yang mempengaruhi maupun yang dipengaruhi dalam komunitas musik Bandung. Maka sebut saja film dokumenter Grunge From Seattle (Seattle Sound) dimana pada pertengahan 90-an, Seattle Sound memberikan pengaruhnya yang kentara dari mulai musik dan gaya berpakaian anak muda Bandung. Karya-karya Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, seolah menjadi lagu wajib di setiap pertunjukan musik pada masa itu. Pada dekade itu pula komunitas-komunitas film ada dan bergerak masing-masing. Berkarya sebagai sebuah kesenangan, jika disebut sebuah gerakan pun, tidak terdengar iramanya.
Apa yang dilakukan TRAFFIC sendiri masih dalam rangka pemetaan komunitas film di Bandung saat ini. Upaya mereka menggelar event berbasis sub kultur Bandung, mengobati kerinduan banyak pihak yang mendambakan event yang jadi penanda identitas kultural anak muda Bandung. Kelompok-kelompok sub kultur Bandung ini memiliki karakter tersendiri yang tercipta atas pemahaman Think Globally Act Locally, menjadi bagian dari masyarakat global tanpa harus kehilangan ciri khas lokal dan kepekaan lokal. Ini menarik, karena ditengah-tengah arus kebangkitan dunia film nasional, kelompok ini menyikapinya dengan membaca ulang peta lokal dan mencoba menampilkan wacana sub kultur yang selama ini termarjinalkan, menjadi resistan, sekaligus memiliki kekuatannya sendiri di Bandung.
Berkembangnya distro yang memiliki peranan penting dalam mendistribusikan mini album, clothing lokal, penyebaran publikasi acara sub kultur, dan yang tak kalah penting adalah dukungan finansial untuk gerakan sub kultur Bandung. Majalah lokal Bandung seperti Trolley (almarhum), Ripple dan Board Riders, serta Zine komunitas, muncul menjadi agen mediasi event-event sub kultur Bandung. Semua ini menjadi scene yang khas dalam perkembangan identitas kultural anak muda Bandung, sekaligus juga potensi alternatif untuk terciptanya jalur distribusi independen bahkan warna baru dalam perkembangan wacana perfilman lokal maupun nasional.
Hal lain yang justru tidak disangka-sangka di tahun 2002 ini, muncul dari anak-anak SMP di dua Sekolah Menengah Pertama di Bandung: SMPN 9 (Hanya Kacamata yang Tahu jawabannya) dan SMP Taruna Bakti (Bingkisan), Film mereka dari hasil workshop karya Kita Bengkel Film Pemula (Bandung, 2001), terpilih sebagai 4 film pilihan dewan juri (2 diantaranya dari Bandung), pada Malam Penghargaan Karya Kita, Bengkel Festival Film Pemula, di Jakarta, 11 Agustus 2002 yang lalu, setelah bertarung dengan karya-karya teman-teman sebaya mereka dari beberapa daerah di Indonesia (Yogyakarta, Surabaya, Makasar, Jakarta).
Dari hiruk pikuk event film yang digelar, juga kemunculan baru komunitas-komunitas film di Bandung, semoga ini menjadi pertanda, geliat komunitas film Bandung bukan sekedar gerakan malas-malasan yang sesudah itu kembali tidur, tapi lebih pada keberanian untuk menjadi diri sendiri, menampilkan identitas kulturalnya sebagai bagian dari masyarakat global. Jadi, bagi perfilman Bandung sekarang, Support and Enjoy Your Own Videos, sementara cukuplah!
Penulis: Tarlen Handayani
Sumber: http://vitarlenology.blogspot.com
Catatan: Pada saat tulisan ini selesai di buat, ternyata acara TRAFFIC batal diselenggarakan karena ketidak tersediaan dana dan sumber daya yang memadai.
* Tulisan ini pernah dimuat di majalah Aksara, 2002
Kamis, 20 April 2006
Kini, tak begitu susah menemukan poster film Indonesia terpampang di bioskop. Sebuah perkembangan yang patut disambut gembira. Berbicara perfilman nasional, tentu tidak terlepas dari fenomena film indie. Bagaimana perkembangannya sekarang?
BOLEH dikatakan, Bandung layak menyandang predikat sebagai salah satu barometer film indie. Lihat saja kegiatan festival, diskusi, workshop, dsb., yang sering mondar-mandir di kampus, sekolah, atau berbagai komunitas di Bandung. Belum lagi, yang muncul di ruang publik lain, seperti kafe, sebagai salah satu alternatif hiburan.
