You are currently browsing the daily archive for February 8th, 2008.

Jumat, 2 November 2007

Bandung, Kompas – Industri kreatif diyakini akan tumbuh pesat dan mampu meningkatkan pendapatan negara secara signifikan. Guna mengembangkan potensi industri kreatif ini, peran dunia pendidikan diperlukan untuk bersinergi bersama industri dan pemerintah.

Mike Hardy, Direktur British Council, pada simposium regional bertajuk Strategic Dialogue in South East Asia-Developing Creative Industry di Bandung, Senin (29/10), mengatakan bahwa kurikulum pendidikan yang konservatif perlu diubah dan dibawa ke arah dukungan tumbuhnya kreativitas. Kebijakan-kebijakan pun perlu dibuat berpihak pada peluang dan upaya bagi tumbuhnya industri kreatif.

Simposium yang merupakan bagian dari Prime Minister Initiative II (PMI2) Inggris ini diikuti 40 pengambil kebijakan dan praktisi senior pendidikan dari 10 negara. Para peserta berasal dari Thailand, Singapura, New Zealand, Jepang, Filipina, Malaysia, Taiwan, Australia, Inggris, dan Indonesia.

Industri kreatif punya potensi besar. Inggris sendiri memfokuskan pada pengembangan industri kreatif karena berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Kerja sama untuk mendukung tumbuhnya industri kreatif ini perlu didukung, termasuk juga melalui pendidikan“, kata Charles Humfrey, Duta Besar Inggris untuk Indonesia.

Di Indonesia, salah satu kota yang mampu mengembangkan industri kreatif adalah Bandung. Di sini, ada 400 outlet fashion, desain, dan musik. Sebagian besar dijalankan para pengusaha muda berusia 15-25 tahun. Kontribusi industri kreatif Indonesia mencapai 33 persen pendapatan negara, jauh lebih besar daripada gas dan minyak bumi yang berkisar enam persen. (ELN)

Sumber: Kompas

Kamis, 25 Oktober 2007

SOAL industri kreatif, beberapa penulis turut menuangkan pemikiran mereka. Sebut saja, Alvin Toffler dalam bukunya The Future Shock (1970). Ia memperkenalkan gelombang peradaban manusia (era pertanian, industrialisasi, dan informasi), dan istilah era pengetahuan sebagai era keempat (perpanjangan era informasi). Selain itu, ada juga John Howkins dengan bukunya The Creative Economy (2001), serta Richard Florida dengan bukunya The Rise of the Creative Class (2002). Inti bahasan dari para penggagas ekonomi kreatif itu adalah munculnya kelas baru dalam perekonomian, yaitu kelas kreatif. Kelas kreatif yang banyak diisi kalangan muda ini, ternyata berkorelasi positif menjadi penggerak ekonomi kreatif.

Wacana industri kreatif sendiri mulai mengemuka di tingkat global dalam beberapa tahun terakhir, ketika negara-negara seperti Inggris mulai mencari sumber perekonomian baru, yakni dari sektor kreatif. Pasalnya, sektor industri lainnya, seperti manufaktur, dsb., kurang bisa diharapkan lagi. Sektor-sektor industri yang melulu menggantungkan pada sumber daya alam memang harus menerima kenyataan, suatu saat sumber itu akan habis. Kini saatnya menyambut era knowledge-based economy, dengan ciri ilmu pengetahuan sebagai kunci dalam proses produksi. Bukan lagi tanah atau pabrik sebagai aset ekonomi paling berharga seperti di masa lampau.

Inggris termasuk negara yang gencar mem-booming-kan wacana industri kreatif ini. Pemerintah Inggris menetapkan 13 sektor usaha yang tergolong sebagai industri kreatif, yakni periklanan, kesenian dan barang antik, kerajinan tangan, desain, tata busana, film dan video, perangkat lunak hiburan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan, jasa komputer, televisi, dan radio.

