You are currently browsing the daily archive for February 27th, 2008.
Dalam rangka penyelenggaraan acara Open House ITB yang dimulai sejak tanggal 22 s/d 24 Februari 2008 di Auditorium Campus Centre ITB, Kantor Wakil Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ITB menggelar acara temu industri kreatif dan diskusi panel.
Acara yang dimulai pada jam 10.00 menghadirkan Pak Iwan sebagai pembicara utama dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Indonesia. Dalam pemaparannya Pak Iwan menekankan perlunya pendidikan tinggi sebagai pusat pengembangan keilmuan yang harus memiliki parameter sumberdaya lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi dibidangnya, memiliki daya saing dilingkungan pekerjaan dan kemampuan manajerial terhadap ilmu yang akan dikembangkan kepada masyarakat dalam hal ini industri kreatif. Untuk bisa mencapai semua itu Pak Iwan memberikan rumusan ABG, yaitu Akademik, Praktisi Bisnis dan Government (pemerintah). Oleh karena itu Pak Iwan menekankan apabila ITB ingin menjadi pusat pengembangan industri kreatif maka harus mampu menjadi perguruan tinggi berbasis kreativitas.
Sementara itu wakil pemerintah dari Direktur Jendral Usaha Kecil Menengah dan Industri Kecil, Pak Fauzi Aziz memaparkan tentang banyaknya hambatan regulasi yang membuat industri kreatif sulit berkembang pada saat ini. Salah satunya adalah tentang belum keluarnya aturan tentang Badan Hukum Perguruan Tinggi sehingga ada kesan pihak akademisi dalam hal ini perguruan tinggi menjadi terhambat dalam hal pengembangan industri kreatif. Karena apabila aturan tentang BHPT tersebut berhasil direalisasikan maka tentu perguruan tinggi akan lebih banyak mempunyai peran yang aktif bagi perkembangan industri kreatif. Dirjen UKM dan Industri Kecil menekankan bahwa strategi pengembangan industri kreatif terletak pada dukungan modal (financial support) dan aturan main/perundang-undangan (basic regulation). Dalam hal ini peraturan pemerintah yang mampu mengakomodir kepentingan perkembangan industri kreatif, SDM yang berkualitas dan pembentukan jaringan (network) yang solid antara pelaku industri kreatif, akademisi dan pemerintah.
Dari dunia akademisi diwakili oleh Prof. Emy Suparkah dari ITB yang memaparkan kontribusi ITB bagi perkembangan industri kreatif. Selama ini ITB telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan industri. ITB selama ini telah banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten dibidang kajian masing-masing. Misalnya dari Fakultas Seni Rupa dan Desain yang telah berperan langsung dalam berbagai kegiatan ekonomi industri kreatif. Lalu dari segi teknologi ITB telah banyak memberikan kontribusi teknologi seperti software dan mesin-mesin industri yang banyak menerapkan teknologi yang aplikatif dan ramah lingkungan. Dari segi manajerial dan pengembangan industri kreatif ITB memberikan kontribusi dengan dibukanya sekolah bisnis sekaligus menjadi inkubator bagi pengembangan UKM dan industri kecil. Disamping itu juga dari segi perlindungan hukum ITB menjadi fasilitator untuk pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar produk-produk industri kreatif terhindar dari kooptasi dan klaim dari pihak lain.
Masih dari mewakili akademisi, Pak Setiawan Sabana dari Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain, mengingatkan bahwa semua hasil produk industri kreatif harus memperhatikan aspek lingkungan hidup. Jangan sampai produk industri kreatif justru menjadi sesuatu yang “merusak” ekologi. Sebagai contoh papan-papan iklan yang bertebaran di penjuru kota sebagai hasil kreatifitas justru berubah menjadi “polusi visual” dikarenakan tidak adanya kejelasan aturan dan ketegasan dari pemerintah. Karena itulah perlunya para praktisi, akademisi dan pemerintah menjalin sebuah sinergi yang solid dalam merumuskan berbagai kebijakan agar hasilnya nanti dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Pak Sabana menilai bahwa kota Bandung cukup potensial untuk dikembangkan menjadi kota yang berbasiskan kreatifitas. Karena Bandung telah memiliki SDM yang berkualitas (talent) dan masyarakat yang toleran terhadap perubahan yang positif (tolerance). Dan semua itu perlu didukung oleh aturan dan regulasi yang mampu mengakomodir energi kreatifitas yang ada.
Dari komunitas kreatif diwakili oleh Fiki dari Kreative Independent Clothing Kompany (KICK). Fiki memaparkan tentang pertumbuhan industri kreatif di Bandung khususnya di bisnis clothing (pakaian jadi) dan distro (distribution outlet). Pada tahun 1997 kota Bandung hanya memiliki 5 buah distro. Tahun 2008 Bandung memiliki 300 distro dan mampu menyerap 300.000 tenaga kerja. Kemudian relasi dengan pemerintah sudah mulai terbangun melalui event KICK FEST yang rutin digelar setiap tahun. KICK FEST terakhir mampu mencetak nilai transaksi sebesar 400 miliar rupiah. Hal itu harus dipertahankan dengan cara pihak pemerintah mampu menyediakan fasilitas publik yang dapat diakses dengan mudah sehingga dapat dijadikan ajang berkreasi dan penyaluran ekspresi anak muda di Bandung. Karena pada dasarnya industri kreatif di bidang clothing dan distro di Bandung berawal dari kultur dan gaya hidup anak muda di kota Bandung yang mempunyai idealisme dan sarat dengan energi kreatif. Misalnya dari bidang musik dan olahraga yang selama ini sarana dan prasarananya dianggap sudah tidak mampu mengakomodir kegiatan kreatif di kota Bandung.
