PROSES pendempulan dan pengecatan gitar yang dilakukan berkali-kali hingga mengkilap. Untuk pengerjaan itu, cuaca menentukan lamanya proses.* ADE BAYU INDRA

Rabu, 20 Februari 2008

Proses pengerjaan handmade di pabrik gitar milik Syafri Rasid (73), perintis gitar merek Arista, berawal dari membentuk badan gitar triplek yang di-press selama setengah hari. Setelah itu, penutupan body dan pembolongan. Sementara itu, batang dibentuk dan diberi jari-jari senar. Selanjutnya, proses pengampelasan sekaligus pemasangan jembatan gitar.

Pada proses pengampelasan, gitar didempul dan dicat berulang-ulang untuk menghasilkan gitar yang mengkilap. Namun sayangnya, kata Syafri, cuaca menjadi hambatan dalam pengeringan cat. “Kalau cuasa lembap, harus menggunakan pengkilap kualitas tinggi“, ungkap dia.

Selain itu, berhubung pabrik gitarnya menerima pesanan partai maupun individual, maka ia pun menerima segala bentuk permintaan konsumen. “Bisa bikin apa aja yang ada digambar, foto istri pun bisa mejeng di gitar“, jelas Jangun (49), salah seorang karyawan Abang, panggilan akrab Syafri.

Begitu pula dengan waktu pengerjaan satu pesanan, menurut Wenardi Wigono yang membuat gitar merek Secco, bisa menghabiskan waktu satu sampai dua bulan. “Belum lagi perubahan permintaan konsumen“, kata dia.

Namun, pengguna mempunyai keleluasaan sepenuhnya untuk menentukan jenis dan model gitar menurut selera masing-masing. “Gitar itu sesuai dengan selera pribadi. Begitu pula dengan proses pembuatan gitar secara handmade maupun pabrikan (mesin), mempunyai keunggulan masing-masing, juga dari segi nada yang dihasilkan“, tutur Wenardi.

Tidak selamanya keberuntungan berpihak pada usaha gitar yang dijalani Moch. Husni Nasution, Abang, dan Wenardi berjalan mulus. Kendala senantiasa menghadang dari berbagai hal. Bagi Secco penghambat majunya usaha gitar berasal dari SDM yang hanya mempunyai mental pekerja tanpa mencintai pekerjaannya. “Kegiatan membuat gitar bisa menjadi hal yang membosankan“, jelas Wenardi. Padahal, dia telah mengeluarkan biaya khusus untuk pendidikan bagi para pekerjanya.

Kendala itu bukan dari produk tetapi dari attitude, visi, dan motivasi pekerja“, tutur Wenardi.

Dia mengaku tidak terlalu mengejar profit, walaupun bisnis tidak menafikan adanya hal itu. Menurut Wenardi, kalau mengutamakan profit, waktu pengerjaan lebih pendek, tetapi kualitas belum tentu terjamin. “Kalau mengutamakan kualitas, pasti rugi dulu“, ungkapnya.

Kendala lain datang dari segi regenerasi. Hal itu dialami oleh Syafri, tidak satu pun anaknya meneruskan usaha yang ia rintis. Namun, harapan tertumpu pada salah satu menantunya, Wagiman (49) yang mengurusi pabrik rumahan gitar di Parakan Bolang.

Hal serupa pun dirasakan Husni, modal untuk menambah jumlah produksi gitarnya belum kunjung datang. Oleh karena itu, Ia mengharapkan ada bantuan modal dengan bunga rendah.

**

Musisi Bandung, Riko Prayitno, gitaris band Mocca, mengakui, perkembangan musik indie di Bandung ada sekitar 200 lebih band. “Ini sangat berhubungan dengan gitar“, katanya.

Anak muda Bandung itu terkenal kreatif dan ngulik“, ucapnya. “Mereka nyari sound dan bentuk yang beda, kalau harga relatif“, tutur Riko.

Menurut dia, kecenderungan model gitar vintage dan old style era tahun 1950-an akan kembali menjadi tren.

Riko mendukung eksistensi produk gitar lokal Bandung, karena menurut pemetik gitar ini, orang-orang Jakarta umumnya mencari gitar di Bandung. “Bandung itu kecil, jadi mudah untuk dijangkau, banyak pilihan, dan harganya relatif murah“, jelas dia.

Di Jakarta, gitar lokal tersedia, namun harganya jauh lebih mahal daripada Bandung“, lanjutnya. “Ke depan produsen gitar lokal harus hati-hati dengan serbuan produk gitar dari Cina dengan menunggangi merek terkenal Amerika“, ucapnya mengimbau.

