Minggu, 16 Januari 2005

APA yang Anda bayangkan tentang seni serat? Lembaran kain tebal, berbulu, dengan warna-warni mencolok, dan motif-motif yang mengacu pada nilai-nilai tradisi sebuah suku di pegunungan sana? Kecanggihan anyaman yang tali-temali membentuk benda-benda lengkung atau tas atau membentuk bubu, atau peranti gendong bayi di punggung? Atau kain tebal yang dikoyak-koyak, dicelup, dibubuhi warna secara langsung, dan menghasilkan motif maupun warna yang tumpang tindih?

BANYAK pertanyaan dan beragam pula kemungkinannya. Hal seperti itulah yang diperlihatkan oleh sebuah pameran seni rupa serat kontemporer di Bentara Budaya, Jakarta, yang berlangsung 12-21 Januari 2005. Pameran “Posting Fiber” ini menampilkan karya-karya tempel di dinding, tetapi juga seni instalasi maupun susunan yang meruang dari empat peseni serat. Mereka adalah Biranul Anas, John Martono, Kahfiati Kahdar, dan Tiarma Dame Ruth Sirait.

Begitu beragam, seiring dengan luasnya wilayah pencarian para senimannya. Tampak di ruang pameran sejumlah lembar karya yang menempel di dinding. Ada kesan seperti tapestri, tenunan benang wol, misalnya yang datang dari studio Biranul Anas. Di tangannya, tapestri menjadi hanya bagian dari seluruh karya, yang diisi dengan material lain, seperti goni dan potongan kayu.

Dengan kerja tempel-menempel cukup menonjol, karya-karya Anas di dalam hal ini tetaplah boleh dianggap “lembaran” yang enak dipajang di dinding. Dan, sebagian besar memang menarik, sebutlah itu seperti Pohon Emas, Pohon Terang, atau Rising Sun.

Namun, Biranul Anas juga menyuguhkan karya instalasi. Di sini, ia menggunakan kertas tisu yang dicelup ke dalam cairan kanji yang berdaya rekat tinggi. Kertas-kertas itu kemudian diremas. Sebagian kertas remasan itu dibiarkan, sebagaimana adanya, ditaruh berserak di lantai. Selebihnya ia kembangkan ke luas semula. Kertas remasan yang menjadi cukup kaku ini ia susun lembar demi lembar masing-masing berjarak sekitar satu kaki, dengan benang yang melewati lubang di bagian tengah. Puluhan benang bersusun kertas ini menjulur dari arah atap ruang pamer, langsung menyambut penonton di depan pintu.

Judul karya seni instalasi serat ini, Future Forest 2 (2005) memicu renungan penonton untuk melampaui suguhan visualnya yang mencekam di dalam kembang-kembang kertas serba putih. Penggunaan kertas yang berasal dari batang-batang pohon ini berbanding lurus dengan penebangan hutan, yang di Indonesia telah menghancurkan lingkungan.

Seni serat sudah melangkah jauh meski mungkin perlu lebih sering ditampilkan ke tengah masyarakat agar lebih dikenal“, tutur Biranul Anas yang terus berkarya di tengah kesibukan mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung. Selain dia, ketiga rekannya yang berpameran kali ini berasal dari kampus seni yang sama.

Karya-karya John Martono di dalam “seri” Grow memperlihatkan pergulatan yang tak kalah menarik. Ia antara lain menggunakan kain sutra dipadu dengan berbagai bahan lain seperti poliester.

Sebuah karya seni instalasinya di dalam tajuk serupa sesungguhnya telah benar-benar melumerkan jarak antara serat dan seni rupa ruang. Ia memberi bentukan-bentukan persegi tanpa isi, yang sisi-sisinya dibangun dengan kawat tembaga dan kawat baja dilapis kain. Semua itu ditancapkan di atas base setinggi pinggang di dalam satu jajaran.

Sejumlah kain sutra yang ia warnai langsung terpajang di dinding, memberi tamasya warna dalam jarak pandang cukup jauh. Ia menyodok persoalan ketika berada satu meter di depannya: sebuah proses garap yang bisa jadi cukup intensif, tetapi tidak cukup mudah terapresiasi oleh awam yang umumnya tak mengenal seluk-beluk serat maupun teknik garapnya.

Berbagai persoalan yang katakanlah lebih bermakna internal ini juga menjadi lahan garapan Kahfiati Kahdar lewat sejumlah bahan kain bermotifnya. Dengan bahan dasar kain “sarung” bermotif tradisi, misalnya, ia menaruh berbagai warna keemasan di dalam karyanya Mixing Culture Brown Sarong.

Dengan teknik tertentu, ia membuat kainnya bolong di beberapa tempat, koyak, menyulam benang halus di beberapa bagian, atau menorehkan warna baru, menindih motif yang sudah ada. Ia menggarap lembaran kain yang permukaannya berserabut dan menutupnya sebagian dengan lembaran kain berpermukaan halus di dalam Mixing Culture, White Expression. Bidang berwarna putih di atas putih ini mempermainkan imaji yang memikat.

Di dalam Selamat Siang, Kahfiati menonjolkan kesan bekas “malam” pada motif batik di atas kain berwarna saga. “Saya sangat suka batik“, tutur perempuan yang mengaku melakukan sendiri semua proses pengerjaan kain-kainnya sejak mencelup sampai membubuhi warna langsung.

Pameran ini mendapatkan daya tarik visualnya juga lewat karya Tiarma DR Sirait. Lihatlah sebuah boneka manis berukuran manusia, yang mengenakan gaun sangat lebar yang ujungnya menyentuh lantai. Gaun itu dibuat dari anyaman mendong. Karyanya yang berjudul The Bride in Waiting ini mencekam oleh ukuran besarnya, tetapi kemudian juga mendorong ingatan akan sang pengantin. Gaun pengantin yang biasanya mewah, bisa berharga ratusan juta rupiah, oleh Tiarma dikacaukan dengan mendong yang menyeret kesan akan suasana pedusunan dan alami.

Lihatlah, biarpun dianggap “pinggiran”, dibandingkan dengan seni lukis dan patung seni serat, yang lazim disebut fabric art atau textile art, merupakan lahan bagus untuk melahirkan karya-karya yang kuat. Kurator pameran ini, Aminudin TH Siregar, berpendapat, seni rupa serat merupakan idiom yang mandiri dan sejajar dengan idiom seni rupa yang lain. Tampaknya ia benar meski penampilannya di dalam ruang publik sungguh sangat jarang. (EFIX)

Sumber: Kompas