You are currently browsing the daily archive for February 22nd, 2008.

Jumat, 9 Januari 2004

Enggak mau ikutan tren, anak-anak indie bikin gaya sendiri biar berbeda. Nyatanya, gaya mereka malah banyak pengikut dan jadi ngetren.

Musik bisa dibilang jadi ujung tombak berkembangnya komunitas indie. Sudah lama kan kita mendengar tentang band-band yang bergerak sendiri untuk memproduksi dan mengedarkan album mereka, yang biasa disebut pergerakan underground. Angkanya memang tidak besar jika dibandingkan dengan Sheila on 7 atau Padi. Tetapi, angka 50 ribu kopi untuk album indie sudah sangat bagus.

Makin lama, dukungan terhadap indie pun besar. Terbukti dengan masuknya nama band asal Bandung, Mocca, dalam deretan grup yang mendapatkan award dari MTV. Stasiun TV yang fokus pada musik itu pun memberikan tempat yang cukup besar bagi musik yang bergerak dengan semangat indie. Tak ketinggalan, sejumlah radio ikut menyediakan segmen khusus bagi musisi-musisi lokal.

Propaganda
Perkembangan hebat ini kemudian diikuti oleh elemen lain yang sangat menunjang. Salah satunya adalah media cetak. Untuk menunjang promosi, biasanya band membuat newsletter untuk memberitakan perkembangan bandnya. Berawal dari selembar kertas fotokopian, lalu mulai dicetak tipis, dan akhirnya bermunculanlah majalah-majalah yang tampilannya enggak kalah keren dibandingkan dengan media cetak mapan.

Bandung, enggak bisa dibilang enggak, adalah sarangnya orang-orang yang punya semangat indie. Dari kota ini dikenal beberapa majalah yang punya nama cukup besar, seperti Ripple dan Pause. Belum lagi majalah-majalah baru yang mulai berkembang.

Kota lain penghasil media cetak indie adalah Yogyakarta yang punya Outmagz dan Medan dengan M-teens, misalnya. Belum lagi yang berupa newsletter dengan kemasan lebih rapi seperti 10.05 (ten o’ five) yang dibagikan gratis.

Awalnya media cetak tersebut adalah ajang untuk propaganda. Tetapi, sekarang sudah berubah jadi bacaan yang bisa kita nikmati dan menambah wawasan kita.

“Fashion”
Style orang-orang ini juga terlihat berbeda dan unik, tetapi enggak “sejorok” seniman. Mereka tetap memperhatikan penampilan, tetapi dengan satu syarat: harus beda dengan yang lain. Syarat tersebut membuat mereka mendesain pakaian sendiri, biasanya berupa t-shirt, yang berbeda dengan rancangan orang lain. Walau sederhana, hanya mengandalkan kekuatan kata dan gambar pada kaus, ternyata desain mereka bisa memancing minat para pencinta fashion.

Biasanya tiap desain dibuat dalam jumlah kecil. Paling banyak satu desain hanya diproduksi 10 potong.

Perkembangan usaha ini makin menjamur. Puluhan merek bermunculan. Usaha bikin kaus itu disebut clothing. Enggak cuma t-shirt, tetapi juga berbagai aksesori, seperti belt, handband, sepatu, sampai boxer.

Makin hari, persaingan semakin ketat. Dalam persaingan ini yang utama adalah ide! Semakin unik dan fresh, clothing tersebut bakal makin dicari.

Distribusi
Banyak produk bersemangat indie dihasilkan, tetapi sedikit tempat yang bisa menjualnya. Karena keterbatasan dana, mereka kesulitan masuk ke toko-toko buku besar. Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu distribution outlet yang lebih dikenal dengan sebutan distro. Biasanya bermula dari menjual produk-produk mereka sendiri, kemudian berkembang banyak yang menitipkan barang untuk dijual di situ.

Belakangan distro makin menjamur di berbagai kota di Indonesia. Apalagi kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, dan Medan. Sebut saja 347 di Bandung, Cynical MD, atau Locker di Jakarta. Begitu banyak nama-nama baru bermunculan. Persaingan yang makin ketat membuat tiap distro adu unik dan eksklusif.

Banyak Pengikut
Puncaknya sekarang ini kita banyak melihat anak muda yang gayanya distro banget. Dan yang sedang in saat ini adalah dandanan ala punk, dengan berbagai atribut, seperti spike dan belt, plus gaya rambut dan tato.

Indie, yang berasal dari kata independent, niatan awalnya adalah antitren. Tetapi keantitrenan itu justru membuat karya- karya mereka dicintai banyak orang. Akibatnya, malah ngetren.

