You are currently browsing the monthly archive for February, 2008.

Senin, 18 Februari 2008


BURGERKILL menggelar “Burgerkill Hellshow ‘05″, Agustus 2005 di Taman Budaya Dago dalam rangka memperingati ulang tahun kesepuluhnya.* ROBY NUGRAHA/”PR”

Sebut saja Submissive, Tigabelas, Emphaty Lies for Beyond, Empatika, No Compromise, Limbah, Halo Opository, Movement, re-action, Unfold, Rayuan Gombalz, ONe Life Stand, Poster, Setaramata, Ujungberung Update, Crypt from the Abyss, Loud n` Freaks, The Evening Sun, Rottrevore, Minor Bacaan Kecil, Wasted Rocker, menjadi sedikit dari sekian banyak zine yang beredar di komunitas underground pada ’90-an akhir hingga 2005. Media foto copy-an ini menyebar di antara jejaring underground, bukan hanya di Bandung tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai luar negeri.

Tradisi zine sebagai media propaganda, baru dikenal komunitas underground pada pertengahan tahun ’90-an. Saat salah satu anggota komunitas punk, mendapat zine dari jejaring pertemanan mereka di Belanda. Media sederhana dengan teknik fotocopy ini berisi review pertunjukan underground setempat, wawancara dengan personel-personel band, isu-isu seputar musik dan ideologi yang menyertainya. Opini pembuatnya tentang satu persoalan yang berkaitan dengan satu masalah yang sedang hangat di komunitas. Beberapa zine juga membahas isu yang spesifik seperti isu feminisme, lingkungan, fundamentalisme dan semua digarap tanpa perlu teknik jurnalistik yang canggih, modal besar, dan layout yang memukau. Semua serba apa adanya karena semuanya dijalankan dengan semangat Do It Yourself (DIY).

Waktu itu terasa sekali zine sebagai sebuah kultur serapan. Isinya masih sangat copy-paste, jiplakan beneran dari luar (luar negeri) tapi bahasa Indonesia. Dan kebanyakan memang belum tahu apa yang ingin dikatakan“, jelas Pam, pembuat zine Submissive. Tulisan-tulisan dari kolektif CrimethInc (http://www.crimethinc.com/) menjadi langganan yang di terjemahkan dan disebarkan melalui zine seperti Submissive. Melalui zine, komunitas underground mengenal pemikiran-pemikiran Mikhail Bakunin, Emma Goldman dan wacana-wacana ideologis yang menyertai band-band favorit mereka. Hal-hal seperti ini tentunya tidak mungkin ditemui pada media mainstream pada saat itu. Dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir ’90-an, media underground seperti zine lebih dominan diwarnai oleh kultur musik yang digemari oleh komunitas pada masa itu. Meskipun situasi sosial, politik, ekonomi pada saat itu turut membentuk karakter komunitas dan apa yang disampaikannya lewat zine. (Baca: Dari Militansi ke Komodifikasi, Tarlen Handayani, “PR” 13/2).

Distribusi zine biasanya dilakukan dengan membuat beberapa master copy untuk disebarkan di jaringan komunitas di dalam dan luar negeri. Setelah itu, jejaring di tiap kota akan menyebarkan zine ke komunitas masing-masing. Jika dijual pun, harganya hanya sebesar ongkos ganti fotocopy. Semangat berbagi dan anti copyright membuat zine-zine underground seperti ini tersebar luas dan bisa digandakan secara bebas.

Beberapa majalah pernah terbit dan mewarnai perkembangan media komunitas underground. Swirl terbit tahun 1994 dan menjadi majalah komunitas skateboard dengan tampilan sederhana cetak hitam putih. Terbit tidak sampai lima edisi dan setelah itu menghilang. Tahun 1999, Ripple terbit pertama kali dengan ukuran saku. Pada awalnya Ripple terbit sebagai katalog produk distro 347 dan berkembang memuat kegiatan tulisan-tulisan komunitas yang berkumpul di distro 347, sampai kemudian berubah menjadi majalah dalam arti yang sesungguhnya. Tahun 2001, majalah Boardriders dan Trolley, ikut mewarnai perkembangan media yang mewakili komunitas anak muda Bandung saat itu.

