You are currently browsing the daily archive for February 19, 2008.

Selasa, 3 Juli 2007

Photobucket

BANDUNG, (PR).
KETUA Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Indonesia Jawa Barat Ny. Danny Setiawan (kanan) didampingi Ketua Dekranasda Kota Bandung Ny. Dada Rosada mengunjungi salah satu stan khusus kerajinan bordir usai membuka Pameran Kriya Pesona Bandung II di Graha Manggala Siliwangi Bandung, Selasa (3/7). Pameran yang menampilkan berbagai produk kerajinan cendera mata terbaik di Kota Bandung ini berlangsung hingga Jumat (6/7).*M. GELORA SAPTA/”PR”

Produk kerajinan Kota Bandung yang dipamerkan pada Kriya Pesona Bandung (KPB), mulai diincar peminat dari luar negeri, terutama negara Asia dan Eropa. “Hari ini, saat pembukaan, sudah ada dari kamar dagang Italia yang menanyakan potensi kerajinan, kekhasan produk, dan kualitas produk. Ini bertanda ada peluang untuk pasar ke Eropa, khususnya Italia. Belum ada kesepakatan, tapi akan ditindaklanjuti”, ungkap Sekretaris Dekranasda Kota Bandung, Ema Sumarna saat ditemui usai pembukaan Kriya Pesona Bandung di Manggala Siliwangi Bandung, Selasa (3/7). Pembukaan dilakukan Ketua Dekranasda Jabar, Hj. Rina Danny Setiawan. Hadir pula empat Dubes, masing-masing Swedia, Suriname, Piliphina, dan Chili.

Menurut dia, ada kemungkinan kamar dagang Italia tertarik melakukan kerja sama ke arah ekspor sehingga perlu ditindaklanjuti. “Pameran ini akan membuka peluang transaksi yang mampu menambah pendapatan daerah”, kata Ema.

Sementara itu, Hj. Rina Danny Setiawan, mengharapkan para pelaku usaha kerajinan di Kota Bandung mampu bersaing tidak hanya di pasar lokal, namun juga nasional, bahkan internasional. Dengan demikian, mampu menambah nilai produk.

Lewat pemanfaatan teknologi internet, para pelaku usaha bisa membuka peluang pasar dengan mencari informasi inovasi produk baru dan mencari pasar baru”, ungkapnya. Ditambahkannya pula, peningkatan nilai tambah tersebut nantinya akan menyerap tenaga kerja sekaligus melestarikan seni dan budaya Jabar.

Ketua Kadin Kota Bandung, Deden Hidayat menuturkan, jika melihat potensi kerajinan di Kota Bandung, para stakeholder seharusnya lebih giat mempromosikan potensi yang ada. Sebab, Kota Bandung sendiri baik di pasar lokal maupun internasional dikenal sebagai pusat industri kreatif, khususnya handicraft dan fashion. “Sudah semestinya para perajin mulai melakukan perkembangan pasar.” (A-161)***

Sumber: Pikiran Rakyat/ Dekranasda Cirebon

Kamis, 14 Februari 2008

Photobucket

SEORANG pengunjung event musik “underground” melakukan aksi “moshing” saat menyaksikan band favoritnya tampil di Lapangan Persib Kota Bandung, pertengahan tahun 2005 lalu.* ROBY NUGRAHA/”PR”

“UNDERGROUND” adalah GOR Saparua. GOR Saparua adalah underground. Seberapa banyak dari Anda sulit membedakan kedua kata di atas. Mana yang diterangkan, mana yang menerangkan.

Ya, underground tentunya tak lepas dari peran GOR Saparua yang menjadi saksi bisu masa keemasan scene (baca: pergerakan) musik itu di Bandung. Kita tentu mengingat betapa ingar bingar musik cadas bergenre punk, hardcore, dan grindcore begitu masif di Bandung sekitar 14 tahun silam.

Bagi Anda yang masih ingat, mungkin kerap menemukan sosok lelaki kurus, berambut panjang sepinggang, dan mengenakan kaos tangan panjang warna hitam bertuliskan nama band di sepanjang lengannya. Tak lupa, mereka memakai pula jeans standar hitam atau celana cargo hitam, boot hitam, dan berkerumun hampir tiap akhir pekan di bilangan GOR itu.

Bila ditelisik lebih jauh lagi, di bibir panggung beberapa puluh penggemar musik genre ini segera merapat saat band kegemarannya tampil di panggung. Pogo untuk band punk, headbang untuk hardcore, hingga ber-moshing ria saat band grindcore mengentak dengan tempo tinggi dan ketukan–bass drum serta rimshot snare drum–yang rapat.

