Kamis, 24 Mei 2007
Industri kreatif di Indonesia tumbuh 15 persen setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2006, industri kreatif telah menyumbang 33,5 persen dari produk domestik bruto. Angka ini setara dengan US$ 77 miliar atau Rp 693 triliun dengan kurs Rp 9.000. Namun, perkembangan industri ini terhambat karena ketiadaan pemetaan industri kreatif nasional.
“Dengan ada pemetaan industri kreatif secara nasional, pertumbuhan industri ini bisa lebih signifikan“, kata Ketua Forum Grafika Digital, David B Mihardja dalam seminar Creative Industry Mapping, Jakarta, kemarin.
Beberapa pihak berkepentingan di industri kreatif tengah menyusun pemetaan industri kreatif. Selain FGD, pemetaan industri didukung oleh The British Council dan Universitas Bina Nusantara. Pihak yang berkecimpung dalam industri kreatif mencakup bisnis promosi, penerbitan, dan kemasan (packaging).
“Industri yang juga terkait adalah semua bisnis yang berhubungan dengan kreatifitas seperti produk kerajinan tangan“, kata David. Selain itu, industri media dan rumah produksi masuk klasifikasi industri ini.
Menurut David, negara luar seperti Singapura dan Inggris telah memiliki pemetaan industri kreatif. Sehingga industri kreatif di sana sangat berkembang pesat. Industri kreatif Singapura memiliki kontribusi sebesar 5 persen dari produk domestik bruto atau US$ 5,2 miliar. Kemudian pada 2012 diperkirakan tumbuh 10 persen. Sementara kontribusi industri kreatif Inggris sekitar 8,2 persen atau US$ 12,6 miliar.
Pemetaan industri kreatif ditargetkan selesai pada Juli dan diluncurkan pada Agustus 2007. Hingga kini, pemetaan industri kreatif telah mengajak kerja sama pemerintah yakni, Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian.
Menurut perwakilan British Council, Yudhi Soerjoatmodjo, kontribusi British Council untuk pengembangan pemetaan industri kreatif dengan mendatangkan dua ahli industri kreatif asal Inggris. Selain itu, Inggris berperan serta karena saat ini industri kreatif Inggris berkembang pesat hampir menyaingi Amerika Serikat.
Yuliawati (Tempo Interaktif)
Sumber: Tempo Interaktif

1 comment
Comments feed for this article
February 3, 2009 at 5:19 am
irwan
industri kreatif muncul karena kemandiriannya. Ini adalah wujud perlawanan masyarakat kelas bawah terhadap sistem yang meniadakan fungsi mereka. Ada tetapi dianggap tidak ada !
Mengapa…karena pemerintah hanya mengacu pada hitungan skala prioritas. Sekarang baru kerasa ternyata industri kreatif dan UKM yang paling tahan uji terhadap hantaman krisis.
Ke depan, pemerintah harus lebih peka terhadap bidang ini.
Jangan pernah memasrahkan pengembangan bidang ini pada para birokrat. Dijamin 1000% tidak akan pernah jalan. Hanya akan menambah beban operasional percuma.
Posisikan pemerintah hanya sebagai fasilitator bukan sebagai induk yang menimang-nimang. Karena ke ‘kreatif’ an akan tumpul dan hilang menjadi bayi yang selalu menetek saja.
semoga mencerahkan
salam sukses industri kreatif dan ukm mandiri indonesia