Dari kalangan praktisi teknologi diwakili oleh Setijadi Prihatmanto dari Sekolah Tehnik Elektro dan Informatika ITB yang memaparkan tentang perlunya dibangun sebuah pola kemitraan yang sejalan antara pelaku industri kreatif dengan praktisi teknologi. Karena bagaimanapun kreatifitas dan teknologi adalah sebuah proses yang harus selalu berjalan seiring. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang dimana jarak dan waktu bukan lagi menjadi hambatan bagi dinamika pergerakan ekonomi global. Contohnya industri games dan software yang pasti akan selalu membutuhkan sentuhan pengembangan estetika dari para praktisi seni rupa dan desain. Begitu juga sebaliknya para pelaku industri kreatif juga dituntut mampu mengikuti pekembangan teknologi. Apalagi di era internet sekarang dimana pada akhirnya banyak melahirkan media-media baru untuk dijadikan sarana berekspresi untuk berkesenian (new media art) dan media komunikasi dan informasi berbasiskan internet (new media journalism).
Selain diskusi panel, Open house ITB 2008, juga menggelar berbagai acara lainnya. Diantaranya pameran foto, workshop film, dan pameran pendidikan yang menampilkan stand-stand tiap fakultas yang ada di ITB lengkap dengan konsultasi dan presentasi tiap fakultas.
Penulis: Addy Handy
Minggu, 11 April 2004
TIBA-tiba Kota Bandung dalam kurun dua bulan terakhir ini diramaikan proyek media baru. Tercatat kegiatan Robert Lawrence, Amerika Serikat (Workshop Media Baru), Katarzyna Dresser, Polandia (Workshop dan pameran Liquid Picture), dan Junko Suzuki, Jepang (Pameran Foto Digital, Artscope). Mereka berkolaborasi dengan mahasiswa, individu, dan komunitas media baru, semisal DKV (Desain Komunikasi Visual) ITB dan Bandung Center for New Media Arts.
Ketika perbincangan tentang “penampakan” makhluk media baru belum usai, VIDEOLAB, kelompok seni berbasis teknologi media yang dimotori oleh empat seniman muda, Herra Pahlasari, Andri Mochamad, Prilla Tania, dan Jordan Raspatie, menggelar proyek Beyond Panopticon Art and Global Media Project.
Proyek ini unik, bukan saja menggambarkan fenomena inisiatif kegiatan seni yang kini lebih banyak dimainkan oleh kelompok seniman, tetapi justru diselenggarakan di pusat perbelanjaan elektronik, Mal BEC Bandung. Mal kini bermetamorfosis menjadi pusat kebudayaan. Ini seperti aksi jenaka karena mal itu justru bisa dicapai beberapa langkah saja dari pusat kebudayaan yang pernah dinamis di tahun 90-an.
Proyek media baru ini menyertakan karya video, video performance, video instalasi, dan satu-dua foto digital dan seni bunyi dari hampir 50 seniman dalam dan luar negeri. Karya-karya ditata di 20 buah booth yang biasanya dilayani sekitar 200-400 monitor untuk promosi perniagaan! Proyek tidak lumrah ini berlangsung sejak 10 April hingga 2 Mei 2004, dikuratori oleh Ucok Th Siregar dan Heru Hikayat dari Pasir Impun. Gayung inovatif Ricky Trifarisa dari Electronic City rupanya bersambut dengan keterbukaan dari para pekerja media dari generasi yang sebetulnya produk dari era teknologi media itu.
Mal dan Seni Saling Mengawasi?
Melalui tangga berjalan ke lantai 3, di mana proyek ini digelar, rupanya tidak cukup waktu kita untuk membayangkan bahwa proyek ini sesungguhnya sebagai “seni” sudah dimulai sejak sebelum pameran ini dibuka resmi. Artinya, termasuk peristiwa ketika tarik ulur dengan pihak yang notabene sehari-hari bergelut dengan perkara untung rugi dan pragmatisme. Itu berlangsung sejak akhir tahun silam, beberapa saat setelah performance Prilla Tania di tempat yang sama.
Tidak mudah memang mengenali proyek budaya ini karena, misalnya, susunan monitor tv-boleh jadi-masih relatif tertib dalam adat yang secara ergonomis nyaman untuk ditonton. Keberhasilan menggunakan arena komersial barangkali adalah sisi langka proyek ini.