Bahkan, tren itu makin besar gelombangnya. Banyak label rekaman besar yang mencari grup-grup band di kalangan indie. Bahkan sebuah label besar sampai membuat divisi khusus untuk band-band indie. Sudah jadi bisnis menguntungkan, rupanya.

Indie Asli
Saat ini memang sudah sulit membedakan mana yang anak indie asli dan mana yang hanya pengikut. Tetapi, sebenarnya ada ciri-ciri yang tak bisa hilang dari komunitas ini.

Tak sedikit anak band indie yang mendesain sendiri pakaian mereka. Bahkan, turun sendiri ke jalan untuk menempel poster- poster event yang juga mereka buat sendiri.

Mereka bekerja keras untuk mempromosikan apa yang mereka lakukan dengan cara mereka. Maka bertebaranlah newsletter, flyer, dan poster, baik di distro-distro, kedai kopi, maupun toko buku dan kaset tertentu.

Semangat indie adalah semangat menjadi diri sendiri. Semangat tidak ikut arus.

Sumber: Tim Muda Kompas

Rabu, 12 Desember 2007

Mengapa Helvi Sjarifuddin memperoleh Anugerah Produk Asli Indonesia 2007? Dia ternyata mengembangkan industri kreatif tidak hanya melalui clothing, namun juga musik dan media komunikasi (media cetak).

Dia yang memprakarsai berdirinya label independen Fast Forward Record, tempat band indie terkenal bernaung seperti Mocca dan The Sigit, serta majalah indie terkenal bernama Trolley.

Helvi lahir pada Januari 1971. Menikah pada 1998, kini memiliki dua anak. Pernah memiliki keinginan untuk kuliah di Seni Rupa ITB, namun tidak tembus-tembus UMPTN. Sempat kuliah selama satu semester di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA), lulusan SMUN 2 Bandung ini memutuskan untuk menghentikan jenjang pendidikannya.

Salah satu anggota komunitas skateboard Taman Lalu Lintas ini memulai usahanya dengan membuka Reverse sekitar 3 tahun setelah lulus SMU.

Usaha yang pertama kali dibuka adalah bisnis clothing bernama Reverse pada awal 1994. Helvi menggandeng Richard (mantan drumer Pas band) dan Didit, teman main skateboard di Taman Lalu Lintas.

Awalnya, Reverse menjual barang-barang impor mulai dari baju hingga sepatu yang modelnya mengarah pada tren musik dan skateboard anak muda saat itu.

Antara 1995-1996 Reverse mulai memproduksi merek lokal sendiri. Awalnya mereka membuat barang yang mudah dibuat seperti pin, kaos, dan stiker yang berhubungan dengan merchandise band indie seperti Pas Band dan Puppen (Marcell pernah jadi drumernya).

Helvi mengaku membuka usaha bukan berorientasi pada uang, namun karena keinginan membuat sesuatu ataupun untuk memenuhi keinginannya.

Pertama membuka Reverse karena produk fashion yang dia dan komunitasnya inginkan jarang ada di pasaran. Mulai memproduksi sendiri karena produk impor harganya semakin mahal, sementara model produk fashion yang dicari masih belum ada di pasaran.

Dalam membuat produk clothing Reverse, Helvi berusaha menciptakan desain original, tidak mencontek desain dari produk impor. Dari sisi harga juga sengaja dibuat murah sesuai dengan kantung anak muda di Kota Bandung.

Sebagai gambaran, harga sebuah kaos impor sekitar Rp. 100.000, Reverse memproduksi kaos seharga Rp. 50.000 – Rp. 60.000 dengan desain dan kualitas yang tidak kalah bersaing.

Niatnya menjadi fasilitator bagi orang-orang berjiwa muda di Bandung yang susah mencari produk impor dengan harga mahal. Efeknya, sejak saat itu sudah banyak orang yang mengambil barangnya untuk dijual kembali di kota lain seperti Bogor, Jakarta, dan Yogyakarta.

Tak Untung Berlebih
Dia berprinsip tidak ingin mengambil keuntungan berlebihan menjadikan perputaran modal hampir setiap usahanya cukup cepat sehingga kegiatan yang semula hobi berubah menjadi bisnis yang dikelola profesional tanpa meninggalkan semangat pertemanan.

Belajar otodidak dalam menjalankan bisnisnya, namun dia selalu memegang kepercayaan pada hubungan pertemanan dan saling mendukung temannya yang ingin membuka usaha dibidang yang sama.

Hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah clothing, perusahaan rekaman independen, dan majalah fashion indie jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Komunitas ini terus mendukung perkembangan satu sama lain melalui persaingan yang sehat seperti tidak saling membajak ide desain dan menjatuhkan clothing atau perusahaan rekaman dan majalah indie lainnya.