Di dalam, jangan tanya suasananya seperti apa. Bising bukan main. Dada berdegup kencang. Telinga pekak. Sulit untuk diam bertahan di tengah “panasnya” suasana.

Seusai sebuah lagu dibawakan, mendadak tercipta kondisi tertib. Sontak para penonton mengacungkan kepalnya ke langit. Riuh pujian pun tercipta. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi untuk band yang tampil. Dan begitulah, “ritual” itu terus terjalin dari akhir pekan ke akhir pekan lainnya di era pertengahan 90-an. Saparua pun menjadi venue wajib bagi pergelaran musik cadas saat itu. Mulai dari acara kecil, sedang, hingga besar. Maka, Saparua pun terkenal ke seluruh nusantara sebagai tempat paling legendaris bagi genre musik ini.

Apalagi, saat acara akbar seperti Hollabalo 1994, Bandung Berisik 1995, Bandung Underground 1996, Gorong-Gorong 1997, dan beberapa acara yang digelar setelahnya. Bandung menjadi pusat pertumbuhan musik genre ini, yang lantas menular ke kota-kota lainnya di Indonesia. “Tahun 1998, kita maen di Saparua. Yang nonton ada 4.000-an. Pokoknya kapasitas penuh lah. Pol banget“, kata vokalis Jeruji, yang akrab disapa Dempak, saat ditemui di Common Room, Jln. Kyai Gede Utama, Kota Bandung, Minggu (10/1). Jumlah tersebut saat itu belumlah mencapai klimaksnya. “Apalagi sekarang“, tambah Dempak menimpali.

Ya, apa yang disebut Dempak memang terbukti. Bayangkan saja, sepuluh tahun lalu terpaan media belum seperti saat ini. Internet belum menjadi hal yang primer. Radio belum banyak yang memutarkan lagu-lagu dari band indie seperti sekarang. Kebanyakan stasiun televisi pun nampak masih “alergi” menayangkan video klip band-band lokal.

Berkembangnya terpaan lewat kian mudahnya akses rekaman, akses duplikasi, serta akses publikasi di berbagai media, tentunya berjalan linier dengan jumlah penggemar.

Berdasar catatan yang dikompilasi komunitas ini, Indonesia tergolong lima besar negara yang memiliki komunitas underground terbesar di dunia.

Belum cukup, scene underground Indonesia secara keseluruhan juga terbilang berpengaruh di Asia. Editor majalah Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto, berkata, “Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang diambil untuk kemudian dibuat film sekuel `Metal Headbangers Journey` karya sutradara asal Kanada. Di Asia, negara lain yang diambil adalah Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Ini menjadi bukti betapa masifnya scene musik underground di negara ini.

Di satu sisi, kemajuan merupakan hal yang menggembirakan. Namun, di sisi lain, kebanyakan band di Bandung justru mengeluh. Bertambahnya jumlah penggemar ternyata tak sebanding dengan kapasitas venue yang biasa mereka gunakan.

Belum lagi, hal-hal lainnya yang cukup mengganggu. “Mengurus perizinan untuk menggelar konser di GOR Saparua makin sulit“, kenang Dempak.

Alhasil, mereka lantas bergerilya mencari tempat lainnya di Bandung. Tentunya, tempat yang mendekati definisi representatif. Teater terbuka dan teater tertutup Taman Budaya Dago atau Dago Tea Huis lantas menjadi pilihan. Tempat ini lantas menjadi legenda berikutnya setelah Saparua. Namun, berubahnya kebijakan pengelola ditambah harga sewa yang tak sebanding dengan pemasukan, perlahan membuat Tea Huis mulai ditinggalkan. Di era 2000-an, acara-acara seperti ini lantas mulai meredup.

Ternyata, industri musik underground pun ternyata memicu pertumbuhan industri lainnya, seperti industri distro (kependekan dari distribution) dan clothing. Perlahan tapi pasti, ketiga industri ini ternyata tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Mereka pun saling mendongkrak. Dimulai dari distro Harder dan Riotic, musik underground yang laksana “berhibernasi” siap menggeliat kembali.

Pada bagian lain, “adik kandung” musik underground, yang lebih bergenre pop dan retro, mulai bermunculan kembali setelah sebelumnya sempat mengalami nasib serupa. Era 2004, bersama-sama dengan industri rekaman indie label yang kian menggeliat, menjadi kebangkitan kembali semua genre musik ini.

Akan tetapi, permasalahan selanjutnya tetaplah sama, mereka kekurangan venue sebagai tempat berekspresi. Hanya orang-orang kreatiflah yang juga mampu berkreasi di saat sulit.