Akan tetapi, agaknya mengintegrasikan dua kepentingan dalam ruang dan waktu yang sama justru titik terpenting, yang kemudian memungkinkan untuk mempertanyakan kembali klaim mal-dinyatakan dalam kurasi-sebagai pengganti ruang publik (taman kota, perpustakaan), yang mampu mengubah waktu sebagai properti, informasi menjadi komoditas, bahkan menyihir individu-individu sebagai pengguna teknologi media dan menggalakkan konsumerisme baru.
Selanjutnya, mengutip teks kurasi, mal diam-diam melaksanakan pemantauan, mengontrol aktivitas pasivitas seseorang. Di sanalah identitas individu dibelah-belah sedemikian rupa. Dalam situasi ini, agaknya daya sensitivitas seni-dalam bentuk kritik perkembangan teknologi media itu, misalnya, digitalisasi, virtualitas, depersonaliasi, dan alienasi individu hingga redefinisi makna hidup oleh perubahan cepat oleh teknologi-kembali ditantang.
Video Value (Rani Ravenina) memperlihatkan sebuah rekonstruksi hasrat belanja dan nafsu hedonis. Tayangan ini segera bergeser menjadi kritik yang mengubah-ubah arah kepada kolektivitas tertentu lalu kepada diri (the self). Terlihat jelas video ini-sebagai media baru-dibebaskan dari narasi sinematik, lalu secara sadar difungsikan sebagai bahasa untuk “menyubversi” pikiran melalui dialog langsung kepada para pengunjung yang boleh jadi datang ke mal dengan agenda utama membeli TV. Jadi, bukan untuk menonton tayangan klip video promosi yang indah mengelus mata sebagai bagian “entrée” ritual belanja.
Instalasi video Eat Prilla menyajikan dua realitas makan/makanan, objek fisik dan rekaman. Muncullah boneka monyet makan di tayangan layar kaca, sementara persis di depan layar tersebut makanan sebenarnya, sebuah penjajaran yang mempertanyakan gaya hidup makan kini yang berubah sebagai ideologi.
Pemuda Elektrik, sebuah komunitas sastra, foto, dan musik, melalui My beloved Crab membuat gosip seputar belanja. Bunyi atau suara dibebaskan dalam beban tradisi musik. Hasilnya, rekaman informasi belanja yang bisa diakses oleh pengunjung mal secara interaktif. Pengunjung diajak bertualang ke dunia data dan acara, panduan praktis, hingga merayakan gaya hidup dengan narasi yang tidak sepenuhnya “nyambung”.
Pameran ini tidak saja “mengawasi” perilaku konsumtif masyarakat modern di ruang fisik, seperti mal, tetapi juga memasuki ruang media yang dipercayai mampu membentuk sikap maupun perilaku apa saja, termasuk konsumsi. Dalam video instalasi Rainbow on TV, Andri mencoba melihat dampak tontonan TV pendidikan anak, Teletubbies, terhadap pertumbuhan tanaman semacam proyek lanjutan di mana tontonan itu terbukti telah mempengaruhi nalar bocah. Di sini Andri hanya ingin melakukan semacam klarifikasi dari pengalaman masyarakat agraris, dialog tanaman palawija dengan penanamnya (petani), secara empiris ada akibatnya, misalnya, panen menjadi berlimpah atau sebaliknya.
Kesadaran untuk menggeser mal menjadi panggung “remeh-temeh” kehidupan ditunjukkan melalui video instalasi dengan 4 layar monitor Deliberation Onet Pujisiswanti. Onet seperti hendak berbagi cerita melalui video dokumenter celoteh rapat RT di tengah percakapan transaksi bisnis atau sahutan interupsi pengumuman dari pihak mal.
Barangkali hanya video Herra yang dirancang sebagai bentuk komunikasi pribadi, akrab, dan kontemplatif. Teks, Siapa kamu?, Siapa saya?, Di mana saya?, dan seterusnya muncul secara berkala dalam irama lambat dan memberi waktu bagi seseorang untuk melihat dirinya. Karya berjudul Untitled ini “sama sekali tidak menarik” secara visual. Ini seperti membenarkan bahwa video bukanlah karya seni rupa, tetapi seni video yang menyoal konsepsi identitas yang terumus dalam sistem pikiran serta kemampuannya mendorong partisipasi orang meskipun hanya psikologis. Video ini seperti mengingatkan kita bahwa bahasa video yang meniadakan analisis ternyata bisa dipakai sebagai sarana untuk mempertanyakan fungsi analisis itu sendiri.
“TV Culture”, “Media Culture”, dan Generasinya
Generasi pertama seni video sebagai bagian seni media baru di dasawarsa 60-70-an memang diwarnai perlawanannya terhadap TV culture (budaya TV). Melalui kamera portapaknya, Nam June Paik menyadari bahwa setiap orang bisa membuat program (videonya) sendiri sesaat setelah meletakkan sepotong besi bermagnet di layar kaca TV sehingga tayangan Presiden Nixon meliuk-liuk. Dengan heroik dia berujar, TV telah menyerang kehidupan kita. Kini saatnya kita menyerang balik.