**

Berubah format, membuat beban pengelolaannya menjadi lebih berat. Majalah-majalah ini menjadi tidak lagi sesederhana zine dalam penggarapannya, termasuk juga biaya produksi yang sangat besar. Pemilik modal menjadi faktor yang menentukan keberlangsungan hidup majalah-majalah seperti ini. “Karena pemilik modalnya nggak paham soal media, kita berhenti terbit“, ungkap Didit E. Aditya, mantan Editor in Chief Boardriders. Sementara Ripple lebih beruntung karena pada awalnya media ini adalah media promosi clothing label 347, sehingga aspek permodalan relatif lebih terjamin. “Awalnya majalah ini kan sebagai fun, tapi ternyata kesininya bisa juga jadi andalan ekonomi“, kata Idhar Remadi, Editor In chief Majalah Ripple.

Pertumbuhan bisnis clothing dan distro di Bandung, ternyata memberi dampak yang cukup penting pada perkembangan media-media komunitas underground Bandung. Ketika booming distro tahun 2003 hingga 2005, lahir banyak media gratisan yang terbit untuk kepentingan promosi. Kemampuan distro untuk memproduksi media seperti ini, dalam pengamatan Pam, melibas pertumbuhan zine komunitas. “Mereka bisa membuat media yang lebih menarik secara tampilan dan dibagikan gratis. Tetapi ini juga membuat perubahan di tingkat komunitas dan membaginya jadi dua kubu. Kubu pertama sebagai produsen zine yang masih punya semangat untuk membuat zine dan mencari komunitas lain yang bisa jadi tempat aktualisasi diri yang baru, dan satu lagi yang hanya mengonsumsi saja“, ujar Pam. Sementara Kimung, pengelola Minor Bacaan Kecil berpendapat, “Generasi yang sekarang mau aja diseragamin penampilannya maupun isi kepalanya. Padahal, dengan punya media sendiri, bisa menyampaikan manifestasi diri dan mengekspresikan ide-ide lewat bahasa dan tulisan.

Untuk beberapa media yang bertahan seperti majalah Ripple dan Jeune, keberadaan distro dan clothing industri justru menjadi nyawa yang membuat media ini bisa bertahan. “Sembilan puluh sembilan persen nyawa kita ada di pemasang iklan“, tutur Idhar. Sampai kini, Ripple telah terbit 59 edisi dan sejak edisi ke 42, Ripple menjadi media gratis dengan jumlah cetak 10.000 eksemplar setiap edisinya. “Salah satu faktornya kenapa kita gratis karena kita ingin memperluas jangkauan distribusi. Kalau distribusinya cukup luas, bisa menarik pemasang iklan lebih banyak lagi”.

Senada dengan Idhar, Candra vokalis band Cupumanik yang juga Editor in Chief Majalah Jeune yang terbit 5.000 sampai 7.500 eksemplar (tergantung dari pemasang iklan) sejak tahun 2004 ini, mengemukankan hal yang hampir sama. “Kenapa mereka masih membeli majalah indie atau majalah lokal seperti Jeune atau Ripple, karena memang sudah saatnya kita-kita yang di lokal ini tahu betul dan harusnya yang paling pintar mendokumentasikan apa yang terjadi di lokal trend fashion atau musik apa yang terjadi di lokal“, kata Candra.

Keberadaan media-media yang masih bertahan, memunculkan pertanyaan besar dalam benak Pam, “Bisakah konsistensi dan kontinuitas itu terjaga?” Bagi Pam, konsistensi dan kontinuitas itu penting untuk mematangkan komunitas dan juga media yang mewakilinya. “Buat saya, situasi komunitas underground yang berubah cepat kaya sekarang ini sebenarnya bisa dilihat sebagai hal yang wajar. Zine kan sesuatu yang baru, distro juga, banyak hal baru yang menjadi pilihan dan karena ini kultur serapan, proses mencoba menjadi bagian dari pencarian identitas. Konsistensi dan kontinuitas itu justru akan mematangkan pilihan-pilihan itu“, tutur Pam.

Penulis: Tarlen Handayani (Sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs)
Sumber: Pikiran Rakyat

Kamis, 27 Mei 2004

DARI namanya saja sudah bisa ditebak. Prof Jakobus (biasa disebut Jakob) Sumardjo bisa dipastikan bukan berasal dari etnis Sunda. Biarpun sudah lebih dari 40 tahun tinggal di Bandung, waktu tidak berhasil mengubah segalanya. Logat Jawanya masih sangat kental. Tetapi jangan tanya kemampuannya dalam menafsirkan pantun-pantun Sunda.