Acara pun kemudian digeser ke Asia Africa Culture Center (AACC), YPK Naripan, Dezon, Parahyangan Plaza, STSI, Unpas Setiabudhi, hingga ke kafe-kafe yang berkapasitas lebih kecil. Sebut saja, kafe Laga Asia Afrika, TRL, hingga Classic Rock Trunojoyo.

Kesulitan ini pun dirasakan mantan vokalis Puppen, Arian13, yang kini menjadi vokalis Seringai. “Di Bandung, memang enggak ada gedung konser yang representatif. Dari dulu anak-anak nunggu realisasi dari pemerintah. Tapi, itu kayak nunggu sapi break dance. Pemerintah kayaknya enggak apresiasi scene musik ini. Padahal dampaknya ke sektor perekonomian terbilang besar“, kata Arian13.

Ia lantas mencontohkan tempat yang terbilang representatif yang pernah dipakai Seringai bermain di kota lain. “Di Yogyakarta, ada Liquid Cafe yang berkapasitas 700-an pengunjung. Hawa Yogya kan panas, tapi enggak tahu kenapa kita nyaman banget maen di sana. Di Jakarta, Viky Sianipar Centre juga cukup nyaman“, tambah dia.

Khusus di Bandung, Arian13 berpendapat ada baiknya meniru 924 Gilman Street di Berkeley, San Fransisco (baca, “Pelajaran Berharga dari Berkeley“). Misalnya, ada gedung kosong milik pemerintah di Bandung, dan dipercayakan pengelolaannya kepada komunitas secara kolektif dan kelembagaan.

Berkaca pada kejadian “Sabtu Kelabu”, adakah pemikiran kolektif ke arah sana?

Penulis: Roby Nugraha
Sumber: Pikiran Rakyat

Senin, 12 Februari 2008

Photobucket

KASET-KASET label rekaman independen yang dijual di toko kaset Riotic Jln. Sumbawa, Bandung. Keberadaan label di Kota Bandung telah menjadi pembuka jalan bagi industri musik independen di berbagai kota lain di Indonesia.* ADE BAYU INDRA

MENEMUKAN rilisan dari band-band seperti Mocca, Efek Rumah Kaca, atau Astrolab yang berasal dari label rekaman independen atau indie label bukanlah hal asing lagi di toko kaset. Bermodalkan keinginan yang kuat, label rekaman independen meretas jalannya di industri musik nasional. Dan tanpa banyak orang yang tahu, label-label seperti ini sudah berhasil menembus pasar musik internasional. Beberapa artisnya sudah melanglang buana ditonton oleh ribuan orang asing. Sebut saja The S.I.G.I.T. yang tahun lalu berkesempatan melakukan tur di Australia bersama Dallas Crane.

Label rekaman independen tidak lahir sehari dua hari. Jauh sebelum label-label independen tumbuh menjamur, kebanyakan band turun tangan sendiri dari mulai mengumpulkan modal sampai promosi. Contoh nyatanya adalah Puppen, salah satu band underground legendaris yang sudah bubar. “Waktu itu minjem duit sepuluh juta rupiah dari ibunya Ajo (gitaris). Baru dikembaliin lima tahun kemudian“, ujar Arian13, vokalis Puppen mengenang.

Rekaman dilakukan dengan menggunakan sisa shift rekaman dari Pas Band. “Shift-nya dibagi dua sama Pure Saturday“, ucap vokalis Seringai ini. Personel Puppen melakukan promosi dengan tangannya sendiri, termasuk dengan memanfaatkan momen meninggalnya Nike Ardilla. “Di tempat Nike Ardilla meninggal, banyak orang datang dan menempel puisi. Kita menyusupi, ikut-ikutan nempel poster di sana“, urai Arian13.

**

Semua bermula pada tahun `90-an di sebuah studio kepunyaan Richard Franklin Christian Mutter yang bernama Reverse Studio. “Waktu itu kepikiran merilis karena banyak band yang rekaman di studio tapi enggak bisa rilis karena mentok“, ucap pria yang pernah menjadi drummer Pas Band ini.

Mentok bisa diartikan karena tidak ada label rekaman yang bisa mewadahi mereka, juga karena keterbatasan biaya. Dari sini lahirlah label rekaman independen pertama di Bandung yaitu 40.1.24. Nama yang diambil dari kode pos di kawasan Sukasenang, markas dari Reverse Studio. “Pertama kali merilis itu albumnya Close Minded“, ujar Richard.

Merilis album di jalur independen pada masa itu, bisa dibilang cukup sederhana namun penuh perjuangan, yaitu dengan mengumpulkan materi rekaman yang sudah jadi dari band yang sering latihan di Reverse Studio. “Enggak ada perjanjian, pokoknya nerima master lagu, terus aku yang produksi cover dan (duplikasi) CD. Kalau enggak salah, sampai 1.000 kopi“, ucap pria kelahiran 18 Maret 1969 ini.