Setelah Reverse, pada 1998 Helvi membangun Airplane bersama Cholay dan Fiki, yang merupakan temannya di Taman Lalu Lintas. Airplane merupakan clothing yang sejak awal memproduksi merek sendiri dengan komoditas lokal.

Airplane masih bertahan hingga saat ini dan menjadi salah satu brand clothing terbesar di Indonesia dengan formasi kepemilikan tiga orang (Helvi, Cholay, Fiki). Sementara dari Reverse Helvi keluar dan pengelolaannya kini dilakukan oleh Didit tanpa memiliki toko lagi.

Helvi saat ini memiliki dua usaha, yaitu Airplane dan Fast Forward Record yang didirikan sejak 1999. Label rekaman ini juga mendi pelopor berdirinya puluhan label rekaman indie di Bandung, Jakarta, dan beberapa kota besar lainnya.

Majalah Trolley sendiri dibuat pada tahun 2000 oleh komunitas skateboard taman lalu-lintas yang memiliki clothing dan komunitas Common Room (termasuk Gustaff yang saat ini menjadi ketua komunitas tersebut).

Helvi hanya mengelola majalah tersebut selama satu setengah tahun untuk berkonsentrasi di bisnis clothing melalui Airplane dan industri musik melalui Fast Forward Record (kaset dan CD kompilasi finalis LA Indie Fest juga salah satu yang diproduksi oleh perusahaan rekaman ini).

Penulis: Fita Indah Maulani (Kontributor Bisnis Indonesia)
Sumber: Bisnis Indonesia Online

Kamis, 31 Agustus 2006

Photobucket

BANDUNG, (PR).-
Para perajin Jawa Barat kini dapat memamerkan hasil kerajinan unggulannya di Jabar Craft Center (JCC) di Jalan Ir. H. Juanda, Bandung. Gedung yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, Rabu (30/8), itu merupakan wadah promosi bagi para perajin di Jawa Barat untuk memamerkan produk kerajinannya. GUBERNUR Jabar Danny Setiawan (tengah) didampingi Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan (ke-2 kanan), mencoba memainkan gitar saat peninjauan seusai meresmikan Gedung Jabar Craft Center Dekranasda Provinsi Jawa Barat di Jln. Ir. H. Djuanda Bandung, Rabu (30/8).*ANDRI GURNITA/”PR”

Bisa Menjadi Wadah Promosi Bagi Para Perajin
Kehadiran gedung pameran untuk kerajinan, disambut gembira para pelaku industri kerajinan, apalagi selama ini mereka sangat menanti-nanti kehadiran ruang pameran, sebab melalui pameran dinilai jadi tempat yang ideal untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.

Pemilihan lokasi JCC di Jalan Ir. H. Juanda (Dago), pun menurut Wakil Ketua Umum Bidang UKM, Perbankan dan Kemitraan Kamar Dagang Industri (Kadin) Jabar, Agung S. Soetisno, sangat tepat. Selain representatif, kawasan ini komersial dan terkenal di luar Bandung. Diharapkan, lokasi yang tepat ini dapat dimanfaatkan para wisatawan yang berkunjung dan melihat sejumlah kerajinan daerah yang ada di Jabar melalui JCC.

Pentingnya ruang pameran itu juga diakui Direktur Jenderal Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Sakri Widhianto. Menurutnya pameran, merupakan salah satu bentuk promosi yang paling efektif. Dengan adanya tempat khusus sangat dimungkinkan dikunjungi masyarakat banyak termasuk wisatawan.

Apalagi dikatakan Sakri, meski kualitas produk kerajinan kita termasuk unggulan, beberapa perajin dinilai masih belum memiliki skill untuk memasarkan produk kerajinannya. Akibatnya, masalah pemasaran produk menjadi kendala utama para perajin.

Selain itu, apresiasi para perajin terhadap hasil karyanya pun perlu dituangkan dalam bentuk hak cipta akan produk tersebut. “Kalau perajin mempunyai hak cipta akan produknya, tidak ada orang lain yang akan mengklaim produk tersebut,” tutur Sakri.

Menurut dia, yang diperlukan para perajin yakni agresivitas untuk menangkap peluang pasar yang terbuka lebar. Tugas pemerintahlah untuk membimbing para perajin tersebut agar mampu memasarkan produk kerajinannya. Para perajin juga diharapkan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi mereka, sehingga mereka juga siap menerima pesanan dalam jumlah yang besar.