TAK KURANG dua guru besar, Ayatrochaedi Universitas dan Prof Saini KM Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, memuji minat “baru” rekannya, sehingga ia dijuluki sebagai “juru tafsir” Sunda. Kajian dilakukan merupakan paling mutakhir. Jika kajian sebelumnya hanya salah satu pantun, Jakob menggarap sejumlah cerita pantun segi yang selama ini luput dari perhatian para pengkajinya.

Uniknya, Jakob tidak fasih berbahasa Sunda. Untuk menolong kekurangannya, ia harus membolak-balik Kamus Bahasa Sunda karangan Satjadibrata. Tetapi tidak semua kata-kata yang dicari padanannya dalam bahasa Indonesia bisa ditemukan dalam kamus tersebut. Pantun banyak menggunakan lambang-lambang sehingga tidak mudah dimengerti, apalagi jika sebelumnya tidak mendalami kebudayaan masyarakat Sunda.

Untuk mengetahui arti kata-kata tersebut, saya bertanya ke sana-ke mari“, tuturnya.

Di kalangan masyarakat Sunda, seni pantun merupakan jenis pertunjukan teater tutur yang memperlihatkan kemampuan bercerita dari “sang juru pantun” dengan diiringi kacapi pantun. Pagelarannya diselenggarakan sejak pukul 20.00 sampai menjelang subuh sekitar pukul 04.30. Ceritanya pada umumnya berkisar tentang lakon makhluk-makhluk suci atau keramat atau mempunyai hubungan dengan Raja dan putra-putra Raja Kerajaan Pajajaran. Beberapa cerita pantun, seperti Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Mundinglaya, dan Nyi Sumur Bandung, dianggap sebagai keramat.

Untuk memainkannya, banyak persyaratan yang harus dipenuhi, baik pada saat akan dimulai maupun menjelang akhir pagelaran dengan menyampaikan rajah. Rajah artinya sama dengan jampi-jampi atau permohonan pagelaran berlangsung lancar, baik pada saat diselenggarakan maupun sesudahnya.

Guru Besar STSI Bandung itu mengemukakan, gejala pantun sudah ada sebelum tahun 1518, sebagaimana ditunjukkan oleh naskah lama, Siksa Kandang Karesian. Boleh jadi masyarakat Sunda sudah mengenalnya sekitar tahun 1400-an, pada saat berkembangnya budaya Hindu-Buddha di Jawa Barat, sehingga cara berpikir agama-agama tersebut telah masuk ke dalam pantun. Cara berpikir tersebut kemudian berkembang dan menyesuaikan diri dengan masuknya Islam di Tatar Sunda. Selain itu, pantun juga mengandung unsur-unsur budaya lokal.

LAHIR di Jombor-Danguran, Klaten, 26 Agustus 1939, bagi ayah tiga anak dari perkawinannya dengan Jovita Siti Rochma pada tahun 1969 itu, dunia pantun merupakan dunia “baru”. Setelah belajar di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, dan kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung, ia mengajar di SMA St Angela, Bandung, sebagai guru sejarah dan menggambar. Di tempat ini ia bertemu calon istrinya.

Ia juga mengajar di STSI, selain di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pasundan (Unpas) untuk mata kuliah Filsafat Seni, Antropologi Seni, Sejarah Teater, dan Sosiologi Seni. Tetapi segudang kegiatannya itu tidak mengurangi minat yang sudah lama digeluti sebagai pengarang cerita pendek, kritikus sastra dan penulis esai di berbagai media, baik di Bandung maupun Jakarta. Dari tangannya sudah lahir lebih dari 20 buku.

Sejak “tergila-gila” dengan pantun Sunda, ia berusaha memburu transkrip naskah-naskah pantun Sunda. Ia sudah menghasilkan dua buku kumpulan tulisannya: Hermeneutika Sunda, Simbol-simbol Babad Pakuan/Guru Gantangan dan Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda, Tafsir-tafsir Pantun Sunda.

Kedua kumpulan karya-karyanya itu menempatkannya sebagai “orang Sunda” yang lebih nyunda karena kemampuannya menafsirkan karya-karya sastra masyarakat Sunda. Namun, kelebihan ini tidak mengubah dirinya sebagai budayawan yang rendah hati dan hidup sederhana.