Situasi ini dilatarbelakangi merebaknya TV di Amerika Serikat di kurun tahun 60-an-jumlahnya sebanding dengan banyaknya mebel di rumah penduduk-melahirkan masyarakat televisual dengan budaya TV. Yang disebut terakhir tentu saja tidak terbatas konsumerisme, tetapi juga berkaitan dengan sistem komunikasi satu arah dan atas bawah, yang setidaknya melahirkan ketergantungan masyarakat secara konsumsi bahkan politis.
Di Indonesia, hal itu juga terjadi sejak dibangunnya TVRI tahun 1962, yang kemudian menjadi TV tunggal. Tahun 1976, ketika satelit Palapa diluncurkan, secara teknologi, Indonesia memasuki era informasi transnasional yang menyatukan siapa saja yang tinggal di provinsi mana pun untuk memperoleh keseragaman informasi yang terpusat (pemerintah).
Di akhir paruh kedua dasawarsa 90-an, terjadi deregulasi pertelevisian yang disusul pemajemukan stasiun. Penekanan komersial stasiun-stasiun TV tersebut kemudian menjadi jebakan lainnya bagi masyarakat. TV diakui sebagai teknologi media yang paling mempengaruhi, namun kita tidak boleh melupakan kehadiran media lainnya.
Di paruh kedua tahun 70-an, kita mengenal teknologi video analog, sementara di akhir tahun 90-an video digital. Di awal awal tahun 70-an, komputer sebesar rumah hanya dipunyai institusi, seperti Pertamina, namun di dasawarsa 80-an di banyak rumah sudah memakai personal computer (PC) yang praktis dan pribadi dan selanjutnya lebih kecil bentuknya, yaitu berupa laptop, yang bisa ditenteng dan dioperasikan di mana saja.
Telepon bergerak marak di akhir dasawarsa 90-an, dan kini kita tidak saja bisa mengirimkan teks, tetapi juga image. Sementara itu, di saat yang hampir bersamaan, banyak orang bisa berhubungan secara multimedia dengan rekannya di mana pun di dunia melalui jaringan Internet. Games yang di tahun 80-an sangat sederhana dan hanya digemari anak-anak, kini telah berubah sedemikian canggih karena bisa dihubungkan dengan Internet dan dimainkan secara kolektif oleh siapa pun.
Pertanyaannya adalah, di mana posisi sosial generasi-katakanlah tahun 80-an dan sesudahnya? Mereka tentu dilahirkan dan dibesarkan oleh-yang disebut Marshall McLuhan-realitas dunia baru yang diciptakan oleh media baru. Artinya, mereka lebih banyak diasuh oleh “logika PS” ketimbang senapan pelepah pisang, misalnya. Keakraban terhadap teknologi media itu secara spesifik telihat pada ketergantungannya untuk tujuan praktis, kesenangan, dan hiburan bahkan menjadi gaya hidup. Pertanyaannya kemudian ialah, mampukah mereka memberi jarak atau bahkan menyatakan identitasnya, baik itu berupa pemantauan atau ekspresi, dalam kurun waktu yang panjang? Agaknya sesuatu yang muskil.
Gaya hidup-ekspresi “Vice Versa”
Proyek media baru ini pada hematnya adalah munculnya kesadaran individu-kemudian menjadi kolektif-generasi yang sebetulnya produk masyarakat teknologi media, lalu membaca media baru melampaui fungsi praktis dan komoditas. Yang perlu juga dicatat ialah keragaman latar belakang pekerja media ini yang tidak terbatas dari wilayah kesenian. Setidaknya media ini memberi jarak yang sama dan tidak hierarkis seperti media konvensional lain.
Mereka sepertinya tidak mempunyai beban ideologi besar dan sejarah yang mapan, bahkan keharusan menciptakan seni. Yang dilakukan adalah menggeser media yang sering dipakainya sebagai aparatus gaya hidup ke pernyataan personal dengan sikap bermain dan asyik, lalu kembali lagi kepada khitah. Begitu seterusnya.
Kalau saja ekspresi itu berwujud fungsi “pengawas” budaya, para pekerja media baru itu sepertinya sadar bahwa mereka adalah atau berada di sistem yang tidak luput untuk diawasi. Barangkali multimedia performance Biosampler bisa menjadi ilustrasi. Permainan komputer untuk bunyi dan gambar dalam eksperimentasi tanpa bentuk, tanpa awal-akhir, saru antara dugem (disko) dan mengekspresikan sesuatu, merupakan jeda kelompok ini yang sehari-hari menggarap video musik untuk TV komersial, khususnya MTV. Di masyarakat, media baru ini tidak ada dikotomi atau stigmasi bersekutu dengan pasar. Semangatnya adalah membuat sesuatu yang mungkin mirip seni atau barangkali bisa kita sebut seni. Yakinlah, mereka yang berpameran di sini ketika menjalani ritual “seni” video atau media baru lainnya senantiasa memakai PC dan di kantong mereka terselip telepon seluler! Gaul dan siip!