Sentuhan Iptek
Sementara itu Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan usai meresmikan JCC mengatakan, potensi yang dapat dikembangkan dalam industri kerajinan sebagai sumber penghidupan yang layak bagi masyarakat sangat besar. Namun, potensi-potensi itu tidak akan menjadi potensial sepanjang tidak dikelola dengan baik.

Menurutnya di era informasi saat ini, berbagai potensi lokal akan sulit berkembang jika kurang mendapat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), baik dalam aspek produksi, pengemasan, promosi dan pemasaran hingga manajerial .

“Sentuhan iptek sangat penting sebab dari sisi komoditas, cukup memiliki prospek yang menjanjikan karena didukung ketersediaan bahan baku, keanekaragaman seni dan budaya sebagai sumber inspirasi produk. Selain itu didukung lembaga perguruan tinggi, lembaga penelitian serta semakin terbukanya peluang pasar di dalam maupun di luar negeri.

Hadir pada peresmian itu, Direktur Jenderal Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Sakri Widhianto, Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jabar Hj. Rinania Danny Setiawan, Sekretaris Daerah Jawa Barat Lex Laksamana Zainal, Wali Kota dan Bupati Bandung, pengurus Dekranasda Kab./Kota se-Jawa Barat dan undangan. (A-155/A-134)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Kamis, 22 Juni 2006

Pertumbuhan industri kecil di bidang kerajinan tangan yang dikerjakan ibu-ibu rumah tangga semakin meningkat 10- 20 persen per tahun. Biaya kebutuhan hidup yang semakin besar mengharuskan ibu rumah tangga mencari sumber penghasilan lain untuk keluarga.

Menurut Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jabar Ina Primiana, semakin banyak ibu rumah tangga terjun dalam bisnis kerajinan tangan. Kondisi perekonomian memaksa mereka mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Pertumbuhannya sangat pesat, perbandingan laki-laki dan perempuan satu banding dua. Namun, produksi mereka masih barang-barang untuk memenuhi kebutuhan domestik keluarga, seperti kerajinan tangan hiasan rumah, aksesori, dan fashion“, kata Ina, Selasa (20/6) di Bandung.

Sekretaris Asosiasi Ekspor dan Produsen Handycraft Indonesia (ASEPHI) Jabar Elina Farida Eksan Alfonso menjelaskan, pasar utama produk kerajinan tangan itu adalah ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitarnya.

Saat ini, kata Elina, 70 persen perajin kerajinan tangan adalah perempuan, atau ibu-ibu rumah tangga. Bisnis kerajinan tangan ini dipilih ibu rumah tangga karena pekerjaan ini tidak mengharuskan mereka meninggalkan rumah selama bekerja.

Modal usaha bisnis ini bergantung pada kapasitas produksi, jenis bahan baku, peralatan dan mesin yang digunakan, serta lama produksinya. Menurut Elina, modal bisnis kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga Rp 5 juta-Rp 10 juta.

Balik modalnya bergantung modal dan jenis produksinya. Yang modal kecil, tidak menggunakan mesin, BEP (break event point)-nya sekitar enam bulan sampai setahun. Yang pakai mesin butuh waktu tiga tahun“, katanya.

Sektor Riil
Koko Zakaria, Humas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, mengakui, dalam setahun perempuan yang berbisnis kerajinan tangan meningkat 10-20 persen. Umumnya perajin di kota memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan usahanya, seperti pendidikan keramik atau menjahit, sehingga peningkatan keterampilan mengarah pada kualitas dan diversifikasi produk.

Sementara menurut Kepala Bidang Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Bandung Ananda Pulungan, bisnis ibu-ibu rumah tangga mampu meningkatkan sektor riil dan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.

Ananda menjelaskan, permasalahan utama yang dihadapi ibu-ibu rumah tangga bukan modal, melainkan manajerial produksi dan pemasaran. Sistem produksi yang dilakukan masih berorientasi pesanan, tidak berdasarkan pada standar mutu dan kapasitas produksi. Manajemen keuangan tidak ketat antara keuangan perusahaan dan uang pribadi. Perajin yang mampu mengekspor, kata Ananda, adalah yang telah memanfaatkan teknologi dan manajemen pemasaran yang luas serta berkesinambungan.

Sebenarnya, tutur Ina, kerajinan tangan asal Jabar diminati pasar luar negeri. Namun, belum dilakukan promosi dan penyediaan pasar untuk memamerkan produk tersebut. “Di Jabar peluang masih besar, tetapi belum ada pasar yang khusus menjual atau memamerkan produk kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga itu. Ibu-ibu itu tidak bisa terbebani dengan masalah pemasaran karena waktunya habis untuk berproduksi“, kata Ina. (THT)

Sumber: Kompas/ Disperindag Jabar

 

February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

a

Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email