Pertanyaan yang muncul, adakah industri yang tidak kreatif, mengingat pada dasarnya kreativitas adalah kemampuan krusial yang dibutuhkan tiap bidang industri? Menurut Gustaff Harriman Iskandar, pengelola komunitas kreatif Common Room, Kota Bandung, memang ada yang overlapping dalam kategorisasi itu, seperti desain fashion (tata busana). Namun, yang jelas pemerintah Inggris telah memberanikan diri membuat pemilahan itu dan serius mengembangkannya. Indonesia pun perlu melakukan hal sama, tanpa harus terjebak dalam pemikiran biner (binary), mana yang kreatif dan tidak. ”Mungkin saja di Indonesia belum tentu potensi kreatifnya seperti pemilahan itu. Kita harus cari potensi kita sebenarnya apa, itu perlu riset mendalam”, ucap Gustaff, yang juga mendapat International Young Design Entrepreneur of the Year Award (IYDEY) 2007, dari British Council.

Omong-omong riset, berikut ini temuan tentatif studi kontribusi ekonomi kreatif Indonesia , dari IDP (Indonesia Design Power) Departemen Perdagangan RI bekerja sama dengan Tim Ekonomi Kreatif SBM ITB. Pertama, nilai tambah industri kreatif Indonesia tahun 2006 sebesar Rp 86,917 triliun. Kedua, industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 4,71% dari PDB Indonesia pada tahun 2006, sudah berada di atas sektor listrik, gas, dan air bersih.

Ketiga, laju pertumbuhan industri kreatif Indonesia tahun 2006 sebesar 7,28% per tahun (angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,14%). Keempat, penyerapan tenaga kerja tahun 2006 sebesar 4,48 juta orang dengan persentase terhadap total tenaga kerja adalah 4,71%. Kelima, produktivitas tenaga kerja tahun 2006 Rp 19,38 juta per orang. Terakhir, empat sektor industri kreatif teratas adalah, periklanan, desain fashion, kerajinan, dan arsitektur.

Dari titik itu terlihat bahwa kreativitas telah menjadi kekuatan pertumbuhan ekonomi. Riset-riset masih terus dibutuhkan agar temuan kondisi riil di lapangan bisa terpetakan. Kolaborasi pemerintah dengan dunia kampus juga diperlukan. Seperti yang juga tengah dilakukan oleh Center for Innovation, Enterpreneurship & Leadership (CIEL) SBM ITB bekerja sama dengan Deperindag Provinsi Jawa Barat, untuk merancang blue print pengembangan industri kreatif di Jawa Barat. ”Targetnya tahun ini bisa selesai”, ucap Direktur CIEL, Dwi Larso.

Berkaca pada pengalaman negara-negara maju dalam mengembangkan industri kreatif, yang amat diperlukan adalah dukungan sikap dari pemerintah terhadap industri itu. Pemerintah akhir-akhir ini memang terlihat rajin menyuarakan pentingnya industri kreatif sebagai salah satu upaya keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan. Gustaff berpendapat bahwa inisiatif itu dapat diartikan sebagai angin segar. Meski, wujud konkret kebijakannya masih ditunggu, misalnya, penghargaan, insentif, perizinan, dan prasarana, yang akan menghasilkan iklim industri kreatif itu.

Menurut Tarlen Handayani, pengelola komunitas kreatif Tobucil & Klabs, Kota Bandung, pemerintah kerap masih melihat sektor primadona saja. Cara pandangnya masih parsial, dan belum melihat keberkaitan antarsektor secara keseluruhan. Di sisi lain, jika industri kreatif dipandang penting bagi Indonesia–seperti halnya pemproyeksian Kota Bandung sebagai prototipe ”kota kreatif”, menurut Tarlen, harusnya pemerintah kota bisa mendukung dengan menyediakan infrastruktur lebih baik untuk terus menumbuhkembangkan komunitas kreatif itu. ”Bukan hanya gedung pertunjukan, galeri, dsb., tetapi juga penataan wilayah seperti lahan parkir atau bagaimana agar kemacetan bisa dikurangi sebab itu membuat tidak produktif”, kata Tarlen, yang tengah menyusun riset tentang industri kreatif ini.