Kemudian 40.1.24 merilis album kompilasi “Masaindahbangetsekalipisan”, yang tidak disangka-sangka menarik minat banyak pendengar musik. Kompilasi yang hingga kini sangat fenomenal dan bisa dibilang memengaruhi berdirinya label rekaman independen di Indonesia.

Di Bandung kemudian bermunculan label rekaman independen seperti Riotic Records, Harder, FFWD Records, Spills, No Label Records, My Own Deck, Maritime Records, dll. Label-label seperti ini biasanya menaungi aliran musik tertentu, semisal emo, hardcore, indie pop, sampai grunge. Mereka biasanya mengambil artis tidak jauh-jauh dari tempat nongkrong-nya sendiri atau karena suka dengan bandnya.

Riotic Records misalnya, label yang diprakarsai oleh Dadan Ketu beserta teman-temannya di tahun 1996 didominasi oleh aliran punk rock. “Anak-anak punya rekaman lagu-lagu tapi belum ada label buat publish“, ujarnya.

Untuk aliran musik hardcore, Bandung mempunyai Harder. “Awalnya pengen memotivasi lingkungan terdekat dulu, lama-lama kita mengeksplorasi label juga dan mulai kerja sama dengan band di luar komunitas hardcore“, ujar Wawan Suherman.

Dalam merilis sebuah album, biasanya label rekaman dan artisnya patungan mengumpulkan modal. “Kalau ada bayaran manggung, kita sisihkan untuk membuat merchandise. Dari hasil penjualannya, kita recording“, urai pria yang akrab dipanggil Wale ini.

Perjalanan belum selesai sampai di sana, Ketu, demikian Dadan biasa dipanggil, menuturkan, pada waktu itu untuk memperbanyak kaset dilakukan dengan cara manual. “Dulu kita rekam per kaset di rumah, sampulnya masih di-print satu-satu“, tutur Ketu sambil tertawa.

Seiring perjalanan, Riotic Records akhirnya menemukan sebuah tempat bernama Tropik untuk keperluan menduplikasi. “Namanya Koh Teddy (alm.), orangnya baik banget. Walau cuma duplikasi 200 buah, dia ngebolehin. Bahkan 25 buah juga boleh!” ujar Ketu.

Nama Tropik pun menyebar. “Wah, pokoknya Koh Teddy itu mantap, mau copy berapa juga bebas!” ujar Arian13. Lewat Tropik, label-label ini bisa mengedarkan rilisannya seperti Turtles Jr., kompilasi Bandung`s Burning, Brain Beverage, Savor of Filth, Balcony, dan Homicide.

Pada tahun `90-an, yang menjadi masalah di label independen adalah distribusi. “Dari 1.000 kopi, yang balik uangnya cuma 500 kopi. Gitulah, plus plos“, ucap Ketu. Promosi dilakukan dengan menyebarkan flyers dan fanzine. “Karena dulu enggak bisa main di bazar, kita bikin acara sendiri yang mengisinya ya band yang ada di album!” ucap Ketu sambil tertawa.

Merilis album dengan jalur do it yourself (DIY) memang tidak segampang membalikkan tangan. Biaya produksi yang semakin lama semakin mahal dan risiko kerugian tak jarang membuat label-label independen ini berguguran. “Sejak krismon, kita enggak pernah rilis lagi“, kata Wale. Ketu lantas menimpali, “Lieur, euweuh duitan. Pusing!

Keterabatasan manajemen yang juga disinyalir sebagai faktor lain penyebab label-label independen ini tutup. “Kebanyakan label independen di Bandung hanya diurus oleh satu orang!” ungkap Idhar, wartawan majalah musik Ripple. Hal ini diakui oleh Dadan Ketu, Riotic Records yang tadinya diurus oleh 10 orang, sekarang hanya menyisakan dia seorang.

Meskipun demikian, label rekaman independen Bandung tidak tinggal kenangan. Saat ini beberapa label masih bisa merilis album. Seperti FFWD Records yang digagas oleh Helvi Sjarifuddin, Achmad Marin, dan Didit Aditya. Label ini mulanya merilis band luar negeri seperti Cherry Orchard dan 800 Cherries. “Tahun `94-an, di Bandung susah dapat band pop karena musiknya lagi keras“, ucap Helvi.

Belum menemukan band lokal yang sesuai dengan selera dan biaya produksi yang mahal disebutkan Didit sebagai alasan mengapa mereka baru merilis band lokal yaitu Mocca pada tahun 2002. Selain Mocca, sekarang FFWD records juga mengurus band lain seperti Homogenic, The S.I.G.I.T, Polyester Embassy, sampai artis independen luar negeri seperti Jens Lekman, The Postmarks, Club 8, dll.

