You are currently browsing the daily archive for February 4th, 2008.

Kamis, 12 Juli 2007

Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pejabat pemerintah pusat maupun daerah memelopori pengembangan ekonomi kreatif untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Hal ini dikemukakan Presiden dalam peresmian pameran Pekan Produk Budaya Indonesia 2007 di Jakarta Convention Center, Rabu (11/7). Acara pembukaan dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali. Hadir pula Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Mohammad S Hidayat.

Menurut Presiden, pengembangan ekonomi kreatif dengan basis ide, seni, dan teknologi merupakan tuntutan perkembangan dunia di abad ke-21 yang tengah memasuki gelombang keempat peradaban.

Dalam gelombang keempat peradaban itu, muncul kesadaran baru di dunia tentang lingkungan dan menurunnya daya dukung alam.

Tiga gelombang peradaban sebelumnya yang disebut Presiden adalah gelombang pertanian, industri, serta teknologi dan informasi. Gelombang keempat peradaban itu didorong oleh fenomena pemanasan global dan perubahan iklim yang terasa di hampir semua negara.

Permintaan Presiden untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang berbasis seni, budaya, kerajinan, diiringi pula permintaan pengembangan ekonomi yang berbasis warisan budaya dan ekonomi kepariwisataan. Pameran produk budaya merupakan salah satu contoh dari permintaan Presiden itu.

Presiden memberikan contoh, pengembangan ekonomi secara kreatif adalah seperti dilakukan negara-negara di Timur Tengah yang bisa membuat pantai seperti pantai di daerah beriklim tropis.

Dalam konteks di Indonesia, Presiden minta dipikirkan wisata di lingkungan yang masih asli dan perawan untuk menunjukkan keindahan Indonesia. Di tempat itu misalnya, dapat dibangun lapangan golf yang unik dan indah. Contoh lain, pengembangan keunikan geologi Indonesia. Di Aceh misalnya, dibangun monumen, museum, atau tempat studi yang bisa jadi tempat wisata baru.

Aburizal Bakrie mengatakan, penyelenggara akan membuat cetak biru berupa rencana dan aksi industri kreatif budaya yang akan diserahkan melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla pada akhir pameran. (INU/OSA)

Sumber: Kompas

Senin, 04 Februari 2008

BULAN Oktober 2004, United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (Unesco) memperkenalkan program bernama The Creative Cities Network. Melalui program ini, Unesco menjajaki kota-kota di dunia yang memiliki sumber daya kreativitas. Ada beberapa sumber daya kreativitas yang mereka lihat, seperti literatur, sinema, musik, kerajinan tangan dan seni daerah, desain, media arts, dan gastronomi.

Jika kita bicara kota-kota di Indonesia , kita tidak bisa melupakan peran Kota Bandung yang digadang-gadang memiliki sumber daya kreativitas. Bandung punya segalanya dari mulai desain, musik, sinema, film, fashion, kesenian tradisi, komik, kartun, penulis, dan lain-lain. Sebagai contoh, pada 11-13 Agustus 2007, pergelaran Kickfest bisa menghadirkan 307 peserta dari 8 provinsi. Saat itu terdapat 300 ribu pengunjung dengan pendapatan total Rp 4 miliar. Dalam acara tersebut, potensi besar kreativitas berasal dari desain sebesar 47%, seni visual 16%, dan kerajinan (craft) 12%.

Sementara itu, potensi pendapatan bagi pemerintah Provinsi Jawa Barat dari keberadaan industri kreatif ini adalah 11% dari pendapatan daerah (PAD) tahun 2004 sebesar Rp 2,1 triliun. Industri kreatif di Bandung juga berhasil menyerap tenaga kerja sebesar 344.244 orang pada tahun itu. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat tiap tahunnya.

Meski begitu, masih ada beberapa kelemahan seperti minimnya pengetahuan karena kurangnya akses dan cipta kreatif, kurang akses pada teknologi, finansial, dan yang paling penting adalah kelemahan pada infrastuktur ekonomi yang dapat membantu produksi dan distribusi. Selain itu, kurangnya perhatian infrastuktur fisik maupun fasilitasi dari pemerintah.