Adalah Salman Filmmaker Club (Salman FM Club), salah satu komunitas di Bandung yang cukup konsisten dalam memproduksi film. Berdiri sejak Maret 2001, Salman FM Club telah membuat 40-an film, baik film pendek maupun film panjang. Kebanyakan dikerjakan bersama Forum Filmmaker Pelajar Bandung (F2PB), sebuah forum khusus pelajar SMU yang dibentuk Salman FM Club. Tercatat sekira 200 orang pelajar SMU yang menjadi anggota. Salah satu filmnya, Ben, dengan asistensi Budiyati Abiyoga –produser film senior, bahkan ikut serta dalam Cannes Film Festival 2006.
Semangat indie dikenal dengan do it yourself. Apalagi dengan kemudahan teknologi, hampir semua orang dapat membuat film. Tinggal pakai handycam, beli kaset, lalu edit di komputer, beres! Namun Iqbal Alfajri, salah satu penggagas Salman FM Club, berpendapat bahwa film indie tidak hanya faktor “semuanya dikerjakan sendiri”. “Film indie harus ada spirit juga,” kata laki-laki lulusan FSRD ITB angkatan 1996 ini. Kampus berbicara dengan Iqbal seputar spirit film indie, distribusi, kompetisi, sampai pada iklim kebebasan berekspresi, di Sekretariat Salman FM Club di Gedung Kayu lantai 3 kompleks Masjid Salman ITB. Berikut petikan wawancaranya:
Kenapa pelajar SMU yang menjadi sasarannya?
Kalau mahasiswa, rata-rata sudah punya pemikiran relatif stabil. Kita coba masuk ke SMU, karena kita lihat, mereka masih mencari-cari. Jadi kita arahnya lebih pada pembinaan pelajar. Beda kalau ke mahasiswa, kita arahnya lebih pada fasilitator. Kita memang tidak berharap para pelajar tersebut langsung jago bikin film, tapi kita berharap, mereka bisa membuat sesuatu di usia muda.
Sekarang memang cukup banyak anak muda yang coba bikin film. Tapi seringkali mereka terhambat di distribusi. Mau ke mana kalau film itu sudah jadi? Sebenarnya bagaimana?
Jaringan film indie memang tidak semapan jaringan distribusi film komersial, di mana jelas kan, ada bioskopnya, ada pebisnisnya, dsb. Yang namanya festival mah tiap tahun pasti ada. Tapi kalau distribusi yang sifatnya terstruktur, saya kira itu belum. Tapi kita menyiasatinya begini. Sekarang kita melihat distribusi film itu lebih luas. Makanya kita lari ke potensi pelajar. Di kurikulum kan sudah ada kewajiban membuat film (pelajaran bahasa Indonesia). Film kita akhirnya jadi referensi guru-guru. Kita mah gerilya saja. Kita juga kasih langsung ke orang film. Pokoknya begini, bagaimanapun caranya film indie harus tetap eksis!
Kalau ke stasiun TV lokal?
Kita pernah coba. Tapi kita lihat, mereka terlalu biasa dalam pengelolaannya. Cuma diputar saja. Ya mbok diundang orang-orang yang membuatnya untuk bicara tentang karyanya. Karena film itu kan tidak terlepas dari pertanggungjawaban. Apalagi film indie. Itu bisa saja berbahaya, karena lebih bebas berekspresi.
Kalau Anda sendiri, seberapa ingin film Anda diputar di bioskop? Atau tidak terlalu peduli, karena yang penting adalah proses berkaryanya?
Kalau di Jerman, film indie rutin diputar di bioskop. Ada peraturan bahwa wajib memutar film indie setengah jam sebelum pemutaran film. Rasionya begini, kalau ada 10 film diputar, maka minimal harus ada 2 film indie yang diputar. Jadi, ada penghargaan dan kejelasan. Kalau di Australia, ada stasiun yang fokus ke film indie. Kalau Amerika lebih hebat lagi. Amerika ada festival film indie (Sundance Film Festival) yang dibiayai oleh orang-orang film Hollywood sendiri. Karena Hollywood memang mencari sutradara untuk diorbitkan, dari festival itu.