Nama lain yang mulai menyeruak ke permukaan adalah Maritime Records yang didirikan oleh Eggy Yuditia Yusadiredja (Joz) dan Anggara Heryudasa (Ncut). Lewat misi “help each other as a friend”, Maritime Records sudah berhasil menembus chart (tangga lagu) radio di Inggris. Sama seperti FFWD Records sebagian artisnya dirilis juga di label independen luar negeri.

Di tengah maraknya label independen, keberadaan net label tidak bisa dilupakan begitu saja, seperti Deathrockstar (drs). “Sudah hampir setahunan, drs sebenarnya hanya menyediakan hosting. Biasanya label membagikan single-single kalau yang full album baru dua“, urai Eric Wiryanata. Koil termasuk band yang menyebarkan album terakhirnya di Deathrockstar. Nantinya, siapa pun bisa mengunduh lagu-lagu yang disimpan di net label ini tanpa biaya sepeser pun. “Setelah dua bulan, Koil sudah di-download 7.000 kali. Kalau dipikir-pikir sih masih kurang, targetnya 30.000“, ungkap pria kelahiran 10 Februari 1982 ini.

Terlepas dari banyaknya label rekaman independen yang berguguran, keberadaan label ini di Kota Bandung telah menjadi pembuka jalan bagi industri musik independen di Indonesia. Nama negeri ini pun ikut harum ketika band-band yang dirilis label ini menyejajarkan posisinya di kancah musik internasional. Semoga saja keberadaan label-label ini tidak seperti rumah kartu yang susah dibangun tapi mudah runtuh dengan sekali tiupan.

Penulis: Astrid Isnawati
Sumber: Pikiran Rakyat

Kamis, 23 agustus 2007

SELAMAT datang ke Kota Bandung. Kawan, tidak rugi datang ke kota ini, karena segala kebutuhan dari mulai buku, makanan, dan fashion tumpah ruah di kota ini. Karena itu, Kota Bandung punya banyak citra, mulai dari sebagai kota pendidikan, kuliner, sampai pusat mode. Citra Bandung sebagai kota pendidikan tidak lepas dari kehadiran pusat-pusat percetakan, penerbit, dan toko buku. Penerbit dan percetakan paling tua, menurut catatan Haryanto Kunto, adalah N.V. Mij. Vorklink, yang berdiri pada tahun 1896. Jejak toko buku besar seperti Toko Buku Van Dorp masih ada sampai sekarang. Toko buku itu sudah beralih fungsi menjadi diskotek dan tempat pameran yang dikenal Gedung Landmark.

Zaman sekarang, semangat kota intelek tetap terpelihara. Penerbit buku sudah ratusan dan bertebaran di mana-mana. Hal sama juga terjadi untuk toko buku. Dan, inilah sebagian tempatnya.Bagi kawan-kawan yang lama tinggal di Bandung, pasti tidak asing dengan Pasar Palasari. Kawasan yang berdiri sekitar dekade 1970-an ini, sekarang berpenghuni sekitar 198 kios buku, terdiri dari distributor dan pengecer.Asyiknya belanja di sini adalah potongan harga hingga 30% untuk buku baru, mulai dari buku pelajaran SD sampai perguruan tinggi, buku cerita, novel, buku umum, serta majalah bekas. Akan tetapi, ada pula yang mematok aturan pemotongan jika harga buku lebih dari Rp 15 ribu. Selain fasilitas harga potongan, fasilitas layanannya berupa sampul gratis.

Kawasan lain yang punya fasilitas buku berpotongan harga ini misalnya, di Bursa Buku Cihargeulis yang terletak di Pasar Cihaurgeulis, Jln. Surapati, Kota Bandung. Buku pelajaran segala strata ada di area yang berdiri sejak 1987 ini. Hanya karena masalah persaingan, beberapa kios tutup dan beralih menjadi pedagang buku kaki lima di kawasan Cicadas, Jln. Ahmad Yani, Bandung. “Saya sejak masih di SD sudah ke Palasari karena lengkap dan dapat diskon”, kata Fefi, seorang mahasiswa saat bertemu Kampus di pasar itu. Belanja di Palasari, juga perlu teliti karena tidak selamanya diskon besar diraih. “Kalau satu kios tidak punya barangnya, kita akan dioper-oper ke toko lain. Nah, jasa yang mengoper itu akan memengaruhi diskon”, kata Fefi.