Persoalan pengetahuan dan akses teknologi masih dapat diatasi dengan kerja-kerja jaringan. Sebut saja contoh gagasan pembentukan Bandung Creative Community Forum. Gagasan ini lahir dari pertemuan aneka pegiat kreativitas di Common Room, Jln. Kyai Gede Utama, Bandung , pada 6 Desember dan 25 Desember 2007.

Forum ini terdiri dari seniman, musisi, pemilik distro, clothing, penulis, akademisi, arsitektur, media massa, seni rupa, dan lain-lain. Forum ini juga mencoba mengajak pemerintah daerah untuk ikut serta memikirkan masa depan dunia kreativitas di Bandung dan Jawa Barat secara umum. Gustaff Iskandar, salah satu penggagas forum ini, mengatakan, peran pemerintah dapat membantu memberikan pelayanan dan membangun infrastruktur bagi dunia kreatif di Bandung, misalnya pembangunan ruang publik dalam jumlah banyak.

Program baru Unesco tentang kota kreatif, sebenarnya menantang Bandung untuk tampil di pentas dunia. Ridwan Kamil, urban designer yang juga pendiri biro Arsitektur Urbane dan pemenang International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006 mengatakan, kelemahan Bandung adalah pada ketidakkompakan pemerintah dengan pegiat kreatif di kotanya sendiri.

Walaupun kehidupan dan kematian kreativitas bukan ditentukan tangan pemerintah, namun adanya aturan main dalam sistem negara membuat hubungan itu menjadi penting. Beberapa kali pertemuan dengan pemerintah daerah menghasilkan gagasan-gagasan penting sampai 2012. Gagasan itu di antaranya membuat pemetaan industri kreatif dan kebijakan yang berpihak pada keberadaan industri kreatif itu sendiri.

Untuk membuka mata dunia terhadap Bandung memerlukan waktu panjang. Tinggal semua pihak mau konsisten berkolaborasi dan bekerja sama. Sebagai bukti adanya konsistensi itu, termasuk niat baik pemerintah, mari saksikan gong kreativitas Bandung pada 2008.

Agus Rakasiwi (kampus_pr@yahoo.com)

Sumber: Kampus, Pikiran Rakyat

Rabu, 19 Desember 2007

Bandung, Rabu – Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Djoko Santoso, menyatakan pemerintah sudah selayaknya mengembangkan industri kreatif pada 2008 untuk memperkuat struktur ekonomi dan sistem industri nasional. “Potensi untuk mendukung peningkatan industri nasional di negara kita ini cukup banyak, salah satunya industri kreatif itu. Jika dikembangkan setidaknya industri nasional kita tidak akan tergantung pada kepemilikan modal asing“, ujar Djoko, di Bandung, Rabu (19/12).

Industri kreatif merupakan industri yang tidak terbatas pada satu jenis produk tertentu, seperti karya desain, film, musik, piranti lunak (software), media elektronik, penerbitan, periklanan, arsitektur, seni dan budaya, serta industri multimedia.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada tahun 2006, setiap tahun industri kreatif mampu menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional secara signifikan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 15 persen. Perkembangan industri tersebut telah menyokong 33,5 persen total angka PDB yang setara dengan Rp 693 triliun.

Menurut Djoko, pada sejumlah negara di kawasan Uni Eropa, industri kreatif senantiasa dikembangkan dan menjadi salah satu penerima tenaga kerja terbesar. Di Inggris serta di Australia, lanjut Djoko, industri tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap perolehan pendapatan PDB setempat.

Djoko menyatakan, pengembangan industri tersebut akan menjadi sektor ekonomi potensial yang mampu menyerap serta memanfaatkan tenaga kerja muda pada berbagai bidang secara menyeluruh, apabila dikelola dan dikembangkan secara mandiri memanfaatkan berbagai potensi nasional. “Industri kreatif pada dasarnya mengembangkan tiga pilar utama sebagai modal awal, yakni kreativitas sumber daya manusia, inovasi serta semangat kewirausahaan“, demikian pendapat Rektor ITB. (ANT/IMA)

Sumber: Kompas Cyber Media

Rabu, 28 November 2007

DUNIA sudah memasuki peradaban keempat yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Tidak heran jika kemudian saat ini disebut era kreatif. Ekonomi kreatif yang bersumber dari ide, seni, dan teknologi itu diyakini akan tumbuh berkembang dengan pesat.