Nah, kalau di kita serba tidak jelas. Tapi, pokoknya film indie harus tetap eksis. Tantangan memang cukup berat. Kalau bicara semangat, selama 5 tahun ini, bisa dibilang turun terus. Ha haha… Tapi ketika ketemu lagi sama orang-orang film, kita jadi semangat lagi. Apresiasi, motivasi dan pujian dari mereka, membuat kita terbakar lagi. Walaupun sampai saat ini, penghargaan masih dalam bentuk penghargaan personal. Belum ada lembaga yang tiba-tiba datang, lalu kasih duit, nih untuk buat film. Ha..ha…
Kalau bicara film indie, sering dikontrakan dengan “major label”. Sedangkan ada pendapat bahwa di Indonesia, “major label” film pun belum ada yang mapan. Jadi, film indie itu apa?
Saya sepakat dengan Garin Nugroho. Garin bilang, film indie itu, orang-orangnya masih bebas. Dalam arti, punya konsep dan idealisme, dan itu tergambar dalam filmnya. Tidak ikut trend dan main di mainstream. Dia juga bisa mempertanggungjawabkan karya dia. Kalau asal, itu bukan mental seorang filmmaker. Tidak semena-mena juga, bilang “Saya bisa bikin film sendiri nih.” Bukan berarti itu film indie. Dilihat dulu! Banyak loh, anak-anak yang buat film, tapi mirip sinetron. Apa itu film indie? Bukan! Itu film mainstream, walaupun semua dibuat sendiri.
Jadi, film indie bukan sekadar “do it yourself”?
Tidak hanya itu, tapi ada spirit juga. Kalau bicara definisi, yang jelas film itu dibuat berdasarkan kebutuhan. Bukan iseng atau hobi, tapi dia butuh untuk buat film. Misalnya, saya konsentrasi ke dunia remaja. Lalu saya lihat sinetron remaja, banyak yang tidak benar. Lalu saya buat saja film remaja. Itu kebutuhan kan? Seperti waktu kita putar film Ben di sebuah SMU. Mereka bilang, “Wah, kalau sinetron seperti ini, kita mau nonton.” Itu bukti bahwa sebenarnya mereka butuh, tapi di pasar tidak ada. Kalau sinetron kan, kebanyakan sekadar memenuhi pasar. Jadi, kita melihat masalah, dan dari nilai-nilai yang diyakini, kita berusaha menjawabnya lewat film.
Kalau bicara iklim kebebasan berekspresi dan berkreativitas, bagaimana?
Di Indonesia, selama belum ada undang-undangnya, sebenarnya momen yang baik untuk berkembang. Di undang-undang perfilman, belum ada yang mengatur khusus film indie. Memang ada Lembaga Sensor Film (LSF). Tapi sampai hari ini, belum ada orang membuat film indie, separah apa pun, yang bermasalah atau ditangkap. Film yang menjelek-jelekkan pemerintah juga ada loh.
Dengan tidak ada peraturan, Anda senang?
Menurut saya, kalau kita mau jadi manusia yang beradab, kita mengatur diri sendiri. Tidak harus ada undang-undang. Plus-minusnya, kita jadi lebih cepat dewasa. Walaupun mungkin nanti ada korban-korbannya. Harapan saya, tidak usah ada undang-undang. Tapi, masyarakatnya harus siap. Nah, film indie kan beredarnya kebanyakan di kalangan tertentu, namun kalau untuk disiarkan ke publik yang lebih luas lagi, perlu ada regulasi juga. Jadi, ada yang harus diatur, ada juga yang harus diberi ruang.
Untuk penghargaan dan kompetisi film indie, bagaimana?
Saya belum terlalu puas. Penjuriannya kebanyakan tidak transparan. Untuk penjurian, jangankan festival film indie, Festival Film Indonesia (FFI) saja tidak transparan. Ha..ha… Di FFI, menentukan film terbaik, cuma oleh 10 orang. Kalau Piala Oscar kan sampai ribuan jurinya. Itu FFI, lalu bagaimana festival film indie, yang mungkin jurinya saja tidak dibayar? Terus terang kalau saya lebih pilih di luar negeri. Karena di Indonesia tidak jelas dan tidak ada atmosfer kompetisinya, tahu-tahu menang saja entah siapa. Banyak yang kecewa loh.
Siapa sih yang harus peduli sama film indie?