Selain buku baru, Bandung juga tidak kehabisan stok buku dan majalah bekas. Ambil saja contoh para pedagang buku kaki lima di pelataran kantor PLN di Jln. Cikapundung Barat, tak jauh dari Alun-alun Bandung. Kawasan ini berdiri tahun 1970 dengan jumlah pedagang saat ini ada 20 orang. Di sini, kita masih bisa menemukan majalah lokal dan luar seperti, Newsweek, Times, National Geographic, selain majalah arsitektur, desain interior, grafis, desain produk, sampai otomotif. Harganya dari Rp 3.000,00 untuk lokal, dan mulai dari Rp 15.000,00 untuk majalah luar negeri. Trisno, seorang pedagang, mengatakan, tempat ini biasanya ramai oleh kalangan mahasiswa dan pekerja profesional yang mencari bahan-bahan referensi.

Belanja buku yang murah dan punya kesempatan berdiskusi dengan pengelola tentang isi buku, bisa dilakukan di toko-toko buku lain. Misalnya, Tobucil, Omonium, Alabene, Bacabaca, dan Ultimus. Tidak kuat belanja dan ingin meminjam buku bisa datang ke Rumah Buku di kawasan Hegarmanah. Totalnya ada 2.192 judul buku, sebagian besar tentang arsitektur.Di Tobucil, belanja buku juga punya keuntungan lain bisa mengenal ragam komunitas yang ada di sana. Dari mulai komunitas menulis, film, musik, sampai merajut. Tobucil adalah salah satu dari sekian toko buku alternatif yang berangkat dari konsep memajukan budaya literasi di Kota Bandung.

Dari buku, kita berpindah ke makanan. Nah, Bandung punya seabrek tempat makan. Bicara tentang makanan, kawan mesti ingat sejarah kuliner Bandung yang terletak di Braga. Di kawasan eksotis itu, kita akan menemukan dua toko makanan terkenal, yaitu Toko Roti Sumber Hidangan dan restoran Braga Permai.Sumber Hidangan berdiri pada 1929. Jenis makanannya masih memakai nama-mana Belanda, seperti, saucysbrood (puff pastry yang isinya daging cincang dengan rasa cengkeh yang terasa), dan nesselrode (es krim vanilla, cocktail, dengan taburan kacang dan gula). Mana yang paling enak makanannya? Bagi Kampus enak semua. Soal rasa juga ditunjang dengan penanganan makanan yang memakai cara-cara lama. Tidak ada bahan pengawet dan tanpa bungkus plastik. Kemudian, di restoran Braga Permai yang berdiri 1918, nama makanannya juga memakai bahasa Belanda. Dulu tempat ini sering menjadi tempat nongkrong dosen dan profesor dari Institut Teknologi Bandung.

Dan, kalau mau menikmati tempat ini paling enak memang sore menjelang malam. Masih di dekat kawasan Braga, tepatnya di pertigaan Jln. Naripan dan Jln. Cikapundung, ada sosok pengusaha kuliner bernama Ceu Mar. Namanya menjadi nama warung makanan miliknya. Ada 20 jenis makanan khas Sunda, seperti, babat dan gepuk memenuhi rak makanan. Warung ini buka setelah azan isya sampai menjelang subuh. Pengunjungnya rata-rata kawan Kampus yang iseng jalan-jalan ke tengah kota di malam hari, atau abis pulang dugem. Bergeser ke arah tengah di Stasiun Kota, ada warung unik dengan nama perkedel bondon. Pemilknya Ny. Nenti, yang sekarang berusia 80 tahun. Warung ini buka sejak pagi hari, namun perkedel baru siap pukul 23.00 WIB. Oleh karenanya, jangan datang terlalu larut malam karena pasti antreannya bisa 20 langkah.

Warung ini sudah buka sejak 1950-an dan mulai terkenal semenjak banyak wanita penjaja seks nangkring di sekitar stasiun. Akan tetapi, bukan karena itu warung ini menjadi terkenal. Hendri, alumnus Universitas Parahyangan (Unpar) kerap mampir ke warung makanan sederhana ini karena doyan perkedel buatan Ny. Nenti. Perkedelanya kering, dan rasa kentangnya begitu terasa di lidah. Makin nikmat kalau makannya dengan nasi hangat yang masih mengepulkan asap. “Saya beli 10 biji dan untuk sendiri”, kata Hendri, yang tidak punya langganan warung perkedel lain.