Demi menumbuhkan iklim kreatif yang kondusif, menurut Tarlen, ada hal yang amat dibutuhkan, yaitu toleransi. Orang bisa lebih terangsang kreativitasnya dalam lingkungan di mana perbedaan bukan hal yang tabu untuk dirayakan. ”Saat orang-orang bisa mengapresiasi keragaman berpikir, keragaman inovasi, dsb., itu akan jadi lahan subur kreativitas”, kata Tarlen.

Penulis: Dewi Irma (kampus_pr@yahoo.com)
Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat

Kamis, 25 Oktober 2007

Kendala keruwetan perizinan (red tape malfeasance) serta perilaku korup di jajaran birokrasi bisa menghambat tumbuhnya iklim kreatif yang kondusif. Ada pajak di bawah tangan segala, berarti kan tidak masuk negara.

PENUH energi dan gairah mengeksplorasi ide, kalangan muda berkarya dan berani terjun berbisnis meski awalnya hanya ”modal dengkul”. Disadari atau tidak, komunitas kreatif ini turut menjadi penggerak industri kreatif, yang kini ramai
dibicarakan. Sebuah industri yang tidak lagi semata bermodal uang, tanah, atau halhal material, namun lebih berbasis pengetahuan atau intelektual.

Ingin desain ”tidak pasaran” dan jenuh dengan peniruan merek luar negeri di pasar lokal, Marcel, mahasiswa DKV Universitas Kristen Maranatha (UKM) 2004, terdorong memproduksi kaus bikinan sendiri. Itu dimulainya tahun 1999, ketika masih duduk di bangku kelas III SMP.

Daripada cuma pesan satu kaus, waktu itu langsung bikin dua lusin saja, supaya jatuhnya lebih murah, terus dijualin ke teman-teman. Eh, keterusan sampai sekarang”, ungkap Marcel pada Kampus. Ia mengisahkan awal mula clothing line
Oro, sampai akhirnya memiliki distro sendiri di bilangan Jalan Trunojoyo, Kota Bandung.

Hal serupa banyak menghiasi cerita para pionir ”perdistroan” di Kota Bandung. Sebab, alasan ekonomi–tidak mampu beli kaus idaman yang mahal– sampai penunjang lifestyle, keisengan membuat sendiri produk yang digemari, ternyata
potensial jika dikembangkan lebih jauh.

Uniknya, keterbatasan modal dan fasilitas yang ada malah menjadi motivasi untuk lebih baik. Sampai kini akhirnya clothing line dan distro mewabah gila-gilaan ke seluruh penjuru kota. Seiring ramainya merek pakaian lokal indie, semakin subur pula tumbuhnya musik indie, media indie, dsb., yang saling menunjang satu sama lain. Komunitas kreatif ini boleh dibilang terpengaruh budaya urban, di mana globalisasi informasi deras memasuki keseharian mereka, dari mulai fashion, musik, sampai olah raga ekstrem.

Perkembangan teknologi informasi yang pesat dalam dekade ‘90-an, juga menjadi faktor penting menggeliatnya industri kreatif. Dulu, profesi web designer mungkin tidak dikenal. Kini, segala profesi dari perluasan di internet menjadi pilihan banyak orang. Hadary Mallafi, mahasiswa STT Telkom 2004, bersama beberapa temannya, termasuk yang tertarik pada peluang berkreasi di internet. Mereka menjual layanan web design sampai migrasi ke Linux (www.kitaklik.com). ”Jadi, kita bukan pengguna internet saja, tapi bisa tambah-tambah penghasilan”, kata Hadary.