Pertama ya dari orang film sendiri. Mereka yang senior dan bisa jadi patron. Misalnya, orang seperti Slamet Rahardjo. Sudahlah dia tidak usah bikin film lagi, tapi dia jadi bapak film Indonesia. Dia datang ke kantong-kantong film indie, kasih semangat, saran, dana juga kalau bisa. Nah, kalau pemerintah, yang terutama itu Depbudpar. Kita pernah juga ke Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N). Kita pernah membuat acara, diskusi dan macam-macam, tapi tidak didanai sama sekali. Padahal itu acara film yang seharusnya mereka bikin. Tadinya mereka juga menjanjikan bahwa acara itu bagian dari FFI. Ah, kalau bicara pemerintah, kekecewaan kita sih…sudahlah..Ha.. ha…
Penulis: Dewi Irma
Sumber: Pikiran Rakyat
Dampak pasca tragedi Sabtu Kelabu pada tanggal 9 Februari 2008 di Gedung AACC yang menelan korban 11 orang tewas mulai banyak dirasakan oleh Event Organizer (EO) di kota Bandung. Beberapa acara kegiatan seni dan budaya yang digelar di kota Bandung kesulitan mendapatkan perijinan dari pihak-pihak yang berwenang dalam hal ini pihak kepolisian dan pemerintah kota.
Acara diskusi ini digagas oleh Wawan Djuanda dari event organizer Republic Entertainment dan dihadiri oleh para pelaku di industri Event Organizer komersil maupun non komersil, seperti misalnya komunitas kreatif yang bergerak dibidang pertunjukan.
Pasca tragedi AACC, Polda Jabar mengeluarkan kebijakan yang salah satu isinya adalah semua kegiatan yang melibatkan jumlah massa banyak diharuskan mempunyai surat rekomendasi dari organisasi yang bersangkutan. Misalkan apabila hendak mengelar kegiatan otomotif maka kita harus mendapatkan surat rekomendasi dari pengurus persatuan otomotif dalam hal ini Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Sementara itu dari pihak Disbudpar kota Bandung sedang menyusun draft perundang-undangan setingkat keputusan walikota yang intinya adalah :
- Setiap EO wajib terdaftar di pemerintahan kota dan melakukan registrasi rutin.
- Setiap berbagai macam kegiatan yang akan diselenggarakan oleh event organizer wajib memberikan laporan pemberitahuan kegiatan kepada pihak pemerintah kota.
- Pemda kota Bandung akan membentuk sebuah lembaga setingkat asosiasi bagi para EO yang bertugas memberikan surat rekomendasi bagi para EO yang akan menggelar pertunjukan seni dan budaya. Asosiasi ini juga bertugas sebagai badan kontrol dan pengawasan terhadap kegiatan event organizer.
- Pemda kota Bandung akan mengembalikan fungsi aset gedung-gedung pertunjukan seni dan budaya di kota Bandung sesuai dengan peruntukannya.
Menggelar pertunjukan adalah salah satu hak sipil dan hak budaya yang telah diatur oleh undang-undang. Semua seniman diberi hak untuk menampilkan dan mengekspresikan karyanya. Begitu juga dengan individu yang berhak mengapresiasi karya baik itu dalam bentuk pertunjukan, pameran seni dan budaya secara aman. Selama ini berbagai pertunjukan seni dan budaya baik itu yang sifatnya tradisional maupun modern telah mampu memberikan “bentuk” pada wajah kota.
Kota Bandung terkenal sebagi kota musik dan fashion. Beberapa event seni dan budaya yang digelar di kota Bandung telah mampu menjadi ikon bagi perkembangan budaya di kota Bandung. Untuk itu, diharapkan rencana pembentukan kebijakan yang berkaitan dengan pementasan acara seni dan budaya tidak menghasilkan sebuah kebijakan yang kontra produktif bagi perkembangan industri pertunjukan sebagai bagian dari industri kreatif.
Kebijakan yang dibuat oleh Pemkot Bandung lewat Disbudpar Kotamadya dan Polda Jabar ditangkap oleh para penggiat EO mempunyai kesan reaktif dan pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi perkembangan seni dan budaya di kota Bandung. Aturan yang dibuat makin berjenjang dan rawan pada kondisi miskomunikasi dan praktek suap. Seharusnya peraturan yang dihasilkan adalah peraturan dengan mekanisme yang sederhana, transparan dan dibuat lebih terpadu.
Penulis: Addy Handy