Riko menyarankan, produsen gitar harus pintar melihat sasaran anak muda dan tidak terlalu mengikuti selera mainstream. “Intinya, penting untuk menggalakan promosi“, kata Riko.

Sebagai rencana memajukan industri alat musik seperti gitar, Agus Gustiar, Kepala Dinas Prindustrian Dan Perdagangan Jabar, berencana untuk mengadakan pameran musik dengan konsep general, spesifik dari gitar saja. “Proses pengembangan ini bersifat simultan“, kata dia.

Dari rancangan kegiatan tersebut, ia mengharapkan bisa memperluas jaringan pemasaran.

Selain tiga produsen gitar Bandung tersebut, masih ada beberapa home industry yang berkecimpung dalam produksi gitar lokal, di antaranya Asia Guitar Labs (AGL), Gilles de Neve di Taman Cibeunying Selatan No. 37 Bandung, Stranough Guitar Builder & Labs, Bapak Hanung di Jln. Jalaprang No.51 Sukaluyu Bandung, Alergo di Banjaran, dan beberapa industri sejenis di Palasari dan Setiabudhi, Bandung.

**

Empu gitar, Ki Anong Naeni (75) yang mendapatkan penghargaan Anugerah Budaya 2007 ini, baru saja diuji dengan memburuknya kondisi kesehatannya. Tiga bulan lalu ia terserang hipertensi yang mengharuskan ia melepaskan sejenak gergaji dan bornya, mengulik alat musik berdawai itu.

Sang empu gitar mulai kerasan tinggal di Cipatat Elok Kab. Bandung Barat (KBB), tepat sebelum Jembatan Rajamandala, batas KBB dengan Cianjur. Dia kini harus menyelesaikan beberapa pesanan dari tempat dia bekerja sekarang. Setidaknya Ki Anong harus menuntaskan permintaan satu gitar pelanggan tiap bulannya.”Ya itung-itung ngebimbing cucu saja“, ujar kakek delapan cucu itu.

Bersama cucunya, Awan Abu Sofyan, Ki Anong beraksi mengubah kayu mahoni, eboni, rosewood, maple, dan spruce menjadi senjata yang selalu dipetik oleh Ferry Curtis.

Pengennya mah ada investor yang punya uang buat mendirikan perusahan gitar baru“, ungkap suami Amas Supiah ini.

Dia mengaku tidak ingin menjadi pengusaha, karena berniat menjadi guru saja. “Saya ingin menyalurkan ilmu, berharap ada orang yang mempunyai kemampuan lebih, namun sampai sekarang belum nemu“, kata lelaki yang mulai membuat gitar pada tahun 1947, berawal dari kegemarannya mengulik alat musik petik itu.

Di ruangan berukuran 5 x 2 meter persegi itu, Ki Anong kembali mengaplikasikan kemampuannya dengan mengarahkan cucunya agar mahir membuat gitar. “Banyak yang mesti dipelajari dalam membuat gitar“, kata anak ketiga dari lima bersaudara ini. “Matematika, fisika, gelombang, dan kimia mempengaruhi kualitas gitar“, jelas rekan Moch. Husni Nasution, pendiri gitar Genta itu.

Menciptakan gitar bukan sekadar mengenal kayu saja“, lanjut dia. “Menggeluti produksi gitar kiranya dibarengi dengan kecintaan dan ketulusan hati“, tutur Anong.

Dia mengatakan, tanpa sepenuh hati tidak akan menghasilkan karya yang luar biasa, yang ada hanya kejenuhan. Makanya banyak pegawai yang keluar dari industri gitar. “Di luar negeri banyak orang yang mendalami pembuatan gitar, namun di Indonesia tidak“, keluhnya.

Menurut Anong, rahasia gitar itu tergantung pada bahan dan prosesnya. Ada gitar yang membutuhkan penggarapan sebulan penuh. Hal itu karena tidak semua kayu lokal memenuhi karakter nada yang diinginkan konsumen. Oleh karena itu, lanjut dia, diperlukan kayu impor yang berasal dari negara empat musim seperti Spanyol. Selain itu, kayu dari Afrika juga sering dijadikan bahan utama pada produksi gitarnya.

Ketebalan kayu dari daun suara itu tidak sama, begitu pula dengan tulang rangka dalam gitar pun menentukan kualitas“, ungkap lulusan sekolah teknik menengah itu.

Serat kayu memengaruhi mutu gitar. Jadi bukan sembarang kayu“, kata pria yang mengaku sering menggunakan solid wood sebagai bahan body gitar.

Untuk mahir dalam membuat gitar, menurut dia, harus menekuni teori dan praktiknya, minimal selama 13 tahun. “Itu pun masih bisa dikatakan amatir“, katanya.

Penulis: Novianti Nurulliah
Sumber: Pikiran Rakyat