Sebelum menghabiskan malam dengan makanan berat, kawan juga bisa mampir ke jajaran minuman hangat bernama ronde jahe. Ronde jahe di kawasan Alkateri, punya nama yang ngetop. Tapi, kalau kawan mau mencari kuah ronde dengan rasa jahe yang terasa, bisa coba yang berada di jajaran Jln. Gardujati. Setelah makanan, kita bahas sedikit tentang fashion dimana Braga menjadi saksi bisu kejayaan mode Bandung. Depan pertokoan Sarinah, ada gedung tua yang tidak terawat. Itu adalah bangunan Modemagazijn “Au Bon Marche”, salah satu toko baju yang terkenal di Jln. Braga tempo dulu. Dari sinilah kebiasan orang Bandung yang kaya dan none-sinyo Belanda berbelanja. Kebiasaan itu berlangsung sampai sekarang.

Selain jajaran factory outlet (FO) dan kawasan Cihampelas yang menggerakkan tren fashion, kalangan kawan muda yang kreatif ikut menyemarakan tren itu dengan distro dan clothing-nya. Ada 300 unit industri kreatif itu di Kota Bandung. Ciri dari industri mereka adalah stok pakaian yang terbatas untuk satu jenis desain. Alhasil baju kawan tidak seragam dengan kawan lain. Lalu, untuk kawan yang senang berburu pakaian bekas, tentu saja kawasan Cimol menjadi pilihan utama. Pertengahan tahun 1990-an, Cimol terletak di kawasan Tegallega. Sekarang mereka berada di ujung Timur Bandung, alias di area Pasar Gede Bage. Datang ke tempat ini memang butuh perjuangan, apalagi kala cuaca Bandung sangat terik di tengah hari. Ada sekitar 2.000 pedagang baju, celana, jaket, dan sepatu dengan harga mulai dari Rp 10.000,00. Butuh tenaga ekstra untuk mengubek-ubek pakaian.

Nah, begitulah cerita ringkas tempat-tempat murah yang bisa kawan kunjungi. Buku, fashion, dan makanan tumpah ruah di kota ini, tapi tinggal kawan mau sering jalan-jalan untuk mencari yang terbaik. Oke, kawan, selamat menikmati Bandung dan… hati-hati copet!.

Penulis: Agus Raskawi
Sumber: Pikiran Rakyat/ http://agusnews.wordpress.com

Minggu, 17 September 2006

Nampaknya bukan hal aneh, ketika anak muda Bandung, jauh lebih fashionable dari pada anak muda di kota lain. Kata urang Sunda mah: geus ti ditu na. Dari sejarah yang ditulis kuncen Bandung, Haryoto Kunto (alm) melalu buku Bandoeng Tempo Doeloe, Jalan Braga pada saat itu, sempat menjadi pusat mode di awal abad 20. Semua orang Eropa yang tinggal di wilayah jajahan, setiap tahun datang ke jalan Braga untuk berbelanja fashion terbaru yang jadi trend pada saat itu. Bandung selalu dijadikan barometer perkembangan fashion dan mode bukan hanya oleh kota-kota lain di nusantara, tapi juga wilayah Hindia Belanda. Dari data statistik yang dikeluarkan Gemeente Bandoeng tanggal 1 Januari 1921, jumlah penduduk Eropa yang tinggal di Bandung mencapai 10.658 jiwa. Fakta ini membuat Bandung tumbuh menjadi kota moderen dengan standar Eropa termasuk juga dalam perkembangan fashion dan gaya hidup.

Bahkan ada cerita, setiap musim pacuan kuda tiba yang pada saat itu diselenggarakan di lapangan Tegalega, digunakan oleh seluruh lapisan masyarakan kota Bandung, baik orang-orang Eropa maupun pribumi, untuk show off alias pamer gaya. Uniknya, angka perceraian pada musim pacuan kuda, mengalami peningkatan yang luar biasa. Selidik punya selidik, gugatan cerai paling banyak disebabkan karena banyak mojang-mojang Bandung yang hadir di acara pacauan kuda sesampainya di rumah, menuntut pada para suami untuk membelikan fashion terbaru yang mereka lihat pada saat menghadiri pacuan kuda. Ketika para suami ini, tidak mampu dipenuhi, para istri ramai-ramai menggugat cerai.

Sekarang jamannya bukan adu gaya di tempat pacuan kuda, ruang-ruang publik seperti jalan dago, shoping mall, bahkan dalam kehidupan keseharian, urusan gaya tak pernah dilupakan dan menjadi bagian yang penting bagi warga Bandung, khususnya anak mudanya. Bandung senantiasa memiliki energi kreatif yang tak pernah mati yang melahirkan trend lifestyle dan fashion untuk setiap jamannya. Dari generasi Aktuil di tahun 70-an sampai sekarang generasi distro yang muncul dan berkembang dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Akses informasi yang relatif mudah untuk sebagian orang, melahirkan para trend setter di kalangan anak muda. Mereka menjadi semacam agen-agen yang membawa trend fashion yang sedang berkembang di barat, ke Bandung. Namun bukan berarti trend tersebut di tiru mentah-mentah. Energi kreatif yang mereka miliki, membuat trend tersebut diadaptasi dan di modifikasi, sampai akhirnya melahirkan trend baru yang lebih sesuai konteksnya dengan karakter anak muda Bandung.