PERKENALAN Jakob Sumardjo dengan pantun Sunda sebenarnya belumlah lama. Itu berawal ketika diminta Saini KM untuk mengulas karyanya berupa naskah drama Pangeran Sunten Jaya yang akan dipentaskan Kelompok Actors Unlimited di Bandung pada 31 Agustus 2000 di teater terbuka Selasar Sunarjo. Ia bersedia mengulasnya kalau bisa membaca cerita pantunnya yang asli, yang ternyata karya Saini KM sendiri, Mundinglaya di Kusumah.

Perkenalan pertama itu menumbuhkan rasa penasarannya terhadap naskah-naskah pantun lainnya. Ia menyadari, untuk memahami naskah-naskah itu dibutuhkan ilmu tentang kebudayaan dan sejarah Sunda, pemahaman religi asli Sunda, religi Hindu Buddha-Tantra, dan antropologi budaya suku-suku Indonesia.

Hanya karena ketekunannya, satu per satu naskah-naskah pantun tersebut bisa ditafsirkan. Namun, karena cukup banyaknya naskah-naskah tersebut, ia mengakui baru sebagian kecil yang sudah berhasil diteliti.

Dari naskah-naskah yang sudah diteliti, ia menyimpulkan, cerita pantun bukan hanya merupakan karya sastra lisan yang luhur dari masyarakat Sunda. Naskah-naskah tersebut mengandung bagian-bagian yang menyangkut peristiwa sejarah Sunda, maka pantun memiliki nilai sejarah. Karena itu, cerita pantun dianggapnya sebagai artefak budaya masyarakat Sunda sekaligus bentuk kebudayaan Sunda yang paling besar.

Jika di Jawa terkenal dengan wayang kulit, maka di Sunda sebenarnya seni pantun. Bukan wayang golek“, ujar pengamat film yang tergabung dalam Forum Film Bandung (FFB) itu.

Sebagai bentuk kesenian rakyat, seni pantun tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat dan Banten. Nasibnya tak berbeda dengan kesenian tradisional lainnya yang terdesak. Bahkan, juru pantun sudah makin langka.

Penulis: Her Suganda (Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat)
Sumber: Kompas

Minggu, 16 Januari 2005

APA yang Anda bayangkan tentang seni serat? Lembaran kain tebal, berbulu, dengan warna-warni mencolok, dan motif-motif yang mengacu pada nilai-nilai tradisi sebuah suku di pegunungan sana? Kecanggihan anyaman yang tali-temali membentuk benda-benda lengkung atau tas atau membentuk bubu, atau peranti gendong bayi di punggung? Atau kain tebal yang dikoyak-koyak, dicelup, dibubuhi warna secara langsung, dan menghasilkan motif maupun warna yang tumpang tindih?

BANYAK pertanyaan dan beragam pula kemungkinannya. Hal seperti itulah yang diperlihatkan oleh sebuah pameran seni rupa serat kontemporer di Bentara Budaya, Jakarta, yang berlangsung 12-21 Januari 2005. Pameran “Posting Fiber” ini menampilkan karya-karya tempel di dinding, tetapi juga seni instalasi maupun susunan yang meruang dari empat peseni serat. Mereka adalah Biranul Anas, John Martono, Kahfiati Kahdar, dan Tiarma Dame Ruth Sirait.

Begitu beragam, seiring dengan luasnya wilayah pencarian para senimannya. Tampak di ruang pameran sejumlah lembar karya yang menempel di dinding. Ada kesan seperti tapestri, tenunan benang wol, misalnya yang datang dari studio Biranul Anas. Di tangannya, tapestri menjadi hanya bagian dari seluruh karya, yang diisi dengan material lain, seperti goni dan potongan kayu.

Dengan kerja tempel-menempel cukup menonjol, karya-karya Anas di dalam hal ini tetaplah boleh dianggap “lembaran” yang enak dipajang di dinding. Dan, sebagian besar memang menarik, sebutlah itu seperti Pohon Emas, Pohon Terang, atau Rising Sun.