Orientasi bukan hanya jadi pekerja, tetapi ingin mempekerjakan, rupanya cukup kental di kalangan muda ini. Itu pula yang diniatkan Dennan Mujtahid, ketika mendirikan agensi iklan lokal One Communication, awal tahun 2007. Profesionalitas pekerja kreatif sebatas rambut gondrong atau gaya ”nyentrik” sudah cerita kuno, sebab banyak tantangan untuk survive di dunia nyata. Lulusan Periklanan Fikom Unpad 2003 ini pun melewati rupa-rupa proses pembelajaran, dari accounting, ditipu orang, penyusunan short term dan long term, sampai berhubungan dengan birokrasi.

Yang terakhir ini sekaligus jadi kritiknya, sebab kendala keruwetan perizinan (red tape malfeasance) serta perilaku korup di jajaran birokrasi bisa menghambat tumbuhnya iklim kreatif yang kondusif. ”Ada pajak di bawah tangan segala, berarti kan tidak masuk negara. Kita mah sebenarnya cuma perlu transparansi, segitu ya segitu”, kata Dennan.

Di luar soal hambatan yang ada, masih banyak potensi-potensi kreatif dari kalangan muda ini yang belum terkuak. Sementara yang sudah berjalan, baik berkiprah di Bandung, di luar Bandung, hingga di luar negeri, terus berdenyut dan mengalirkan pendapatan bagi pajak dan retribusi kota, langsung ataupun tidak langsung.

Penulis: Dewi Irma (kampus_pr@yahoo.com)
Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat

Kamis, 21 Desember 2007

Pemerintah Kota Bandung dinilai tidak siap mengantisipasi pertumbuhan industri kreatif yang muncul pascakrisis. Perbincangan mengenai industri kreatif yang kian sering muncul jarang sekali disambut pemerintah. Meski begitu, pengusaha industri kreatif optimistis terus tumbuh dan berkembang meski tanpa dukungan pemerintah. Direktur Common Room, Gustaff Iskandar mengatakan hal itu dalam diskusi mengenai industri kreatif di aula Bappeda Kota Bandung, Jln. Tamansari 76 Kota Bandung, Rabu (19/12).

Gustaff mengatakan, yang diperlukan adalah membangun sinergi antara pemerintah, pelaku industri kreatif, dunia pendidikan, dan masyarakat. Sinergi itu bisa diawali dengan memperkecil kesenjangan informasi tentang industri kreatif di kalangan masyarakat. “Dari sisi SDM (sumber daya manusia), pemerintah mau bantu atau tidak, mereka bisa jalan“, tuturnya.

Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan, sektor industri kreatif menyumbang 4,75% dari Produk Domestik Bruto nasional atau sekitar 19 miliar dolar AS dan pertumbuhan industri rata-rata 7,3%, yang berarti di atas rata-rata pertumbuhan 13 sektor industri nasional yang mencapai 5,6%. Industri kreatif juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi 4,7% angkatan kerja atau sekitar 3,7 juta orang di Indonesia. Bidang fashion masih merajai, yaitu sekitar 30%, menyusul crafts 23% dan 18% bagi industri advertising.

Perwakilan British Council, Yudhi S. optimistis pemerintah sudah mulai menaruh perhatian terhadap industri kreatif. Hal itu terbukti, Departemen Perdagangan sudah mulai melakukan pemetaan perkembangan industri kreatif. “Dari hasil pemetaan Departemen Perdagangan, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan terutama di bidang musik dan fashion“, katanya.

Selain dari unsur pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), kalangan pengusaha industri kreatif yang hadir di antaranya PT Urbane Indonesia, Ujungberung Rebels, Minor Books, Common Room, Tatar Ukur, dan lain-lain. Plh. Bappeda Kota Bandung, Kamalia mengharapkan diskusi tersebut dapat memberi masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan seputar industri kreatif.