Penulis: Krisna Murti (Praktisi Video/Media Baru, Tinggal di Bandung; Pengajar Kajian Seni Media Program Pascasarjana ISI, Yogyakarta)
Sumber: Kompas
Senin, 06 Maret 2000
SELAMA masa krisis ekonomi ini, untuk dapat bangkit dari keterpurukannya, Indonesia masih dapat mengandalkan pendapatan dari ekspor minyak dan gas yang belakangan ini harganya di pasaran dunia mulai naik. Selain itu banyak yang masih beranggapan tekstil dan hasil hutan merupakan produk unggulan nonmigas yang terbanyak memberi pemasukan devisa. Ternyata perkiraan itu meleset. Dalam setahun terakhir, laporan Departemen Perindustrian dan Perdagangan menyebutkan sektor industri elektronika justru dapat survive dan menempati ranking kedua pemasok devisa setelah sektor minyak dan gas bumi. Sektor migas mencatat meraih devisa 7 milyar-8 milyar dollar AS, berikutnya elektronika 3,9 milyar dollar AS.
Peranan elektronika di banyak negara ternyata juga tidak jauh berbeda dalam kurun dua dasawarsa terakhir ini. Di beberapa negara, bidang ini bahkan merupakan sumber penghasilan devisa dan pencipta lapangan kerja utama.
Di Malaysia, sebagai contoh, meskipun sebagian besar investasi dari perusahaan asing, kegiatan industri ini menjadi penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja terbesar dalam industri manufaktur. Sementara Singapura hampir 50 persen ekspornya dari industri elektronika.
Negara-negara tersebut tergolong sangat berhasil dalam mengembangkan industri elektronika, menurut pengamatan pakar mikro-elektronika Prof Dr Samaun Samadikun, karena menerapkan beberapa pendekatan, yaitu produknya berorientasi pada ekspor, menerapkan kebijaksanaan khusus yang menyangkut pengelolaan permodalan dan perpajakan, dan mempunyai kaitan dengan industrinya di luar negeri. Selain itu, pemerintahnya juga menyiapkan dukungan tenaga ahli dan lembaga penelitian yang dikaitkan erat dengan usaha ekspornya.
Sementara itu, Indonesia dinilainya tidak terlalu berhasil dalam mengembangkan industri elektronika, karena menerapkan strategi substitusi impor dan tidak terlalu peka untuk teknologi baru akibat memberi perlindungan terhadap persaingan di dunia perdagangan internasional. Indonesia juga kurang diminati industri atau investor asing karena insentif yang diberikan tidak sebaik negara-negara tetangga.
Industri elektronika sudah muncul sejak lama di Indonesia, namun, menurut dia, hingga kini volumenya masih kecil dibandingkan potensi yang dapat dipetik dari seluruh kegiatan iptek dan industri tersebut. “Sudah waktunya Indonesia memberikan perhatian kepada bidang ini sebelum peluangnya habis ditutup oleh negara lain yang lebih jeli melihat kesempatan emas ini“, ujar Samaun.
Berbagai kebijakan, dikatakan Samaun, perlu diciptakan guna mengembangkan bidang ini serta berbagai industri yang berkaitan dengannya. Pengembangan industri elektronika di Indonesia dapat diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk elektronika buatan Indonesia di pasaran internasional, meningkatkan kemampuan melakukan rancang bangun dan rekayasa, serta menciptakan iklim sehingga investasi dari dalam maupun luar negeri dalam bidang ini dapat ditingkatkan.
Dengan melihat tingkat pertumbuhan sektor elektronika sekitar delapan hingga 10 persen pada pascakrisis ekonomi, ditambah potensi pasarnya di tingkat global terus meningkat hingga mencapai 800 milyar dollar AS per tahun, menurut Ir Armein ZR Langi MSc PhD, peneliti di Pusat Penelitian Antar-Universitas (PPAU) ITB, sektor elektronika hendaknya menjadi riset unggulan di Indonesia.
BHTV
Teknologi mikroelektronika, lanjut Guru Besar ITB ini, dipandang sebagai sesuatu yang fundamental-menjadi dasar-bagi suatu revolusi industri baru yang akan jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan revolusi industri akibat penemuan mesin uap. Karena itu berada di baris depan dari penguasaan teknologi ini akan menjadi modal untuk meraih kemakmuran bangsa pada masa mendatang.
Dalam mengembangkan industri elektronika termasuk mikroelektronika, institusi pendidikan teknologi di Indonesia sebaiknya memainkan peran yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan tenaga ahli bidang elektronika.
Banyak universitas terkemuka di dunia menjadi pendorong utama industri di sekitarnya. Salah satunya, Lembah Silikon di California sebagai pusat pengembangan bidang mikroelektronika tumbuh di sekitar Universitas Stanford karena peran universitas tersebut.
Di lembah silikon lembaga pendidikan berperan sebagai sumber ilmu dan teknologi, dan juga menghasilkan manusia-manusia yang akan menerapkan hasil interaksi antara universitas dan masyarakat lingkungannya. Namun, untuk dapat terjadi sinergisme yang menghasilkan suatu kegiatan ekonomi, maka diperlukan dukungan lain seperti komitmen pemerintahan setempat dan dana modal ventura.
Samaun berpendapat, ide pengembangan Lembah Silikon hendaknya dijadikan acuan dalam pembangunan Bandung Hi Tech Valley. Gagasan untuk menjadikan dataran tinggi Bandung sebagai pusat kegiatan industri elektronika ini pernah dicetuskan Prof Iskandar Alisyahbana ketika masih menjadi Rektor ITB pada tahun 1970-an.