Sebut saja Reverse sebuah studio musik di daerah Sukasenang, yang muncul sekitar ’94. Tempat ini dalam catatan Gustaff H. Iskandar dalam tulisannya yang berjudul Fuck You We’re From Bandung, menjadi tempat yang cukup penting dalam melihat proses bagaimana trend dikonsumsi dan diakomodasi sampai kemudian melahirkan trend baru. Semula tempat yang didirikan oleh Richard (mantan personel PAS band), Helvi dan Didit (yang kemudian mendirikan Fast foward record) menjual barang-barang import yang berupa merchandise band seperti CD, poster, kaos atau yang berhubungan dengan hobi skateboard yang ditekuni oleh para pendirinya. Reverse juga jadi tempat dimana berbagai komunitas bertemu dan berinteraksi. Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia dan nilai dollar terhadap rupiah melambung tinggi, menghentikan usaha import merchandise yang dilakukan selama ini, namun disisi lain membuat Reverse kemudian bermutasi menjadi Reverse Jeans untuk memproduksi barang-barang lokal dengan harga yang lebih terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas. Dan pada februari 2004, Reverse resmi menjadi Revese Clothing Company dengan Didit sebagai pengelolanya. Sementara rekannya Helvi, lebih dulu mendirikan Airplane pada akhir 1997 yang juga memproduksi clothing dan membuka distro di jalan Aceh, Bandung.

Perkembangan dunia fashion di kalangan anak muda Bandung kemudian bukan lagi sekedar kesenangan yang ditekuni atas dasar hobi semata. Fashion di Bandung tumbuh menjadi industri, mulai dari skala kecil sampai skala yang cukup besar, berdampak pada tumbuhnya infrastruktur yang mengakomodasi energi kreatif anak muda Bandung ke wilayah lain. Sebut saja maraknya pertunjukan-pertunjukan musik yang didukung oleh distro-distro dan clothing company. Juga media-media independen yang tumbuh dan bertahan juga karena iklan clothing dan distro yang ada di Bandung. Sinergi seperti ini melahirkan relasi yang saling menguntungkan. Semua komponen yang terlibat, baik itu fashion, musik, media berkembang bersama dan saling melengkapi. Meski kondisi yang nampak ideal ini bukan berarti tanpa masalah.

Sampai saat ini menurut dokumenter yang dibuat oleh C on C, sebuah pameran desain clothing yang diselenggarakan baru-baru ini, terdapat sekitar 200 clothing yang sekarang tumbuh dan bekembang di kota Bandung. Kemunculan clothing dan distro, mayoritas di dasari oleh idealime para pendirinya. Hobi dan keinginan untuk menyalurkan desain menjadi faktor pendorong pada awalnya.

Namun motif ini kemudian bergeser ke arah pertimbangan ekonomi. Produksi yang tadinya hanya skala kecil, dengan masuknya investasi modal yang cukup besar, beberapa clothing company memproduksinya dalam skala yang cukup besar. Monopoli vendor produksi menjadi persoalan yang muncul kemudian karena kapasitas produksi tak bisa memenuhi tuntutan pasar yang semakin besar. Akibatnya antar supply and demand tak berimbang.

Belum lagi desain-desain clothing yang awalnya terasa ekslusif dan beda bagi pemakainya, kini sebagian menjadi masal. Sebagai industri yang pada akhirnya mengakomodasi kepentingan pasar, trend yang diciptakan juga bekompromi dengan permintaan pasar. Namun perlu dipertimbangkan juga, bahwa pasar juga bisa jenuh dengan varian produk yang mulai seragam. Meskipun masih ada clothing yang mempertahankan ekslusivitas lewat skala produksi dan desain yang terbatas.

Ketika perkembangan fashion di Bandung menjadi komoditas industri, fashion bukan hanya bisa mempengaruhi angka perceraian seperti yang terjadi di jaman kolonial dulu, tapi banyak kepentingan kemudian terkait di dalamnya. Kondisi seperti ini, pada akhirnya menjadi konsekuensi dari sebuah pilihan manakala kebutuhan akan fashion yang semula didasari hobi dan kesenangan, berubah menjadi industri. Tapi percayalah, anak muda Bandung selalu tau bagaimana menemukan kesenangan itu. Bebaskeun we lah meh jongjon!

Penulis: Tarlen Handayani
Sumber: http://vitarlenology.blogspot.com
* Tulisan ini dimuat di majalah Jeune, 2004

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.