Namun, Biranul Anas juga menyuguhkan karya instalasi. Di sini, ia menggunakan kertas tisu yang dicelup ke dalam cairan kanji yang berdaya rekat tinggi. Kertas-kertas itu kemudian diremas. Sebagian kertas remasan itu dibiarkan, sebagaimana adanya, ditaruh berserak di lantai. Selebihnya ia kembangkan ke luas semula. Kertas remasan yang menjadi cukup kaku ini ia susun lembar demi lembar masing-masing berjarak sekitar satu kaki, dengan benang yang melewati lubang di bagian tengah. Puluhan benang bersusun kertas ini menjulur dari arah atap ruang pamer, langsung menyambut penonton di depan pintu.

Judul karya seni instalasi serat ini, Future Forest 2 (2005) memicu renungan penonton untuk melampaui suguhan visualnya yang mencekam di dalam kembang-kembang kertas serba putih. Penggunaan kertas yang berasal dari batang-batang pohon ini berbanding lurus dengan penebangan hutan, yang di Indonesia telah menghancurkan lingkungan.

Seni serat sudah melangkah jauh meski mungkin perlu lebih sering ditampilkan ke tengah masyarakat agar lebih dikenal“, tutur Biranul Anas yang terus berkarya di tengah kesibukan mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung. Selain dia, ketiga rekannya yang berpameran kali ini berasal dari kampus seni yang sama.

Karya-karya John Martono di dalam “seri” Grow memperlihatkan pergulatan yang tak kalah menarik. Ia antara lain menggunakan kain sutra dipadu dengan berbagai bahan lain seperti poliester.

Sebuah karya seni instalasinya di dalam tajuk serupa sesungguhnya telah benar-benar melumerkan jarak antara serat dan seni rupa ruang. Ia memberi bentukan-bentukan persegi tanpa isi, yang sisi-sisinya dibangun dengan kawat tembaga dan kawat baja dilapis kain. Semua itu ditancapkan di atas base setinggi pinggang di dalam satu jajaran.

Sejumlah kain sutra yang ia warnai langsung terpajang di dinding, memberi tamasya warna dalam jarak pandang cukup jauh. Ia menyodok persoalan ketika berada satu meter di depannya: sebuah proses garap yang bisa jadi cukup intensif, tetapi tidak cukup mudah terapresiasi oleh awam yang umumnya tak mengenal seluk-beluk serat maupun teknik garapnya.

Berbagai persoalan yang katakanlah lebih bermakna internal ini juga menjadi lahan garapan Kahfiati Kahdar lewat sejumlah bahan kain bermotifnya. Dengan bahan dasar kain “sarung” bermotif tradisi, misalnya, ia menaruh berbagai warna keemasan di dalam karyanya Mixing Culture Brown Sarong.

Dengan teknik tertentu, ia membuat kainnya bolong di beberapa tempat, koyak, menyulam benang halus di beberapa bagian, atau menorehkan warna baru, menindih motif yang sudah ada. Ia menggarap lembaran kain yang permukaannya berserabut dan menutupnya sebagian dengan lembaran kain berpermukaan halus di dalam Mixing Culture, White Expression. Bidang berwarna putih di atas putih ini mempermainkan imaji yang memikat.

Di dalam Selamat Siang, Kahfiati menonjolkan kesan bekas “malam” pada motif batik di atas kain berwarna saga. “Saya sangat suka batik“, tutur perempuan yang mengaku melakukan sendiri semua proses pengerjaan kain-kainnya sejak mencelup sampai membubuhi warna langsung.

Pameran ini mendapatkan daya tarik visualnya juga lewat karya Tiarma DR Sirait. Lihatlah sebuah boneka manis berukuran manusia, yang mengenakan gaun sangat lebar yang ujungnya menyentuh lantai. Gaun itu dibuat dari anyaman mendong. Karyanya yang berjudul The Bride in Waiting ini mencekam oleh ukuran besarnya, tetapi kemudian juga mendorong ingatan akan sang pengantin. Gaun pengantin yang biasanya mewah, bisa berharga ratusan juta rupiah, oleh Tiarma dikacaukan dengan mendong yang menyeret kesan akan suasana pedusunan dan alami.