Untuk mewujudkan gagasan itu, Iskandar bersama rekan-rekan dari laboratorium radio dan microwave ITB mendirikan industri elektronika di lereng lembah Bandung yang sampai sekarang masih beroperasi. Keadaan lembah Bandung pada saat ini sudah jauh berbeda dibanding saat dekade 1970-an.
Lembaga penelitian yang menunjang ide itu di antaranya LEN Industri, PT INTI dan Risti Telkom saat ini telah menjadi industri dan lembaga yang besar. Sementara itu industri strategis lainnya di lembah Bandung seperti IPTN dan Pindad, juga dapat menjadi pemakai dan pencetus gagasan peralatan elektronika baru. Dengan adanya terminal peti kemas di Gedebage, maka Bandung juga dekat dengan pasaran nasional dan internasional.
Sementara itu, ITB yang mempunyai jurusan teknik elektro yang paling besar di Indonesia juga telah mengembangkan beberapa segi sistem mikroelektronika. Hal ini ditunjang dengan beroperasinya PPAU bidang mikroelektronika tahun 1990. “Pengembangan lembah mikroelektronika di sekeliling ITB merupakan suatu usaha yang panjang dan terus-menerus“, ujarnya.
Selain ITB, di Bandung juga ada perguruan tinggi lain di antaranya Universitas Padjadjaran dan Politeknik Bandung yang dapat memasok kebutuhan tenaga ahli dan teknisi bagi berkembangnya kawasan industri berteknologi tinggi di kota kembang itu.
Untuk mewujudkan Bandung Hi Tech Valley, saat ini Pemda Jawa Barat tengah menyusun Master Plan Kota Bandung. Tujuannya untuk mengembangkan infrastruktur lebih lanjut berdasarkan potensi sumber daya, perguruan tinggi, industri, dan sarana transportasi yang telah ada.
Cilegon-Padalarang
Dilihat dari skala nasional, menurut Direktur Industri Elektronika, Ir Ardiansyah Parman, Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk berkembangnya industri elektronika, yaitu memiliki pasar yang besar setelah AS, Cina dan India. Memiliki tenaga kerja yang cukup dan upahnya bersaing.
Saat ini secara alamiah sebenarnya telah terbentuk cluster industri elektronika dan mikroelektronika berorientasi pasar global di sepanjang koridor Jakarta-Cikampek. Dalam strategi dan kebijakan pengembangan industri elektronika lebih lanjut untuk menembus peraihan devisa sebesar 30 milyar dollar AS pada tahun 2010, kawasan industri elektronika dikembangkan lebih lebar, mulai dari koridor Cilegon hingga ke Padalarang. Sedangkan Bandung akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan.
Koridor terbagi dalam tiga bagian, yaitu koridor Cilegon-Jakarta dan Jakarta-Cikampek yang saat ini telah terbentuk, serta koridor Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) yang tengah dikembangkan. Tiga koridor itu akan dibangun sebagai kawasan industri dan perdagangan elektronika, sedangkan Bandung akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan.
Terbangunnya Bandung Hi-Tech Valley yang melibatkan lembaga riset BUMN dan perguruan tinggi di Bandung dan sekitarnya, paling tidak ikut menghela lahirnya inovasi-inovasi baru di bidang elektronika, terutama untuk software. BHTV yang berfungi sebagai dapur pengembangan riset dan penelitian, antara lain bersinergi dengan Telkom, IPTN, Lembaga Elektronika Nasional (LEN); Industri Telekomunikasi (INTI); Pindad; Universitas Katolik Parahyangan. Tak ketinggalan pula lembaga-lembaga riset seperti Divisi Risti Telkom.
Menurut Armein, karena BHTV bermarkas di gedung PPAU-ITB, Armein yakin cluster-nya tidak hanya berorientasi regional Jawa Barat dan Jakarta. Tetapi, lebih dari itu, menjadi semacam dapur penggodokan inovasi teknologi elektronika buat seluruh Indonesia. Itu karena PPAU-ITB selalu terbuka untuk menerima peneliti dan dosen dari semua universitas di Tanah Air. “Kita sudah saatnya berpikir nasional, karena devisa yang hendak diraup dari inovasi teknologi ini berorientasi devisa bagi bangsa“, papar Armein.
Bandung Hi Tech Valley dan PPAU diarahkan menjadi semacam link yang bisa saling terkait dengan dunia usaha, sehingga produknya bisa bersaing di pasar global. Cluster BHTV memfokuskan risetnya pada bidang mikroelektronika yaitu pada desain semi konduktor dan software, komponen modul, dan perangkat telekomunikasi. Produk tersebut diyakini berprospek cerah dan tanpa mengenal masa krisis maupun pascakrisis ekonomi.
Selain itu untuk mendukung cluster mikroelektronika, Bandung juga akan dijadikan Kota Multi Media, Pusat pendidikan ahli desain chip; software; dan aplikasi teknologi informasi, serta sebagai infrastruktur teknologi penghela koridor Jakarta-Padalarang.
