Senin, 04 Februari 2008

BULAN Oktober 2004, United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (Unesco) memperkenalkan program bernama The Creative Cities Network. Melalui program ini, Unesco menjajaki kota-kota di dunia yang memiliki sumber daya kreativitas. Ada beberapa sumber daya kreativitas yang mereka lihat, seperti literatur, sinema, musik, kerajinan tangan dan seni daerah, desain, media arts, dan gastronomi.

Jika kita bicara kota-kota di Indonesia , kita tidak bisa melupakan peran Kota Bandung yang digadang-gadang memiliki sumber daya kreativitas. Bandung punya segalanya dari mulai desain, musik, sinema, film, fashion, kesenian tradisi, komik, kartun, penulis, dan lain-lain. Sebagai contoh, pada 11-13 Agustus 2007, pergelaran Kickfest bisa menghadirkan 307 peserta dari 8 provinsi. Saat itu terdapat 300 ribu pengunjung dengan pendapatan total Rp 4 miliar. Dalam acara tersebut, potensi besar kreativitas berasal dari desain sebesar 47%, seni visual 16%, dan kerajinan (craft) 12%.

Sementara itu, potensi pendapatan bagi pemerintah Provinsi Jawa Barat dari keberadaan industri kreatif ini adalah 11% dari pendapatan daerah (PAD) tahun 2004 sebesar Rp 2,1 triliun. Industri kreatif di Bandung juga berhasil menyerap tenaga kerja sebesar 344.244 orang pada tahun itu. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat tiap tahunnya.

Meski begitu, masih ada beberapa kelemahan seperti minimnya pengetahuan karena kurangnya akses dan cipta kreatif, kurang akses pada teknologi, finansial, dan yang paling penting adalah kelemahan pada infrastuktur ekonomi yang dapat membantu produksi dan distribusi. Selain itu, kurangnya perhatian infrastuktur fisik maupun fasilitasi dari pemerintah.

Persoalan pengetahuan dan akses teknologi masih dapat diatasi dengan kerja-kerja jaringan. Sebut saja contoh gagasan pembentukan Bandung Creative Community Forum. Gagasan ini lahir dari pertemuan aneka pegiat kreativitas di Common Room, Jln. Kyai Gede Utama, Bandung , pada 6 Desember dan 25 Desember 2007.

Forum ini terdiri dari seniman, musisi, pemilik distro, clothing, penulis, akademisi, arsitektur, media massa, seni rupa, dan lain-lain. Forum ini juga mencoba mengajak pemerintah daerah untuk ikut serta memikirkan masa depan dunia kreativitas di Bandung dan Jawa Barat secara umum. Gustaff Iskandar, salah satu penggagas forum ini, mengatakan, peran pemerintah dapat membantu memberikan pelayanan dan membangun infrastruktur bagi dunia kreatif di Bandung, misalnya pembangunan ruang publik dalam jumlah banyak.

Program baru Unesco tentang kota kreatif, sebenarnya menantang Bandung untuk tampil di pentas dunia. Ridwan Kamil, urban designer yang juga pendiri biro Arsitektur Urbane dan pemenang International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006 mengatakan, kelemahan Bandung adalah pada ketidakkompakan pemerintah dengan pegiat kreatif di kotanya sendiri.

Walaupun kehidupan dan kematian kreativitas bukan ditentukan tangan pemerintah, namun adanya aturan main dalam sistem negara membuat hubungan itu menjadi penting. Beberapa kali pertemuan dengan pemerintah daerah menghasilkan gagasan-gagasan penting sampai 2012. Gagasan itu di antaranya membuat pemetaan industri kreatif dan kebijakan yang berpihak pada keberadaan industri kreatif itu sendiri.

Untuk membuka mata dunia terhadap Bandung memerlukan waktu panjang. Tinggal semua pihak mau konsisten berkolaborasi dan bekerja sama. Sebagai bukti adanya konsistensi itu, termasuk niat baik pemerintah, mari saksikan gong kreativitas Bandung pada 2008.

Agus Rakasiwi (kampus_pr@yahoo.com)

Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat

About these ads