Lihatlah, biarpun dianggap “pinggiran”, dibandingkan dengan seni lukis dan patung seni serat, yang lazim disebut fabric art atau textile art, merupakan lahan bagus untuk melahirkan karya-karya yang kuat. Kurator pameran ini, Aminudin TH Siregar, berpendapat, seni rupa serat merupakan idiom yang mandiri dan sejajar dengan idiom seni rupa yang lain. Tampaknya ia benar meski penampilannya di dalam ruang publik sungguh sangat jarang. (EFIX)

Sumber: Kompas

Sabtu, 26 November 2005

Burung raja udang suka makan ikan. Namun, karena ikan di sungai banyak diracun atau disetrum listrik, si burung raja udang terpaksa makan buah. Ia pun terbang mencari buah di gua-gua, seperti Gua Cukang Taneuh di Ciamis dan Sunyaragi di Cirebon.

Kisah mini yang mengandung pelajaran pengenalan dan pelestarian lingkungan itu terangkum dalam game animasi berjudul Si Jeknyeh Kalaparan karya Sony Rosyan. Menurut pria kelahiran 12 Juli 1965 ini, jeknyeh adalah nama lokal Sunda untuk burung raja udang.

Sony tidak sekadar menempelkan nama lokal Sunda. Sebab, hampir keseluruhan permainan animasi itu memang bernuansa Sunda. Mulai dari penjelasan hingga perintah, Sony mengusahakan memakai bahasa tradisional itu. Termasuk juga nama gua-gua tempat Si Jeknyeh berburu buah yang semuanya berlokasi di Jawa Barat. Untuk musik pengiring, Sony memakai potongan musik kendang dan kacapi suling.

Tujuan utama saya untuk mengenalkan bahasa Sunda kepada anak-anak”, kata Sony. Memprogram permainan dalam bahasa Sunda diawali dari kegelisahan Sony melihat bahasa tradisi itu mulai ditinggalkan dalam percakapan sehari-hari. ”Banyak anak tetangga saya yang tidak bisa bahasa Sunda. Padahal, mereka asli Sunda”, tutur Sony yang tinggal di Jalan Sekelimus III No 1A, Bandung.

Menurut Sony, bahasa adalah bagian budaya yang perlu dilestarikan agar tidak punah. Alumnus Pendidikan Ahli Teknik Telekomunikasi (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Telkom) tahun 1989 ini mengatakan, bahasa tradisional suku mana pun perlu dilestarikan agar tidak punah.

Dari Kegelisahan
Menurut Sony, anak-anak suka meniru dan tidak takut salah. ”Anak saya bisa menghitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Spanyol gara-gara nonton Dora The Explorer”, kata Sony mencontohkan efektifnya belajar bahasa pada usia dini.

Kegelisahan itu mengantarnya pada suatu pertanyaan: saya bisa berbuat apa? ”Menulis (sastra Sunda), saya enggak bisa”, kata Sony. Ia sempat merasa tidak bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk menjawab kegelisahannya. Namun, Sony punya banyak teman yang mendorongnya untuk menggunakan talentanya dalam melestarikan bahasa Sunda.

Jadilah, lelaki yang bekerja sebagai Business Development Officer di PT Telkom itu mengawinkan teknologi modern dengan pernik-pernik tradisi. Si Jeknyeh Kalaparan dan Wanara Mulung Sentul adalah dua game berbahasa Sunda di antara belasan game animasi karyanya yang lain.

Suami Kartika (37) dan ayah dari Aridita Yasmina Dewi (14), Asarela Orchida Dewi (12), Aurora Rosena Dewi (6), dan Audira Gladiola Dewi (2 bulan) ini belajar animasi secara otodidak. Imajinasinya terlatih sejak kecil akibat kegemarannya membaca berbagai buku cerita dan komik. ”Ketika SMA, saya tergila-gila baca (karya) Khoo Ping Hoo,” ujar anak nomor tiga dari enam bersaudara ini.

Perkenalannya dengan komputer membuatnya suka bereksperimen. Ia sudah suka mencoba-coba membuat animasi sejak tersedia program Lotus, yang jika dibandingkan dengan program-program sekarang sudah sangat kuno dan ketinggalan.
Sebelum menciptakan game animasi berbahasa Sunda, Sony rajin membuat game dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Semula, ia hanya menyimpan game animasi berbahasa Sunda itu. Keterlibatannya di mailing list Komunitas Urang Sunda di Internet (Kusnet) memberinya banyak teman yang mendorong agar ia memublikasikan karyanya.

Tidak Memikirkan Hak Cipta
Dalam skala terbatas, Sony pun menunjukkan hasil kerjanya dan mendapat tanggapan positif. Salah satunya ketika Kongres Bahasa Sunda yang diselenggarakan di bulan Juli tahun ini. Ia dengan senang hati memberikan kopi game-nya kepada beberapa teman tanpa pusing memikirkan soal hak cipta.