Industri elektronika dapat makin cerah di masa depan, menurut Armein, tidak terlepas dari fenomena mengalirnya investor asing dalam bidang itu. Sejak tahun 1998, setidaknya ada lima “raksasa” industri elektronika yang kini menancapkan kakinya di negeri ini, dengan total investasi 1.021 juta dollar AS, dan menyerap tenaga kerja 37.489 orang. Mereka adalah Sony, Sanyo, LG, Matsushita, dan Epson.
Adanya simbiosis mutualisme antara BHTV, PPAU-ITB, dan para investor, diharapkan bisa memacu Indonesia mengejar ketertinggalannya dibanding negara-negara ASEAN. Sebagai gambaran, saat ini subsektor semi konduktor dirajai oleh Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Tetapi, untuk subsektor consumer electronic Indonesia unggul dibandingkan ASEAN bahkan Asia, yaitu mencapai 53 persen dari seluruh produk elektronikanya, sedangkan negara Asia lainnya berkisar 4 hingga 44 persen.
Penulis: Nasrullah Nara/ Yuni Ikawati
Sumber: Kompas
Jumat, 26 Oktober 2007
“Anak Bandung itu jago menyerap desain arsitektur global, dibanding dengan anak muda di kota lain. Apa yang terjadi di tingkat global, bisa diterjemahkan dan disiasati oleh mereka dan dijadikan komoditas gaya hidup baru dan menjadi tren. Mereka mendefinisikan kembali coolness yang sesuai dengan konteks mereka. Selain itu juga ada pasar yang menyerap komoditas baru itu“, Jawab Hikmat Budiman, penulis buku Lubang Hitam Kebudayaan, ketika dimintai komentar tentang kreativitas anak muda Bandung.
Tahun 2003-2004, pertumbuhan clothing store di Bandung memang gila-gilaan. Hampir 200 clothing store bermunculan. Belum lagi ratusan clothing label yang memproduksi produk fashion anak muda. Booming ini dipicu oleh pemberitaan yang cukup gencar di media massa mengenai nilai ekonomi dari bisnis ini.
Siapa yang tak tergiur ketika omzet setiap bulannya bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah menjelang hari raya. Meskipun pada tahun 2005-2007, industri clothing yang ada mengalami proses seleksi. Kekuatan modal menjadi faktor penentu untuk bertahan hidup. Namun, hal yang seringkali dilupakan oleh banyak orang mengenai bisnis ini adalah bagaimana pada awalnya, para pelaku membangun usaha ini dengan modal kultural awalnya.
Selama ini, sektor industri kreatif yang digerakan anak muda Bandung dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini, diklaim sebagai gerakan kultural yang lahir dari perlawanan dan semangat independen atau kemandirian.
Bermula Dari Hobi
Siapa sangka, dari sebuah skatepark kecil di salah satu sudut Taman Lalu Lintas Bandung (Taman Ade Irma Suryani), di awal tahun 1990-an, menjadi tempat bersejarah yang melatar belakangi perkembangan fashion anak muda Bandung dalam satu dekade terakhir ini. Skateboard kemudian menjadi benang merah yang menjadi ciri dan eksplorasi fashion dan lifestyle yang dielaborasi oleh para pelakunya.
Pertemuan di Taman Lalu Lintas membuat Didit atau dikenal dengan nama Dxxxt, Helvi, dan Richard Mutter (mantan drumer Pas Band), kemudian bersepakat mengelola sebuah ruang bersama di Jalan Sukasenang Bandung. Ruang ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal yang munculnya bisnis clothing lokal. “Kenapa ya, si Cihampelas itu enggak bikin produk-produk dengan merek-merek sendiri, kenapa mereka bikin mereknya Reply lah, Armani lah…kenapa enggak bikin sendiri, Reverse misalnya.. terus Helvi bilang nama itu bagus. Ya udah akhirnya dipakai buat nama toko.“
Tahun 1994, mereka membangun studio musik dan toko yang menjual CD, kaset poster, T-shirt, majalah, poster, dan asesori band yang diimpor langsung dari luar negeri. Reverse pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas dari scene yang berbeda. Punk, hardcore, pop, surf, bmx, skateboard, rock, grunge, semua bisa bertemu di tempat itu. PAS dan Puppen adalah beberapa band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse.
Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan Zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan.
Generasi Global
Jika dicermati lebih jauh, apa yang terjadi di bandung pada dekade ‘90-an, memang tak bisa lepas dari kecenderungan global pada saat itu. Musik dan gaya hidup, sebagai dua hal yang tak terpisahkan, memberi pengaruh sangat besar dalam perkembangan fashion anak muda Bandung. Sejak generasi Aktuil di tahun ‘70-an, Bandung dikenal sangat adaptif pada perkembangan musik dunia. Ketika merunut aliran musik apa saja yang berkembang dalam dekade ‘90-an, kita bisa melihat bagaimana perkembangan musik itu memengaruhi eksplorasi anak muda Bandung di bidang fashion. Termasuk juga masuknya MTV ke Indonesia yang memperkenalkan life style. Perbedaan menjadi komoditas yang dirayakan bersama-sama.