Menteri Perdagangan (Mendag) RI Mari Elka Pangestu pada Pekan Produk Budaya Indonesia di Jakarta, Juli lalu menyampaikan nilai ekonomi yang mengejutkan dari ekonomi kreatif ini. Menurut Mendag, nilai ekonomi kreatif global diperkirakan tumbuh 5% pertahun, berkembang dari 2,2 triliun dolar AS pada Januari 2000 menjadi 6,1 triliun dolar AS 2020.

Oleh karena itu, katanya saatnya Indonesia bangkit dan mempersiapkan diri menyambut gelombang ekonomi kreatif dengan orientasi pada kreativitas. Memang butuh waktu dan dana yang besar membangun ekonomi kreatif ini. “Paling tidak, pemerintah membutuhkan dana Rp 10 triliun untuk mengembangkan sektor ini“, tambah Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian RI, Sakri Widhianto di Bandung, beberapa waktu lalu.

Bagaimana dengan Jawa Barat dalam pengembangan potensi ekonomi kreatif ini? Sumber daya manusia Jawa Barat sejatinya memiliki talenta dan kemauan dalam kreativitas ini didukung adanya perguruan-perguruan tinggi berkulitas. Balai-balai besar penelitian juga bisa dimanfaatkan pendukung lainnya.

Di samping itu, generasi muda di Jawa Barat khususnya Kota Bandung dan sekitarnya dikenal gemar mengikuti perkembangan mode dan turut aktif sebagai pengguna produk-produk kreatif yang dihasilkan warga Jawa Barat khususnya Kota Bandung karena pada dasarnya masyarakat Jawa Barat terbuka menerima perubahan.

Semua itu merupakan keunggulan yang bisa dijual. Apalagi bersaing di industri kreatif ditentukan kemampuan unik sumber daya manusia. Potensi SDM Jabar ini sulit ditiru dan berpotensi menciptakan ceruk-ceruk pasar spesifik (niche market).

Bahkan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar, Agus Gustiar menegaskan agar kita tidak perlu takut dengan ancaman produk Cina. “Kita tidak perlu gentar dengan derasnya ancaman produk-produk Cina yang pada umumnya lebih bersifat mass production untuk mengejar keunggulan bersaing dari sisi harga yang murah. Kita bisa menyainginya dengan produk-produk yang inovatif dan kreatif yang mengangkat budaya lokal dengan sentuhan modern yang memenuhi tren dan selera konsumen“, ujarnya.

Menurut Gustiar, selain distro, industri kreatif yang potensial untuk tumbuh di Jawa Barat antara lain fashion, industri desain, komik, musik, animasi, video games, arsitektur, iklan, film, handy craft, kuliner, dan industri telematika. Diyakini Gustiar, pertumbuhan industri tersebut akan menciptakan multyplier effect terhadap pengembangan industri kreatif lain, misalnya industri-rekaman, video klip, film, event organizer, software, dan hardware, serta media musik.

**
SAAT ini, Disperindag Jabar telah mencoba menyusun rencana aksi pengembangan industri kreatif dari tahun 2008 hingga tahun 2012 bersama-sama dengan beberapa komunitas kreatif Jawa Barat, yakni Common Room, Pusat Urban Design ITB dan SBM ITB. “Kita menyadari bahwa dalam pengembangan industri kreatif haruslah ada kolaborasi yang kuat antara pemerintah dengan group independent yang profesional dan dengan sektor swasta“, tambah Gustiar.

Fokus tahun 2008, lanjut Gustiar adalah membangun fondasi industri kreatif yang kuat melalui mapping industri kreatif, analisa potensi, analisa kebijakan, menyusun strategi, menyusun blueprint dan road map. Dikatakan Gustiar, saat ini perkembangan industri kreatif masih terhambat karena ketiadaan pemetaan industri kreatif nasional. Oleh karena itu, dengan adanya mapping industri ini diharapkan industri kreatif dapat berkembang dengan baik pada track yang benar.