Selain ia sendiri yang hobi main game, anak-anaknya pun ketularan. Baginya, game adalah media yang cukup ampuh untuk menyampaikan sesuatu. Ia beralasan bahwa pada dasarnya manusia suka bermain. ”Pada game ada tantangan, bikin penasaran, dan pembelajaran kalah atau menang”, kata Sony.

Karena hanya dikerjakan sebagai pengisi waktu luang, perlu waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu permainan. Meski demikian, ia punya mimpi jika hasil karyanya bisa digandakan lantas dibagikan kepada khalayak luas. ”Kalau bisa, tidak komersial”, harap Sony.

Namun, sekali lagi, niat seperti itu sering terkendala banyak hal, terutama dana. ”Di Indonesia sangat banyak bahan (cerita), tetapi kita tidak pintar menyajikannya. Selain itu, penghargaan terhadap karya yang sudah ada juga kurang”, ujar Sony.

Hal itu tidak membuatnya berhenti berkarya. Di kepalanya kini ada imajinasi untuk menghadirkan gedung-gedung tua di Bandung lengkap dengan petanya dalam sebuah game animasi. ”Akan sangat bagus kalau bisa dikerjakan bersama ahli sejarah dan desain”, kata Sony. (D06/D11)

Sumber: Kompas

Dalam rangka penyelenggaraan acara Open House ITB yang dimulai sejak tanggal 22 s/d 24 Februari 2008 di Auditorium Campus Centre ITB, Kantor Wakil Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ITB menggelar acara temu industri kreatif dan diskusi panel.

Acara yang dimulai pada jam 10.00 menghadirkan Pak Iwan sebagai pembicara utama dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Indonesia. Dalam pemaparannya Pak Iwan menekankan perlunya pendidikan tinggi sebagai pusat pengembangan keilmuan yang harus memiliki parameter sumberdaya lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi dibidangnya, memiliki daya saing dilingkungan pekerjaan dan kemampuan manajerial terhadap ilmu yang akan dikembangkan kepada masyarakat dalam hal ini industri kreatif. Untuk bisa mencapai semua itu Pak Iwan memberikan rumusan ABG, yaitu Akademik, Praktisi Bisnis dan Government (pemerintah). Oleh karena itu Pak Iwan menekankan apabila ITB ingin menjadi pusat pengembangan industri kreatif maka harus mampu menjadi perguruan tinggi berbasis kreativitas.

Sementara itu wakil pemerintah dari Direktur Jendral Usaha Kecil Menengah dan Industri Kecil, Pak Fauzi Aziz memaparkan tentang banyaknya hambatan regulasi yang membuat industri kreatif sulit berkembang pada saat ini. Salah satunya adalah tentang belum keluarnya aturan tentang Badan Hukum Perguruan Tinggi sehingga ada kesan pihak akademisi dalam hal ini perguruan tinggi menjadi terhambat dalam hal pengembangan industri kreatif. Karena apabila aturan tentang BHPT tersebut berhasil direalisasikan maka tentu perguruan tinggi akan lebih banyak mempunyai peran yang aktif bagi perkembangan industri kreatif. Dirjen UKM dan Industri Kecil menekankan bahwa strategi pengembangan industri kreatif terletak pada dukungan modal (financial support) dan aturan main/perundang-undangan (basic regulation). Dalam hal ini peraturan pemerintah yang mampu mengakomodir kepentingan perkembangan industri kreatif, SDM yang berkualitas dan pembentukan jaringan (network) yang solid antara pelaku industri kreatif, akademisi dan pemerintah.

Dari dunia akademisi diwakili oleh Prof. Emy Suparkah dari ITB yang memaparkan kontribusi ITB bagi perkembangan industri kreatif. Selama ini ITB telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan industri. ITB selama ini telah banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten dibidang kajian masing-masing. Misalnya dari Fakultas Seni Rupa dan Desain yang telah berperan langsung dalam berbagai kegiatan ekonomi industri kreatif. Lalu dari segi teknologi ITB telah banyak memberikan kontribusi teknologi seperti software dan mesin-mesin industri yang banyak menerapkan teknologi yang aplikatif dan ramah lingkungan. Dari segi manajerial dan pengembangan industri kreatif ITB memberikan kontribusi dengan dibukanya sekolah bisnis sekaligus menjadi inkubator bagi pengembangan UKM dan industri kecil. Disamping itu juga dari segi perlindungan hukum ITB menjadi fasilitator untuk pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar produk-produk industri kreatif terhindar dari kooptasi dan klaim dari pihak lain.