“Kita emang banyak dipengaruhi oleh musik yang kita sukai, dari label-label skateboard yang kita pakai dulunya, karena kita besarnya, growing up-nya di situ. Karena musik ini kan sangat terkait dengan fashion“, Helvi yang juga Creative Director Airplane, mengakui hal itu.
Pendapat Helvi diperkuat Arian tigabelas, mantan vokalis Puppen dan kini menjadi vokalis band Seringai. “Ada fenomena yang menarik ceuk urang mah, dulu Bandung terkenal dengan band-band yang keren-keren tapi waktu berlalu dan rupanya band enggak terlalu menghasilkan/menghidupi, dan kini para pelaku band tersebut pindah ke clothing.“
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dalam dekade ‘90-an, menjadi faktor penting dalam proses yang disebut Hikmat Budiman sebagai penyerapan desain arsitektur global. Ketika tahun 1995 bisnis internet service provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta, menurut catatan sebuah media nasional, Bandung menjadi salah satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar. Jika saat itu tercatat ada sekitar 14 ribu pemakai internet di Indonesia, Bandung menjadi kota pengguna internet terbesar ketiga (1.000 pengguna), setelah Jakarta (10.000 pengguna) dan Surabaya (3.000 pengguna). Bagaimana kemudian perkembangan teknologi informasi ini diserap dalam waktu yang hampir bersamaan di Bandung. Belanja on line dilakukan Reverse untuk memperoleh produk-produk impor yang mereka jual kembali di Bandung. Juga yang dilakukan Anonim yang muncul tahun 1999, mengikuti jejak pendahulunya dengan menjual t-shirt import merchandise band yang dipesannya melalui internet.
Ketika masa kekuasaan Orde Baru berakhir, kehidupan sosial politik Indonesia mengalami banyak perubahan di era reformasi. Warga Bandung memperlihatkan pola relasi yang baru dengan ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung. Beragam aktivitas dan perayaan dilakukan di jalan. Jalanan seperti Dago, menjadi catwalk publik. Individu kemudian mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Saat itu, banyak pertunjukan-pertunjukan musik yang kemudian disponsori oleh clothing company yang mulai memiliki kemampuan ekonomi.
Disadari atau tidak, clothing industry yang muncul dan berkembang di Bandung ini, justru memicu perkembangan industri-industri kecil baru yang juga berbasis kreativitas. Secara organik, infrastruktur pendukungnya, bermunculan satu per satu. “Waktu itu lagi booming-booming-nya clothing, terus gue pikir, ngapain juga ikut-ikutan bikin clothing, mendingan gue bikin usaha lain yang bisa mendukung usaha mereka… Kalau mereka berbisnis ya harus berpromosi, mereka punya produk yang bagus, buat apa kalau enggak berpromosi“, ungkap Uchunk, salah satu pendiri Suave, Free Catalogue Magazine. Suave awalnya dicetak sebanyak 3000 eksemplar dengan modal sebuah komputer pribadi. Kini tirasnya mencapai 8.000 eksemplar dengan 90 halaman full color. Selain didesain dengan tampilan yang menurut Uchunk, terlihat mainstream, jauh dari kesan indie dan underground, Uchunk juga memberi halaman galeri bagi siapa pun yang ingin memamerkan karya grafisnya di satu halaman Suave.
Menurut Uchunk, saat ini banyak clothing company yang kemudian menggunakan jasa desainer grafis, fotografer, dan biro iklan untuk menggarap materi promosi produk yang bersangkutan. Baginya kondisi ini sangat menggembirakan karena bidang industri kreatif lainnya kemudian bermunculan. Helvi menambahkan, “Waktu kita bikin ini, enggak kepikiran kalau di depan ternyata akan berhubungan dengan segala macam. Fotografer, advertising, itu kan seru jadinya. Jadi kayak punya dunia sendiri, infrastrukturnya jadi ke bentuk dan ini adalah wilayahnya anak muda. Yang paling keren menurut gua adalah, di mana sekarang anak-anak muda enggak gengsi dan malu lagi pake produk lokal. Dan kita juga seneng, karya kita dihargai orang dari mulai yang naik angkot sampai mobil mewah, pake kaos lokal.” Helvi mengatakan itu dengan mata-mata berbinar-binar lega.
Masa depan bisnis ini, kata Fiki C. Satari yang kini menjabat sebagai Direktur Airplane tetap akan seperti itu. “Ini akan tetap jadi bisnis anak muda, sepuluh tahun ke depan tetap akan seperti itu. Kita mungkin akan mundur, dan memberikan tempat bagi anak muda“, katanya.
Dan, Bandung menjadi kata kunci. ”Di produk dibuat made in Bandung. Dalam melakukan ekspansi pun, Bandung sebagai identitas ini yang tetap dijaga.” (Dirangkum dari tulisan “Rethinking Cool, Gaya Anak Muda Bandung” yang di muat di blog penulis, www.vitarlenology.blogspot.com)***
Penulis: Tarlen Handayani
Sumber: Pikiran Rakyat/ Disperindag Jabar