Eddy Noor dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung mengatakan, industri kreatif harus sering dikomunikasikan kepada kalangan perbankan. “Di Singapura dan Malaysia saja, karya seni dan desain sebagai salah satu produk industri kreatif sudah bisa dijaminkan. Sementara di Indonesia belum bisa“, ujarnya. (A-156)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Senin, 13 Agustus 2007

Industri kreatif di Bandung berkembang relatif pesat dibandingkan dengan kota-kota lain, khususnya produk fashion. Kreativitas produk fashion yang dipasarkan mampu sejajar dengan merek dari luar negeri. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Agus Gustiar, Minggu (12/8) di Bandung, mengatakan, hasil penelitian British Council, Bandung memiliki semua syarat untuk mengembangkan industri kreatif, baik dari sumber daya manusia maupun keragaman budayanya.

Perkembangan industri kreatif di Bandung sangat dipengaruhi unsur seni, desain, pengetahuan, dan intelektual pelakunya. Industri kreatif fashion ini sudah menjadi ikon Kota Bandung“, ujar Agus.

Menurut Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widhianto, Kota Bandung menjadi pelopor dalam industri produk fashion di Indonesia. Industri kreatif fashion di Bandung sudah sejak tahun 1970-an. Kekuatan utama industri kreatif adalah desain, keragaman bahan baku, kekhususan merek, dan keunikan produk.

Saat itu produknya berupa kaus dengan ragam warna yang berani. Namun, tahun 1980-an terjadi penurunan produktivitas. Selanjutnya mulai pertengahan tahun 1990-an, industri kreatif muncul kembali dengan desain dan kreativitas produk yang lebih beragam dan berkualitas.

Sakri menambahkan, saat ini jumlah distribution store (distro) dan clothing di Indonesia sudah mencapai 750 unit, 300 unit di antaranya di Bandung. Padahal, kurang dari 10 tahun lalu jumlahnya hanya enam unit usaha. Oleh sebab itu, pemerintah serius menanggapi pengembangan industri kreatif fashion yang umumnya dimotori wirausaha muda berusia 20-30 tahun.

Salah satunya dengan pembinaan agar mampu menembus pasar ekspor. “Diupayakan agar produk distro bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan memiliki peluang ekspor“, kata Sakri, saat membuka Kick Fest, Jumat.

Dalam pembukaan Kick Fest, Gubernur Jabar Danny Setiawan mengatakan, Bandung merupakan salah satu kota yang mampu membangun dan mengembangkan usaha dan industri fashion. Hal itu didukung keberadaan industri tekstil dan ritel distribusinya, yaitu distro dan factory outlet (FO).

Mengenai peluang ekspor, menurut Ketua Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin) Jabar Iwan Dermawan Hanafi, produk fashion asal Bandung dan kota lainnya bisa menembus pasar ekspor. Terlebih, apabila pameran bisa digelar rutin dan mengundang pembeli dari negara lain. Peluang pasar ekspor adalah Asia, bahkan ke Eropa.

Oleh karena itu, Iwan menambahkan, fasilitas yang perlu disediakan pemerintah daerah dan pusat adalah promosi dan menyelenggarakan pameran khusus produk fashion kreatif secara rutin.

Agus menambahkan, merek-merek clothing asal Bandung sudah banyak dilirik konsumen luar negeri. Karena itu, semua pihak, baik pemerintah maupun pelaku industri kreatif fashion di Bandung, perlu terus mempromosikannya.

Dari hasil pameran Kick Fest yang diselenggarakan tiga hari, Ketua Kick Fest Fiki Chikara Satari mengatakan, animo masyarakat sangat besar. Terbukti, pengunjung mencapai 300.000 orang, dengan total omzet dari 107 stan mencapai Rp 3 miliar. “Rata-rata, setiap stan omzetnya Rp 10 juta-Rp 40 juta per hari. Nilai Rp 3 miliar itu bisa lebih besar“, ujar Fiki. (THT)

Sumber: Kompas

 

February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

a

Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email