Inggris, kata Gustiar merupakan pelopor konsep industri kreatif dunia. Bahkan, saat ini industri ini menjadi sektor ekonomi kedua terbesar di Inggris setelah bisnis perbankan. Kontribusinya mencapai 121,6 miliar poundsterling terhadap PDB Inggris, dan menyerap 2 juta tenaga kerja per tahun. Selain itu, industri kreatif di Singapura pun mengalami perkembangan yang sangat pesat karena mereka telah memiliki pemetaan industri kreatif.

Bandung, belum lama ini telah ditunjuk sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur dan Asia Tenggara dalam program pengembangan industri kreatif yang akan mendapat bantuan dari Inggris sebesar 6 juta poundsterling atau setara dengan Rp 108 miliar. Duta Besar Inggris untuk Indonesia, H.E. Charles Humfrey C.M.G. beberapa waktu yang lalu mengatakan alokasi dana ini akan disalurkan selama empat tahun ke depan. Bantuan itu akan berbentuk kerja sama riset, kolaborasi program pertukaran, dan pengiriman siswa ke Inggris.

Lebih lanjut dikatakan Charles, berdasarkan catatan Bank Dunia, 50% konsumsi masyarakat dunia dipasok dari industri kreatif. Tahun 2005 industri manufaktur yang terkait kreativitas, memberi kontribusi 33% bagi pendapatan dunia, atau enam kali lipat lebih besar dibandingkan kontribusi minyak dan gas.

Banyak harapan yang ditumpukan pada industri kreatif. Boleh jadi, pertumbuhan industri kreatif di Jawa Barat, terutama Bandung akan memunculkan kota-kota kreatif yang dapat diperhitungkan dan disejajarkan dengan kota kreatif lainnya di dunia seperti Paris, London dan New York. (Kismi/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Kamis, 24 Mei 2007

Industri kreatif di Indonesia tumbuh 15 persen setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2006, industri kreatif telah menyumbang 33,5 persen dari produk domestik bruto. Angka ini setara dengan US$ 77 miliar atau Rp 693 triliun dengan kurs Rp 9.000. Namun, perkembangan industri ini terhambat karena ketiadaan pemetaan industri kreatif nasional.

Dengan ada pemetaan industri kreatif secara nasional, pertumbuhan industri ini bisa lebih signifikan“, kata Ketua Forum Grafika Digital, David B Mihardja dalam seminar Creative Industry Mapping, Jakarta, kemarin.

Beberapa pihak berkepentingan di industri kreatif tengah menyusun pemetaan industri kreatif. Selain FGD, pemetaan industri didukung oleh The British Council dan Universitas Bina Nusantara. Pihak yang berkecimpung dalam industri kreatif mencakup bisnis promosi, penerbitan, dan kemasan (packaging).

Industri yang juga terkait adalah semua bisnis yang berhubungan dengan kreatifitas seperti produk kerajinan tangan“, kata David. Selain itu, industri media dan rumah produksi masuk klasifikasi industri ini.

Menurut David, negara luar seperti Singapura dan Inggris telah memiliki pemetaan industri kreatif. Sehingga industri kreatif di sana sangat berkembang pesat. Industri kreatif Singapura memiliki kontribusi sebesar 5 persen dari produk domestik bruto atau US$ 5,2 miliar. Kemudian pada 2012 diperkirakan tumbuh 10 persen. Sementara kontribusi industri kreatif Inggris sekitar 8,2 persen atau US$ 12,6 miliar.

Pemetaan industri kreatif ditargetkan selesai pada Juli dan diluncurkan pada Agustus 2007. Hingga kini, pemetaan industri kreatif telah mengajak kerja sama pemerintah yakni, Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian.

Menurut perwakilan British Council, Yudhi Soerjoatmodjo, kontribusi British Council untuk pengembangan pemetaan industri kreatif dengan mendatangkan dua ahli industri kreatif asal Inggris. Selain itu, Inggris berperan serta karena saat ini industri kreatif Inggris berkembang pesat hampir menyaingi Amerika Serikat.

Yuliawati (Tempo Interaktif)

Sumber: Tempo Interaktif

 

February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

a

Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email