Masih dari mewakili akademisi, Pak Setiawan Sabana dari Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain, mengingatkan bahwa semua hasil produk industri kreatif harus memperhatikan aspek lingkungan hidup. Jangan sampai produk industri kreatif justru menjadi sesuatu yang “merusak” ekologi. Sebagai contoh papan-papan iklan yang bertebaran di penjuru kota sebagai hasil kreatifitas justru berubah menjadi “polusi visual” dikarenakan tidak adanya kejelasan aturan dan ketegasan dari pemerintah. Karena itulah perlunya para praktisi, akademisi dan pemerintah menjalin sebuah sinergi yang solid dalam merumuskan berbagai kebijakan agar hasilnya nanti dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Pak Sabana menilai bahwa kota Bandung cukup potensial untuk dikembangkan menjadi kota yang berbasiskan kreatifitas. Karena Bandung telah memiliki SDM yang berkualitas (talent) dan masyarakat yang toleran terhadap perubahan yang positif (tolerance). Dan semua itu perlu didukung oleh aturan dan regulasi yang mampu mengakomodir energi kreatifitas yang ada.

Dari komunitas kreatif diwakili oleh Fiki dari Kreative Independent Clothing Kompany (KICK). Fiki memaparkan tentang pertumbuhan industri kreatif di Bandung khususnya di bisnis clothing (pakaian jadi) dan distro (distribution outlet). Pada tahun 1997 kota Bandung hanya memiliki 5 buah distro. Tahun 2008 Bandung memiliki 300 distro dan mampu menyerap 300.000 tenaga kerja. Kemudian relasi dengan pemerintah sudah mulai terbangun melalui event KICK FEST yang rutin digelar setiap tahun. KICK FEST terakhir mampu mencetak nilai transaksi sebesar 400 miliar rupiah. Hal itu harus dipertahankan dengan cara pihak pemerintah mampu menyediakan fasilitas publik yang dapat diakses dengan mudah sehingga dapat dijadikan ajang berkreasi dan penyaluran ekspresi anak muda di Bandung. Karena pada dasarnya industri kreatif di bidang clothing dan distro di Bandung berawal dari kultur dan gaya hidup anak muda di kota Bandung yang mempunyai idealisme dan sarat dengan energi kreatif. Misalnya dari bidang musik dan olahraga yang selama ini sarana dan prasarananya dianggap sudah tidak mampu mengakomodir kegiatan kreatif di kota Bandung.

Dari kalangan praktisi teknologi diwakili oleh Setijadi Prihatmanto dari Sekolah Tehnik Elektro dan Informatika ITB yang memaparkan tentang perlunya dibangun sebuah pola kemitraan yang sejalan antara pelaku industri kreatif dengan praktisi teknologi. Karena bagaimanapun kreatifitas dan teknologi adalah sebuah proses yang harus selalu berjalan seiring. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang dimana jarak dan waktu bukan lagi menjadi hambatan bagi dinamika pergerakan ekonomi global. Contohnya industri games dan software yang pasti akan selalu membutuhkan sentuhan pengembangan estetika dari para praktisi seni rupa dan desain. Begitu juga sebaliknya para pelaku industri kreatif juga dituntut mampu mengikuti pekembangan teknologi. Apalagi di era internet sekarang dimana pada akhirnya banyak melahirkan media-media baru untuk dijadikan sarana berekspresi untuk berkesenian (new media art) dan media komunikasi dan informasi berbasiskan internet (new media journalism).

Selain diskusi panel, Open house ITB 2008, juga menggelar berbagai acara lainnya. Diantaranya pameran foto, workshop film, dan pameran pendidikan yang menampilkan stand-stand tiap fakultas yang ada di ITB lengkap dengan konsultasi dan presentasi tiap fakultas.

Penulis: Addy Handy

 

February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

a

Mari bergabung di BCC-blog mailing list!
Visit this group


Subscribe to Bandung Creative City Blog by Email